
"Diam di sini dan jangan kemana-mana. Tadi aku melihat pakaian lain yang akan cocok untukmu!"
"Apa? Tidak perlu, aku sudah cukup mencoba yang ini saja. Aku tidak ing—"
"Ssttt… pokoknya kau turuti saja kemauanku. Sekarang giliran aku yang memimpin!" potong Liliana sambil beralih meninggalkan Erina sendiri. Wanita itu hendak mencari baju lain yang cocok dikenakan oleh Erina.
Erina menghela napas pelan. Fokusnya kembali beralih pada dirinya di pantulan cermin.
"Cantik? Aku malah merasa geli sendiri dengan penampilanku yang terlalu feminim seperti ini. Seperti, orang di cermin itu benar-benar bukan diriku," gumam Erina pelan.
...*...
"Apakah ada hal yang lain, pak?"
"Saya rasa sudah semua. Lagipula saya tidak terlalu membutuhkan banyak pakaian."
"Baiklah, biar saya urus dulu pembayarannya."
"Okay, saya tunggu di sini."
Agustina beranjak meninggalkan Raefal. Tidak membutuhkan waktu lama untuk pria itu berbelanja, terlebih dia sudah memiliki tujuan apa saja barang yang hendak dibelinya, jadi waktu yang mereka habiskan benar-benar sedikit.
__ADS_1
Selama menunggu, Raefal memutuskan untuk melihat-lihat pakaian lain sambil terus berjalan menyusuri lorong kecil yang di sisi kiri dan kanannya dihiasi oleh pakaian.
Tap!
Raefal tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika secara tak sengaja kedua matanya menangkap sosok seorang wanita yang tampak tak asing.
Ia membatu ditempatnya. Pandangannya lurus tertuju pada wanita yang berdiri di depan cermin namun sama sekali tidak bisa terlihat olehnya dengan jelas. Wajah wanita itu terhalangi tubuhnya, membuat Raefal hanya bisa mengira-ngira siapa berdiri di sana.
Dalam pikirannya sekarang hanya terlintas satu nama. Nama wanita yang selama akhir-akhir ini selalu muncul tanpa pernah dia duga. Nama yang berusaha untuk ia lupakan, namun selalu hadir dalam bayang-bayangnya.
Itu tidak mungkin dia 'kan? Raefal menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin cepat berasumsi.
Tapi dilihat dari postur tubuhnya benar-benar mirip dengan wanita itu.
Semakin dekat, jantungnya semakin berdebar.
Tep!
Raefal menepuk punggungnya pelan. Membuat Erina yang tengah sibuk bercermin itu kaget dibuatnya.
"Melody?" kata itu lagi-lagi terlontar dari mulutnya tanpa ia sadari.
Erina menoleh ke arah datangnya suara begitu merasa tidak asing. Air mukanya seketika berubah begitu mendapati Raefal berdiri di sana.
__ADS_1
"Raefal?"
"E-Erina?" Pria itu tak kalah kagetnya.
Raefal terdiam, ia sekali lagi menatap Erina dari atas sampai bawah. Tatapan yang sama ketika mereka bertemu untuk yang keempat kalinya di White Rest beberapa waktu lalu.
"Dunia ini sempit sekali, ya… kita bahkan bertemu lagi tanpa pernah kita duga." Erina tersenyum simpul.
Raefal hanya diam tanpa kata. Rasanya masih sulit untuk mempercayai wanita yang berdiri dihadapannya adalah orang yang sama yang sempat melamarnya beberapa waktu lalu. Bahkan sosoknya masih sering muncul dalam mimpi basahnya.
"Omong-omong sedang apa kau di sini? Apakah kau memiliki pekerjaan?"
"Ya, begitulah…"
"Wah, kebetulan lain yang juga tidak terduga. Aku juga memiliki pekerjaan di sini, baru saja aku menghadiri rapat untuk proyek yang akan aku kerjakan."
"Kenapa?"
"Eh?" Erina mengerutkan alis ketika secara tiba-tiba Raefal melontarkan tanya tak berdasar. "Apanya yang kenapa?"
"Penampilanmu…" Raefal menggantungkan kalimatnya. Matanya memandang Erina lekat, membuatnya seketika merasa malu.
...***...
__ADS_1