
"Maaf aku terlambat, apakah kau sudah menunggu lama?" Erina mengambil duduk di salah satu kursi yang posisinya berhadapan dengan kursi yang di duduki Marciel.
"Tidak apa-apa, aku tahu kau sedang sibuk." Marciel tersenyum simpul ke arahnya. Pria itu lalu memanggil salah satu pelayan lantas memesankan satu minuman untuknya.
"Omong-omong kapan kau kembali? Aku dengar dari Sierra dan Laica kalau kau baru saja menyelesaikan pekerjaan di luar kota?"
"Ya, aku baru saja dari luar kota. Aku baru saja sampai."
"Benarkah? Kau pasti lelah 'kan? Kenapa kau buru-buru ingin bertemu denganku? Apa tidak sebaiknya kau beristirahat dulu?"
"Ada sesuatu yang sebenarnya ingin aku berikan padamu." Marciel mengeluarkan sebuah paper bag yang sejak tadi ditaruhnya di sisi kursi kosong yang ada.
"Saat diperjalanan pulang, aku mampir ke salah satu tempat wisata tak jauh di sana. Dan aku melihat ada barang yang sangat indah. Aku pikir, ini cocok untukmu. Kuharap kau menyukainya."
"Astaga, seharusnya kau tidak perlu repot-repot."
"Aku tidak merasa repot sama sekali. Justru aku sangat senang kalau kau ingin menerimanya."
"Akan aku terima jika itu membuatmu senang." Erina meraih paper bag di hadapannya dan mengecek isinya. Di dalamnya ada sebuah kotak yang ukurannya cukup besar.
__ADS_1
"Aku akan membukanya nanti," kata Erina sambil menaruh benda itu di sisinya. Erina tidak ingin terlalu cepat membukanya, karena bagaimanapun ada yang harus ia bicarakan terlebih dulu dengan pria yang menjadi sahabatnya ini.
"Aku harap kau suka."
"Ya, aku pasti suka. Omong-omong aku ingin minta maaf."
"Minta maaf? Untuk apa?"
"Untuk kejadian sebelum kau berangkat. Kau berusaha menghubungiku, tapi aku malah tidak sempat menjawab telpon atau bahkan membalas pesan darimu. Aku benar-benar tidak enak, dan aku terus kepikiran." Erina menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Haha aku kira kenapa. Tidak apa-apa, lagipula aku mengerti kau sibuk. Jadi kau tidak perlu merasa tidak enak. Dan lagi, aku sudah kembali 'kan?"
"Tetap saja itu membuatku merasa tidak nyaman. Bagaimana kalau sebagai gantinya, biar aku yang traktir hari ini?"
"Jangan menolak! Anggap saja sebagai permintaan maafku untukmu. Kau boleh pesan apa saja yang kau mau!" potongnya cepat.
"Kau bersungguh-sungguh?"
"Tentu saja. Mana mungkin aku bercanda."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan memesan banyak makanan enak. Tapi kau juga harus makan!"
"Okay."
Marciel meraih buku menu dan kembali memanggil si pelayan guna memesan makanan yang dia inginkan.
...*...
"Maaf, aku permisi ke toilet sebentar. Jangan kemana-mana, okay?" Joy beranjak bangun dari tempatnya dan melangkah meninggalkan Raefal seorang diri di meja makan.
Pria itu pada akhirnya bisa bernapas lega karena si pengganggu akhirnya mau pergi dari hadapannya.
Lebih baik aku habiskan minumanku secepatnya setelah itu pergi sebelum dia kembali. Raefal menyeruput minumannya hingga habis tak tersisa.
Setelah selesai, ia memanggil salah satu pelayan dan meminta bill pembayaran atas makanan yang telah dipesannya. Ia berencana untuk pergi sebelum Joy kembali dan mengganggunya lebih lama lagi.
Raefal beranjak dari tempatnya begitu selesai melakukan pembayaran, ia hendak pergi dan meninggalkan Joy yang entah sedang sibuk apa di dalam toilet kafe.
__ADS_1
Semoga dia tidak sadar.
...***...