
"Erina!" teriak Laica.
Erina refleks menoleh ke arah datangnya suara. Di sana, dia melihat Laica yang berjalan menghampirinya bersama dengan Shawn dan Marcus di belakangnya.
"Akhirnya kau datang juga!" Laica tersenyum simpul ke arahnya.
"Tunggu, apa-apaan ini? Kenapa Shawn dan Marcus juga di sini? Bukannya kau bilang kau sendirian?"
"Kami tidak sengaja bertemu barusan. Makanya aku bersama mereka."
"Lalu dimana Sierra?"
"Aku akan bertemu dengannya setelah dari sini."
"Ah, begitu rupanya. Sepertinya sekarang aman, kalau begitu aku akan pulang."
"Apa? Tunggu dulu, jangan pulang dulu. Karena kau sudah berada di sini ayo kita menonton dulu." Laica menarik tangan Erina, menahannya untuk pergi.
"Tapi aku harus bersiap untuk…"
"Ayolah, sudah lama juga kita tidak menonton 'kan? Lagipula, Shawn bilang dia akan mentraktir kita! Dia sudah membeli empat tiket untuk nonton, bahkan Marcus juga sudah membeli popcorn dan minuman untuknya kita."
__ADS_1
"Aku sungguh tidak bisa!"
"Oh ayolah, hanya sebentar. Kau harus menghargai mereka, ya?" Laica menatap penuh harap pada Erina.
Gadis itu terdiam sejenak. Tampak menimbang-nimbang apakah harus menerima ajakannya atau tidak.
"Laica benar, lagipula sayang kalau tiketnya di buang. Aku sudah membeli empat." Shawn menimpali. Ia menampakkan empat tiket dalam genggamannya.
Erina menghela napas pelan setelah berpikir keras. "Baiklah, tapi setelah ini aku akan langsung pulang, okay?"
"Okay!" Laica tersenyum senang. Ia kemudian merangkul pundak Erina dan menuntunnya mengikuti Shawn dan Marcus.
"Bagaimana dengan filmnya? Kau suka?" tanya Laica yang kini menghampiri wastafel guna mencuci tangannya.
Erina dan Laica baru saja selesai menonton film. Sekarang keduanya berada di toilet, meninggalkan kedua pria yang sejak tadi nonton bersama mereka.
"Ya, cukup seru. Suatu saat, aku ingin membuat film yang seperti itu juga kalau aku telah berhasil menjadi produser," sahut Erina.
"Filmmu harus jauh lebih bagus dari itu!"
__ADS_1
"Tentu saja, aku akan menciptakan film yang lebih seru."
"Omong-omong aku lapar, bagaimana kalau setelah ini kita ke restoran dulu?"
"Aku harus pulang, kau tahu sendiri 'kan aku harus bersiap." Erina mengeluarkan ponselnya. Mengecek jam berapa sekarang.
Begitu menyalakan ponselnya, ia mendapati beberapa notifikasi pesan dari nomor Marciel. Ia menekan bilah notifikasi yang muncul hingga isi pesannya bisa dibacanya dengan jelas.
Marciel: Erina, ada yang ingin aku bicarakan padamu. Bisakah kau datang ke taman tempat biasa kita menghabiskan waktu bersama? Aku akan menunggumu di sana jam tiga.
Marciel: Aku ingin kau datang, karena aku tidak akan pergi sebelum kau tiba. Sampai jumpa.
Erina membulatkan mata begitu sadar sekarang jam berapa. Ia bergegas menekan tombol telpon yang tertera di sana guna menjelaskan semuanya pada Marciel.
"Ayolah, angkat telponnya!" Erina bergumam dengan wajah cemas. Setelah mencoba berulangkali, nomor Marciel yang dihubunginya tidak aktif sama sekali.
"Erina, kau dengar aku tidak?" Laica menoleh ke arah Erina yang sejak tadi sama sekali tidak merespon ocehannya.
"Erina? Ada apa?" Air muka Laica seketika berubah bingung begitu melihat ekspresi Erina yang mendadak berubah cemas. "Kau sedang menghubungi siapa?"
"Marciel. Sebelum aku menerima telpon darimu, dia sempat mengirimkan pesan kalau dia meminta untuk bertemu. Tapi aku malah baru membuka pesannya…"
__ADS_1
"…Karena terlalu cemas padamu, aku sampai tidak sadar," gumamnya.
...***...