
"Kalau kau berpacaran dengannya, semua orang bisa mengira kau adalah simpanan dari seorang sugar daddy!" tutur Sierra.
"Sugar daddy?" Erina mengulang kalimatnya. "Tidak akan sampai seburuk itu, Sierra. Kau tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang sementara sahabatku mulai beranjak kurang waras?"
"Enak saja kau bilang begitu. Aku masih seratus persen waras, dan aku sadar kalau aku memang benar-benar jatuh cinta padanya. Mungkin aku akan langsung mengajaknya berkencan, atau mungkin menikahinya?" Erina bergumam di akhir kalimatnya. Wajahnya bersemu membayangkan bagaimana ekspresi Raefal ketika dirinya tiba-tiba mengajak pria itu untuk berkencan.
"Kau, apa?!" Sierra tersentak dibuatnya.
"Huh? Tidak, aku tidak bilang apa-apa. Pokoknya aku minta doa dan dukunganmu sebagai sahabatku! Doakan aku berhasil mengajaknya pacaran!"
"Tunggu, apa kau bi…"
"Okay, bye-bye. Sampai jumpa lagi nanti!" Erina langsung memotong kalimatnya. Menekan tombol merah yang dalam sekejap memutus sambungan telponnya dengan Sierra di seberang sana.
Erina menghela napas pelan.
__ADS_1
"Mereka benar-benar menentang perasaanku padanya. Memangnya apa yang salah dengan sugar daddy? Lagipula dia belum menikah." Erina menatap ponselnya.
"Ah, sudahlah. Aku tidak ingin memikirkan hal itu. Mending sekarang aku menghubungi Raefal dan ajak dia untuk kencan besok!"
Erina menuliskan nomor telpon Raefal guna menghubungi pria itu.
...*...
"Aku hanya melakukannya secara spontanitas," jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Gara-gara kau, aku jadi tidak tahu apa lagi yang mereka bahas!" Laica menatap ponselnya, melihat history call nya dengan Erina dan Sierra barusan.
"Omong-omong apakah aku tidak salah dengar? Tentang Erina yang katanya suka dengan Raefal?"
"Kau tidak salah dengar. Erina memang bilang begitu!" sahut Laica dengan nada ketus.
__ADS_1
Marciel terdiam mendengar ucapan Laica barusan. Ekspresinya mendadak tampak bimbang begitu mendengar sahabatnya mencintai seorang laki-laki yang jelas-jelas ia minta untuk jauhi.
Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus menghentikannya! Marciel mengepalkan tangan. Ia ingin menghentikan Erina untuk berpacaran dengan Raefal.
"Apa-apaan dengan wajahmu itu? Kenapa ekspresimu begitu setelah mendengar bahwa Erina suka dengan Raefal? Kau cemburu?" tuding Laica begitu melihat ekspresi Marciel berubah penuh dengan aura kesal yang begitu pekat.
"Apa? Cemburu? Heh asal kau tahu saja, aku mencemaskan dia karena dia sahabat kita. Memangnya kau tidak cemas mendengar Erina jatuh cinta dengan pria yang jelas-jelas tidak baik?"
"Tentu saja aku cemas. Lagipula dia sahabatku…" gumam Laica.
"Maka dari itu, kita harus cari cara untuk menghentikan Eri menyatakan perasaannya sebelum terlambat."
"Bagaimana caranya? Kau tahu sendiri 'kan Eri adalah wanita yang benar-benar ambisius dan dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Selain itu, dia adalah wanita mandiri yang sangat gigih. Setelah memutuskan sesuatu, dia akan sukar untuk dilawan. Tekadnya terlalu kuat untuk kita hadapi."
"Kau ada benarnya juga." Marciel terdiam membenarkan ucapan Laica barusan. "Ah, soal itu kita pikirkan jalan keluarnya bersama-sama. Kita hubungi Sierra dan Levine untuk bertemu!"
...***...
__ADS_1