My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 54 - Mama berharap aku masuk angin?


__ADS_3

"Aku akan mengatakannya hari ini juga." Marciel mengepalkan tangannya. Meyakinkan diri agar dia benar-benar mengatakan isi hatinya pada Erina.


Ia menyalakan ponselnya. Mengirimkan sebuah pesan berisi ajakan untuk bertemu di taman yang biasa mereka kunjungi ketika senggang.


"Waktunya berangkat." Marciel tersenyum simpul. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam mantel hangat yang dia kenakan, lantas berlalu meninggalkan rumah.



...*...


Ting!


Sebuah pesan masuk pada ponselnya. Erina tak menyadari itu karena terlalu sibuk mencari pakaian yang hendak dia kenakan untuk acara makan keluarga besar nanti malam.


Acaranya hanya tinggal beberapa jam lagi, dan dia harus mempersiapkan diri dari sekarang karena ingin semuanya sempurna.


Walaupun sebenarnya bisa saja Erina berdandan di jam-jam terakhir sebelum berangkat. Tapi nyonya Danesha yang tidak lain adalah ibunya memaksanya untuk mempersiapkan segalanya sejak pulang sekolah.


"Pakaian mana yang harus aku pakai?" Erina terdiam memandangi lemarinya yang terbuka.

__ADS_1


Tidak ada terlalu banyak gaun atau semacamnya di dalam sana. Sebagian besar pakaiannya berisi celana dan kemeja. Benar-benar seperti lemari seorang lelaki.


"Pokoknya kau harus dandan yang cantik! Kenakan gaun yang paling bagus!"


Kalimat dari nyonya Danesha terus terngiang di benaknya. Permintaan sekaligus perintah darinya benar-benar tidak bisa tidak dia hiraukan.


Pasalnya nyonya Danesha paling rewel kalau sudah berurusan dengan penampilan. Baginya, setiap anggota keluarganya harus tampil sempurna sesuai dengan ekspektasinya.


Memang berbanding terbalik dengan Erina yang lebih memilih berpakaian seadanya, dan terpenting nyaman untuk di gunakan. Bukan pakaian ribet yang mengharuskannya mengenakan beberapa tambahan guna mengurangi rasa dingin yang menerpa.


"Menyebalkan, memang. Kenapa aku mengenakan gaun? Udara di luar sangat dingin, dan mama berharap aku masuk angin, begitu?" gerutu Erina yang tidak habis pikir dengan mamanya.


Erina mengeluarkan beberapa potong gaun yang ia miliki dan memilah-milahnya sejenak sambil memperhatikan dirinya di depan cermin kalau mengenakan pakaian yang sudah dia pisahkan.


Drrttt…


Dering ponselnya membuat atensinya beralih. Erina menoleh ke arah datangnya suara, menatap ke arah meja dimana ponselnya tergeletak.


Ia menaruh semua pakaian yang di genggamnya ke atas ranjang dan segera menghampiri meja belajarnya. Mengangkat telpon dari Laica yang baru saja masuk.

__ADS_1


"Halo?"


"Apa?! Kau serius?" Erina membulatkan mata begitu mendengar kabar yang disampaikan Laica.


"Aku akan segera ke sana. Tunggu aku!" tuturnya sambil memutus sambungan telpon secara sepihak.


Erina bergegas menghampiri lemari dan mengambil pakaian secara acak lantas bergegas mengganti pakaiannya.


Begitu selesai berpakaian, Erina segera berangkat menuju tempat dimana Laica berada.


Gadis itu bilang bahwa dirinya sedang terkena masalah, dia kehilangan dompet dan seisinya di bioskop tempatnya hendak menonton, dan sekarang kebingungan untuk pulang karena tidak ada yang bisa dimintai tolong.


Erina sedang tidak terlalu fokus, bahkan dengan begitu mudahnya dia termakan omong kosong Laica yang sebenarnya hanya berniat mengajaknya bertemu sesuai permintaan Shawn.


Blam!


Erina menutup pintu taksi yang baru saja ditumpanginya dan bergegas lari menuju arah gedung bioskop. Tiba di dalam, ia segera mencari keberadaan Laica yang tadi menelponnya sambil menangis berdenguk-denguk meminta tolong.


"Erina!" teriak Laica.

__ADS_1


...***...


__ADS_2