
Siang ini Grea ada janji temu dengan sahabatnya Tiara, semalam mereka sudah janjian akan bertemu di cafe tempat biasa mereka dulu menghabiskan waktu bersama.
Sebelumnya Grea sudah meminta izin kepada Arvan, awalnya Arvan tidak mengizinkan tapi karena sikap keras kepala Grea yang selalu saja suka membantah suaminya mau tidak mau Arvan pun memilih mengalah pasalnya jika Grea sudah ngambek maka akan sulit untuk membujuknya.
" Sayang apa tidak bisa bertemu sahabat lama kamu itu hari Minggu saja, biar aku bisa menemanimu?" tanya Arvan yang merasa khawatir dengan kondisi isterinya itu
" Aku sudah mengatakannya tapi dia tidak bisa, karena hari Minggu katanya dia akan pergi ke singapura" sahut Grea
" Ke singapura?" Grea mengangguk pelan
" Dia itu seorang model yang cukup terkenal di singapura dan jarang-jarang dia mau pulang ke negaranya sendiri"
" Apa kalian sudah lama bersahabat?" tanya Arvan yang jadi penasaran
" Ya lumayan sih, aku dan dia itu bersahabat sejak duduk di bangku SD dan kebetulan SMP dan SMA kami juga satu sekolah hanya saja saat duduk di kelas 2 SMA dia pindah ke singapura dan meneruskan sekolahnya di sana." tutur Grea menceritakan
" Ya sudah kalau begitu kamu boleh bertemu dengannya tapi ada syaratnya". Arvan tersenyum miring
" Kok pakai syarat sih mas?" Grea pasang wajah memberengut
" Iya karena aku juga tidak tahu tentang sahabat lama mu itu!" sahut Arvan
" Mas Talita itu sahabat baik aku dan kami sudah lama bersahabat, kenapa mas jadi over protektif banget sih!" kesal Grea
" Karena mas khawatir dan kamu adalah harta yang paling berharga di banding apapun yang aku miliki" sahut Arvan membuat Grea terdiam dengan mata yang langsung berkaca-kaca.
" Baiklah apa syaratnya?" tanya Grea mengalah
" Kamu boleh menemuinya tapi dengan pengawalan" Grea melotot
" Ya ampun sayang aku ini bukan siapa-siapa, ratu juga bukan terlalu berlebihan menurut ku dengan adanya pengawalan, kami tidak akan bisa leluasa" kesal Grea
" Mereka hanya akan mengawasi mu dari jauh tenang saja!" ucap Arvan seraya membelai rambut Grea
" Tapi mas-!"
" Tidak ada penolakan, dan satu lagi aku yang akan menjemputmu nanti jadi jangan kemana-mana sebelum aku jemput!" Grea hanya bisa mendengus kesal tidak menyangka kalau Arvan akan bersikap posesif seperti itu
" Baiklah kau penguasanya aku bisa apa!" Grea mengerucutkan bibirnya
" Aku memang penguasanya dan kamu adalah isteri penguasa yang paling berharga" sahut Arvan membuat wajah Grea yang cemberut berubah menjadi tersenyum tipis
" Kalau begitu aku pergi sekarang ya!" pamit Grea
🖤
" Sorry... sorry.. kelamaan nunggu ya?" tanya Talita saat baru datang
"Enggak apa-apa, gue juga baru sampai kok" sahut Grea
" Serius?"
" Iya, santai aja!" Grea menyeruput minumannya
"Loe mau pesan apa, gue tadi mau pesenin takut selera loe sudah berubah? seloroh Grea
"Ah bisa aja loe "
Grea memanggil pelayan lalu memesan beberapa makanan dan juga minuman untuk dia dan juga sahabat lainnya itu
" Grea berapa usia kandungan loe?" tanya Talita saat memperhatikan perut Grea yang nampak membulat
"Jalan 5 bulan" sahut Grea
" Hebat ya loe tau-tau sudah nikah dan sudah mau punya anak" ucap Talita seraya mengusap perut Grea
" Ya gue juga gak menyangka akan secepat ini menjadi seorang isteri dan juga calon ibu!"
