
Sepertinya sejak awal wanita itu berusaha untuk mendekati Raefal, pikir Erina sambil terus memperhatikan gerak-gerik mereka.
Erina yang bisa membaca gerak bibir, bisa dengan mudah menerjemahkan pembicaraan mereka dari jaraknya saat ini.
"Dari kalimat yang dia lontarkan pada wanita itu, bisa disimpulkan kalau sejak awal dia benci dengannya," gumam Erina pelan.
"Gaya wanita itu benar-benar menggelikan. Dia begitu melebih-lebihkan gaya anggunnya."
Drrttt…
Getar ponsel menyita perhatian Erina. Ia spontan mengambil ponselnya di dalam tas di samping kemudi.
Begitu dilihat, nama Liliana tertera di sana. Wanita itu tampaknya sekarang sedang mencari-cari dirinya.
Erina menggeser tombol hijau, menyambungkan panggilan telpon mereka.
"Halo, ada apa, Lili?" sambarnya cepat.
"Erina, kau dimana? Apakah kau masih lama di luar?"
"Seperti yang aku bilang, aku ada urusan, dan mungkin akan agak lama. Memangnya kenapa?"
"Aku dan yang lain baru saja kembali ke kantor. Di lobi, aku bertemu dengan Vansh. Dia bilang dia menunggumu sejak tadi dan ingin berte…"
__ADS_1
Pip—
Erina memutus sambungan sepihak tanpa mendengar lanjutan kalimat yang terlontar dari bibir Liliana di seberang sana.
"Aku tidak ingin mendengar apapun tentang Vansh," gumamnya. Erina menonaktifkan ponselnya agar Liliana tidak terus mengganggunya untuk memintanya bicara dengan Vansh.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, dan kembali beralih fokus pada Raefal yang kini berjalan masuk ke dalam gedung kantor bersama Agustina dan Joy.
Mereka masuk? Argh, gara-gara Vansh, aku jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan tadi, batin Erina.
...*...
Marciel menghentikan mobilnya. Begitu keluar, ia melihat mobil milik Laica terparkir di sana.
"Kalian kemari?" ucap Marciel sambil berjalan menghampiri mereka.
Perhatian ketiganya langsung tertuju pada pria yang baru saja tiba itu.
"Marciel!" seru mereka serentak.
"Kalian kemari untuk menemui Erina juga?"
__ADS_1
"Ya. Aku dengar dari Liliana kalau Erina tidak bisa dihubungi dan belum kembali ke kantor hingga sekarang," tutur Sierra yang diangguki oleh Laica dan Levine.
"Ternyata dia juga menghubungi kalian?"
"Kau sendiri kemari apakah karena Liliana menghubungimu juga?" tanya Levine retoris.
"Ya. Begitu mendengar Erina tidak bisa dihubungi, aku langsung mencoba menelponnya dan mencarinya ke beberapa tempat yang biasa ia kunjungi. Tapi aku tidak bisa menemukannya di manapun."
"Benarkah? Astaga, kalau begitu kemana anak itu?" Laica mulai resah.
"Kalian sudah berusaha menghubungi orang tuanya?"
"Aku sudah coba. Tapi orang tuanya juga tidak tahu dimana Erina berada," sahut Sierra.
"Huft~" Marciel menghela napas pelan. "Kalau dia tidak ada di manapun, lalu kemana dia? Tidak biasanya Erina seperti ini."
Atensi semua orang seketika tertuju ke arah mobil yang baru saja datang dan terparkir di antara mobil milik Marciel dan Laica.
"Itu dia!" tutur Levine sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Marciel dan yang lain menoleh ke arah mobil tersebut. Di sana, mereka melihat Erina melangkah keluar dari dalam mobil dan berjalan dengan santainya menghampiri mereka.
"Teman-teman? Hai, sedang apa kalian di sini?" tanya Erina begitu tiba di hadapan mereka.
__ADS_1
"Sedang apa kau bilang? Kami kemari karena cemas dengan keadaanmu!" tutur Levine ketus.
...***...