
"Kau pikir selama ini aku tidak tahu kalau kau melakukan semua itu hanya karena kau tahu statusku adalah putri dari CEO DTS? Kau memperlakukanku seperti itu karena kau ingin memanfaatkanku 'kan?"
"A… apa maksudmu?!" Air muka Vansh mendadak berubah pucat begitu mendengar ucapannya.
"Haha, terkejut?" Erina menatapnya dengan tatapan merekahkan. "Aku kira satu tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengenalmu lebih jauh, dan selama kita menjalin hubungan. Aku sudah tahu banyak tentang dirimu serta semua kebohonganmu."
"K… kau ini bicara apa?!" Vansh jadi tergagap.
Semua orang bingung dibuatnya termasuk Liliana yang sejak tadi hanya diam dan menonton perdebatan mereka.
"Apa maksudnya itu?"
"Kebohongan? Kebohongan apa maksudnya?"
__ADS_1
"Aku penasaran apa yang sebenarnya dia sembunyikan."
"Pasti ada alasan lain yang membuat Erina memutuskan Vansh."
Yang lain kembali terdengar berbisik sambil berkomentar. Tak terkecuali para crew yang sejak tadi hendak membawa barang-barang untuk syuting besok ke kantor.
Mereka semua malah diam dan menatap ke arah produser mereka yang kini berdebat dengan seorang pria yang telah berstatus menjadi mantan kekasihnya.
"Aku pikir pada awalnya kau adalah pria yang berbeda. Tapi semua pandanganku berubah hanya dalam seratus hari hubungan kita…"
Vansh seakan tersambar petir di siang bolong. Tubuhnya mendadak kaku dengan keringat yang mulai mengucur membasahi tubuhnya. Orang-orang melongok begitu mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut Erina.
"Di hari itu, aku merasa tertipu karena dengan naifnya aku menerimamu sebagai kekasihku. Padahal ternyata kau tak lebih seperti mantan-mantanku dulu…"
"…Tadinya aku berpikiran untuk mengakhiri hubungan kita hari itu juga. Tapi aku berubah pikiran. Dan kupikir akan lebih seru kalau aku bermain sebentar denganmu. Bermain sandiwara seperti apa yang kau lakukan selama setahun hubungan kita."
__ADS_1
"Kau…" Vansh kehabisan kata-kata.
"Kau memperhatikanku, dan memanjakanku. Tapi di sisi lain, kau jalan dengan berbagai wanita dibelakangku tanpa sepengetahuanku. Sebenarnya aku bisa saja membalasnya seperti caramu. Tapi itu hanya membuang-buang waktuku. Aku membalasmu dengan caraku sendiri…"
"…Semenjak tahu hubungan gelapmu dengan banyak wanita lain, aku jadi semakin berhati-hati terhadapmu. Lalu tanpa sadar, kau mencongkel sedikit demi sedikit celah rahasia yang selama ini kau sembunyikan dariku…"
"…Sampai kemudian aku tahu motifmu mendekatiku."
"Itu tidak benar! Kau salah paham. Aku tidak melakukan itu!" Vansh mengelak.
Orang-orang lagi-lagi berbisik membicarakan mereka. Kebanyakan dari mereka kehabisan kata-kata mendengar alasan Erina yang ternyata begitu mendasar dan kuat untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Salah paham? Kau tidak melakukannya? Tidak benar?" Erina mengulang setiap kalimatnya. Ia kembali terkekeh mendengar ucapan Vansh barusan. Erina merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya. Wanita itu mengotak-atik isi ponselnya dengan santai.
"Kau pikir aku bicara tanpa bukti?" Erina menunjukkan layar ponselnya yang menyala. Menampakkan foto Vansh yang sialnya tengah berbaring di atas ranjang bersama wanita lain dengan keadaan telanjang dan hanya ditutupi selimut.
__ADS_1
...***...