"Apa loe bahagia dengan pernikahan loe,?" tanya Talita
" Tentu saja, kenapa loe bertanya begitu?" Grea menautkan kedua alisnya
" Ya meskipun awalnya memang gue dan suami gue itu menikah atas dasar terpaksa tapi ya lambat laun kami bisa menerima segala kekurangan dan juga kelebihan satu sama lain " sahut Grea
" Apa suami loe mencintai loe Grea?"
" Sangat, dia itu sangat menyebalkan dan juga ngeselin"
" Maksudnya?" Talita menjadi bingung sendiri
" Suami gue itu sangat mencintai gue dan saking cintanya dia itu posesif banget"
" Lalu kenapa loe bilang nyebelin?"
" Ya karena apa-apa selalu dibatasi, sulit kalau mau kemana-mana harus seizinnya dulu"
" Bagus dong itu Grea, berarti dia benar-benar sayang banget sama loe"
" Terus loe sendiri bagaimana?" tanya Grea
" Bagaimana apanya?"
" Pria incaran loe itu. apa kalian sudah bersama?" tanya Grea membuat Talita menghela napasnya panjang
"Belum, dia mungkin masih marah karena pada saat adiknya menikah gue gak bisa hadir" sahut Talita
__ADS_1
" Ya ampun segitunya dia marah, memangnya kenapa waktu itu loe gak bisa hadir?" tanya Grea yang menjadi penasaran dengan kisah percintaan sahabat lamanya itu.
" Gue jatuh sakit, dan gue terpaksa tidak bisa hadir" jawab Talita sendu
" Ya ampun sampai segitunya, hanya karena loe gak bisa hadir di acara pernikahan adiknya dia marah dan gak mau nemuin loe lagi?" tanya Grea antusias
" Gue memang yang salah, gue ngerti kok posisi dia saat itu. mamanya terus mendesaknya untuk menikah apalagi adiknya sudah mendahuluinya, mungkin dia merasa tertekan dengan desakan mamanya yang ingin dia cepat menikah dan saat dia ingin memperkenalkan gue ke orang tuanya gue malah gak datang" cerita Talita membuat Grea sedikit iba dengan nasib sahabatnya itu
" Loe yang sabar ya, kalau kalian berjodoh gue yakin kalian itu bisa bersama asalkan loe tetap berjuang dan meyakinkan dia kalau loe itu benar-benar sayang sama dia" ucap Grea memberi semangat.
" Thanks ya Grea!" Talita memeluk tubuh Grea seraya tersenyum bahagia
" Sama-sama!" sahut Grea
" Oia Grea, suami loe kerja dimana?" tanya Talita sambil menyeruput minumannya
" Suami gue kerja di_!" Grea menjeda ucapannya
" Sebentar ya Ta suami gue nelpon" Grea meraih benda pipih yang tadi dia letakkan di atas meja lalu menggeser tombol warna hijau
"Assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikum salam!"
" Kamu dimana?"
" Masih di cafe xx"
" Aku kesana sekarang!"
" Tapi_"
Tutt... tuttt.. telpon dimatikan
" Ish!" kesal Grea menatap layar ponselnya sambil mencibikkan bibirnya
" Kenapa kok wajah loe jadi bete gitu, suami loe marah?" tanya Talita
" Gak marah sih cuma over protektif banget, baru juga keluar sebentar sudah mau jemput" sahut Grea
" Suami loe mau jemput loe sekarang?" Grea mengangguk
" Bagus dong, dengan begitu gue boleh dong kenalan sama suami loe itu?" ucap Talita
" Boleh aja tapi dengan satu syarat" seloroh Grea
" Syarat?"
" Iya"
" Apa tuh?" tanya Talita
"Uuuh.... anda terlalu percaya diri sekali nyonya, setampan apa sih suami loe itu sampai segitunya"
" Sangat.... sangat tampan dong, suami gue itu bak pangeran tampan berkuda putih siapa pun yang memandang pasti akan terpesona" ucap Grea lalu tertawa merasa geli sendiri sebenarnya dengan ucapannya.
" Iya... iya... semua isteri pasti akan mengatakan hal yang sama tentang suaminya" ucap Talita.
" Terserah.... pokoknya itulah syaratnya!"
" Iya, siapa juga yang bakalan tertarik sama suami loe, lebih tampan pangeran gue kali udah tampan tajir pula" ungkap Talita lalu tertawa.
