
Setiap hari Grea selalu ikut dengan Arvan ke kantor. Tidak ada yang mengenali Grea karena setiap datang bersama Arvan Grea selalu memakai masker.
Karyawan yang melihat kedatangan Arvan bersama seorang wanita lalu berbisik membicarakan atasan mereka, apalagi selama ini Arvan tidak pernah sekalipun membawa wanita ke kantornya dan kali ini Arvan membuat mereka semakin merasa penasaran wanita mana yang bisa meluluhkan hati seorang Arvandra yang terkenal dingin dan arogan.
Selama berada di dalam ruangan Arvan Grea hanya boleh membantu pekerjaan Arvan itupun hanya perkejaan yang ringan saja, Grea tidak boleh keluar ruangan sampai jam pulang kerja terkadang Grea merasa bosan tapi dia tetap menurut pada Arvan entah karena hormon kehamilan atau memang Grea yang sudah mulai bucin membuat Grea begitu patuh pada Arvan dan selalu ingin dekat-dekat dengan sang suami.
" Sayang aku ada temu janji dengan klien di restoran x kamu mau ikut atau tetap disini ?"
tanya Arvan seraya merapihkan jasnya
" Emmmm.... kliennya perempuan ya ?" tanya Grea memincingkan matanya
" Iya, memangnya kenapa?" tanya Arvan menaikkan satu alisnya
" Gak Kenapa-napa" Grea pasang wajah cemberut
" Kalau kamu cemburu aku tadi sudah menawarkan kamu untuk ikut" Arvan menarik Grea ke dalam pelukannya dan Grea sangat menikmatinya karena semenjak hamil ia merasa begitu nyaman setiap kali Arvan memeluknya.
" Gak usah berpikir yang macam-macam, apalagi saat ini kamu sedang hamil buah hati kita sayang, kalau kamu merasa tidak nyaman jika aku ada temu janji dengan klien perempuan aku bisa membatalkannya kok sayang" Arvan mengurai pelukannya dan memegang kedua bahu Grea lalu mengecup keningnya singkat.
"Tidak, aku tidak apa-apa pergilah nanti klien kamu kelamaan menunggu" Grea melepaskan tangan Arvan yang bertengger di bahunya.
" Bibir kamu bilang pergi saja tapi hati kamu berteriak, aku mohon suamiku jangan pergi!" ucap Arvan menggoda Grea membuat Grea melotot dan langsung mencubit perut Arvan dengan kesal.
" Mana ada seperti itu, a..aku tidak mengatakan apa-apa" Grea duduk di sofa depan wajah yang ditekuk.
" Aku hanya mendengar suara hati kamu yang bicara sayang, aku tidak akan pergi biar Hanan saja yang pergi menggantikan aku, bagaimana?" Arvan mengedip-ngedipkan matanya kepada Grea membuat Grea bersemu merah.
Tok
Tok
Tok
" Masuk!" teriak Arvan
Ceklekk
Hanan datang dengan wajah datarnya lalu sedikit membungkukkan badannya memberi hormat kepada atasannya.
" Maaf Presdir sudah waktunya anda pergi untuk bertemu dengan klien anda sekarang!" ucap Hanan mengingatkan
" Kau saja yang pergi mewakiliku Han!" ucap Arvan
" Maaf Presdir untuk kali ini sepertinya tidak bisa diwakilkan, karena klien dari perusahaan Mandala Grup ingin bertemu langsung dengan anda!" tutur Hanan
" Mas, sudah pergi saja aku tidak apa-apa kok menunggu disini!" ucap Grea
" Tapi aku tidak bisa meninggalkan kamu sendirian di sini sayang" Arvan mengusap pipi Grea lembut
" Mas, aku gak sendirian di sini ada mbak Vivi dan juga mbak Susi. emmm.....boleh ya kalau aku bertemu dengannya untuk menghilangkan rasa bosan?" pinta Grea dengan manja, melihat tingkah Grea yang manja membuat Arvan merasa senang karena tidak biasanya Grea mau bermanja-manja dengannya.
