Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Hukuman


__ADS_3

Jam pulang kantor


Grea sudah bergegas berjalan keluar dari kantor, ia harus cepat sampai di apartemen sebelum Arvan sampai lebih dulu.


Ketika Grea tengah menunggu taksi satu pesan masuk ke ponselnya.


Tring


📩 My Beloved Husband


Aku ada janji dengan klien mungkin pulang telat, jangan menungguku. makan saja duluan!"


Setelah membaca pesan tersebut Grea menghela napas lega, jadi dia tidak perlu terburu-buru sampai di apartemen.


" Grea!" panggil Seseorang membuat Grea menoleh ke arah sumber suara.


Ricko keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan menghampiri Grea. " Mau pulang?" tanya Ricko


" Iya" jawab Grea singkat


" Bagaimana kalau gue antar?" tawar Ricko


" Gak usah Rick, terima kasih" tolak Grea sambil tersenyum.


" Duh Grea senyummu itu bikin Abang meleleh" gumam Ricko dalam hati sambil menatap lekat wajah cantik nan manis milik Grea.


" Rick... Ricko!" panggil Grea karena Ricko terlihat melamun. Grea melambaikan tangannya di depan wajah Ricko membuat Ricko terkesiap dari lamunannya.


" Ah iya kenapa Grea?" tanya Ricko yang jadi sedikit salah tingkah.


" Gak kenapa-napa" ucap Grea


" Gue anterin aja ya Gre, sekali-kali gak apa-apa dong, ya itung-itung sebagai tanda pertemanan bagaimana, mau ya!" ucap Ricko yang terus berusaha untuk membujuk Grea.


Setelah teringat akan pesan Arvan tadi, Grea nampak berpikir sejenak. " Gak apa-apa kali ya gue dianter Ricko, lagi pula si manusia es itu kan lagi sibuk gak mungkin dia lihat" batin Grea matanya melirik ke kanan dan ke kiri memastikan Arvan tidak melihatnya.


" Emm.. baiklah!" ucap Grea membuat Ricko bersorak kegirangan.


" Beneran?" tanya Ricko memastikan dan Grea tersenyum lalu mengangguk.


" Kalau begitu ayok masuk!" Ricko langsung bergegas membukakan pintu mobilnya untuk Grea.


Disepanjang perjalanan Ricko terlihat sedikit gugup, dia merasa seperti mendapatkan undian lotre karena bisa mengantarkan seorang Greandira pulang.


" Ricko!" panggil Grea. mendengar namanya dipanggil dengan suara yang terdengar sangat lembut menurut Ricko, langsung membuat jantung Ricko jedag jedug berpacu tidak beraturan.


Ricko menoleh ke arah Grea dan tersenyum kikuk. " Iya Grea kenapa?" tanya Ricko


" Emmm.. gue boleh tanya gak?"


" Boleh banget, mau tanya apa memangnya?" Ricko nampak sedikit gugup.


" Loe udah lama kerja di Pratama Grup?"


" Belum terlalu lama juga sih, gue kerja di Pratama Grup baru sekitar 2 tahunan. kenapa memangnya?"


" Gak Kenapa-napa sih, ya cuma sedikit penasaran aja"


" Penasaran?"


" Iya, gue penasaran aja sama Presdir kita yang katanya terkenal dingin dan arogan itu" ucap Grea ngasal


" Iya, Presdir emang terkenal dingin dan arogan, kalau udah marah bisa bikin geger seisi kantor. hawanya pun jadi horor karena kalau ada kesalahan sedikit aja, tamat deh riwayat loe kerja di Pratama Grup." tutur Ricko


" Segitunya?" Grea bergidik ngeri.


" Ya begitu, makanya kerja di Pratama Grup harus benar-benar hati-hati karena Presdir kita tidak mau yang namanya ada kesalahan sekecil apapun itu." ucap Ricko membuat Grea mengangguk Pelan.


" Apa loe pernah bertemu dengan dia dan pernah melakukan kesalahan yang bikin dia marah gitu?" tanya Grea yang tambah penasaran.


" Pernah sekali, waktu gue belum lama masuk kerja, dan itu menjadi pelajaran buat gue kedepannya" sahut Ricko.


" Memangnya kesalahan apa yang loe buat?" tanya Grea penasaran

__ADS_1


" Gue sedikit telat menyelesaikan laporan yang Presdir butuhkan. selain telat katanya laporan yang gue buat berantakan sedangkan waktu persentasi hanya tinggal satu jam. Presdir marah besar ya gue tahu sih itu emang kesalahan gue" sahut Ricko menceritakan.