" Oh ya, kita lihat saja nanti tampanan siapa suami gue apa pangeran loe itu!"
" Oke, siapa takut?" kedua wanita itu tertawa bersama dan terhenti ketika Talita melihat sosok pria yang selama ini sangat ia rindukan turun dari dalam mobil karena letak Talita menghadap keluar ia bisa melihat siapa saja yang datang ke cafe tersebut.
" Ta, gue ke toilet dulu ya bentar!" pamit Grea
" Eh? I..iya Grea!"
Talita kembali melihat pria itu yang sepertinya sedang menelpon seseorang sebelum masuk ke dalam cafe tersebut.
"Apa dia sedang ada pekerjaan disini? mungkin bertemu dengan kliennya?" batin Talita
" Ini kesempatan untukku menemuinya sebelum kliennya datang!"
Talita hendak beranjak dari duduknya tapi urung karena melihat pria itu masuk ke dalam cafe dan berjalan ke arahnya seraya tersenyum.
" Ap... apa gue gak salah lihat, dia tersenyum?"
Pria yang tidak lain adalah Arvan itu sudah berjalan semakin dekat dengan meja Talita. Senyum yang mengembang diwajah tampannya membuat pusat perhatian para wanita yang berada di cafe tersebut terutama Talita pesona ketampanannya membuat siapapun yang melihatnya menjadi terpesona.
" Jangan senyum seperti itu, pakai tebar pesona segala sudah mau punya anak juga!" ucap Grea yang langsung berjalan menghampiri Arvan setelah selesai dari toilet dan mendaratkan cubitan kecil di perut Arvan.
" Aww.... sakit sayang, kejam banget sih sama suami sendiri!" keluh Arvan yang pura-pura merajuk
" Siapa suruh pakai senyum segala, awas saja kalau sampai macam-macam bukan cuma cubitan tapi aku pangkas sekalian aset berharga kamu!" ancam Grea membuat Arvan bergidik ngeri membayangkannya.
" Tidak sayang, aku tidak akan macam-macam. lagi pula aku itu tersenyum sama kamu dan juga calon bayi kita!" ucap Arvan mencubit gemas pipi Grea lalu turun ke perut dan memberi usapan lembut.
" Yaudah yuk pulang, aku masih ada urusan di kantor"
" Kalau masih ada urusan kenapa menjemput ku?"
" Yaa aku cuma khawatir karena belahan jiwa ku tidak ada di sampingku dan yang paling tepatnya aku kangen dengan isteriku ini!" Arvan menoel dagu Grea membuat Grea langsung bersemu merah
__ADS_1
" Mas ih!" Grea malu-malu.
" Oh ya ampun mas aku lupa!" Grea menepuk jidatnya sendiri
" Apa?" tanya Arvan mengerutkan keningnya
" Sahabat aku" Grea langsung menoleh ke arah Talita yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Sayang? Arvan dan Grea? jadi beneran dia sudah menikah dan isterinya ternyata Grea ?" batin Talita
" Talita!" panggil Grea saat sudah berada di hadapan Talita
" Eh? iya Grea" sahut Grea sedikit gugup
" Tuh tadi gue udah bilangkan siapapun yang melihat suami gue pasti terpesona deh, tapi elo enggak termasuk kan Talita?" tanya Grea
" Eng... enggaklah, ngaco aja loe!" ucap Talita sedikit terbata dan pandangan matanya mengarah kepada Arvan.
Arvan bersikap santai, awalnya sedikit terkejut saat melihat keberadaan Talita di cafe tersebut dan dia sudah menduga kalau Talita adalah orang yang sama, oleh karena itu Arvan bersikap semanis mungkin terhadap Grea agar Talita sadar pria yang selama ini ia kejar-kejar adalah suami dari sahabatnya sendiri.
" Ta, kenalin ini suami gue Mas Arvan!" ucap Grea memperkenalkan suaminya
" Talita!" ucap Talita tapi Arvan bersikap cuek dan seolah tidak peduli
" Sayang ayok cepat aku harus kembali ke kantor sekarang!" ucap Arvan yang langsung mengalihkan perhatian Talita
Jlepp
" Jahat kamu Van!" Batin Talita
" Ta gue duluan ya!"
" Iya Grea, hati-hati ya!" ucap Talita lalu tersenyum getir.