" Baiklah, tapi ingat kamu harus jaga diri kamu dengan baik jangan bertindak yang aneh-aneh kalau ada apa-apa cepat hubungi aku!" ucap Arvan tegas
" Iya sayang!"
Jlepp
Ahh seperti banyak ribuan kupu-kupu yang terbang Arvan merasa sangat bahagia dengan sikap lembut sang isteri yang sangat jarang ia dapatkan.
Arvan keluar dari ruangannya dengan sekretaris Hanan yang sudah mengekor di belakangnya dan sebelum meninggalkan perusahaan Arvan berpesan kepada sekretaris Vivi untuk menjaga Grea. Hanya Vivi dan Hanan saja yang tahu tentang Grea yang merupakan isteri dari atasannya itu.
Sudah hampir 30 menit Arvan pergi dan Grea yang berada di ruangannya merasa bosan lalu dia memilih untuk keluar dan pergi mencari mbak Susi karena sudah lama mereka tidak bertemu semenjak Grea memutuskan untuk resign.
" Loh Bu bos mau kemana?" tanya Vivi yang langsung menghadang jalan Grea.
" Ish, mbak Vivi jangan panggil seperti itu dong gak enak tau didengarnya" protes Grea memasang wajah cemberut
" Iya maaf, tapikan kamu itu isteri atasan mbak gak enak kalau cuma panggil nama Grea nanti bisa dimarahi sama pak bos!" tutur mbak Vivi yang merasa tidak enak hati
" Gak apa-apa mbak, pak Arvan tidak akan marah kalau aku yang minta" sahut Grea
" Terus kamu mau kemana sekarang?" tanya Mbak Vivi yang merasa khawatir dengan Grea takut Grea kenapa-napa nanti dia yang kena marah oleh atasannya.
" Bosan mbak didalam aku mau menemui mbak Susi kangen sudah lama tidak bertemu" sahut Grea
" Tapi tadi pak presdir sudah berpesan sama mbak untuk menjaga kamu Grea"
" Tenang saja mbak aku cuma mau menemui mbak Susi aja kok sebentar di lantai satu"
" Tapi Gre!"
__ADS_1
" Gak usah khawatir mbak, aku akan baik-baik aja kok" tutur Grea
" Yaudah, tapi kalau ada apa-apa kamu hubungi mbak ya!"
" Iya mbak " Grea tersenyum tipis lalu beranjak pergi
Grea turun ke lantai satu untuk mencari mbak Susi dan pada saat Grea sudah berada di pentri dia melihat mbak Susi yang sedang duduk bersama Mala.
Grea masih menggunakan maskernya karena dia tidak mau ada yang mengenalinya.
Grea berjalan masuk keruangan dimana mbak Susi dan Mala tengah mengobrol disela waktu senggangnya.
" Kira-kira siapa ya wanita yang sering datang bersama pak presdir, bagaimana ya rupanya saya jadi penasaran mbak " ucap Mala
" Wanita yang mana?" tanya Mbak Susi yang memang belum pernah melihat Arvan datang bersama seorang wanita, mbak Susi selalu datang awal dan langsung masuk ke ruangan pentri.