" Pantes aja Presdir marah kalau itu sih!" ucap Grea


"Tapi Presdir itu kalau sudah marah, serem. gak pandang mau cewek atau pun cowok kalau sudah melakukan kesalahan, pekerjaan tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan bisa abis dibentak-bentak dan lebih parahnya lagi langsung di pecat hari itu juga. tidak ada kesempatan kedua kalau sudah melakukan kesalahan di Pratama Grup baik kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.


Presdir tidak menerima penjelasan apapun, itulah yang sering membuat para karyawannya sakit hati atas sikap Presdir yang arogan itu. makanya loe kalau kerja harus hati-hati Grea jangan sampai membuat Presdir marah" lanjut Ricko


" Apa separah itu ?" tanya Grea dan Ricko mengangguk mengiyakan.


" Dan satu lagi, pak Presdir itu sering dikatakan anti wanita loh." ucap Ricko membuat Grea hampir tersedak Salivanya sendiri.


" Mak.. maksud loe?" tanya Grea yang menjadi penasaran.


" Presdir itu tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun, dia hanya sibuk dengan pekerjaannya. dan pernah ada wanita yang merupakan salah satu kliennya mencoba mendekatinya tapi dengan terang-terangan Presdir menolaknya dan bahkan saat ada wanita yang entah siapa itu gue juga ga tau jelasnya siapa dengan tidak berprikemanusiaan Presdir menolaknya di depan umum sambil memakinya karena wanita itu sudah berani memegang lengan Presdir." ucap Ricko menceritakan.


" Rada gak normal kali ya didekati wanita cantik gak mau" Ricko mengejek


" Hus, gak boleh bicara seperti itu. mungkin aja kan dia mau menyentuh wanita yang menurutnya halal buat dia!" ucap Grea yang tanpa sadar tidak terima suaminya dihina.


" maksudnya?"


" Yang halal, yaitu istrinya!" sahut Grea


" Isteri? bagaimana mau punya isteri sikapnya aja menakutkan gitu penggila kerja pula"


" Gue ini isterinya kalau loe tahu" batin Grea


Tidak terasa mereka sudah hampir sampai di dekat apartemen Arvan.


" Rick berhenti di depan aja ya, gue mau mampir dulu sebentar" ucap Grea menunjuk kesebuah mini market


" Gue temani ya!" ucap Ricko


" Gak usah, gue bisa sendiri kok" ucap Grea menolak saat Ricko ingin menemaninya ke mini market.


Mobil pun berhenti tepat di depan mini market,


Grea keluar dari mobil dan disusul oleh Ricko.


" Gue juga mau beli sesuatu, gak boleh emang?"


" Ya boleh aja sih, terserah loe itu sih!" Grea langsung jalan mendahului Grea dan Ricko pun tersenyum senang lalu mengikuti Grea dari belakang masuk ke dalam mini market tersebut.


Grea mencari beberapa barang yang hendak dibelinya setelah selesai dia berjalan menuju kasir. Ricko yang melihat Grea sudah selesai berbelanja langsung berjalan menghampiri Grea dan meraih sebotol minuman.


Grea sampai di depan kasir dan didepannya ada seorang pria yang sedang membayar belanjaannya. pria itu berbisik pada kasir setelah itu pergi begitu saja tanpa membawa belanjaannya.


Grea menyipitkan matanya ketika melihat pria yang melintas begitu saja dihadapannya. seperti mengenalnya tapi siapa, apalagi pria tersebut menggunakan masker. tapi dari postur dan aroma parfum yang dikenakannya Grea merasa tidak asing.


" Sudah selesai?" tanya Ricko, membuat Grea terkesiap lalu menoleh ke arahnya.


" Sudah, loe sendiri?" Grea balik bertanya dan Ricko pun menjawab dengan menunjukkan sebotol minuman yang dipegangnya.


Grea meletakkan belanjaannya di atas meja kasir setelah selesai menghitung, kasir memberikan belanjaannya kepada Grea


" Ini mbak belanjaannya, apa ada yang ingin ditambahkan?" tanya kasir dengan sopan.


" Tidak mbak, terima kasih. berapa mbak?" tanya Grea.


" Semua sudah dibayar mbak" ucap kasir tersebut dengan ramah.


" Sudah dibayar? maksudnya bagaimana ya mbak. saya kan belum membayarnya" tanya Grea bingung.


" Bukan loe yang bayar ini semua kan Rick?" tanya Grea menatap Ricko tajam.


" Gue? ya bukanlah Grea, loe liat gue aja masih ngantri disini" sahut Ricko.


" Terus siapa dong yang bayar, mbaknya salah orang kali bukan belanjaan saya" Ucap Grea


" Mbak ini yang bernama Greandira bukan?" tanya kasir memastikan.


" Iya benar" sahut Grea

__ADS_1


"Berarti saya tidak salah orang mbak" ucap kasir tersebut.


