My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 47 - Aku urus bill nya


__ADS_3

"Aku tidak peduli apa kata orang. Yang terpenting aku menyukainya dan aku harus bisa mendapatkan hatinya. Dia itu pria langka yang ada di dunia!" kata Erina.


Tapi melihat kondisiku yang seperti ini, sepertinya akan sangat sulit untuk membagi waktu antara pekerjaan dan menyusun rencana guna mendapatkan hatinya, pikirnya.


Ia baru sadar kalau semua pekerjaan yang dia miliki akhir-akhir ini sungguh menyita seluruh waktunya, bahkan sampai membuatnya tidak bisa fokus menyusun rencana untuk menarik perhatian Raefal.


Mungkin lebih baik aku fokus menyelesaikan pekerjaanku dulu, setelah itu aku baru pikirkan dia. Bagaimanapun, pekerjaanku lebih penting, batinnya.


"Huft~ aku lelah berdebat denganmu," gumam Laica yang akhirnya menyerah. Sahabatnya itu memang terlalu keras kepala dan akan sangat sulit untuk membuatnya mengubah keputusan yang telah dia ambil.


Aku hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja, batin Laica.


Drrttt…


Perhatian Erina mendadak pecah saat ponselnya mendadak berbunyi, menandakan panggilan masuk.



Erina melirik ponselnya. Nama Liliana tertera di sana. Tanpa pikir panjang, Erina segera menekan tombol hijau yang langsung menyambungkan telpon mereka.


"Halo?"


"Kau dimana? Apakah kau sudah berangkat lebih dulu?"

__ADS_1


"Berangkat?" Erina mengerutkan kening mendengar ucapan dari Liliana di seberang sana. "Kemana?"


"Astaga, kau lupa? Kita ini ada rapat dengan penulis naskah untuk film yang akan kita garap bulan depan 'kan?"


"Oh astaga, aku lupa!"


"Aih kau ini, aku pikir kau sudah berangkat sejak tadi."


"Maaf, sekarang aku sedang bersama Sierra dan Laica. Jadi aku lupa soal rapat itu. Kalau tidak salah rapatnya setengah jam lagi 'kan?"


"Ya. Aku sekarang akan langsung berangkat. Kau akan ke kantor lebih dulu atau akan langsung berangkat dari sana?"


"Kalau begitu kau berangkat duluan. Aku akan menyusul. Setelah ini, aku akan langsung berangkat."


Erina bergegas membereskan semua barang yang sempat dia keluarkan dari dalam tas.


"Ada apa?" tanya Sierra dengan raut wajah bingung.


"Ada masalah?" Laica sama penasarannya.


"Aku lupa kalau setengah jam lagi aku ada rapat penting membahas projects yang akan aku garap bulan depan. Dan sepertinya aku harus berangkat sekarang, perjalanan dari sini hingga ke tempat kami janjian akan cukup memakan waktu karena letaknya yang jauh."


"Oh begitu, ya…"

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa di lain waktu," kata Sierra.


"Aku pamit. Oh ya, tolong bayarkan makananku dulu. Aku buru-buru."


"Kau tenang saja, pergilah. Kami yang akan mengurus bill nya."


"Terima kasih." Erina beranjak bangun dari tempat duduknya lantas berlalu meninggalkan Laica dan Sierra berdua di meja yang semula mereka tempati.


"Padahal aku masih ingin mengobrol banyak hal dengannya."


"Tapi mau bagaimana lagi, dia sibuk," sahut Laica yang diangguki Sierra.


Laica meneguk jusnya. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Sebentar lagi jam makan siang selesai, lebih baik kita juga pergi," ucap Laica. Menyadarkan Sierra dari lamunannya menatap Erina di pintu keluar.


"Ya, baiklah. Ayo pulang."


"Biar aku yang urus bill nya. Kau tunggu saja di luar."


"Okay, kalau begitu lain kali aku yang traktir."


"Tidak masalah." Laica beranjak lebih dulu. Meninggalkan Sierra yang kini menghabiskan minumannya dulu sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan meja mereka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2