Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Kekasih atau Pelakor


__ADS_3

Grea masih memasang wajah memberengut karena Arvan tidak mengizinkannya untuk keluar dari ruangannya. Grea mendengus kesal bagaimana jika rekan-rekannya mencari keberadaannya.


" Presdir!" ucap Grea dengan wajah kesalnya


" Apa? bisakah kau memanggil suamimu dengan panggilan yang pantas" ucap Arvan yang langsung meletakkan penanya dan beranjak dari duduknya menghampiri Grea yang duduk di sofa depan meja kerjanya.


" Iya, emmmm.. suamiku!" ucap Grea sedikit terasa kaku dilidahnya.


" Tidak bisakah dengan panggilan yang lain?" tanya Arvan yang kini sudah berada duduk di sampingnya.


" Apa?" tanya Grea


" Misalnya mas, sayangku atau cintaku!" ucap Arvan sambil menyelipkan rambut Grea ke telinga.


" Emmm.. tapi aku lebih suka memanggilmu suamiku " ucap Grea yang dibuat manja.


" Aish.. kau ini pandai ya rupanya menggodaku" ucap Arvan yang langsung menarik Grea ke atas pangkuannya.


" isshh, jangan seperti ini, bagaimana kalau ada yang melihat!" ucap Grea seraya turun dari pangkuan Arvan tapi tidak bisa karena Arvan lebih dulu mengeratkan pelukannya.


" Suamiku ini di kantor, jangan seperti ini aku harus kembali bekerja!" ucap Grea dengan menghela napasnya kasar


" Jangan mengeluh seperti itu sayang!" ucap Arvan


" Aku harus cepat kembali aku tidak mau menimbulkan kecurigaan dan berakhir dengan gosip yang tidak mengenakkan"


" Gosip apa? aku tidak peduli dengan gosip"


Tok


Tok


Tok


Suara pintu diketuk dan sontak langsung membuat Grea terjingkrak dan turun dari pangkuan Arvan.


" Tuh kan!" kesal Grea


" Tenang paling juga Hanan" ucap Arvan mengelus lembut rambut Grea


" Masuk !" teriak Arvan setelah kembali duduk di kursi kebesarannya.


Ceklekk


pintu terbuka dan menyembulah wanita cantik yang cukup terlihat berkelas dengan penampilan yang terbilang seksi.


" Selamat pagi Arvan!" ucap Maria salah satu klien Arvan yang menaruh hati kepadanya.


Maria menghampiri Arvan yang berlagak sibuk dengan penanya di atas kertas.


" Arvan bisa kita bicara sebentar?" tanya Maria dengan nada suara yang sedikit dibuat seksi membuat Grea yang masih berada di ruangan tersebut memutar bola matanya jengah.


"Ekhemm" Grea berdehem membuat Arvan mendongak dan melirik ke arahnya.


" Ahh... bagaimana kalau aku buat Grea merasa cemburu?" batin Arvan dengan ide jahilnya.


" Siapa kamu, kenapa ada di ruangan Presdir?" tanya Maria dengan nada tidak suka.


" Saya ini salah satu pegawai disini wajar kalau saya ada disini, anda sendiri Siapa nona?" tanya Grea tanpa rasa takut sedikitpun.

__ADS_1


" Aku ini kekasih Presdir Arvan dan bisa dikatakan calon isterinya, benarkan sayang?" tanya Maria yang sama sekali tidak digubris oleh Arvan dia masih memperhatikan reaksi Grea .


" Oh ya, benarkah seperti itu? jadi anda ini kekasihnya Presdir bahkan calon tunangannya?" ucap Grea dengan nada suara sedikit mengejek.


" Tapi nona setahu saya Presdir itu sudah menikah jadi saya tidak tahu kalau anda ini kekasihnya. kekasih atau pelakor ya tepatnya? oopss!" Grea menutup mulutnya sendiri seakan salah berucap.


" Kau!" geram Maria. " Kau ini hanya seorang Office Girl jadi jangan sembarang bicara, Presdir Arvan itu belum menikah seandainya sudah menikah pun dia akan menikah hanya dengan ku, ingat itu!" ucap Maria dengan percaya dirinya.


