My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 25 - Hanya makan?


__ADS_3

Pelayan datang membawakan pesanan mereka dan menaruh semuanya ke atas meja.


Erina terdiam dengan santainya. Fokusnya tertuju pada semua hidangan lezat yang hendak ia nikmati. Sementara Raefal tampak diam dengan wajah kusam, menatap Erina tak bersahabat.


"Silahkan menikmati hidangannya."


"Terima kasih." Erina tersenyum ke arah si pelayan yang kini berlalu meninggalkannya. "Semua ini tampak lezat. Selamat makan!"


"Tunggu!"


Erina baru saja akan melahap semua makannya. Tapi Raefal mendadak menghentikannya.


Erina mendongak padanya. "Apa yang harus aku tunggu? Aku sudah lapar, dan aku ingin segera memakan semua ini. Kau tahu? Menunggumu di sini sejak tadi membuat perutku benar-benar keroncongan."


"Langsung to the point saja. Sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan pada saya? Dan ada apa dengan semua dekorasi ini?"


"Kita bicara sambil makan, okay? Kau juga lebih baik nikmati hidangan yang sudah aku pesankan." Erina tak menghiraukan ucapannya dan mulai fokus pada makannya.


"Benar-benar lezat," gumam Erina yang melahap semuanya dengan begitu bersemangat.


Raefal menghela napas pelan. Ia meraih gelas berisi minuman yang di pesannya.


Sungguh, saat ini dia benar-benar membutuhkan sesuatu untuk meredakan amarahnya.

__ADS_1


Tukk!


Raefal menaruh gelasnya lagi dan bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.



"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau hanya diam?" Erina beralih lagi padanya.


"Saya tidak berselera makan. Lagipula sejak awal saya kemari bukan untuk menemani anda makan siang."


"Kau harus makan, aku sudah memesan ini semua dan sayang kalau tidak kau sentuh. Lagipula semua hidangan ini enak. Kau akan menyesal kalau kau tidak memakannya."


"Baik, hentikan basa-basinya nona! Katakan saja apa yang anda inginkan sebenarnya. Jangan banyak berbelit-belit."


"Aku tidak akan bicara sebelum kau selesai makan."


"Kau tidak akan bisa keluar dari sini karena pintunya terkunci," kata Erina begitu ia berhasil berdiri dan baru melangkah beberapa langkah.


Raefal menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Erina.


"Kau terkunci di sini bersamaku hingga kau menyelesaikan semua hidangannya."


"Apa?" Raefal tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

__ADS_1


"Sudah aku bilang kau terkunci. Jadi ayo duduk dan makan bersamaku kalau kau ingin keluar." Erina bangkit dan menarik tangan Raefal.


Pria itu langsung menghempaskan tangannya begitu Erina menyentuhnya.


"Saya muak dengan semua ini. Sekarang katakan saja apa yang sebenarnya yang anda inginkan dari saya? Setelah itu biarkan saya pergi, okay?"


"Aku hanya ingin kau duduk dan makan bersamaku. Lagipula kau belum makan siang 'kan?" Erina masih bicara dengan nada halusnya.


Raefal tampak berpikir sejenak.


"Apakah sesulit itu permintaanku sampai-sampai kau tidak bisa mengabulkannya?"


"Huft~" Raefal menghela napas panjang. Masih berusaha menstabilkan emosinya. "Baik, hanya makan 'kan?"


"Yup." Erina mengangguk.


Raefal kembali menghampiri kursinya dan duduk serta mulai menikmati hidangannya.


Erina hanya tersenyum lalu menghampiri kursinya juga.


"Sudah aku duga, kau memang akan datang dan makan siang bersamaku di sini," gumam Erina sambil meneguk minumannya.


Raefal tak menjawab dan hanya fokus pada makannya. Ia ingin segera menghabiskan makanan itu agar bisa pergi dengan cepat.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin aku katakan sudah aku katakan."


...***...


__ADS_2