My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 52 - Cokelat dan kata-kata manis


__ADS_3

"Tapi, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan dengan Erina? Kenapa kau mengajaknya bertemu?" tanya Sierra retoris. Sebenarnya dia tidak perlu bertanya mengenai apa yang hendak dilakukan Marciel. Melihat sebuket bunga yang jatuh di tanah tadi saja sudah cukup untuk menjelaskan semua yang terjadi bahwa Marciel memiliki perasaan pada Erina.


Tapi Sierra tidak ingin menyimpulkan sendiri. Dia ingin kepastian dengan mendengarkan secara langsung pengakuan Marciel.


Alih-alih menjawab, Marciel justru diam tak bersuara. Ia seolah tengah mencari jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaannya.


"Hanya ada sesuatu yang ingin aku katakan padanya, itu saja." Marciel beralasan.


"Apa? Kenapa harus hari ini juga? Bukankah kalau ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan Erina bisa kau lakukan besok di sekolah?"


"Tadinya aku ingin bicara sekaligus mengajaknya jalan-jalan. Tapi sepertinya aku harus menunda rencanaku dulu." Marciel kembali mengalihkan fokusnya pada cangkir dihadapannya.


Sierra terdiam. Kilat matanya menatap lurus para pria yang duduk tepat disampingnya dengan wajah murung. Ada hal yang sedang dia sembunyikan, dan hal itu bisa dilihatnya dengan sangat jelas.


Marciel, kenapa kau tidak ingin bicara yang sejujurnya padaku? Padahal semuanya sudah jelas. Aku bisa melihat kalau sebenarnya kau ingin menyatakan perasaanmu pada Erina. Tapi kenapa kau malah menyembunyikannya dariku? Sierra membatin.



...*...

__ADS_1


Sierra menghentikan langkahnya di depan pintu ruang kelasnya begitu ia secara tidak sengaja melihat seorang pria tengah berdiri seorang diri di dalam sana.


Sierra mengintip dari pintu masuk. Ia membulatkan mata begitu menyadari siapa lelaki yang tengah berdiri di dalam sana.


"Marciel," gumam Sierra.


"Apa yang dia lakukan?"


Sierra diam memperhatikan gerak-gerik lelaki itu.


Marciel berdiri di dekat meja yang biasa Erina duduki. Dari dalam kantong mantel yang ia kenakan, Marciel mengeluarkan sebuah cokelat batangan yang kemudian ditaruhnya di atas meja.


Entah apa yang mendorongnya sampai ia bertekad masuk dan memergoki Marciel di dalam sana sebelum lelaki itu benar-benar pergi meninggalkan ruang kelasnya.


"Marciel!" panggilnya yang dalam sekejap membuat tubuh pria itu membatu di posisinya.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Sierra menghampirinya.


Marciel membalikkan tubuhnya secara perlahan. Wajahnya tampak berusaha keras menyembunyikan kepanikan yang melanda dirinya.

__ADS_1


"Sierra, kau sudah datang…" lirihnya.


"Apa yang kau lakukan di kelasku?" Sierra melirik ke arah meja. Refleks hal itu membuat Marciel salah tingkah.


"Apakah kau…" Sierra menunjuk cokelat di atas meja.


"B… bukan! Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku kemari untuk menemui Erina, tapi aku tidak bisa menemukannya, dan a… aku secara tidak sengaja melihat cokelat di atas mejanya."


Sierra menatapnya penuh selidik. Terlihat jelas lelaki itu berbohong, padahal dirinya jelas-jelas melihat apa yang dia lakukan beberapa saat yang lalu.


Sierra bahkan bisa melihat keringat dingin yang mengucur membasahi keningnya.


"K… kalau begitu aku pergi ke kelasku dulu," pamit Marciel yang langsung beranjak meninggalkan ruang kelasnya.


Sierra diam menatap punggung lelaki itu yang terus melangkah hingga sosoknya menghilang di balik pintu keluar.


Dia terus saja berbohong. Padahal semuanya sudah sangat jelas. Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri, batinnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2