
"Pria yang kucari adalah pria yang setidaknya bisa mengeluarkan sedikit sisi feminim ku dalam berhubungan," jelas Erina.
"Tapi mengapa anda memilih saya? Lagipula sepertinya usia di antara kita sangat jauh berbeda."
"Aku sudah pernah berhubungan dengan pria yang jauh lebih muda, lebih tua beberapa tahun dariku, dan bahkan yang seumuran denganku. Tapi, tidak ada satupun diantara mereka menjadi kekasih yang aku harapkan. Aku membutuhkan orang yang jauh lebih dewasa."
"Jauh lebih dewasa?" Raefal mengulang kalimatnya.
Erina mengangguk pelan sambil meneguk minumannya sekali lagi.
Detik berikutnya, ia terkekeh pelan. Entah mengapa, dia jadi teringat akan pembicaraannya terakhir kali dengan Sierra saat tahu Erina akan menyatakan perasaannya pada Raefal.
"Singkatnya, aku adalah sugar baby yang mencari sugar daddy untuk jadi pendampingku." Erina mengulas senyum sambil menatap Raefal.
"Sugar daddy?" Raefal mengulang kalimatnya.
"Ya, dan kau masuk dalam kriteria itu. Jadi, maukah kau menjadi sugar daddy ku?" Erina menatap Raefal lekat dengan posisi sebelah tangan bertopang dagu.
Raefal terdiam sesaat. Ia meraih minumannya dan mengelap bibirnya dengan serbet.
"Ehem…" Raefal berdehem pelan.
"Jawaban saya tetap tidak!" tegasnya.
"Tapi sebagai kompensasi, saya akan mengganti uang biaya rumah sakit anda." Raefal mengeluarkan sebuah amplop dari balik jas yang dikenakannya.
Ia menyodorkan amplop itu pada Erina. "Saya harap, kita tidak bertemu lagi."
__ADS_1
Erina tertegun. Ia menatap amplop yang disodorkan Raefal padanya.
"Huft~" Erina menghela napas panjang sebelum kemudian mendongak beradu tatap dengan Raefal.
"Aku tahu kau masih terkejut atas kejadian hari ini. Jadi mari bertemu lain waktu untuk mengenal lebih jauh satu sama lain. Lalu mengenai uang, sebaiknya tidak perlu kau pikirkan. Kau tidak perlu menggantinya. Karena uangku banyak." Erina mendorong kembali uang yang disodorkan padanya.
Drrttt…
Perhatian Erina mendadak beralih pada ponselnya yang berdering di dalam kantong celananya.
Ia merogoh sakunya. Mengeluarkan ponsel dari celana jeans yang ia kenakan.
"Maaf, tapi sepertinya aku harus pergi." Erina beranjak bangun dari tempatnya begitu melihat panggilan masuk dari Liliana. "Sampai jumpa lain waktu."
Erina berlalu meninggalkan Raefal seorang diri di dalam ruangan itu.
Apa itu tadi?
Dia benar-benar wanita aneh. Bahkan lebih aneh dari yang aku pikirkan.
Atau mungkin… unik?
Raefal menaikkan sebelah aslinya.
"Huft~ aku tidak tahu kata apa yang benar-benar cocok untuk mendeskripsikan kepribadiannya."
...*...
"Halo? Ada apa, Lili?"
__ADS_1
"Kau dimana sekarang? Tuan Danesha mencarimu sejak tadi!"
"Papa mencariku? Ada apa?"
"Beliau bilang ada sesuatu yang ingin beliau katakan. Tapi aku tidak tahu apa yang hendak beliau sampaikan."
"Dimana kau bertemu dengannya?"
"Di lobi. Begitu kami pulang dari White Rest, kami tidak sengaja berpapasan dengan beliau, dan beliau menanyakanmu."
"Benarkah?"
"Ya, beliau juga memintaku untuk menghubungimu. Tapi kau tidak mengangkat telponku sejak tadi."
"Maaf, aku sibuk tadi."
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku hanya mengurusi beberapa hal. Sudahlah, aku akan secepatnya ke kantor. Kita bertemu di sana."
"Okay, akan kututup telponnya."
"Kalau begitu sampai jumpa di kantor."
Erina memutuskan sambungan telponnya sepihak. Ia lantas berlalu meninggalkan Black Cafe dengan mobil miliknya yang sejak awal terparkir di parking area.
Kenapa papa mencariku, ya?
...***...
__ADS_1