Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Ketakutan


__ADS_3

" Aaa...emm!" teriak Caca saat mulutnya di bekap oleh seseorang.


Dengan perasaan takut Caca menoleh ke arah seseorang yang membekap mulutnya dengan telapak tangan.


" Dasar nyebelin!" kesal Caca memukul seseorang yang baru saja melepaskan bekapan tangannya dari mulut Caca.


" Iya ampun .. ampun!" teriak seseorang yang tidak lain adalah Alan.


" Bikin orang jantungan tau gak sih" Caca mengerucutkan bibirnya


" Ya maaf, habisnya dari tadi kayak orang lagi gelisah gitu, ada apa sih?" sahut Alan sekaligus bertanya mengenai sikap Caca yang nampak gusar.


" Gak ada apa-apa" sahut Caca seraya menatap ke arah Micko yang langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.


Caca bernapas lega setelah melihat Micko telah beranjak pergi.


" Woyyy, malah melamun sih!" Alan menepuk bahu Caca sedikit kencang.


" Oh ya ampun sakit tahu" kesal Caca seraya mengusap-usap bahunya yang terasa sedikit panas.


" Lagian diajak ngomong malah melamun" protes Alan.


" Siapa yang melamun, sok tahu!" Caca mengerucutkan bibirnya


" Iya.... iya .. gak melamun cuma bengong doang" Alan geleng-geleng


" Udah yuk balik!" ajak Caca merangkul lengan Alan


" Langsung pulang nih, gak jalan dulu gitu?" tanya Alan menaikkan satu alisnya


" Ya terserah mu sajalah!" Caca pasrah lalu masuk ke dalam mobil Alan


" Kita jalan-jalan dulu sebentar sebelum aku pergi lagi ke Korea" ucap Alan seraya menghidupkan mesin mobilnya


"Kamu mau pergi lagi?" tanya Caca


" Iya, itu sudah menjadi tuntutan pekerjaan ku" sahut Alan


" Sayang banget sih!" ucap Caca sendu.


" Sayang kenapa?" tanya Alan yang melihat raut wajah Caca yang sendu


" Kita baru saja bersama tapi sudah mau pergi lagi" ucap Caca menundukkan pandangannya


" Hei jangan sedih begitu dong, aku tuh tinggal di sini rencananya masih satu bulan lagi kok" Alan mengacak-acak rambut Caca gemas


" Ish, singkirkan tanganmu!" kesal Caca


" Duh jangan marah dong cantik!" bujuk Alan


" Tadi katanya mau pergi ke Korea?" sindir Caca


" Ya memang sih tapi itu juga bulan depan dan kalau jadwalnya tidak berubah lagi!" Alan


" Berubah bagaimana?" tanya Caca


" Ya berubah, tergantung dimana kita dibutuhkannya. jika mereka membutuhkan aku dinegara A ya aku akan dikirim ke negara tersebut dan jika ternyata disana sudah ada yang menangani maka aku akan dipindahkan ke negara lain lagi yang masih membutuhkan bantuan" tutur Alan


" Apa bekerja seperti itu tidak melelahkan?" tanya Caca


" Tidak justru sangat menyenangkan"


" Menyenangkan bagaimana?"


" Ketika ada orang lain yang membutuhkan bantuan kita dan kita bisa membantu mereka itu adalah suatu kepuasan tersendiri, apalagi jika kita dikirim ke wilayah yang masih sangat pedalaman akan banyak pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman tersebut" terangnya


" Menjadi suka relawan seperti itu apa tidak berat? bagaimana dengan masa depan mu nanti?" tanya Caca


" Masa depan?" Caca mengangguk


" Maksud mu berumah tangga begitu?" Caca pun mengangguk kembali


" Jika sudah menemukan tambatan hati untuk dapat ku pinang maka aku akan mengurangi kegiatan tersebut dan akan fokus dengan perusahaan!" sahut Alan