Arvan dan Grea kini tengah berada di dalam mobil keduanya hanya diam Grea tidak tahu kenapa raut wajah Arvan terlihat tidak seperti tadi sewaktu di cafe. Arvan nampak marah dan begitu dingin.
" Mas!" panggil Grea takut-takut
" Hem!" jawab Arvan tanpa menoleh
" Apa aku sudah melakukan kesalahan?" tanya Grea dengan menatap lekat Arvan
" Menurutmu?" tanya Arvan datar
"Ya mana aku tahu kalau kamu tidak mengatakan letak kesalahan ku" sahut Grea kesal
Arvan langsung menepikan mobilnya membuat Grea terkejut dan was-was.
" Apa aku benar-benar sudah melakukan kesalahan sampai ia semarah ini?" Batin Grea
Arvan menatap Grea tajam dan duduk menghadap ke arahnya. " Kau tahu letak kesalahan mu apa?" tanya Arvan datar dan Grea menggeleng
" Kesalahan mu adalah memiliki sahabat seperti dia" Grea mengerutkan keningnya tidak mengerti arah pembicaraan Arvan
" Maksud mu apa mas? sahabat seperti dia, Talita maksudmu?" tanya Grea yang masih bingung
" Iya, aku tidak suka kau menemuinya lagi" sahut Arvan
" Atas dasar apa kamu bicara seperti itu tentang sahabat aku mas? aku sudah mengenalnya sejak lama dan dia gadis yang baik " tutur Grea tidak terima dengan larangan Arvan.
" Gadis baik?" Arvan tersenyum miring
" Jika dia gadis baik-baik dia tidak akan mengganggu pria yang sudah beristri" terang Arvan membuat Grea terdiam
" Pria beristri, maksud mas apa aku tidak mengerti?" Grea membenarkan posisinya hingga mereka saling berhadapan.
" Kau masih ingat bukan dengan wanita yang pernah aku ceritakan waktu itu?" tanya Arvan dan Grea berpikir sejenak.
" Wanita?" tanya Grea dan Arvan mengangguk
" Talita, dia adalah wanita yang pernah aku ceritakan padamu!"
Deg
Grea membulatkan matanya saat Arvan mengatakan Talita adalah wanita yang yang dulu pernah ia ceritakan, wanita yang begitu berambisi ingin memilikinya.
"Jadi Talita adalah wanita yang sama? wanita yang pernah menjadi kekasih bayaran mas Arvan?" batin Grea
Melihat Grea yang diam saja membuat Arvan langsung menarik wanita itu kedalam pelukannya
" Aku tidak ingin kamu berhubungan dengan dia lagi, aku pernah mengatakan padamu bukan, dia begitu menginginkan ku dan aku tidak mungkin membiarkan dia menyakiti mu apalagi jika ambisinya itu begitu besar" tutur Arvan seraya mengusap lembut punggung Grea
" Mungkin setelah dia tahu kau adalah suamiku dia tidak akan mengejarmu lagi"
" Bagaimana kalau dia tetap sama. pokoknya aku tidak mau kalau wanita itu menjadi duri dalam daging pada hubungan kita. kau jga jangan terlalu percaya padanya. kau harus percaya padaku sayang apapun yang dia katakan"
" Termasuk kau marah padanya karena dia tidak bisa datang di pesta pernikahan adikmu karena dia sakit?" tanya Grea
Arvan menghembuskan nafasnya kasar " Kau sudah tahu jawabannya sayang, apa aku perlu menjawabnya lagi?" tanya Arvan dengan wajah kecewa
" Dia memang tidak bisa datang ke acara pesta itu tapi aku tetap mengirimkan uang bayarannya dan dia sudah menerimanya" ucap Arvan
" Aku sudah mengatakannya jika dia hanya berpura-pura sebagai kekasihku di pesta pernikahan adikku saja tidak lebih!" terang Arvan
" Dan sewaktu aku menemuinya beberapa hari lalu aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku sudah menikah dan sangat mencintai istriku tapi kau tahu jawabannya dia tidak percaya dan menginginkan aku menceraikan mu!"
__ADS_1
Jlepp
Grea yang awalnya menunduk langsung mendongakkan kepalanya mendengar cerita Arvan kalau Talita meminta Arvan menceraikannya.