My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 48 - Berani sekali dia membohongiku!


__ADS_3

Sierra terdiam di tempat parkir. Bersandar pada mobil milik Laica yang masih terparkir rapi di sana.


Ia sedang menunggu Laica kembali usai membayar semua tagihan makanan yang baru saja mereka nikmati.


Selama menunggu, pikiran Sierra entah kenapa terus terfokus pada satu topik beberapa saat yang lalu ketika mereka masih duduk bersama di atas meja.


"Raefal… memang apa hebatnya pria itu sampai-sampai membuat Erina begitu menyukainya?" Sierra menatap layar ponselnya. Mencari Raefal di internet.


Ia termangu memandangi salah satu foto pria itu yang dia temukan di internet.


"Menurutku tidak ada yang spesial darinya. Dia hanya seorang om-om kaya, mantan model yang punya tampang good looking, dan sering jadi incaran para wanita," lirihnya pelan.


Pikirannya melayang, mengingat kembali akan kejadian beberapa hari lalu saat Erina untuk pertama kalinya memaparkan ide gilanya untuk mengejar Raefal dan ingin menjadikan pria itu sebagai kekasihnya.


Sierra tak habis pikir dengan sahabatnya yang satu itu ketika dia bilang bahwa dia ingin mengejar Raefal dan mendapatkan hatinya.


"Mengingat kejadian saat itu, membuatku teringat akan Marciel juga."

__ADS_1


"Saat itu dia mendengar dengan jelas pembicaraanku, Laica dan Erina 'kan?"


"Kira-kira bagaimana perasaan dia setelah tahu hal itu?"


"Kaget? Sudah pasti. Tapi apa yang akan dia lakukan kali ini? Apakah dia akan membiarkannya begitu saja dan menyerah seperti yang sudah-sudah? Atau…"


"…Dia akan mengambil langkah besar dan menyatakan perasaannya?"


"Kalau dia terus memendam perasaannya, maka tidak akan pernah ada celah untuknya membuat Erina sadar dan peka akan perasaan yang dia miliki untuknya…"


Sierra menggenggam ponselnya erat. Tidak tahu kenapa hatinya ikut sedih begitu sadar dengan posisi Marciel saat ini.



Future City, Sciencetopia, beberapa tahun yang lalu.


Udara terasa begitu dingin. Rasanya seakan menusuk hingga ke tulang rusuk.

__ADS_1


Salju pertama belum menampakkan wujudnya, namun suhu udara sudah mulai turun dari suhu normal. Membuat semua orang mau tidak mau harus menggunakan mantel super tebal guna menghangatkan diri ketika beraktivitas diluar.


Sierra menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah selama dua puluh menit dirinya menunggu Laica di cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari toko buku yang hendak mereka kunjungi sepulang sekolah. Namun selama dua puluh menit itu juga, gadis yang jadi sahabatnya sejak SMP itu tak menampakkan batang hidungnya sama sekali.


Sierra bahkan sudah menghabiskan satu cangkir hot chocolate dengan cake vanila stroberi yang kini hanya tersisa sepertiga lagi.


"Sudah lebih dari lima menit. Kenapa dia belum datang juga? Katanya dia akan datang dalam lima menit, tapi mana buktinya? Dasar pembohong," gerutunya sambil mengeluarkan ponselnya guna menghubungi sahabatnya yang satu itu.


Sierra mencoba menghubunginya berulang kali, tapi nomor Laica sama sekali tidak dapat dihubungi. Entah kenapa, nomornya tidak aktif sama sekali.


Sierra naik pitam. Ia kesal, rasanya ingin sekali melemparkan ponselnya hingga hancur berkeping-keping karena Laica membohongi dirinya dan membuatnya menunggu hingga dua puluh menit lamanya.


"Berani sekali dia membohongiku," gumam Sierra dengan wajah kesal.


Ia membuka aplikasi sosial media, berusaha menghubungi Laica lewat chat di sana. Biasanya gadis itu kalau nomornya tidak bisa dihubungi beda halnya dengan sosial media miliknya yang selalu online.


Sierra naik darah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2