" Lalu bagaimana bisa menemukannya jika selalu sibuk terus setiap hari?" protes Caca


" Ya jodoh akan menemukan jalannya!" sahut Alan santai


" Ya ... ya.. kau benar" Caca manggut-manggut


" Kau sendiri bagaimana?" Alan balik bertanya


" Bagaimana apanya?" Caca mengerutkan keningnya


" Bagaimana dengan laki-laki itu?" tanya Alan yang tadi sempat memperhatikan Micko dari jarak jauh


" Laki-laki siapa?" Caca nampak berpikir


" Laki-laki yang sejak tadi menunggumu di depan kantor" terang Alan


" Menunggu ku?"


" Iya, dia terus saja memperhatikan mu tapi aku merasa tidak suka dengan caranya menatapmu" sahut Alan


" Kenapa?"


" Tatapannya seperti ada niat yang tidak baik"


" Jangan berburuk sangka" ucap Caca walaupun sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama


" Aku tidak berburuk sangka tapi kamu jangan lupa kemampuan ku!" ucap Alan dengan yakin


" Iya aku tahu"


" Oleh karena itu sebaiknya kau berhati-hati dengan orang itu jangan sampai dia mendekati mu" pesan Alan


" Iya bawel!" Caca tersenyum tipis


" Aku bawel karena aku mengkhawatirkan mu"


" Iya tahu, terima kasih ya Alan kesayangan ku" Caca tergelak mendengar ucapannya sendiri


" Jangan bicara seperti itu aku geli mendengarnya!" protes Alan


" Bicara apa? sayangku begitu?" tanya Caca dengan suara yang dibuat-buat


" Oh ya ampun ini anak, diam dan hentikan sungguh menjijikkan!" Alan melepas tangannya yang di gelayuti oleh Caca


" Ha... ha .. !" Caca tergelak dan kembali duduk dengan manis


" Apa pria tadi itu mantan pacarmu yang tidak terima hubungan kalian putus?" tebak Alan tiba-tiba membuat Caca seketika tersedak mendengarnya.


" Uhuk... uhuk..."


" Ini minumlah!" Alan meraih botol mineral yang ada disampingnya dan memberikannya kepada Caca


" Terima kasih" ucap Caca setelah meneguk air mineral tersebut.


" Sampai segitunya, apa tebakan ku tepat?" tanya Alan seraya tertawa


" Kau masih saja sama seperti dulu rupanya" Caca menoleh ke Alan


" Ya kemampuan ku yang satu itu memang masih sama jadi berhati-hatilah dengan ku, kau tidak bisa menutupi apapun dari ku. mengerti?" Caca memutar bola matanya malas


" Sepertinya tanpa aku cerita pun kau sudah tahu segalanya" ucap Caca


" Tidak sepenuhnya aku tahu, aku hanya tahu sesuai dengan fillingku saja selebihnya kau harus menceritakannya padaku"


" Apa lagi yang harus aku ceritakan?" Caca menoleh ke arah Alan


" Semuanya , ceritakan dari awal bagaimana kau bisa mengenal laki-laki macam itu?" titah Alan


Caca menghela napasnya panjang sebelum menceritakan semuanya kepada Alan.


" Oh jadi begitu persoalannya" ucap Alan setelah mendengar semua cerita Caca

__ADS_1


" Ya, menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Caca meminta solusi


" Menurutku kau harus menceritakannya kepada sahabat mu itu" usul Alan


" Siapa? Grea maksudmu?" tanya Caca


" Ya, dia harus tahu karena yang aku khawatirkan laki-laki itu bukan hanya ingin membalas kekecewaannya melalui dirimu saja tapi obsesi dan ambisinya yang besar bisa saja dia berbuat nekat dan melukai sahabatmu itu" terang Alan


" Begitukah?" Alan pun mengangguk


" Lalu pria yang ku lihat depan rumah mu itu siapa?" tanya Alan yang teringat dengan Jimmy


" Pria yang mana?" tanya Caca


" Jangan pura-pura tidak tahu"


Caca berpikir sejenak dan sedetik kemudian ia baru teringat dengan pria yang dimaksud dengan Alan. " Maksud mu Jimmy?" tanya Caca


" Jadi nama pria itu Jimmy?" Caca mengangguk


" Kenapa?"


