
Marciel… Sierra membulatkan mata begitu melihat sosok lelaki itu berada di antara kerumunan tak jauh dari tempatnya berdiri.
Marciel berbalik dan menerobos kerumunan. Tampak jelas kalau pria itu mengambil seribu langkah dan melarikan diri.
Sierra yang melihat itu tidak bisa tinggal diam. Ia segera bergerak mengejarnya, menerobos lautan manusia dan mencarinya secepat yang dia bisa.
...*...
"Ketemu!" Sierra berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Setelah mencari cukup lama, akhirnya dia bisa menemukan Marciel yang ternyata berlari menuju atap sekolah.
Ia mendorong pintu itu hingga menciptakan suara yang begitu nyaring.
Marciel bahkan sampai kaget dan spontan menoleh ke arah datangnya suara.
"Sierra…" Marciel tercekat begitu mendapati gadis itu tiba di sana.
Sierra menghampirinya dengan langkah besar. Ia kemudian berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Katakan padanya!" tukas Sierra.
"Huh?" Marciel menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Katakan apa yang kau rasakan pada dia! Pada Erina!"
"A… apa maksudmu?" Wajah pria itu berubah seiring dengan kalimat yang terlontar dari mulutnya. Marciel mendadak berubah gugup.
"Berhenti mengelak. Aku tahu kalau kau menyukai Erina 'kan?!"
Marciel membulatkan kedua matanya. Ia membatu seketika di posisinya.
"Maka dari itu, katakan padanya."
"Aku melihat semuanya!" potong Sierra cepat.
"Aku melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain selama ini. Aku melihat kau yang berjuang keras untuk bisa menarik perhatian Erina dengan caramu. Tapi apa yang kau lakukan selama ini kupikir akan sia-sia jika kau terus diam tanpa pernah memiliki keberanian untuk bicara. Maka dari itu, katakan padanya!"
"Untuk apa?" Marciel menundukkan kepalanya dengan raut wajah murung.
__ADS_1
"Aku muak. Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dengan ini, tapi aku benar-benar muak melihatmu yang terus murung, dan terus berusaha bersabar menghadapi semuanya. Kau terlalu tenang, kau seolah percaya bahwa suatu saat nanti dengan sikapmu yang begini, Erina bisa datang menghampirimu dengan sendirinya…"
"…Tapi kau mulai cemas ketika melihat Erina dekat yang lain. Itu membuatku muak. Aku tidak tahan melihatmu yang terus menahan sakit setiap kali melihat Erina bersama pria lain!" ucap Sierra meledak-ledak.
Marciel diam tanpa menjawab. Sierra lantas meraih tangan pria itu dan menggenggamnya.
"Maka dari itu, katakan padanya. Agar kau juga tidak terus merasakan sakit."
"Aku sudah coba. Tapi, aku tidak bisa…" lirih Marciel.
"Apa maksudmu kau tidak bisa? Kau sudah pernah mencobanya. Ketika kau datang dan menunggunya di tengah udara dingin, kau bahkan sampai flu! Apanya yang tidak bisa?"
"Aku pernah bertanya padanya. Ketika Erina menjelaskan segalanya mengenai kejadian saat itu, aku bertanya apa yang dia rasakan selama dekat denganku dan bagaimana dia menganggap ku di hidupnya."
Marciel mendongak, beradu tatap dengan gadis yang kini berdiri dihadapannya.
"Lalu dengan ringan, dia berkata bahwa di nyaman di sisiku sebagai teman. Erina juga berkata kalau dia hanya menganggap ku sebagai teman, tidak lebih."
"Status bisa berubah! Tapi perasaan yang kau miliki untuknya tidak akan pernah berubah. Begitu juga dengan perasaan Erina, perasaannya bisa saja berubah sewaktu-waktu."
__ADS_1
"Aku juga berkata demikian ketika dia bilang begitu. Tapi dia bilang, baginya sahabat tetaplah sahabat dan selamanya tidak akan pernah menjadi lebih daripada itu. Ketika itu, aku baru menyadari sesuatu…"
...***...