" Loh mbak Susi memang tidak pernah melihatnya?" tanya Mala heran
" Enggak!" sahut mbak Susi
" Masa sih mbak gak tau padahal beritanya sudah heboh loh seisi kantor, apalagi yang seperti kita tahu kalau pak presdir itu belum pernah bawa wanita ke kantor dan sudah beberapa hari ini dia malah hampir setiap hari membawanya, tapi yang anehnya wanita yang bersama pak Presdir tidak pernah keluar lagi setelah datang dia pulangnya pun bersama pak Presdir, apa jangan-jangan dia itu sekretaris Presdir yang baru ya?" tutur Mala panjang lebar
" Sekretaris yang baru? bukannya Bu Vivi masih menjadi sekretaris pak presdir? masih ada Presdir Hanan juga, apa gak kebanyakan sekretaris?" ucap mbak Susi masuk di akal
" Iya juga sih, terus siapa dong?" Mala menjatuhkan kepalanya di meja dengan tangan sebagai tumpuannya
" Ya mana mbak tahu, mungkin saja pacarnya, calon isterinya atau bisa jadi isterinya" sahut mbak Susi
" Isteri? masa iya sih mbak. kalau isterinya masa mereka menikah karyawannya gak ada yang tahu" Mala nampak berpikir
" Ya sudah gak usah dipikirin, yang penting tidak mengganggu pekerjaan kita selama inikan. Semoga saja itu jodohnya pak Presdir, kasihan sudah cukup umur tapi belum menikah" tutur mbak Susi
" Ya mbak kok bicaranya seperti itu, kalau dia memang jodohnya pak presdir duh patah hati dong saya mbak" Mala pura-pura patah hati dengan memasang wajah sendu
" Jangan halu terlalu tinggi kalau jatuh sakit" ucap mbak Susi seraya terkekeh
" Ah mbak Susi namanya juga berkhayal boleh-boleh aja dong mbak" Mala ikut terkekeh.
" Tapi penasaran juga sih mbak sama pacarnya pak presdir, secantik apa ya mbak sampai bisa meluluhkan Presdir yang dingin kayak gitu, apa secantik Grea ya mbak? duh kok jadi kangen ya sama Grea, tuh anak resign gak bilang-bilang tau-tau menghilang" tutur Mala
" Iya, mbak juga jadi kangen sama Grea. sebenarnya kalau dipikir-pikir Grea itu cocok dengan pak Presdir" ucap mbak Susi
" Cocok bagaimana maksudnya mbak?" tanya Mala penasaran
" Tapi sekarang dimana ya mbak Grea?"
" Iya mbak juga gak tahu, nomornya sudah gak aktif"
" Ekhemm..." Deheman seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu membuat mbak Susi dan Mala terlonjat kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.
" Jadi ini yang kalian lakukan di jam kerja? asik mengobrol dan membicarakan orang. apa kalian ini bekerja untuk membicarakan atasan kalian?" tanya seseorang yang kini sudah berjalan menghampiri mbak Susi dan Mala yang sudah beranjak dari duduknya dan menunduk takut.
" Mala itu siapa?" tanya Mbak Susi
" Itu wanitanya pak presdir" bisik Mala
Deg
Detak jantung mbak Susi berdegup kencang begitu juga dengan Mala yang sudah menunduk takut.
" Kalian diam-diam membicarakan atasan kalian sendiri jika sampai Arvan tahu kalau kalian membicarakannya aku sudah pastikan kalau kalian pasti akan langsung dipecat" ucapnya tegas
" Ma...maaf bu, tapi tolong jangan beritahu pak Arvan bu, kami minta maaf bu!" ucap mbak Susi dengan takut-takut.
" Kenapa, apa kalian takut di pecat? kalau memang kalian masih ingin bekerja kalian itu jangan suka membicarakan atasan kalian dibelakangnya"
" Maaf Bu, kami janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Mala memohon.
" Siapa kalian sampai aku harus menuruti keinginan kalian" ucapnya dengan tangan dilipat di dada.
" Kamu!" tunjuknya kepada Mala
" I...iya Bu" ucap Mala terbata-bata.
" Apa kamu sebegitu penasarannya denganku Hem?" Mala tidak berani menjawab dia hanya diam saja.
" Maaf bu jika kami salah, kami hanya penasaran saja dengan pak Arvan yang tidak pernah membawa wanita ke kantor dan ibu adalah satu-satunya wanita yang dibawa oleh pak Arvan" tutur mbak Susi
" Benarkah, berarti aku wanita paling beruntung" sahutnya
" Benar bu!" Mala menimpali
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan wanita yang bernama Greandira yang kau sebutkan tadi, kau bilang dia sangat cocok dengan Arvan, maksud kamu apa bicara seperti itu hem?"
