
"Bagaimana kau…"
"Huft~" Sierra menghela napas panjang. Ia melangkah, mengikis jarak antara dirinya dengan Marciel yang terduduk.
"Sekarang ikut aku!" Sierra menarik tangannya dengan sedikit kasar.
"Huh? Kemana?"
"Pokoknya ikut aku!"
"Tapi aku tidak bisa pergi. Bagaimana kalau Erina…"
"Erina tidak akan datang!" potong Sierra cepat. Marciel mengatupkan mulutnya dalam seketika begitu mendengar ucapannya.
"Darimana kau tahu kalau dia tidak akan datang?"
"Dia memintaku untuk mencoba mencarimu, dan dia bilang kalau dia tidak bisa datang. Maka dari itu, ikut aku! Kita pulang!"
"Tapi…"
"Aku bilang ikut aku! Jangan menjadi seperti orang bodoh dengan berdiam diri di sini seperti ini!" Dalam satu kali hentakan, Sierra menarik tangan Marciel dan menariknya pergi dari taman.
Sierra segera mencari taksi guna mengantarkan mereka pulang.
__ADS_1
...*...
"Pelan-pelan." Sierra memapah Marciel keluar dari dalam taksi.
Taksi yang baru saja mereka tumpangi itu langsung melaju begitu Sierra selesai membayar.
"Kenapa kau membawaku ke rumahmu?" tanya Marciel begitu sadar rumah yang berdiri dihadapannya bukanlah rumah orangtuanya.
"Kalau aku mengantarkanmu ke rumah, aku takut Tante Rita cemas dengan keadaanmu. Maka dari itu aku membawamu ke rumahku. Setidaknya kita keringkan dulu pakaianmu, dengan begitu beliau tidak terlalu cemas," jelas Sierra.
Marciel terdiam membenarkan kalimatnya. Memang benar wanita yang jadi ibunya itu akan sangat mencemaskan dirinya kalau pulang dalam keadaan seperti ini.
...*...
"Sierra…" lirih Marciel, membuat gadis disampingnya itu menoleh ke arah datangnya suara. "Bisakah kau rahasiakan ini dari Erina?"
"Rahasiakan apa?" Sierra tak mengerti maksud Marciel bagian mana yang harus dia rahasiakan.
"Rahasiakan dari Erina kalau aku menunggunya selama berjam-jam di taman. Aku tidak ingin membuatnya jadi merasa bersalah setelah tahu aku menunggu lama."
"Kenapa kau ingin aku merahasiakannya? Bukankah bagus kalau Erina merasa bersalah? Dengan begitu, dia tidak bersikap seenaknya lagi dengan membuatmu menunggu selama berjam-jam di luar. Di tengah-tengah udara dingin seperti ini."
__ADS_1
"Aku tidak ingin dia merasa bersalah. Bagaimanapun, dia pasti memiliki alasan kuat mengapa dia tidak datang." Marciel menundukkan kepalanya, menatap secangkir hot chocolate yang diberikan Sierra untuk menghangatkan tubuhnya.
"Satu-satunya alasan kuat dia tidak datang adalah karena dia jalan bersama pria lain! Dia kencan! Kencan dengan Shawn, kau tahu itu?" tukas Sierra. Bagaimanapun dirinya juga ikut kesal karena kejadian hari ini. Laica ikut menjadi tersangka, dan Sierra juga ikut menjadi korban.
"Dia pasti punya alasan. Aku tidak ingin langsung menyimpulkan."
Sierra berdecak sebal. Ia tidak habis pikir dengan sudut pandang Marciel yang bisa menanggapi masalah seperti ini dengan sangat santai seolah hal ini bukanlah hal yang besar.
Bukankah orang pada umumnya seharusnya marah ketika ditinggal sendiri. Menunggu orang yang tak pasti seperti orang bodoh? Tapi Marciel? Dia malah menanggapi semuanya dengan setenang ini, seolah semua ini bukanlah masalah besar baginya.
"Aku tidak habis pikir denganmu, kenapa kau…"
Tep!
Ucapan Sierra terpotong begitu secara tiba-tiba Marciel menggenggam tangannya. Sierra tersentak dan spontan diam mengatupkan mulutnya.
"Aku mohon, rahasiakan ini darinya…" tuturnya menatap Sierra penuh harap.
Tatapan penuh harap dari Marciel seperti ini berhasil membuat dirinya luluh.
Sierra menghela napas pelan.
"Baiklah."
__ADS_1
...***...