
"Jika saya makan bersama anda kali ini saja, apakah anda akan pergi?" tanya Raefal sambil berusaha menahan amarahnya.
"Kau ingin makan denganku? Sungguh?" Joy langsung berbinar mendengarnya.
"Saya tanya. Apakah anda akan pergi setelah itu?"
"Ya! Asalkan kau mau makan denganku."
"Kalau begitu, bisakah anda pergi dan jangan pernah kembali lagi ke sini setelah makan bersama saya untuk selamanya?"
"Aku tidak janji. Tapi aku akan usahakan jika itu mau mu, asalkan kau mau makan bersamaku."
"Huft~ baiklah, untuk kali ini saja."
"Sungguh? Asyik! Kalau begitu ayo pergi!" Joy kegirangan. Ia semakin bersemangat begitu mendengar kalimatnya.
"Pak, apakah anda yakin soal ini?" Agustina tampak cemas.
"Kau masih belum percaya dengan ucapan atasanmu?!" Joy mendelik padanya.
__ADS_1
"Untuk kali ini saja," jawab Raefal tenang.
"Tapi…"
"Tolong tangani pekerjaan saya sebentar," potongnya.
"B-baiklah…" gumam Agustina.
Raefal dan Joy lalu melangkah keluar dari dalam sana. Berjalan sepanjang koridor menuju lift, hendak menikmati waktu makan siang bersama. Ya, walaupun agak terpaksa. Namun jika ini satu-satunya cara untuk membuat wanita itu berhenti mengganggunya hari ini, mengapa tidak?
Black Cafe. Entah kenapa di sekian banyaknya tempat makan di Future City, Joy memilih tempat itu sebagai tempat mereka menikmati makan siang.
Keduanya terduduk di salah satu kursi kosong di lantai dasar. Keduanya duduk berhadapan di salah satu kursi yang letaknya berdekatan dengan jendela kaca besar.
Raefal terdiam memandangi gaya makan wanita yang kini duduk dihadapannya. Joy tampak makan secara perlahan, berusaha menikmati makan siangnya dengan sungguh-sungguh. Terlebih ini adalah pertama kalinya dia makan bersama Raefal setelah berulang kali gagal.
Tidak bisakah dia makan lebih cepat? Raefal membatin dengan wajah gusar. Pria itu benar-benar ingin semua ini cepat selesai. Tapi melihat gaya makan Joy yang super manja, dan lambatnya mengalahkan siput terlambat di dunia, sepertinya dia akan terjebak dalam waktu yang cukup lama bersama wanita itu.
__ADS_1
Raefal benar-benar sedang tidak berselera makan, ia bahkan hanya memesan makanan tanpa berniat menyentuhnya sama sekali. Sejak tadi, dirinya hanya sibuk dengan minuman yang dipesannya.
"Omong-omong terima kasih karena kau sudah mau makan bersamaku. Ini adalah hari paling spesial dalam hidupku," gumam Joy sambil tersenyum sumringah.
"Ya," kata Raefal pelan. Ia hanya berharap Joy tak lagi berbicara agar waktu makan mereka tidak terus terbuang sia-sia.
"Oh ya, apakah kau tahu kenapa aku memilih kafe ini untuk kita makan?"
"Saya tidak tahu dan saya tidak ingin tahu. Sudahlah, bisakah anda berhenti berbicara dan fokus pada makanan anda? Saya benar-benar harus pergi secepatnya." Raefal semakin jengkel.
"Jangan terburu-buru, kapan lagi 'kan kita bisa menikmati momen-momen bersama seperti ini. Lagipula memangnya kau tidak suka makan bersamaku? Aku justru sangat suka makan bersamamu."
"Saya tidak suka makan dengan orang yang terus bicara ketika mulutnya sedang sibuk mengunyah. Itu tidak sopan."
"Oh, maafkan aku…" Joy cepat-cepat menutup mulutnya. Raefal menampakkan raut wajah yang benar-benar tak sedap, terlihat jelas bahwa pria itu tidak ingin berlama-lama dengannya.
Apa yang aku lakukan? Aku baru saja menghancurkan image ku di depan orang yang aku sukai! Bodoh! Joy membatin. Meratapi nasibnya.
...***...
__ADS_1