My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 59 - Papa sudah lebih dulu memimpin


__ADS_3

"Ketika itu aku baru menyadari sesuatu, kalau dia secara tidak langsung membuat batas di antara aku dan dia. Batas yang di pertegas, dan sangat jelas kalau dia tidak ingin memiliki hubungan denganku lebih dari sahabat."


"Jadi kau akan menyerah begitu saja?"


"Dia bilang, kalau ada perasaan di antara salah satu dari kita, maka dia akan menjauh. Erina hanya tidak ingin persahabatannya hancur karena sebuah perasaan."


"Tapi—"


"Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan berusaha keras untuk memendam perasaan ini, dan menghapusnya. Aku tidak ingin hubungan kita hancur hanya karena hal itu. Aku tidak bisa jauh dari Erina." Marciel mengepalkan tangannya erat.


Sierra terdiam memandanginya. Terpancar dengan sangat jelas dari sorot matanya bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang mudah baginya. Tapi Marciel tampak benar-benar berusaha keras untuk menghapus perasaannya pada Erina.


Marciel menggenggam tangan Sierra.


"Tolong berjanjilah padaku, mengenai hal ini cukup aku dan kau saja yang tahu. Jangan sampai sampai ada orang lain yang tahu mengenai perasaanku pada Erina, mengerti?"



Sierra termangu tanpa kata. Entahlah, dirinya bingung harus menjawab apa. Di sisi lain, dia ingin sekali mengatakan hal ini pada Erina dan menjelaskan kalau selama ini yang lebih sering memberikannya perhatian adalah Marciel.


Tapi di saat yang bersamaan, Sierra tidak ingin mengecewakan Marciel. Apalagi lelaki itu tampak sangat berharap dia bungkam akan hal ini, dan tidak memberitahu Erina.

__ADS_1


"Aku percaya padamu, karena kau adalah sahabatku." Marciel tersenyum simpul.


Sebuah senyuman yang terlihat manis, tapi menyimpan sebuah luka yang begitu mendalam di baliknya.


Ini, pasti sangat berat baginya…


...*...


Future City, Sciencetopia, saat ini.


Sierra hanya diam. Entah kenapa dia jadi teringat akan janji yang dibuatnya pada Marciel beberapa tahun yang lalu, ketika lelaki itu memintanya berjanji untuk tidak mengatakan mengenai perasaannya pada Erina.


"Sierra!" Laica melirik lewat ujung matanya. Memperhatikan wanita yang jadi sahabatnya.


"Sierra!" panggilnya sekali lagi.


"Ya?" Sierra tersentak kaget dan spontan menoleh ke arahnya. "Ada apa?"


"Kau kenapa? Sejak tadi kau terus saja melamun. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Tidak ada. Aku hanya sedang mengingat-ingat apakah ada yang tertinggal atau tidak."

__ADS_1


"Huh? Memangnya ada barangmu yang tertinggal di restoran tadi?"


"Setelah aku ingat-ingat lagi, ternyata tidak ada. Sudahlah fokus saja pada jalan. Kita harus tiba sebelum waktu makan siangnya selesai."


"Baiklah."


...*...


Brakk!


Meja dihadapannya di gebrak dengan begitu kencang sampai membuat pria yang berdiri di sana tersentak kaget di buatnya.


"Mulai hari ini juga, kau berhenti!" pekik pria itu penuh emosi.


Vansh membulatkan kedua matanya begitu mendengar kalimat tuan Zachary. Lelaki yang tidak lain adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja sekaligus ayahnya.


"A… apa? Tapi, pa—"


"Kau sudah membuat malu keluarga kita, dan kau sudah mencoreng nama perusahaan ini! Bisa-bisanya kau melakukan hal itu pada Erina. Pokoknya mulai hari ini, kau berhenti! Keputusan papa sudah bulat."


"Aku tidak bisa berhenti. Perusahaan membutuhkanku, perusahaan bergantung padaku. Kalau aku berhenti, bagaimana dengan perusahaan ini?"

__ADS_1


"Heh." Tom Zachary tersenyum miring mendengar penuturan putranya. "Bergantung padamu? Papa sudah lebih dulu memimpin perusahaan dibandingkan kau!" tukas Tom.


...***...


__ADS_2