
"Benarkah? Kenapa bisa seperti itu?"
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas itu membuatku senang. Aku jadi semakin ingin mendapatkan hatinya. Dugaanku memang tidak salah, dia adalah pria yang istimewa."
"Tapi, bagaimana kalau itu hanya asumsimu saja?" tanya Sierra.
"Ya, Sierra benar. Bisa saja itu hanya asumsimu 'kan?"
"Raefal juga bilang begitu. Dia bilang itu hanya asumsiku saja. Tapi kita lihat saja bagaimana kedepannya. Aku yakin, itu bukan hanya asumsiku belaka." Erina tersenyum.
Andai saja aku punya banyak waktu luang, mungkin akan lebih mudah bagiku mendekatinya. Tapi pekerjaanku yang terlalu banyak benar-benar menyita perhatianku.
Erina meraih minumannya lalu meneguk isinya pelan.
"Aku cemas dengannya…" gumam Sierra pelan. Entah kenapa, dia tiba-tiba kepikiran padanya.
...*...
"Marciel!"
Pria itu menoleh ke arah datangnya suara begitu mendengar Sierra menyerukan namanya.
Wanita yang menjadi sahabatnya itu berlari menghampirinya.
"Sierra? Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Aku memiliki janji dengan Erina untuk keluar bersama sepulang kerja."
"Oh…"
__ADS_1
"Kau sendiri kenapa kemari?"
"Aku sengaja kemari karena ingin menemuinya, sekalian aku juga ingin mengajaknya pulang bersama. Tadi aku juga baru menyelesaikan beberapa urusan di dekat sini."
"Begitu rupanya…"
"Dia belum keluar, ya?"
"Belum. Oh ya, mumpung kita hanya berdua, bisa kita bicara sebentar?"
"Bicara mengenai apa?"
"Ini mengenai Erina. Jadi lebih baik kalau kita bicara di luar. Mungkin di taman, bagaimana?"
"Memangnya ada apa dengan Erina?"
"Akan aku jelaskan nanti." Sierra menarik tangan Marciel keluar dari sana.
...*...
"Hal apa?"
"Erina mulai semakin dekat dengan Raefal."
"Apa?"
"Beberapa hari yang lalu, Erina, aku dan Laica bertemu di kafe. Kami berkumpul bersama sambil mengobrol beberapa hal. Entah kau sadar atau tidak, tapi Erina akhir-akhir ini terlihat lebih ceria dari biasanya…"
__ADS_1
"…Hal ini membuatku dan Laica penasaran sampai akhirnya kami menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Erina lalu menceritakan kalau dia sedang senang karena dia menduga Raefal mulai tertarik dengannya," jelas Sierra.
"Kenapa dia bisa berpikir begitu?"
"Kau ingat pertemuan mu dengan Erina beberapa Minggu lalu? Saat kau pulang, dan langsung memintanya bertemu."
"Oh, ya. Saat itu aku memintanya untuk bertemu di kafe."
"Erina bilang, kalau setelah kau pergi, dia secara tidak sengaja bertemu dengan Raefal. Dan gelagat pria itu berbeda dari biasanya. Dia bilang, Raefal terlihat seolah tak suka Erina dekat denganmu."
"Benarkah?"
"Ya."
Marciel terdiam tanpa kata. Air mukanya berubah secara tiba-tiba. Ekspresinya benar-benar sulit untuk dijelaskan.
Tep!
Sierra menepuk pundaknya. Membuat Marciel seketika beralih fokus padanya.
"Aku tahu kau masih mencintai Erina dan kau berusaha untuk mendekatinya 'kan?"
"A-apa?"
"Kupikir ini saatnya kau bergerak secara terang-terangan. Aku akan mendukungmu, dan aku juga akan membantumu untuk mendekati Erina."
"Maksudmu, aku harus menunjukkan perasaanku padanya?"
"Tentu saja. Hanya itu satu-satunya cara agar Erina sadar akan perasaan yang kau miliki. Dengar! Kau sudah mengalah untuk belasan pria yang mendekati Erina, bahkan sejak kita sekolah dulu. Kau sudah menahan perasaanmu selama bertahun-tahun. Jadi ini saatnya kau menunjukkannya. Kau harus membuat Erina sadar akan perasaan yang kau miliki, dan berhenti untuk menyembunyikannya."
__ADS_1
"Tapi… aku agak ragu…"
...***...