" Siapa dia, sampai kau bisa mengatakan hal itu?" lanjutnya
" Ma.. maaf bu saya tidak ada maksud apa-apa, Grea adalah teman kami dulu dia bekerja di sini sebagai OG seperti kami" Sahut mbak Susi
" Lalu kemana dia?" tanyanya lagi
" Sudah berhenti bu"
" Kenapa?"
" Kami juga tidak tahu"
" Apa kalian merindukan wanita itu sampai berbicara seperti itu?"
" I... iya bu" jawab mbak Susi hati-hati
" Apa yang membuat kalian sampai merindukan dia?"
" Dia gadis yang sangat baik dan juga sopan bu, karena itu kami merindukan Grea bu" sahut mbak Susi
" Apa kalian ingin bertemu dengannya?" tanyanya penasaran
" Emmmm... sangat bu, kami ingin sekali bertemu dengannya" sahut mbak Susi lagi
" Apa kalian tahu siapa aku?" tanyanya dengan menaikkan satu alisnya.
Mbak Susi dan Mala menggelengkan kepalanya bersamaan.
" Baiklah aku akan memberitahu kalian siapa aku tapi ingat satu hal jangan sampai ada yang tahu siapa aku " tuturnya membuat Mala dan Mbak Susi saling melempar pandangannya dan sedetik kemudian mengangguk pelan.
" Aku sebenarnya adalah_" wanita yang tidak lain adalah Grea menjeda ucapannya lalu membuka maskernya dan tersenyum tipis membuat Mala dan Mbak Susi nampak tercengang dengan sosok yang kini ada di hadapannya.
" Gre... Grea..!" ucap Mbak Susi
" Greandira?" ucap Mala
Grea hanya tertawa kecil lalu memeluk keduanya meluapkan rasa rindu satu sama lain.
"Apa benar ini kamu Gre?" tanya Mbak Susi
" Iya mbak ini aku Greandira" mereka kembali saling berpelukan.
Setelah melepas rasa rindu mereka duduk di bangku seraya tangan mbak Susi mengusap lembut tangan Grea yang masih merasa tidak percaya dengan kehadiran Grea dihadapannya.
" Gre kamu dan pak Arvan_?" tanya Mbak Susi yang nampak masih terkejut tapi ingin tahu apa hubungan Grea dengan Arvan.
" Sebenarnya aku itu_" belum sempat menjawab pintu ruangan terbuka dengan kasar.
Brak
" Sayang, kenapa kamu pergi dari ruangan mas gak bilang dulu hem?" Arvan langsung menghampiri Grea dengan wajah sedikit kesal.
" Maaf mas aku hanya ingin bertemu dengan mbak Susi dan Mala, aku kangen sama mereka" sahut Grea
" Tapi kamu itukan bisa menyuruhnya untuk ke ruangan ku bukan kamu yang kesini sayang" tuturnya lagi
Pasalnya Arvan dengan terburu-buru menyelesaikan pertemuannya dengan kliennya dan langsung kembali ke kantor karena merasa sangat mengkhawatirkan keadaan isterinya.
" Mas aku gak enak jika mengajak mereka keruangan mas Arvan, sudahlah mas aku ini hanya bertemu dengan mereka saja kok." ucap Grea
" Lain kali biar mereka saja yang menemui kamu"
" Iya, bawel" Grea mengerucutkan bibirnya
" Jangan dimanyun-manyunin gitu mau aku cium disini hem?" goda Arvan
" Apaan sih mas, sudah ah yuk balik ke ruangan mas Arvan" ajak Grea
Mbak Susi dan Mala hanya melongo melihat Grea dan Arvan yang nampak mesra.
" Mbak!" panggil Grea
" I.. iya Gre maksudnya Bu Grea" sahut mbak Susi
" Apaan sih mbak panggil Grea aja aku tuh gak suka mbak memanggil ibu" protes Grea
" Panggil Grea saja, turuti saja keinginannya!" ucap Arvan yang sedetik kemudian merangkul pinggang Grea mengajaknya kembali ke ruangannya.
" Baik pak" ucap mbak Susi dan Mala bersamaan.
__ADS_1
Grea kembali memakai maskernya dan pergi bersama Arvan.