
"Semua bahannya sudah siap 'kan?"
"Sudah, pak. Dan kita datang tepat waktu, mereka sudah menunggu kita di lantai tiga."
"Baiklah, ayo pergi."
Raefal berjalan beriringan bersama dengan Agustina yang kini menggenggam berkas berisi bahan-bahan rapat mereka siang ini.
Mereka terus berjalan di antara beberapa orang yang terus berlalu-lalang membawa beberapa tas besar dalam genggamannya.
"Permisi!" Beberapa pria di belakang mendadak menyerobot mereka hingga membuat Raefal secara tak sengaja terdorong dan menabrak seorang wanita yang sejak tadi berjalan tak jauh di depannya.
Brukk!
Raefal menggunakan tangannya untuk menahan tubuhnya. Bertumpu pada dinding dengan posisi wanita itu berada dalam dekapannya.
"Hey, apa yang kau…" Erina terdiam saat menyadari siapa yang baru saja menabrak tubuhnya.
Ia mendongak, beradu tatap dengan Raefal yang berada tepat dihadapannya. Jarak wajahnya begitu dekat dengannya.
__ADS_1
Erina membulatkan mata.
"Ka…" Suaranya tertahan saat Raefal langsung membenahi posisinya. Ia langsung menjauh dari Erina dan berlalu begitu saja.
"M… maafkan bosku," tutur Agustina dengan sedikit terbata. Ia jadi tidak enak karena sikap bosnya yang pergi begitu saja tanpa meminta maaf, apalagi setelah menabrak Erina secara tidak sengaja.
"Pak, tunggu!" Agustina berlari mengejar pria yang menjadi bosnya itu.
Erina terdiam tanpa kata. Kedua matanya tertuju pada Raefal yang kini berjalan dengan Agustina dibelakangnya.
Di sisi lain, Juliana dan Liliana sama-sama terdiam. Apalagi setelah melihat adegan tak terduga yang mendadak berlangsung tepat dihadapan mereka.
Pria itu… kenapa dia di sini juga? Dan kenapa lagi-lagi kita dipertemukan dengan posisi seperti itu? Erina membatin. Kedua irisnya tertuju pada Raefal yang terus menjauh.
"I… itu. Apakah aku tidak salah lihat?" Liliana mendadak heboh disebelahnya.
Perhatian Erina langsung beralih pada Liliana yang kini menatap ke arah yang sama dengan yang ditatapnya tadi.
"Tidak, kau tidak salah lihat. Karena kita melihat yang sama," lirih Juliana yang membalas dengan suara pelan. Ekspresinya menampakkan keterkejutan yang sangat amat jelas.
"Kalian kenapa?" tanya Erina yang tak mengerti dengan ekspresi dari kedua rekannya itu.
__ADS_1
Juliana dan Liliana menoleh bersamaan saat Erina tampak biasa saja padahal baru saja ditabrak oleh Raefal.
"Sungguh, kau sangat beruntung!" kata Liliana heboh.
"Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ini seperti mimpi!" Juliana sama hebohnya sekarang.
"A… apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti." Erina semakin tak paham.
"Kau tahu siapa yang baru saja menabrakmu barusan? Dia adalah Raefal. Raefal Virendra!" ujar Liliana.
"Tunggu, kalian mengenalnya?"
"Siapa yang tidak tahu dengan pria itu? Dia adalah idola banyak wanita. Dia tampan, terlahir dari keluarga yang kaya raya, jenius, dan begitu populer! Selain itu, dia tampak sangat muda walaupun usianya sudah masuk di pertengahan kepala tiga." Liliana menjelaskan dengan begitu bersemangat sambil senyum-senyum.
"Apa?" Erina benar-benar tidak bisa berkata-kata dengan apa yang di dengarnya. "Kepala tiga?" Erina mengulang.
"Ya. Tidak terlihat 'kan?"
"Dia masih terlihat seperti anak muda berusia dua puluhan." Juliana menambahkan.
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku dengar ini. Usianya sudah tiga puluhan? Sungguh? Ini semakin menarik! Erina tersenyum penuh arti.
__ADS_1
...***...