Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Hukuman


__ADS_3

" Kalau tidak apa?" terdengar suara bariton dengan aura yang sangat dingin dan membuat semua yang berada di kantin menegang seketika.


Bulu kuduk Sisil seketika berdiri tubuhnya gemetar dan napasnya terasa tersengal saat aungan harimau kutub terdengar begitu jelas dibelakangnya.


Deg


Jantung Sisil berdetak tidak beraturan ingin rasanya ia pingsan di tempat sekarang juga karena ia takut terkena amukan beruang kutub yang sudah mengeluarkan taringnya.


" Pa...pak presdir!" ucap Sisil tergagap saat menoleh kebelakang orang yang baru saja mereka bicarakan sudah muncul di belakangnya.


Sisil benar-benar tidak menyangka jika atasan mereka bisa muncul di tempat itu karena selama ini yang dia tahu presdir tidak pernah datang ke kantin kecuali ada sesuatu yang penting saja.


" Dengan tatapan tajam dan menusuk membuat Sisil langsung merosot ke lantai, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir sang presdir namun tatapan mautnya sudah membuat tubuh Sisil lemas bagai tak bertulang.


" Greandira, sedang apa kamu disini. apakah ancaman ku sama sekali tidak membuat mu takut?" Grea seakan sulit menelan salivanya mendengar Arvan menyebutkan namanya lengkap itu petanda sang suami dalam keadaan marah besar.


" Maaf presdir aku lapar jadi aku pergi ke sini!" ucap Grea berusaha untuk bersikap tenaga.


" Apa kau tidak bisa makan di tempat yang lain?" tanyanya lagi menatapnya lekat tanpa berkedip


Grea menghembuskan napasnya kasar " Maaf presdir mungkin karena terlalu lapar dan aku juga merindukan mereka jadi tanpa pikir panjang aku memilih menemui mereka dan mengajaknya makan dan bersama" sahut Grea cepat


" Jika anda keberatan saya makan siang di sini saya akan pergi sekarang, permisi!" ucap Grea tegas membuat Arvan sedikit mengerutkan keningnya.


" Kamu sudah berani ya sekarang, kalau begitu ayo ikut aku dan aku pastikan kamu akan mendapatkan hukuman mu yang setimpal!" Arvan menghampiri Grea dan langsung menarik tangannya.


" Lepaskan tangan ku!" sentak Grea namun sia-sia karena genggam tangan Arvan sangat kuat. Sisil yang melihat Grea diperlakukan seperti itu tersenyum miring ia berharap Grea mendapatkan hukuman yang berat.


" Han!" teriak Arvan


" Iya presdir!" Sekretaris Hanan dengan cekatan langsung berhambur kehadapan atasannya.


" Kau urus kekacauan ini dan pastikan wanita ini tidak menginjakkan kakinya di kantin kantor ku lagi. sekarang aku akan memberinya pelajaran karena tanpa seizin ku dia sudah berani makan siang di tempat ini . dan kau urus dia, mulai besok dia akan bekerja sebagai OG selama satu bulan. Awasi pekerjaannya jika dia tidak bisa mengerjakannya dengan baik, maka pecat saja dia!" titah Arvan tegas.


Mendengar dia besok akan dipindahkan bekerja di bagian OG Sisil semakin lemas tidak menyangka apa yang baru saja dia lakukan bisa membuatnya jatuh ke dasar jurang. Sisil mengepalkan tangannya kuat menatap Grea yang ditarik paksa oleh atasannya pergi meninggalkan area kantin.


" Ayo bangun!" Monik membantu Sisil berdiri.


" Ingat nona Sisil mulai besok dan satu bulan kedepan kau akan bekerja di bagian OG dan hari ini kau harus menyelesaikan pekerjaanmu sampai selesai jika tidak selesai maka kau harus lembur malam ini!" tegas sekretaris Hanan.


" Satu lagi jangan pernah berbuat keributan lagi di kantor ini jika kau masih ingin bekerja atau sebaiknya kirim surat pengunduran diri mu ke meja presdir!" Ucap sekretaris Hanan mengingatkan kembali sebelum ia melangkah pergi

__ADS_1


Sisil semakin geram namun ia berusaha untuk bersabar, lebih baik menjadi OG selama sebulan dari pada dia dipecat.


Jam istirahat sudah selesai para karyawan pun sudah kembali ke tempat kerja mereka masing-masing.