" Dia sepertinya juga tertarik dengan mu?" Caca diam sejenak menatap lurus ke depan


" Apa tebakan ku benar" Caca mengangguk pelan dan Alan tersenyum tipis


" Dia pernah melamarku tapi aku belum bisa memberinya jawaban" ucap Caca membuat Alan terkejut dan mengerem mendadak.


" Alan apa yang kamu lakukan?" kesal Caca karena dibuat terkejut dengan Alan


" Maaf.... maaf... " ucap Alan merasa bersalah


" Tadi kau bilang apa, dia pernah melamar mu?" tanya Alan


"Iya, tapi aku belum menjawabnya " sahut Caca


" Kenapa?" tanya Alan yang sudah menjalankan kembali mobilnya


" Karena aku masih merasa ragu" sahut Caca


"Ragu karena laki-laki berengsek itu?" tanya Alan menebak dan Caca mengangguk mengiyakan.


" Aku takut bang Jimmy sama seperti Micko apalagi mantan tunangannya masih menginginkan mereka bisa kembali lagi" tutur Caca


" Mantan tunangan?"


" Iya, bang Jimmy adalah kakak kandung Grea dan suami Grea adalah kakak kandung dari mantan tunangan bang Jimmy" tutur Caca memberitahu


" Kenapa bisa begitu?" tanya Alan yang merasa sedikit bingung dengan cerita Caca


" Ceritanya panjang" sahut Caca dan pada akhirnya Caca pun menceritakan semuanya tentang masa lalu Jimmy dan juga Grea yang terpaksa nikah menjadi pengantin pengganti dengan Arvan sang atasannya.


" Sungguh cerita yang unik" ucap Alan menanggapi cerita Caca


Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi pun sudah berada di depan rumah Caca.


" Kau mau mampir dulu ?" tanya Caca saat hendak turun dari mobil Alan


" Aku masih ada urusan besok saja aku mampir" Sahut Alan


" Ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan!" pesan Caca


" Kau yang seharusnya hati-hati di rumah sendirian"


" Ada bibi art aku tidak sendirian"


" Tetap saja kalian sama-sama wanita, jangan bukakan pintu kalau ada orang asing yang datang terutama laki-laki itu, aku khawatir!" ucap Alan yang menjadi ragu untuk pergi namun ada hal penting yang tidak bisa dia tinggalkan.


" Sudah tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja" ucap Caca yang tahu akan kekhawatiran Alan terhadapnya.


" Tetap saja aku merasa khawatir karena saat ini kau itu menjadi tanggung jawab ku"


" Tidak usah berlebihan, aku akan menghubungi mu jika terjadi sesuatu" Caca kembali meyakinkan Alan


" Iya bawel!"


" Ya sudah aku pergi, hati-hati di rumah!"


" Iya"


" Cepat sana masuk!" titah Alan


" Iya bawel" Caca mengerucutkan bibirnya membuat Alan geleng-geleng kepala


Alan lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Caca setelah ia memastikan Caca benar-benar sudah masuk ke dalam rumahnya.


Setelah itu di perjalanan Alan menyempatkan diri untuk menelpon seseorang.


" Hallo..!"


(.......)


" Aku ada tugas untuk mu"


(........)


" Awasi rumah yang berada di alamat yang nanti aku kirim!"


(........)


" Jaga, jangan sampai ada yang tahu jika ada sesuatu yang mencurigakan segera lapor padaku!"


(.......)


" Ingat bekerjalah dengan baik jangan sampai kecolongan!" pesan Alan


Setelah selesai Alan langsung menutup telponnya.


