My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 17 - Kenal?


__ADS_3

"Jadi, kalian kemari setelah mendapatkan telpon dari Lili?" Erina memperjelas keadaannya.


"Ya, dia bilang kalau kau mendadak tidak bisa dihubungi dan kau tidak kembali ke kantor. Kami sampai cemas terjadi sesuatu padamu." Levine menaruh cangkir dalam genggamannya ke atas meja.


"Memangnya seharian tadi kau kemana? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?"


"Benar, kau ini kemana?" Sierra menimpali kalimat Marciel barusan. Laica hanya mengangguk membenarkan ucapan keduanya.


"Aku punya urusan yang harus aku selesaikan, dan mengenai ponselku, aku menonaktifkannya karena aku tidak ingin menerima telpon dari Lili," jelas Erina.


"Kenapa kau tidak ingin menerima telpon dari Lili?"


Erina menghela napas pelan sambil menaruh cangkir digenggamnya ke atas meja.


"Sebelumnya, Lili meneleponku. Dia memberitahu kalau di kantor ada Vansh, dan dia ingin bertemu denganku. Tapi aku tidak mau, jadi aku tidak kembali ke kantor."


"Ada apa lagi dengan hubunganmu dengan Vansh?" Levine bertanya.


"Kami sudah putus."


"Apa?" Keempat sahabatnya itu tersentak kaget mendengar pengakuannya. Suara keempatnya cukup kencang hingga membuat Erina harus menutup telinganya dengan kedua tangan.


__ADS_1


"Aish, tidak bisakah kalian bereaksi biasa saja?"


"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa putus dengannya?" Marciel mewakili ketiga temannya.


"Aku bosan."


"Maksudmu?"


"Aku memutuskan dia karena aku bosan dengannya. Hubunganku dengannya terasa hambar."


"Astaga, kau ini benar-benar wanita teraneh yang pernah aku kenal, Erina!" Levine tak percaya dengan kalimat yang baru dilontarkan Erina. "Sudah berapa pria yang kau putuskan karena kau bosan?"


"Entahlah, mungkin… lima? Tidak, seperti tujuh, atau delapan? Aku tidak ingat." Erina mengerutkan kening, berusaha mengingat beberapa mantannya yang dulu ia putuskan juga.


"Lagipula mereka memperlakukanku sama seperti yang lain. Itu membosankan bagiku."


"Dari semua pria yang dulu menjadi kekasihmu. Setahuku, semuanya perhatian, baik, dan begitu memanjakanmu. Tapi kenapa kau tidak suka dengan mereka?" Sierra tak mengerti.


"Karena mereka membosankan. Aku ingin seseorang yang lebih menarik, contohnya saja pria yang akhir-akhir ini berhasil menyita perhatianku." Erina tersenyum simpul mengingat sosoknya.


Teman-temannya speechless. Mereka benar-benar tidak menyangka Erina bisa sesantai ini padahal dia baru saja putus cinta. Alih-alih sedih, atau menangis karena putus cinta, Erina malah tampak berseri-seri setelah putus cinta, dan yang lebih parahnya dia malah sedang mengincar pria lain.


"Aku tidak tahu harus berkata apa menanggapi kalimatmu. Tapi yang pasti, kau benar-benar gila!" tukas Levine yang kemudian meraih cangkir dan meneguk isinya.

__ADS_1


"Aku juga tidak percaya ini. Tapi aku penasaran, siapa pria yang kau maksud itu?" ucap Laica.


Erina mengeluarkan kartu nama yang di dapatnya sambil tersenyum simpul.


"Namanya Raefal," gumamnya pelan sambil menyodorkan kartu nama itu pada teman-temannya.


Marciel dan Levine tersentak. Mereka nyaris tersedak mendengar penuturannya barusan.


"Apa?!" teriak keduanya dengan wajah terbelalak.


Erina, Sierra, dan Laica sampai terkaget-kaget mendapati reaksi kedua pria itu.


"K… kalian ini kenapa?" kata Sierra terbata.


"Kalian membuatku terkejut saja!" Laica mengelus dadanya pelan. Berusaha meredakan debar jantungnya.


"Kau bercanda 'kan?" Marciel berusaha meyakinkan ia salah dengar.


"Tidak. Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan Raefal?" Erina mengerutkan kening.


"Pria itu tidak benar. Jangan berhubungan dengannya!"


"Memangnya kau kenal?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2