
"Lalu kenapa kau harus cemas?"
"Astaga, dia bilang kalau dia tidak akan pergi sebelum aku sampai."
"Kau tidak perlu cemas. Lagipula Marciel itu orang yang pintar, tidak mungkin dia tetap menunggumu yang tidak kunjung datang. Apalagi kau tahu sendiri 'kan, kalau udara di luar sangat dingin. Sudahlah, jangan terlalu cemas. Dia juga pasti sudah pulang."
"Tapi, kau tahu sendiri 'kan kalau Marciel itu orang yang selalu memegang kata-katanya. Kalau dia bilang tidak akan pergi sebelum aku datang, maka dia tidak akan pergi! Oh astaga, kenapa nomornya tidak aktif sama sekali?!" Erina menggerutu menatap layar ponselnya sekali lagi.
Nomor Marciel tidak bisa dihubungi sama sekali padahal dia sudah menelponnya berulangkali.
"Hey! Kau terlalu berlebihan. Sudah aku bilang Erina, Marciel pasti sudah pulang. Jangan terlalu cemas, sekarang lebih baik kita pergi. Kita makan bersama."
"Aku tidak bisa. Aku harus pulang, sekaligus aku harus memeriksa apakah Marciel sudah pulang atau belum. Aku tidak ingin dia sampai kenapa-kenapa hanya gara-gara menungguku."
"Ayolah jangan seperti itu. Lagipula aku tahu kau juga lapar 'kan?"
"Memang benar, tapi…"
"Bagus! Kalau begitu ayo ajak Shawn dan Marcus untuk makan bersama juga!" Laica tanpa permisi langsung menarik tangan Erina. Membawanya pergi meninggalkan toilet dengan wajah ceria.
"Untuk sementara waktu, lebih baik aku menyita ponselmu!" Laica merebut ponselnya cepat.
"Hey, kembalikan ponselku!"
"Aku akan mengembalikannya setelah kita makan bersama. Pokoknya kau tidak bisa kabur, mengerti?"
__ADS_1
"Huft~ kau ini benar-benar memaksa, ya…" Erina berdecak.
"Kalau tidak seperti ini, kau akan langsung kabur."
"Baiklah, aku akan makan bersama kalian. Tapi kembalikan ponselku!"
"Nanti saja. Yang terpenting kita makan dulu." Laica sangat bersemangat.
Aku harap apa yang dikatakan Laica benar, Marciel sudah pulang dan tidak menungguku terlalu lama.
Aku tidak ingin dia sampai sakit karena aku.
Erina terhanyut dalam lamunannya. Selanjutnya dia terdiam memikirkan mengenai Marciel.
"Omong-omong keluar berempat seperti ini, bukankah terasa seperti kita sedang double date?" tutur Laica tiba-tiba.
"Kenapa? Lagipula kita datang dengan dua orang laki-laki 'kan? Bagaimana dengan Shawn?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Ya, aku tanya. Menurutmu bagaimana Shawn? Seperti yang semua orang tahu, dia itu suka denganmu. Bagaimana dengan perasaanmu padanya? Apa kau juga menyukainya?"
"Aku tidak merasakan apapun padanya."
"Sungguh? Lalu bagaimana sifatnya menurutmu?"
__ADS_1
"Menurutku dia baik, itu saja."
"Penilaian macam apa itu? Aku ingin yang lebih spesifik."
...*...
Saat ini…
"Begitu ceritanya," jelas Laica. Membeberkan secara spesifik mengenai kejadian kemarin agar Sierra tidak salah paham lagi dengannya.
Sierra terdiam dengan wajah murung. Mendengar penjelasan Laica barusan membuatnya sedih, karena gara-gara gadis itu membatu Shawn untuk dekat dengan Erina kemarin. Sahabatnya Marciel yang harus menjadi korbannya.
Sierra mengepalkan tangannya erat.
Kau tidak tahu saja kalau apa yang kau lakukan sudah membuat Marciel terkena imbasnya! batin Sierra.
"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Lain kali aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi."
"Aku tidak peduli!" Sierra beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Apa maksudmu? Jadi, kau tidak ingin memaafkanku?"
"Dengar Laica! Apa yang kau lakukan sudah membuat orang lain jadi korbannya!" tukas Sierra.
__ADS_1
...***...