
"Marciel bukan pacarku. Dia adalah sahabatku."
"Oh, namanya Marciel…"
Erina mendelik. Entah kenapa tapi sikap Raefal terasa berbeda hari ini, terlebih cara bicara laki-laki itu tak seperti biasanya.
"Omong-omong sedang apa kau di sini? Apakah kau makan di sini juga?" Erina mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya harus saya jelaskan? Menurut anda orang datang kemari untuk apa lagi?"
"Ah, kau benar… tentu saja semuanya sudah jelas."
"Marciel itu, tampan, ya…" celetuk Raefal yang kembali mengalihkan pembicaraan.
"Huh?" Erina menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak mengerti kenapa Raefal lagi-lagi membahas Marciel.
"Kalau saya lihat-lihat, sepertinya beliau suka dengan anda."
"Marciel? Tidak mungkin dia suka denganku. Kami sudah bersahabat sejak SMP, jadi tidak mungkin kami memiliki perasaan. Hubungan kami hanya sebatas…"
Tunggu sebentar. Kenapa Raefal bicara seperti itu? Aku rasa ada yang tidak beres.
Erina mendadak diam. Ia melirik Raefal di sampingnya.
"Apa? Kenapa anda menatap saya seperti itu?" ujarnya dengan nada sedikit ketus yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Kenapa dia begitu sensitif? Apakah jangan-jangan…
Wajah Erina tiba-tiba saja merona. Pikirannya tertuju pada satu tujuan. Prasangkanya hanya satu, yaitu Raefal cemburu padanya.
Tapi hanya ada satu cara untuk memastikannya.
"Ehem! Aku hanya penasaran, kenapa kau bertanya mengenai Marciel? Apakah kau tertarik dengan sahabatku itu?"
"Apa? Saya masih normal!" Raefal cepat-cepat menepis prasangka Erina mengenai orientasi seksualnya.
"Oh, kalau bukan itu alasannya… berarti hanya ada satu alasan lagi."
"Alasan?" Raefal mengerutkan kening.
Erina berjinjit, mendekatkan wajahnya ke arah Raefal.
Deg!
Raefal tersentak. Wajahnya berkeringat. Entah apa yang akan dilakukan wanita itu, dan entah apa tujuannya mendekatkan wajahnya seperti ini.
Apa yang akan dia lakukan?
Erina terdiam sambil beradu tatap dengannya dalam jarak yang teramat dekat.
__ADS_1
"Tadinya aku tidak ingin terlalu berharap seperti ini. Tapi tidak ada alasan lain selain apa yang aku pikirkan."
"Apa maksud anda?"
"Kau bertanya mengenai Marciel, dan sejak tadi nada bicaramu terkesan agak sedikit ketus. Berbeda dari biasanya. Maka artinya bisa disimpulkan kalau kau cemburu melihatku dengan Marciel 'kan?"
"A-apa?" Wajah Raefal berubah merah padam. Ia benar-benar kaget dengan ucapan Erina barusan.
Cemburu katanya? Yang benar saja!
"Sepertinya anda salah paham," kata Raefal berusaha berkelit.
"Kau tidak perlu pura-pura, semuanya terlihat begitu jelas. Kau yang tidak biasanya bertanya banyak hal, tiba-tiba saja bertanya mengenai Marciel, lalu kau terkesan tidak suka saat melihatku dekat dengan pria lain. Bukankah itu sudah jelas?"
Raefal terdiam membenarkan ucapan Erina. Ia sendiri tidak sadar bertanya seperti tadi.
"Saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan." Raefal berusaha untuk tenang. Ia tidak ingin membuat Erina secepat itu menyimpulkan mengenai perasaannya, padahal Raefal sendiri belum tahu apakah yang dia rasakan adalah perasaan cinta atau bukan.
"Untuk sekarang tidak apa-apa, kalau kau tidak mau mengakuinya. Tapi, ini cukup membuatku senang karena ternyata kau secara perlahan sudah mulai bisa membuka hati untukku."
"Saya tidak membuka hati untuk anda! Dan itu tidak akan pernah terjadi!"
Raefal mendadak mengalihkan perhatiannya pada ponselnya.
...***...
__ADS_1