My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 44 - Dia sepertinya sudah menyerah


__ADS_3

"Hah?" Agustina tersentak mendengarnya.


"Saya kira ibu tahu mengenai hal ini. Ternyata sepertinya belum," katanya.


"Saya tidak memiliki waktu untuk mengecek internet atau mencari topik yang sedang ramai di bicarakan akhir-akhir ini."


"Kalau begitu biar saya kasih tahu. Di internet banyak orang yang mengatakan kalau Melody, wanita yang jadi model sampul utama majalah internasional itu pernah menjalin hubungan dengan pak Raefal…"


"…Ada gosip yang mengatakan kalau mereka sempat akan menikah, namun batal karena pak Raefal selingkuh dengan wanita lain yang sama-sama model." Wanita itu sedikit berbisik supaya tidak ada yang dapat mendengar pembicaraan mereka.


"Apa? Tidak mungkin pak Raefal seperti itu!"


"Saya juga tidak percaya dengan gosip yang beredar, tapi banyak yang berspekulasi kalau itu benar. Coba saja ibu cek sendiri di internet."


"Ahh… sudah jangan bahas yang tidak-tidak Rose! Sekarang lebih baik kau kembali ke mejamu, atau pak Raefal akan marah begitu tahu kita malah menggosipkan tentang beliau."


"B… baiklah…" Rose beranjak dari tempatnya dengan langkah pelan.


Agustina terdiam menatap Rose yang beranjak dari tempatnya dan berakhir meninggalkan dia sendiri.


Agustina beralih fokus pada Raefal yang terduduk di mejanya. Pria itu termenung seperti sedang memikirkan sesuatu yang entah apa, ia tidak tahu. Yang jelas tampaknya sangat mengganggu sampai-sampai membuat Raefal tidak bisa fokus bekerja seperti biasanya.

__ADS_1


"Tidak mungkin pak Raefal seperti itu 'kan?" gumam Agustina dengan suara pelan.


Wanita itu kembali terduduk di mejanya. Ia meraih mouse komputernya dan mengecek sendiri berita yang sedang beredar di internet mengenai pria yang jadi atasannya.



...*...


Raefal terdiam. Pikirannya terus di penuhi oleh sosok Erina yang entah kenapa sering sekali muncul dalam mimpinya.


Akhir-akhir ini. Terutama setelah ia memimpikan sesuatu yang tidak pantas tantang Erina, sosoknya jadi lebih sering muncul, dan hal itu membuat dirinya terganggu.


Namun sialnya semakin ia berusaha keras menghapusnya, semakin melekat juga Erina dalam benaknya.


Erina malah muncul tanpa henti.


"Huft~" Raefal menghela napas pelan.


Ada apa sebenarnya denganku? Kenapa aku terus kepikiran tentang Erina, dan kenapa sosoknya terus muncul dalam benakku akhir-akhir ini?


Aku jadi tidak bisa fokus.

__ADS_1


Raefal memijat pelipisnya pelan. Memikirkan alasan kenapa dia memimpikan Erina benar-benar membuat kepalanya sakit.


Raefal beralih melirik ponselnya yang tergeletak di samping komputernya.


Ia meraih ponselnya. Membuka aplikasi perpesanan dan mengecek isinya. Memastikan apakah ada pesan baru yang masuk atau tidak.


Begitu di lihat, tidak ada pesan baru yang masuk sama sekali.


Raefal kemudian tanpa sadar menekan chat terakhirnya dengan Erina.


Pria itu terdiam memperhatikan ruang obrolannya dengan Erina. Terakhir kali mereka berbicara adalah ketika Erina mengirimkan kartu nama miliknya, lalu setelah itu Erina menghilang begitu saja bak di telan bumi.


Raefal termangu. Ia jadi teringat akan kejadian terakhir kali saat bertemu dengan Erina.


Impression-nya terakhir kali dengan Erina benar-benar membekas dalam ingatannya. Apalagi saat Raefal melihat Erina bertengkar dengan Vansh dan dengan lantang membongkar semua aib lelaki itu.


Kalau diterawang lagi, itu adalah awal dimana ia kemudian memimpikan Erina tidur dalam pelukannya.


Dia tidak menghubungiku lagi. Sepertinya dia menyerah, batinnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2