Di dalam kamar Caca merasa gelisah sendiri, dia merasa takut Micko akan bersikap nekat terhadapnya.


Caca memutuskan untuk mencari art nya dan memberitahu apa yang dipesan oleh Alan


" Bi!" panggil Caca saat melihat art nya tengah sibuk memasak di dapur


" Ada apa non Caca?" tanyanya


Caca menggeser salah satu kursi meja makan lalu mendudukkan dirinya.


" Bi nanti kalau ada tamu siapapun itu yang bibi tidak kenal jangan dibukakan pintu ya bi, sekarang sedang marak bi yang namanya perampokan!" ucap Caca memberitahu art nya.


" I..iya non. duh bibi jadi ngeri non " sahutnya


" Iya bi saya juga sedikit takut juga bi" ucap Caca


" Dan satu lagi bi, kalau ada Micko yang datang mencariku jangan dibukain pintu ya bi"


" Kenapa memangnya non? bukannya den Micko itu_" ucapan si bibi menggantung


" Sudah masa lalu bi, dan aku gak mau di ganggu aku lagi bi jadi kalau dia datang jangan hiraukan ya bi!" pesan Caca mengingatkan sang art yang bekerja di rumahnya.


" Siap non Caca"


" Yaudah, kalau begitu aku kembali ke kamar lagi ya bi, terima kasih sebelumnya bi!" Caca beranjak dari duduknya


" Iya, sama-sama non " sahut si bibi


Caca kembali ke kamarnya dan saat hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur tiba-tiba ponselnya berbunyi. Caca meraih ponselnya yang berada di atas nakas ternyata chat grup para sahabatnya cukup ramai hari ini.


Grea : " Hai semua, assalamu'alaikum...!"


Jojo : " Hai juga Bu bos, wa'alaikum salam!"


Grea : " Kok Bu bos sih?"


Jojo : " Ya memang begitu kan?"

__ADS_1


Grea : " Jangan begitu dong bang Jo"


Jojo : " Ya habis, muntang-muntang sudah jadi Bu bos jarang kumpul!"


Bimo : " Ya dimaklum Jo, kalau Grea kumpul bareng kita yang ada tuh kampus langsung di tutup"


Grea : " Ya gak segitunya juga kali Bim!"


Bimo : " Kenapa loe jarang kuliah Grea?"


Grea : " Biasa Bim tingkat posesifnya lagi kumat"


Bimo : " Tuh apa gue bilang"


Micko : " Tapi loe sih enak Grea gak ngampus juga nilai mah tetap oke"


Grea : " Nah ini yang gue gak suka, kalian aja yang sahabat baik gue punya pemikiran begitu apalagi yang lain"


Micko : " Ya memang kebanyakan seperti itu kan memanfaatkan fasilitas yang ada"


Grea : " Tapi asal kalian tau gue gak seperti itu. walaupun gue gak masuk kuliah bukan berarti gue santai di rumah gue tetap kok minta tugas dari dosen pembimbing. gue gak mau ya dicap lulus instan atas kekuasaan bukan berdasarkan kemampuan"


Bimo: " Iya gue tahu loe itu bukan tipe orang seperti kebanyakan"


Bimo : " Oiya, Grea ngomong-ngomong Caca bagaimana kabarnya? kenapa tuh anak sudah hampir seminggu ini gak masuk kuliah?"


Grea : " Ah yang bener?"


Jojo : " Iya, Caca jarang masuk sekarang"


Grea : " Tapi dia kerja kok dan gue lihat juga dia baik-baik aja!"


Bimo : " Coba panggil tuh anak belum juga nongol"


Grea : " Cacaaaaaaa....!"


Caca : " Apa?"


Bimo : " Nah tuh anak nongol juga"


Grea : " Loe kenapa gak kuliah, lagi ada masalah?"


Caca : " Enggak, gue baik-baik aja"


Jojo : " Apa gara-gara putus cinta loe sekarang jadi menyendiri?"


