My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 71 - Tempat parkir


__ADS_3

Raefal melangkah menghampiri pintu depan. Perhatiannya mendadak teralihkan oleh suara ponselnya yang berdering.


Pria itu segera mengecek panggilan yang baru saja masuk dan segera menjawabnya.


"Halo! Ada apa Agustina?"


"Ada yang perlu saya sampaikan, pak. Ini mengenai proyek yang akan kita kerjakan dalam waktu mendatang. Saya baru saja mendapatkan kabar dari klien kalau mereka ingin melakukan pertemuan mendesak dalam waktu dekat."


"Apa? Kenapa sangat tiba-tiba."


"Mereka bilang ini situasi yang tidak terduga, mereka juga sangat minta maaf karena sudah memutuskan hal ini secara tiba-tiba."


Tap!


Langkah Raefal seketika terhenti. Pria itu mendadak diam tanpa kata. Kedua matanya tertuju pada sosok yang tak sengaja dilihatnya.


E-Erina?


Raefal mengerjapkan matanya berulang kali. Memastikan kalau yang dilihatnya itu bukanlah halusinasi.


Itu benar-benar dia? Dengan siapa dia?


Kenapa Erina dan laki-laki itu terlihat sangat akrab?


Raefal terus memperhatikan Erina yang melangkah keluar dari dalam bersama dengan seorang laki-laki yang tak lain Marciel.


Raefal tanpa sadar mempercepat langkahnya. Mengikuti Erina dan Marciel. Ia bahkan sampai tidak sadar kalau sejak tadi dia masih bicara dengan Agustina di seberang sana.


Apakah Erina memiliki hubungan dengan laki-laki itu? Tapi hubungan apa? Apakah mereka berpacaran?


Berbagai pertanyaan mendadak muncul dalam benaknya, membuat rasa penasaran dalam dirinya muncul.

__ADS_1


"Pak? Apakah bapak masih di sana?" Agustina dalam sekejap menyadarkan Raefal dari lamunannya.


"Ya? Kenapa?"


"Saya bilang—"


"Tidak. Agustina, kita bahas ini di kantor saja, okay?"


"Baiklah kalau begitu, pak."


Pip—


Raefal memutus sambungan telponnya dan fokusnya kembali tertuju pada Erina yang berdiri dengan Marciel di sana. Kedua orang itu kini berada di tempat parkir.



...*...


"Terima kasih atas waktumu, dan maaf kalau aku malah mengganggu waktumu bekerja."


"Kalau begitu biar aku antarkan kau kembali ke kantor, bagaimana?"


"Tidak perlu, aku tahu kau buru-buru. Jadi lebih baik kau pergi duluan saja."


"Tidak mungkin aku membiarkanmu kembali sendirian."


"Tidak perlu cemaskan aku. Lagipula aku juga membawa mobil sendiri, jadi pergilah."


"Sungguh tidak apa-apa?"


"Ng." Erina menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku duluan. Kau hati-hati di jalan kembali, okay?"


"Kau juga."


"Kalau begitu sampai jumpa lain waktu."


"Ya."


Marciel melangkah meninggalkannya seorang diri.


Erina melambaikan tangannya. Tak lama, Marciel menghilang di antara beberapa mobil lain yang melintas di sekitarnya.


"Ehem!"


Erina tersentak kaget begitu ia mendengar suara seseorang berdehem tepat di sampingnya. Wanita itu refleks menoleh dengan wajah terkejut. Namun ekspresinya makin kentara begitu mendapati sosok Raefal yang kini berdiri tepat di sampingnya.


"R-Raefal…" lirihnya dengan suara sedikit tertahan.


"Oh, Erina?" Raefal melirik ke arahnya. Seorang pria itu baru menyadari kehadiran Erina di sampingnya.


"Kau membuatku terkejut saja!" Erina menghela napas sambil mengusap dadanya.


"Mungkin karena anda terlalu sibuk dengan pria tadi, jadi anda tidak sadar kalau sejak tadi saya di sini."


Erina mengerutkan kening.


Ada apa dengan nada bicaranya itu? Kenapa dia bicara seperti itu? Sebentar!


"Kau melihatku dengannya?" tanya Erina.


"Ya, tentu saja. Aku melihatmu dan pacarmu itu."

__ADS_1


"Pacar? Haha, Marciel bukan pacarku. Dia adalah sahabatku," katanya.


...***...


__ADS_2