My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 38 - Kita harus bicara!


__ADS_3

Sekarang tidak ada yang perlu aku cemaskan lagi, dan sekarang aku hanya perlu fokus mencari cara serta menyusun strategi lain supaya aku bisa mendapatkan hati Raefal.


Aku yakin, aku pasti bisa mendapatkan cintanya.


Erina mengepalkan tangan. Menyemangati dirinya sendiri agar tidak pesimis dengan hasilnya nanti.


Erina beranjak dari tempatnya bersama dengan yang lain. Ia segera membantu crew untuk berkemas. Mereka harus kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka serta menyiapkan studio untuk syuting besok.



...*...


"Sekali lagi, terima kasih karena berkat kalian juga tempat ini jadi semakin ramai." Woody amat berterima kasih karena Erina dan timnya telah membuat tempat yang dikelolanya semakin ramai.


"Seharusnya kami yang berterima kasih karena sudah memberikan kami kesempatan untuk menggunakan tempatmu sebagai lokasi syuting kami." Liliana membalasnya dengan senyuman.


"Lain kali, datanglah lagi."


"Dengan senang hati," kata Liliana.


"Ini." Ran menyodorkan poster bergambar dirinya yang telah ditandatangani. Sebelumnya, Woody langsung meminta tanda tangan Ran begitu tahu wanita itu sudah selesai melakukan syuting di tempatnya.


"Aku sangat berterima kasih." Pria itu tersenyum senang sambil menatap poster yang dia berikan.


"Kalau begitu kami permisi."

__ADS_1


"Ya, silahkan. Hati-hati di jalan!"


Erina dan crew nya berlalu menuju tempat parkir.


"Omong-omong kenapa kau sampai berdandan seperti ini? Bukankah sebelumnya kau tidak memakai pakaian ini?" tanya Liliana pada Erina yang kini berjalan bersebelahan dengannya.


"Ini semua karena papaku."


"Huh? Ada apa dengan pak Danesha?"


"Hari ini adalah hari pertemuan tahunan yang biasa kami hadiri. Dia memintaku untuk berdandan. Tapi karena tidak percaya denganku, dia meminta sekretaris Tan untuk membawaku ke LBS."


"Sungguh? Jadi itu alasan sekretaris Tan tadi mengajakmu pergi?"


Grep!


Erina mendadak menghentikan langkahnya saat seseorang secara tiba-tiba menarik tangannya dari arah belakang.


"Kita harus bicara!" tukasnya dengan nada tegas.


Erina dan Liliana spontan menoleh ke arah datangnya suara. Di sana, mereka melihat Vansh yang kini berdiri sambil mencengkram pergelangan tangannya.


"Vansh…" Erina tercekat mendapati pria itu muncul secara tiba-tiba.


"Ayo kita bicara!" tukas Vansh.

__ADS_1


...*...


"Huft~" Raefal menghela napas panjang. Ia terus berjalan bersama dengan Agustina di sampingnya.


Rapat mereka baru selesai setelah pembahasan cukup lama dan sempat mengalami beberapa kendala akibat satu dan lain hal.


Beruntung jadwalnya tidak terlalu padat untuk hari ini. Jadi sekarang, ia hanya harus kembali ke kantor dan menyelesaikan beberapa tugasnya yang belum selesai.


Mereka terus melangkah hingga tiba di pintu depan.


"Sebentar, pak. Saya akan menghubungi Jim dulu," kata Agustina sambil mencari nomor telpon Jim yang tak lain adalah supir yang selalu mengantarkan mereka.


Raefal terdiam. Lagi-lagi ia terhanyut dalam lamunannya.


Akhir-akhir ini, dirinya lebih banyak melamun daripada bekerja.


"Aduh, dimana dia ini? Kenapa dia tidak mengangkat telponnya?" Agustina menggerutu.


"Pak, saya tidak bisa menghubungi Jim. Sepertinya dia tertidur," ucap Agustina begitu ia mencoba menelponnya berulang kali tapi tak ada jawaban sama sekali. "Bagaimana kalau bapak tunggu di sini sebentar sementara saya mencarinya di tempat parkir? Siapa tahu dia memarkirkan mobilnya di sekitar sini."


"Baiklah, terserah kau saja."


"Kalau begitu saya permisi." Agustina segera berlalu menuju parkiran.


...***...

__ADS_1


__ADS_2