Bimo : " Apa karena ucapan Micko loe jadi sakit hati?"


Caca : " Enggak, gue gak apa-apa kok kalian gak usah khawatir"


Jojo : " Yakin loe Ca?"


Caca : " Iya Jojo bawel"


Jojo : " Tapi kok gue merasa loe lagi gak baik-baik aja ya Ca?"


Caca :" Apaan sih loe Jo, please deh Jo jangan bikin Grea khawatir"


Grea ; " Ca serius loh Ca, loe beneran baik-baik aja?"


Caca: " Iya Grea, jangan dengerin Jojo dia cuma bikin loe panik aja"


Grea : " Tapi serius loh Ca, gue khawatir sama loe"


Caca: " Grea loe bisa lihat sendiri kan dikantor suami loe kalau gue baik-baik aja!"


Grea : " Iya sih"


Jojo : " Tapi tidak dengan hati loe"


Caca : " Jo please deh, jangan asal ngomong"


Jojo : " Gue gak asal ngomong kok"


Bimo : " Jo apa ada hal yang tidak kita ketahui tentang Caca?"


Caca :" Apa sih Bimo, gak ada apa-apa kok.


" Jojo please deh jangan bikin gosip"


Jojo : " Yaudah kalau begitu biar loe aja yang cerita sendiri Ca"


Caca : " Cerita apa Jo?"


Micko : " Apa loe tahu sesuatu Jo?"


Deg


Deg


Deg


Jantung Caca berdegup kencang saat membaca chat dari Micko.


Bimo : " Apa loe tahu sesuatu Jo?"


Jojo : ( Micko ) menurut loe bagaimana Ko?"


Micko : " Maksud loe apa bertanya begitu?"


Jojo : " Ya gue kan cuma nanya Ko"


Micko : " Ya mana gue tahu tentang tuh anak. bukan urusan gue juga"


Jojo : " Tapi tadi loe kan sempat kepo"


Micko :" Siapa juga yang kepo biasa aja tuh"


Jojo : " Biasa aja ya Ko, gue kira luar biasa"


Micko : " Maksud loe apa sih Jo?"


Bimo :" Sudahlah Jo, Ko,.. kalian ini kenapa sih?"


Grea : " Tau nih malah jadi ribut sendiri"


Caca : " Sudah jangan bahas gue lagi, gak ada yang penting kok.


Jo gue gak ada apa-apa, sudah jangan bahas lagi


Micko:" tuh Jo dengerin masalah tuh anak memang gak ada yang penting buat dibahas kenapa loe yang ngotot banget sih dari tadi"


Bimo : " Tapi gak usah bicara seperti itu juga dong Ko!"


Jojo : " Tuh dengerin!''


Caca lebih memilih diam, kata-kata Micko lagi-lagi kembali merendahkan dirinya. Caca tidak menyangka Micko yang dulu nampak sebagai laki-laki yang begitu sempurna di matanya kini benar-benar berubah 180 derajat. Caca menangis setelah menutup halaman chat grup bersama teman-temannya.


" Kenapa sekarang membayangkan laki-laki itu sudah seperti monster" batin Caca


Tring


satu pesan masuk ke ponsel Caca, seketika mata Caca membulat sempurna saat melihat chat dari nama yang sangat ia benci.


Dengan malas Caca pun membuka chat tersebut.


...Micko...


" Jangan coba-coba mengatakan sesuatu kepada mereka atau aku bisa saja berbuat nekat. apalagi jika sampai Grea tahu maka peringatan tempo hari di dalam mobil aku pastikan kau tidak akan bisa lepas lagi dariku!"


Tangan Caca bergetar ponsel di tangannya pun terjatuh begitu saja dan ketakutan Caca semakin menjadi ketika ponselnya kembali berdering dan kali ini nada panggilan masuk.


Deg


Caca langsung beringsut naik ke atas tempat tidur dan memeluk lututnya sendiri menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2