" Benarkah?" tanya Grea meyakinkan


" Tentu saja!" sahut Maria


" Apa benar seperti itu tuan Presdir yang terhormat?" tanya Grea dengan tatapan mata tajamnya.


" Ucapannya benar aku ini sudah menikah, dan kau sebaiknya jangan cari masalah dengannya. karena jika kau membuatnya marah sama saja kau membuat isteri ku marah besar!" ucap Arvan dengan sikap santainya.


" Apa maksudmu Arvan, kau pasti sedang bercanda, iya kan?" Maria tidak percaya dengan apa yang Grea ucapkan.


" Hai nona kenapa anda ini keras kepala sekali, sudahlah terserah kau saja mau percaya atau tidak. aku mau melanjutkan pekerjaanku, permisi Presdir!" pamit Grea dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Diam ditempat, urusan mu belum selesai!" tegas Arvan pada saat Grea hendak melangkah pergi.


Arvan menahan senyumnya setelah melihat raut wajah kesal Grea.


" Ada apa kau mencariku? cepat katakan! aku tidak punya banyak waktu" ucap Arvan dengan nada datar.


" Aku hanya ingin membicarakan kerja sama kita sambil makan siang, bagaimana?" ucap Maria yang berjalan mendekati Arvan.


" Jaga sikap mu, bukankah kau sudah mendengar sendiri. kalau aku sudah menikah" ucap Arvan melirik ke arah Grea namun yang dilirik seolah tidak peduli.


" Aku tahu kau itu hanya bergurau, tidak mungkin kau sudah menikah. jika memang kau sudah menikah lalu dimana isterimu?"


Arvan berdiri sambil membenarkan jas dan dasi yang ia gunakan. " Isteriku tidak suka dipublikasikan. dia suka dengan hal-hal yang sederhana dan tidak mau orang-orang tau kalau dia adalah seorang isteri dari Arvandra Pratama." ucap Arvan sekali lagi melirik ke arah Grea.


" Begitukah?" Arvan memincingkan alisnya


Grea hanya bisa mendengus kesal mendengar ocehan Arvan dan Maria.


" Kau ceraikan saja dia, lalu menikahlah denganku. hanya aku yang pantas mendampingimu sayang!" ucap Maria membuat Grea rasanya ingin muntah.


Melihat Arvan diam saja membuat Grea menjadi kesal sendiri. atau mungkin saja Arvan benar-benar tergoda dengan wanita itu lalu benar-benar akan menceraikannya, batin Grea.


" Pak Presdir, haruskah saya disini terus dan mendengarkan obrolan kalian ?" ucap Grea yang sudah tidak tahan lagi mendengar suara Maria yang dibuat-buat manja.


" Pergilah kau hanya pengganggu disini, aku yakin sebentar lagi Presdir mu akan segera menceraikan istrinya lalu menikah dengan ku!" ucap Maria dengan percaya diri.


Grea mendelik tajam karena Arvan masih diam saja, Grea yang kesal pun " Kalau begitu saya permisi. masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan!" pamit Grea dengan dongkol


" Siapa yang menyuruhmu pergi, duduk!" perintah Arvan tegas membuat Grea memberengut kesal.


" Biarkan saja dia pergi sayang!" ucap Maria yang hendak menyentuh tangan Arvan namun langsung ditepis kasar.


" Jaga sikap mu Maria, kita memang ada kerja sama tapi jika kau tidak menjaga sikapmu aku bisa saja membatalkan kontrak kerja sama kita" tegas Arvan dengan tatapan dingin.


" Tapi a_"


" Sudahlah, sebaik kau keluar dari ruangan ku jika ada yang ingin kau bicarakan tentang kontrak kerja sama kita kau bisa menemui Hanan!" perintah Arvan tegas tidak ingin dibantah.


" Silahkan keluar!" Arvan merentangkan tangannya ke arah pintu keluar dan dengan kesalnya Maria keluar dari ruangan Arvan.

__ADS_1


" Awas saja kau Arvan!" batin Maria


Setelah Maria keluar dari ruangan tersebut, Arvan langsung duduk di sofa sebelah Grea dan tanpa aba-aba ia langsung merebahkan diri dan menjadikan paha Grea sebagai bantalannya.


