My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 43 - Mimpi di tengah malam


__ADS_3

Raefal terbaring terlentang di sisi lain.


Erina merangkak naik ke atas tubuhnya. Duduk di pangkuan Raefal yang kini terdiam dengan otak yang berusaha memproses setiap kejadian yang dialaminya.


"Kenapa kau bisa ada di…"


"Kau milikku…" potong Erina cepat. Kedua tangannya mencengkram pergelangan tangan Raefal dan menahannya agar tidak banyak bergerak.


Erina menatapnya lebih dekat.


Raefal menatap Erina. Tepat pada iris matanya, ia melihat kilat cahaya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Erina mendekatkan kepalanya.


Ini salah! Apa yang terjadi? Dimana dia? Kenapa Erina? Tidak seharusnya aku melakukan ini dengannya!


Aku ingin melawan. Tapi kenapa tubuh ini menolak dan seakan pasrah mengikuti setiap alur permainannya?


Raefal ingin memberontak. Tapi tubuhnya benar-benar tak sinkron dengan pikirannya.


Melihat Erina dalam kondisi tanpa busana seperti ini justru malah membuat Raefal lebih bergairah.


Libidonya lebih tinggi. Bahkan dari sebelumnya.


Apa yang aku pikirkan? Sadarlah! Sadarlah! Raefal menggelengkan kepalanya.


Erina semakin mendekatkan wajahnya, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya.


__ADS_1


Pats!


Raefal membuka kedua matanya spontan. Ia bangkit dari tempat pembaringannya dengan posisi terduduk di ranjang.


Napasnya terengah-engah, jantungnya berdebar hebat, dan keringat mengucur membasahi keningnya.


Untuk sesaat ia terdiam. Berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan.


"Mimpi…" lirihnya pelan setelah semua kesadarannya benar-benar kembali.


"Huft~" Raefal menghela napas pelan. Ia mengusap keringat yang mengucur deras di keningnya.


Detik berikutnya, ia beralih fokus meraih gelas berisi air putih yang selalu disediakannya di meja nakes dekat ranjang tidurnya.


Raefal meraih dan meneguk isinya hingga tersisa setengah.


"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Terlebih…"


"Erina?"


Raefal bergumam pelan. Atensinya mendadak beralih saat ia merasakan sebuah cairan kental membasahi celananya.


Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Miliknya bangun, dan mengeluarkan cairan hingga membuat piyama tidurnya kotor.


Sial! pikirnya.


"Mau tidak mau aku harus mandi." Raefal beranjak dari tempat duduknya. Ia terdiam sejenak di tepi ranjang sambil menatap jam digital di atas meja nakes tadi.


Pukul dua dini hari. Bisa-bisanya dia mimpi basah tentang Erina, bahkan sampai membuat miliknya benar-benar mengeluarkan cairannya.

__ADS_1


Raefal beranjak menuju kamar mandinya, hendak membersihkan tubuhnya dan menuntaskan apa yang harus dituntaskannya.


...*...


"Ini berkas yang ibu minta," tutur seorang wanita berpakaian rapi sambil menyodorkan berkas dalam genggamannya pada Agustina.


"Terima kasih."


"Bukan masalah." Wanita itu beranjak hendak pergi dari tempatnya. Tapi langkahnya terhenti begitu secara tidak sengaja ia menoleh ke arah ruang Raefal.


"Eh, omong-omong boleh saya tanya sesuatu, Bu?" tanyanya.


"Huh? Kau mau tanya apa memang?"


"Akhir-akhir ini pak Raefal bersikap aneh, apa yang terjadi pada beliau? Tidak biasanya pak Raefal bersikap aneh."


"Pak Raefal?" Agustina menoleh ke arah jendela kaca besar. Dari jendela itu, ia dapat melihat Raefal yang terduduk dengan wajah tak sedap seperti biasanya.


"Saya juga kurang tahu apa yang terjadi pada beliau. Akhir-akhir ini sikapnya memang aneh, dan setiap kali saya tanya… beliau pasti bilang tidak apa-apa."


"Apakah ini ada hubungannya dengan yang sedang ramai?"


"Maksudmu?"


"Ibu belum tahu? Ada berita di internet yang sedang ramai dibicarakan tentang pak Raefal dengan seorang model cantik yang sekarang sedang populer."


"Hah?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2