" Tapi_"


Tring


📩 My beloved husband


" Cepat bawa belanjaannya pulang dan masakan makan malam untuk ku, aku paling tidak suka menunggu tentu kau sudah tau itu bukan"


Deg


Grea menghela napasnya berat, berarti orang yang tadi dilihatnya benar-benar dia, ah rasanya Grea ingin sekali menghilang saat ini juga. membayangkan dirinya kembali ke apartemen dengan situasi Arvan yang pasti tengah marah besar membuat Grea ingin pulang saja ke rumah orangtuanya.


" Grea!" panggil Ricko sambil menepuk-nepuk bahu Grea.


" Iya !" ucap Grea sedikit ketus.


" Yaudah mbak terima kasih ya!" ucap Grea kepada sang kasir yang tersenyum ramah.


" Oia, mbak Greandira ini kartu kredit anda!" kasir memberikan kartu kredit tersebut kepada Grea.


" Ini_?"


" Kartu kredit milik mbak dari_"


" Iya saya tahu, terima kasih ya mbak" ucap Grea memotong ucapan kasir tersebut lalu pergi.


Ricko nampak bingung dengan pembicaraan Grea dan kasir tersebut, lalu siapa yang sudah membayar belanjaan Grea dan kartu kredit itu, batin Ricko.


Setelah membayar belanjaannya Ricko langsung mengejar Grea.


" Grea gue antar sekalian!" teriak Ricko


" Tidak usah terim kasih!" ucap Grea sambil melambaikan tangannya.


Grea naik kedalam taksi menunju apartemennya.


Sampai di depan pintu apartemen Grea menghela nafasnya panjang. dengan perlahan Grea membuka pintu dan masuk kedalam apartemen dengan mata celingukan melihat ke sekitar ruangan.


" Aman, masih gelap berarti dia belum pulang. "


Tap


Lampu menyala membuat Grea terjingkrak


" Astaghfirullah!" ucap Grea saat melihat Arvan yang sudah berdiri tegap di hadapannya.


" Ka... kamu sudah pulang?" tanya Grea dengan gugup


Arvan mendelik tajam lalu mencengkeram dagu Grea. " Bersiaplah dengan hukuman mu!" ucap Arvan lalu menghempaskan tangannya setelah itu pergi masuk ke dalam kamarnya.


Grea dengan susah payah menelan salivanya, membayangkan hukuman yang akan diberikan Arvan kepadanya.


Grea langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya dan buru-buru mengunci pintu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Grea sepertinya tengah ketiduran.


Arvan sudah berkali-kali berusaha membuka pintu kamar Grea tapi ternyata Grea menguncinya dari dalam. " Greandira!" panggil Arvan dari dalam tapi tidak ada tanggapan.


Arvan terus mengetuk pintu tapi tetap Grea belum juga membuka pintu.


Arvan pergi ke kamarnya dan kembali lagi dengan kunci cadangan di tangannya. Arvan membuka pintu kamar Grea dan tersenyum tipis saat netranya melihat Grea yang tertidur dengan pulas di atas tempat tidur.


Arvan menutup kembali kamar Grea dan dengan langkah perlahan Arvan menghampiri Grea, menatap wajahnya yang begitu cantik natural, imut seperti bayi yang tengah tertidur dengan lelapnya.


Arvan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Grea dengan sangat lembut. Arvan menyunggingkan senyumnya, sungguh membuat hatinya terasa nyaman setiap kali berhadapan gadis yang berstatus isterinya ini.


Arvan tersenyum jahil tiba-tiba timbul otak licik dipikirannya. Arvan naik ketempat tidur dan ikut berbaring di samping Grea. dengan sangat hati-hati Arvan memindahkan kepala Grea kelengan kekarnya sebagai bantalan Grea , Arvan memeluk pelan Grea lalu ikut memejamkan mata. Grea sama sekali tidak terusik dengan gerakan yang ditimbulkan Arvan. Grea bahkan merasa semakin nyaman dan membalas pelukan Arvan. Grea tanpa sadar mendusel-dusel kepalanya di dada bidang Arvan membuat Arvan tersiksa oleh kejahilannya sendiri karena sebagai laki-laki normal tidak mungkin dia bersikap biasa dengan posisi yang begitu intem dengan pasangannya.


Arvan berusaha untuk tenang dan tidak ingin mengusik kenyamanan sang isteri yang tengah tertidur dengan nyenyak. awalnya ingin memberi hukuman tapi dia urungkan setelah melihat betapa polosnya sang isteri yang tengah tertidur.


Tidak butuh waktu lama Arvan pun yang merasa kelelahan akhirnya ikut tertidur disisi Grea dengan posisi mereka yang saling berpelukan memberi rasa nyaman masing-masing.

__ADS_1


" inilah hukuman mu sayang!" gumam Arvan sebelum larut dalam alam mimpi


__ADS_2