Grea tersentak kaget tatkala Arvan mendaratkan kepalanya di atas pahanya. " Kau!"


" Sudah diamlah, biarkan seperti ini!" ucap Arvan tidak ingin ada penolakan


" Tidak bisakah kau bersikap manis terhadap suamimu?" tanya Arvan dengan mata yang terpejam.


" Ya?"


" Kepala ku terasa pusing!" ucap Arvan masih memejamkan mata.


Dengan refleks tangan Grea langsung mengusap lembut kepala Arvan sampai akhirnya terdengar suara dengkuran nafas yang teratur dari pria dingin dan super menyebalkan itu.


Ceklekk


pintu tiba-tiba terbuka Grea tersentak kaget dan sedetik kemudian ia kembali menghela napasnya lega karena yang masuk ternyata Sekretaris Hanan


" Apa Presdir sedang tidur?" tanya Hanan yang diangguki pelan oleh Grea.


" Kalau begitu saya permisi nyonya muda, nanti jika Presdir sudah bangun saya akan kembali lagi!" pamit Hanan


" Iya!" ucap Grea yang berusaha untuk meletakkan kepala Arvan ke sofa namun sia-sia karena Arvan malah menggeser tubuhnya dan memeluk erat pinggang Grea.


" Apa-apaan sih!" ucap Grea pasrah sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 11: 30 ternyata tidur dengan Grea menjadi bantalannya membuat Arvan benar-benar tertidur pulas.


" Jam berapa sekaran" tanya Arvan yang beranjak dari tidurnya.


" Jam 11: 30 sahut Grea dengan lesu karena kakinya tentu terasa pegal di rambah kebas.


" Aku ada janji makan siang dengan klien siang ini!" ucap Arvan seraya berjalan ke wastafel untuk mencuci mukanya.


" Hemm!" ucap Grea dengan malas


" Kau boleh kembali ke tempat kerjamu sekarang" ucap Arvan membuat Grea mendengus kesal tidak melihat betapa sulitnya ia untuk berdiri.


" Hemm!" ucap Grea lagi seraya berusaha untuk berdiri dan alhasil Grea malah terjatuh karena kakinya yang tiba-tiba kram


Gubrak


" Greandira!" pekik Arvan saat melihat Grea sudah terduduk di lantai.


Arvan langsung menghampirinya " Kamu tidak apa-apa?" Tanya Arvan namun bukannya menjawab Grea malah menepis tangan Arvan yang hendak menyentuhnya.


" Kau ini kenapa?" kesal Arvan.


" Setelah kau tidur seenaknya menjadikan kakiku sebagai bantalanmu dengan seenaknya pula kau langsung menyuruhku kembali ketempat kerjaku tanpa bertanya keadaan ku terlebih dahulu yang berjam-jam kau Jadikan bantalan" geram Grea.


membuat Arvan menghembuskan napasnya kasar. " Maafkan aku!" ucap Arvan seraya membelai rambut Grea namun lagi-lagi ditepisnya.


" Sudahlah, aku akan pergi sekarang. pergilah dan temui klien mu itu dia pasti sudah menunggumu!" ucap Grea berusaha untuk berdiri sendiri dan dengan langkah gontai Grea keluar dari ruangan Arvan namun baru sampai pintu tubuh Grea langsung melayang ke udara karena Arvan langsung menggendongnya ala bridal style.


" Kau!" ucap Grea dalam keterkejutannya


" Maafkan aku!" ucap Arvan dan langsung membawa Grea kedalam kamar privasi Arvan.


Arvan merebahkan Grea ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. " Sekarang istirahatlah, tunggu aku bertemu dengan klien ku dulu, jangan coba-coba pergi dari sini. aku akan segera kembali setelah pertemuan ku selesai dan kita akan makan siang bersama" ucap Arvan mengelus pucuk kepala Grea dengan lembut lalu mengecup keningnya.

__ADS_1


" Aku akan segera kembali!" ucapnya sebelum keluar dari ruangan tersebut.


Grea hanya bisa menatap punggung yang menghilang dari balik pintu dengan perasaan yang sulit diartikan.


__ADS_2