"Bu Caca!" panggil Mala saat Caca hendak melangkah pergi


" Iya ada apa?" Caca menoleh


" Bu apa ya kira-kira hukuman untuk mbak Grea, apa pak presdir akan benar-benar menghukumnya?" tanya Mala sedikit khawatir dengan keadaan Grea


" Iya Bu Caca, melihat pak presdir semarah itu saya takut beliau menyakiti Grea!" ucap mbak Susi yang juga tidak kalah khawatir dengan Mala


" Aku juga gak tau, tapi yang pasti presdir tidak akan mungkin menyakiti Grea!" jawab Caca yang sebenarnya dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu


" Semoga saja ya Bu!" ucap Mala


" Mala, mbak Susi jangan panggil aku ibu dong, aku ini belum menikah kesannya terlalu tua dipanggil ibu!" protes Caca


" Panggil Caca aja atau mbak Caca yang penting gak ibu!" ucapnya lagi


" Iya Bu, eh mbak maksudnya!" ucap Mala


" Emm... apa kalian sudah tahu tentang Grea ?" tanya Caca


" Mba Grea kenapa sih ya jujur aja kalau dia itu sebenarnya_!" ucapan Mala terpotong


" Sudah jangan dibahas lagi nanti ada yang mendengar yang jelas mereka punya alasan tersendiri. sebaiknya kita pergi sekarang sebelum sekretaris Hanan kembali melihat kita disini bisa gawat urusannya!" ucap Caca yang langsung pergi kembali ke ruangannya.


Sementara di ruang presdir hawa dingin mulai mencekam, tatapan Arvan begitu tajam. Arvan berjalan semakin mendekat dan Grea melangkah mundur.


" Kau sudah berani menentang ku ya sekarang, pergi tanpa memberitahu ku terlebih dahulu bahkan membuat keributan di kantin!" ucap Arvan datar dengan tatapan yang menusuk tajam.


" A... aku, aku hanya!" Grea menjadi gugup mendapatkan tatapan yang begitu mematikan.


" Kau harus ku hukum!" tegas Arvan yang sudah mencium Grea dengan sangat kasar dan mendorongnya ke sofa. Air mata Grea lolos begitu saja, hatinya sakit diperlakukan kasar oleh Arvan.


Saat Arvan ingin melakukan yang lebih tiba-tiba ia mendengar suara Grea sesenggukan menahan Isak tangisnya. Arvan dengan segera bangkit dan menatap lekat wajah sang isteri yang nampak basah dengan air mata dan sedikit pucat


" Sayang maafkan aku!" ucap Arvan menangkup kedua tangannya di wajah Grea.


Arvan tersadar Grea saat ini tengah hamil dan dia meruntuki kesalahannya yang sudah menyakiti isteri dan calon bayinya.

__ADS_1


" Sayang maafkan mas, maaf kalau mas sudah menyakiti kalian . mas khilaf!" ucap Arvan yang mendaratkan usapan lembut di perut sang isteri.


Grea masih menangis hormon kehamilannya membuat dirinya semakin sensitif apalagi jika berkaitan dengan sang suami.


Bukan menghentikan tangisnya Grea semakin terisak membuat Arvan kelabakan sendiri tidak tahu bagaimana cara mendiamkan isterinya itu.


" Sayang!" Arvan menarik Grea ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut.


" Maafkan mas sayang, mas tadi hanya panik karena tidak melihatmu diruangan ini ditambah mas melihat keributan mu tadi di kantin mas semakin khawatir sayang" tutur Arvan membuat isakan Grea terdengar sedikit berkurang.


" Sayang, kamu tahukan sekarang kamu ini adalah sumber kehidupan mas, jadi jangan jauh-jauh dari mas, sungguh mas tidak bisa hidup tanpa mu sayang. tidak melihatmu sebentar saja mas sudah hampir gila dibuatnya. jadi mas mohon jangan ulangi lagi ya!" ucapan Arvan seketika membuat hati Grea menghangat. Grea mengurai pelukan suaminya dan menatap lekat mata sang suami.


Arvan tersenyum dan sedetik kemudian mendaratkan kecupan di kening Grea.


" Mas sangat mencintaimu Greandira, mas sangat takut kehilanganmu!" ucap Arvan yang seketika sendu. " Mas takut kamu meninggalkan mas!" lirihnya


Grea terenyuh mendengar pengakuan cinta sang suami dan perasaannya yang takut kehilangan dirinya.


" Mas kenapa bicara seperti itu?" tanya Grea yang menangkup wajah Arvan dengan kedua tangannya.


" Aku hanya sedang lelah, pertemuan ku tadi membuat kepala ku pusing dan tidak mendapati mu diruangan ini membuat kepala ku semakin berdenyut sampai aku tidak bisa mengendalikan emosi ku!"


" Maafkan aku mas, karena aku mas jadi seperti ini!" sesal Grea


" Tidak sayang, bukan salah kamu sepenuhnya. mas juga yang salah, kamu pasti bosan berada diruangan ini terus menerus" ucap Arvan kembali menarik Grea ke dalam pelukannya


" Apa pertemuan tadi bermasalah mas?" tanya Grea mendongak menatap lekat wajah sang suami yang terlihat lelah.


" Hem?" jawab Arvan seraya memejamkan matanya


" Kenapa?" tanya Grea


" Karena dia bukan hanya ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan ku tapi dia juga menginginkan suamimu ini sayang!"


Deg


Grea langsung mengurai pelukannya dan menatap Arvan tajam.


" Apa maksudmu?" ucap Grea dingin dan tatapan mata pun begitu tajam seakan ingin menelan Arvan hidup-hidup.


Glek

__ADS_1


Arvan terasa sulit menelan salivanya, baru kali ini ia melihat tatapan Grea yang sangat tajam seakan ingin mengulitinya.


__ADS_2