
Happy Reading!!
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
" Euuuuuh." Viana melenguh saat merasakan ada sesuatu yang berat di tubunya. Viana mulai menerjapkan matanya dan mulai menyadari bahwa Sean sedang tidur sambil memeluknya.
" Astaga, Pantas saja terasa sangat nyaman. Duuh gimana nih ngelepasin nya."
Viana yang menggelisik membuat Sean terganggu dan bangun dari tidurnya.
" Astagaa!! ." Sean mendorong Viana sekuat tenaganya.
Bugh!
" Awww! ." Pekik Viana.
" Sorry Vi, Om gak sengaja. " Sean langsung bangkit dari ranjang nyq dan menolong Viana untuk berdiri.
" Sakit tauuuuu!! ." Keluh Viana.
" Iyaa Maaf, Om Refleks Vi. "
" Makanya kalau tidur jangan ngelewatin bates. Liat tuh tadi, Om tidur di bagian Vian."
" Enggak." Jawab Sean cepat. " Mana, ga ada pembatesnya kan? Berarti itu bagian Om, Karna kan itu tempat tidur Om. " Sean tersenyum menyeringai karna mampu mematahka perkataan Viana yang menyalahkan nya.
" iiiiiiih ... ngeselin banget sih, udah dia semalam yang nyuruh gua tidur seranjang sama dia." Ucap Viana dalam hati.
__ADS_1
Viana beranjak berdiri meninggal kan Sean, namun Sean menarik pergelangan tangan Viana.
" Mau kemana? ."
" Mau keluar lah. Ini Apartment Om kan? Jadi bukan disini tempat Vian." Viana menggertak Sean.
" Kamu yakin mau keluar Apartment cuma pakai kemeja Om tanpa---." Kata kata Sean mengantung, Sean sebenarnya ingin mengatakan tanpa Bra. Tapi Sean takut Viana menjadi malu kalau Sean mengetahui Viana tak menggunakan Bra.
Viana menyadari apa yang akan di katakan Sean langsung memeluk dirinya sendiri untuk menutupi dadanya.
" Sebentar ya. " Sean meninggalkan Viana untuk mencari benda pipih kesayangan nya. Sean mengotak-atik ponselnya menekan beberapa Keyboard di sana.
Setelah 5 Menit, Bel Apartment terdengar berbunyi dan Sean berjalan cepat membuka nya.
" Ini, pakailah. Om sudah memesan kan Baju untukmu dan keperluan lainnya untuk kau pakai. Setelah itu pergilah dari Apartment Om jika memang kau menginginkan nya."
" Kenapa masih diam? Bukan nya kau ingin cepat pergi? ." Kini Sean berbalik menggertak Viana.
" Ah, yaaaa!! Aku akan bersiap. " Viana bergegas berjalan mengarah Kamar Mandi sambil menyeka Air matanya.
" Dasar anak kecil, baru di gertak gitu ajah udah nangis." Rasanya Sean ingin tertawa melihat Ekspresi terkejut Viana saat mendengar gertakan dari mulutnya yang hanya bercanda. Namun Sean mengurunkan Niatnya, Sean ingin mengajari Viana untuk belajar sedikit dewasa. Sean mengajarkan Viana untuk tidak mengambil keputusan dalam keadaan hati yang Emosi. Karna akan ada dampak yang tidak baik setelahnya.
Setelah 30 Menit lamanya Viana melakukan Ritual mandinya, Akhinya Viana selesai dan turun ke lantai Satu menemui dimana Sean Berada.
" Sini sarapan, Om udah masakin Pasta Buat kamu. " Sean menarik tangan Viana untuk duduk di kursi yang ada sampingnya.
" Gausah. Cepetan bukain pintunya. " Viana meneriaki Sean dengan suara yangs edikit menyerak. Sean tau, Selama Mandi Viana terus menangis karna gertakan nya.
" Hey, Jangan Menangis Lagi. " Sean menarik Viana kedalam pelukan nya.
__ADS_1
Deg...Deg...Deg...
Entah perasaan apa yang dirasakan Sean, Namun saat berdekatan dengan Viana apalagi memeluknya. Jantung Sean berdetak Tiga kali lebih cepat dari biasanya.
Tak tahan dengan itu Sean melepas pelukan nya untuk memberikan jarak antara Sean dan Viana.
" Jangan menangis lagi, Om yang membawa mu kesini, tidak mungkin Om mengusirmu. Vi... Om hanya ingin mengajarkan mu menjadi wanita yang dewasa, Yang tidak selalu memutuskan sesuatu dalam keadaan hati yang sedang Emosi, karna pasti akan ada dampak buruk setelah nya. "
Viana sedikit terenyuh dengan ucapan yang dikeluarkan Sean. Sean yang biasanya menjadi orang yang tak pernah serius dalam berbicara walaupun dia orang Pemimpin Perusahaan. Sekarang di hadapan Viana Sean berubah menjadi sangat Serius.
" Tinggal lah disini bersama Om. Oke? ." Pinta Sean. Namun Viana hanya menganggukan kepalanya.
" Kita akan ke Mall setelah ini untuk membelikan beberapa Pakaian mu dan Kebutuhan lainnya yang kau butuhkan, Apa kau mau? ." Lagi lagi Viana hanya menjawab Sean dengan mengangguk. Viana terlalu malu menatap Sean yang sekarang duduk di hadapan nya. Viana mencoba menyibukkan dirinya dengan Pasta yang di buat Sean untuknya.
" Astagaaaaa! Kenapa ini sangat enak. Dia bukan cuma kaya, tampan tapi juga bisa memasak. Ya walau sedikit tua hahahahhaha..."
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
**Jadi gitu deh Gengsss!!
Sean itu Pemimpin Perusahaan yang Sedikit Somplak dan Gak pernah serius nanggepin setiap omongan orang apalagi ngadepi masalah!!
But! Di depan Viana Sean berubah jadi lebih serius.. Ya kalian taulah Cowok Leboy banyak triknya...
Sean : Setannnnn!! Ini cerita Lu ya thor..
Author : Kabooooooorrr!!
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA AUNTY UNCLE**.
__ADS_1