My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 18 - Paparazi


__ADS_3

"Memangnya kau kenal dengannya?"


"Dia adalah pria berhati dingin yang tidak segan-segan menyakiti siapapun yang mengganggunya. Aku sempat memergokinya mendorong seorang wanita karena terus mengganggunya."


"Tidak mungkin."


"Marciel benar. Ada banyak kabar jelek juga yang tersebar di kantorku mengenai pria itu. Apalagi terkait dunia bisnis. Dia itu pria yang licik." Levine menambahkan.


"Aku tidak percaya dengan apa yang kalian ucapkan. Aku tahu kalian hanya membual saja 'kan?"


"Kau harus percaya! Sudah kubilang aku melihatnya sendiri, jadi aku mohon jangan berhubungan dengannya." Marciel menatap Erina lekat. Ekspresinya begitu serius.



...*...


Brukk!


Erina menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang di kamarnya. Ia mengeluarkan lagi kartu nama milik Raefal. Memperhatikan sosok pria dalam kartu yang kini dipegangnya.


Aku yakin kau tidak seperti yang dituduhkan oleh Levine dan Marciel 'kan?

__ADS_1


Lagipula aku sudah memperhatikanmu selama seharian tadi, dan aku sudah bisa menilai kalau kau memang pria yang menarik.


Erina mengalihkan fokusnya pada langit-langit kamarnya yang kini diterangi oleh cahaya lampu.


Entah kenapa sejak awal aku merasa tertarik dengan sikapmu yang berbeda dari pria lain. Aku bahkan sampai merasa jadi paparazi dengan mengintaimu seharian tadi.


Erina tersenyum ngeri, membayangkan tindakan spontannya mengintai Raefal. Ia sungguh tidak menyangka kalau dirinya bisa bertindak sejauh itu dengan mengintai Raefal. Padahal hal itu tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Sekarang aku jadi mempertanyakan perasaanku padamu. Apa yang sebenarnya aku lakukan ini atas dasar apa? Apakah hanya ketertarikan biasa? Atau justru aku sudah jatuh cinta lagi dengan pria lain? Aku jatuh cinta padamu?" Erina memonolog. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan dalam benaknya.


Ada rasa bingung yang mendadak menyambar dirinya saat ia sadar atas tindakannya seharian tadi.


Erina diam dalam lamunannya. Otaknya berusaha mencerna setiap kejadian tadi siang yang ia lihat saat Raefal berada di kantor.


Erina sesekali tersenyum dengan wajah bersemu saat ia mengingat sosok Raefal. Yang membuat Erina terkesan oleh sosoknya adalah ketika pria itu mulai sibuk dengan pekerjaannya, memasang wajah serius sambil menatap perlembar berkas dalam genggamannya.


Entah kenapa saat dia memasang wajah seperti itu, dia terlihat seksi. Erina senyum-senyum sendiri mengingatnya.


...*...


"Erina!" Liliana berjalan tergesa menghampiri wanita itu begitu melihatnya baru saja tiba di kantor.

__ADS_1


"Lili."


"Seharian kemarin kau kemana? Kenapa tidak bisa aku hubungi lagi setelah pembicaraan kita di telpon? Aku benar-benar cemas terjadi sesuatu denganmu!"


"Ah, ya… aku sudah tahu itu. Malamnya, aku bertemu dengan teman-temanku yang kau telpon satu persatu."


"Aku menelpon karena aku ingin mencaritahu apakah mereka tau kau dimana atau tidak. Tapi tampaknya mereka tidak tahu sama sekali. Omong-omong tidak terjadi apa-apa padamu 'kan?"


"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas. Aku tidak bisa menjawab teleponmu karena ponselku mati."


"Oh, begitu rupanya. Syukurlah." Liliana menghela napas lega, setidaknya Erina baik-baik saja. "Ah, aku ingin mengatakan kalau seharian kemarin Vansh…"


"Aku tidak ingin membahasnya," potong Erina cepat.


"Huh?" Liliana terdiam saat Erina mendadak memotong kalimatnya.


"Lebih baik kita bersiap. Hari ini, kita syuting di White Rest lagi."


"L… lagi?"


"Ya." Erina berlalu meninggalkan Liliana yang kini terpaku ditempatnya sambil memandang sosoknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2