My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Pembatas


__ADS_3

Hellow!!


Happy Reading!!


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Setelah kejadian kuali yang gosong. Akhirnya Sean memilih untuk memesan makanan lewat aplikasinya di Cafe yang ada di bawah.


" Jadi siapa Namamu? ." Tanya Sean yang kini sedang memandang Viana yang sedang makan.


" Viana Om. " Jawab Viana sambil mengunyah makanan nya.


Viana sengaja tidak menyebutkan nama lengkap nya. Viana berpikir untuk melepas nama kebesaran Ayahnya yang turun temurun.


" Kenapa tadi kau hujan hujanan? " Tanya Sean sedikit mendeteksi.


Namun Viana hanya diam dan hanya sibuk dengan makanan nya. Sean melihat Viana seolah enggan untuk menjawab.


" Kalau kau hanya diam, Om tidak bisa mengijinkan mu tinggal di Apartment Om. Om takut kalau kau adalah seorang Psychophat." Lanjut Sean


" Daddy mengusirku. " Viana menyudahi makan nya yang bekum habis. " Daddy mengusirku karna aku pulang lewat jam 10 malam. " Jawab Viana sedih dan Air matanya yang sudah menetes.


" Tenanglah, Jangan menangis!! ." Sean Refleks berpindah duduk dan menarik Viana kedalam pelukan nya.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


" Daddy bilang dia sayang padaku. Tapi kenapa dia mengusirku." Viana membalas pelukan Sean dengan tangis nya yang sangat terisak.


" Benar, Daddy mu memang sangat menyayangimu. Maka dari itu, dia sangat marah padamu karna pulang larut malam. " Sean mengelus rambut Viana yang masih di dalam pelukan nya untuk memberi ketenangan.


" Huaaaaaaaaaa. Hiks.. Hiks.. Hiks.."


Bukan malah menenang, Tangis Viana malah semakin mengencang.


Entah mengapa Sean juga seperti merasakan sakit yang di tanggung Viana.

__ADS_1


" Kenapa aku? Kenapa melihat Air matanya jatuh hatiku terasa sakit. " Ucap Sean dalam hatinya.


" Om, Boleh kan Vian tinggal disini sama Omm. " Viana melepaskan pelukan Sean untuk memberi jarak.


Tatapan Sean dan Viana bertemu, Seperti ada Satu Garis lurus yang membuat tatapan mereka seolah enggan Memutus.


" Jangan, Jangan tatap gue gitu Vi. Mata lo itu, Aaaaah!! Mata lo memabukkan. " Sean masih melamun.


" Om, boleh kan? ."


Sean merasa darahnya mengalir berdesir hebat.Tubuhnya terasa memanas, saat Viana meletakan tangan nya di paha Sean, dengam jari jari lentiknya yang sedikit menekan.


" Ya Tuhan, Cobaan apa lagi ini? Bocil bisa tegang. Jangan cil, Jangan Lost Kontrol di depan anak kecil. " Sean menarik Nafasnya dalam dan membuangnya perlahan untuk memenangkan dirinya sendiri.


" Boleh Kok, tapi harus nurut sama Om ya. Vi.. Om ga bakal ngekang kamu, tapi Om mau kamu jaga diri. Dan kejadian tadi, Om ga mau keulang lagi kayak gitu. " Ingatkan Sean pada Viana.


" Makasih Om!! ." Viana memeluk Sean secara tiba - tiba dan membuat Sean tersontak kaget.


" Vi.. Lepas!! ." Bentakk Sean.


" Maaf Om. " Viana menunduk mengutuki dirinya sendiri. Viana merasa dia lepas Kontrol ingin terus memeluk Sean yang membuat nya sedikit Nyaman.


" Yaudah, Om minta maaf udah ngebentak kamu. Sekarang kita tidur ajah yuk." Ajak Sean.


" Tidur di kamar Om? Seranjang? ."


" Ya iyalah. Kamar disini kan cuma satu dan itu cuma kamar Om. Jadi ka--- ."


" Vian bisa tidur di Sofa kok Om. " Viana memotong perkataan Sean.


" Gakk!! ."


" Tap--tapi kan Om. "


" Tadi bilang mau nurut sama Om kan. Kamu mikir mesum ya? Makanya takut tidur sama Om. "

__ADS_1


" Eeeeee Enggak ya. " Viana beranjak berdiri meninggalkan Sean. " Kejar Vian, Weeeeekkkk!! ." Viana menjulurkan Lidahnya mengejek Sean dan berlari ke lantai Dua dimana kamar Sean berada.


Sean mengejar Viana yang lari menuju lantai Dua.


" Ini pembatas kita." Sean meletak kan guling di tengah tengah mereka. Setelah itu Sean dan Viana pun mulai merebahkan badan nya.


" Om ."


" Emm. "


" Udah tidur? ." Tak ada jawaban, Hanya hembusan nafas Sean yang mulai berarturan Viana dengar saat Viana menoleh.


" Selamat Malam Om. "


โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข


Mansion Alex Sanjaya


" Gimana mas? ."


" Jack bilang susah ngelacak keberadaan Vian, Karna Vian ga bawa Handphone ." Jelas Alex.


Hiks.. Hiks.. Hiks


" Anak kita dimana Mas? Malam ini dia tidur dimana? Ini hujan." Naina menangis terisak memikirkan Putri semata wayangnya.


" Yank, Mas minta maaf ya. Mas udah kelewat emosi sampe ga sadar ngusir Vian. Mas ga tau kalau Gertakan Mas bakal di tanggapi Vian sejauh ini."


Memang benar, Alex dan Naina tak menyangka jika Viana bakal menanggapi gertakan yang di berikan Alex. Yang Alex tau Viana sangat menurut dan akan takut jika Daddynya sedang marah. Namun beda dengan Viana, Viana yang merasa sudah dewasa memilih pergi keluar Mansion setelah Alex mengusirnya. Viana ingin menunjukan pada kedua orang tuanya, Bahwa dia bukanlah lagi anak kecil yang harus terus di kekang.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Duh Om Sean pura pura ajah tuh ngasi pembatas..


Cuma Trikk kan?

__ADS_1


Biasa juga langsung Nyobloss ajah kalo liat yang bening bening.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YEAYYY**


__ADS_2