
Sudah hampir satu bulan Arin menghilang dan mama Risma begitu mengkhawatirkan keadaan putrinya.
" Van apa kamu tidak mengkhawatirkan keadaan adik kamu, sudah satu bulan dia pergi tanpa kabar Van. Mama khawatir"
Arvan yang sedang duduk di ruang kerjanya sambil memeriksa beberapa berkas yang belum sempat ia periksa di kantor seketika menutup map yang berada di tangannya.
" Ma, Arin itu sudah besar. dan hal ini bukan sekali dua kali dia lakukan. sudah berapa kali anak itu pergi dari rumah bahkan di hari istimewanya sendiri dia lebih memilih pergi bukan, jadi apalagi yang mama khawatirkan." Arvan beranjak dari duduknya dan menghampiri mamanya yang duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
" Tapi kali ini apa yang membuatnya pergi dari rumah, apa kamu tahu Van?" tanya mama Risma
" Hanya Arin yang tahu mah apa alasannya dia pergi dari rumah" sahut Arvan.
" Sudahlah mah, tidak perlu dipikirkan anak itu, jika capek juga dia akan pulang sendiri" ucap Arvan
" Tapi perasaan mama tidak enak, mama kangen Van" ucap mama Risma dengan wajah sendu.
" Kangen sama siapa mah?" tanya Grea yang tiba-tiba muncul membawakan minuman untuk mertua dan juga suaminya.
" Eh Grea, bukan siapa-siapa kok sayang, mama cuma kangen sama cucu mamah makanya mama sedang merayu Arvan agar mama diizinkan untuk bermalam di sini ya untuk tidur bersama baby Queensy." jawab mama Risma
" Ya ampun mah, kalau mamah mau menginap tentu saja boleh mah, Queensy juga pasti senang banget kalau omanya menginap " ucap wanita itu dengan senyum ramahnya
" Terima kasih ya sayang" ucap mama Risma
" Sama-sama mah, yaudah yuk mah kita makan malam dulu!" ucap Grea
" Iya sayang" mama Risma lalu keluar lebih dulu menuju meja makan.
" Mamah duluan ya" pamitnya
" Iya mah" setelah mama Risma keluar dari ruangan tersebut Grea langsung menghampiri sang suami yang tengah bersandar di kursi kerjanya seraya memejamkan mata dan tangannya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut
" Kamu kenapa si mas, kok kayaknya capek banget?" tanya Grea seraya memijat pelan bahu sang suami.
Arvan membuka mata dan menggeser duduknya.
" Kenapa mas diam saja, mas marah sama aku karena sudah mengizinkan mama menginap?" tanya Grea yang langsung menarik tangannya dari bahu Arvan
Arvan menghela napasnya panjang lalu menatap bola mata wanita yang sangat ia sayangi itu.
" Mana mungkin aku marah hanya karena isteriku mengizinkan mamaku sendiri menginap" ucap Arvan seraya menarik tangan Grea hingga Grea jatuh terduduk di atas pangkuannya.
" Lalu kenapa mas diam saja sedari tadi?" Grea hendak bangkit dari atas pangkuan Arvan
__ADS_1
" Diamlah jangan banyak bergerak, biarkan seperti ini sebentar!" ucap Arvan yang meletakkan kepalanya di bahu Grea
" Mas jangan seperti ini, kasihan mama sudah menunggu kita untuk makan malam" Grea bergerak dan bangkit dari pangkuannya
" Ah rasanya aku tidak ingin makan" ucap Arvan yang tengah kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.
" Loh kok gitu sih mas?" tajuk Grea dengan wajah masam
" Aku tidak ingin makan makanan yang ada di atas meja makan" ucapnya sambil memejamkan mata
" Oh jadi mas tidak suka dengan makan masakan aku" ketus Grea
Arvan langsung membuka matanya dan menegakkan tubuhnya setelah mendengar ucapan sang isteri yang nampak marah
Arvan tersenyum lalu kembali menarik Grea ke dalam pelukannya. " Siapa bilang tidak aku suka?" tanya Arvan lalu mencium curuk leher Grea membuat Grea bergidik kegelian
" Mas apa-apaan sih!" ketus Grea yang berontak ingin melepaskan tangan kokoh Arvan yang memeluk posesif pinggangnya.
" Aku sedang tidak ingin makan makanan yang ada di atas meja karena aku sedang ingin memakan wanita cantik yang ada di atas pangkuan ku ini" ucap Arvan yang semakin mengeratkan pelukannya
" Mas ada mama kamu loh itu, gak enak kalau membiarkan mama makan malam sendirian " Grea membelai pipi Arvan dengan lembut
" Kamu semakin memancingku sayang" ucap Arvan yang langsung merapatkan wajahnya dengan wajah Grea.
" Mas ih, mesum banget sih" Grea mencubit hidung mancung Arvan setelah lum**tan ganas sang suami terlepas.
Arvan tertawa melihat wajah Grea yang bersemu merah.
" Kamu semakin menggemaskan sayang, kita lanjutkan lagi bagaimana?" goda Arvan menaik turunkan alisnya
" Sepertinya tadi kamu juga sangat menikmatinya sayang!" Grea membulatkan matanya menyorot tajam sang suami
" Apaan sih mas mana ada ya kayak gitu?" kesal Grea yang langsung beranjak dari pangkuan Arvan
Arvan tergelak dan ikut beranjak dari duduknya. " Sudah tahan ya sebentar gak enak loh sama mama, terlalu lama menunggu kita. nanti kita lanjutin lagi oke" ucap Arvan seraya tergelak dan menaik turunkan alisnya
" Ya?" Grea mencerna ucapan Arvan yang nampaknya memutar balikkan keadaan
" Mas ih nyebelin banget sih!" Grea memasang wajah cemberut dan tentu saja hal itu semakin membuat Arvan gemas melihatnya
" Sudah jangan cemberut gitu, nanti pasti lanjutin kok tidak sabar ya isteri mas buat_" ucapan Arvan terhenti saat kaki Grea tepat mendarat dengan keras diatas kaki Arvan
" Aww...!" teriak Arvan meringis menahan sakit karena Grea cukup kuat menginjak kakinya
__ADS_1
" Sakit? makanya kalau bicara itu jangan sembarangan" ketus Grea yang langsung pergi keluar begitu saja dengan wajah yang ditekuk sementara Arvan tergelak, Arvan semakin gemas melihat wanitanya yang tengah merajuk.
" Kamu itu semakin menggemaskan sayang" Gumam Arvan menatap punggung Grea yang menghilang di balik pintu.
" Bagaimana bisa adikku menginginkan aku meninggalkan wanita yang sangat berarti dalam hidup ku" batin Arvan lalu mengusap wajahnya dengan kasar
" Mas!" teriak Grea dari balik pintu karena Arvan masih belum juga muncul
" Iya sayang sebentar" Arvan langsung beranjak dari duduknya dan menyusul sang isteri.
" Loh mamanya mana kok gak ada?" tanya Grea pada art yang sedang merapihkan piring bekas mama Risma makan
" Nyonya besar sedang di kamar baby Queensy non" jawab art tersebut
" Apa mama sudah makan malam bi?"
" Sudah non" Grea mengangguk mengerti
" Sayang mama mana kok gak ada?" tanya Arvan seraya menggeser salah satu kursi
" Gara-gara mas nih mama jadi makan malam sendirian" ucap Grea memasang wajah cemberut tapi tangannya dengan cekatan meraih piring Arvan mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya.
" Kenapa aku yang disalahin kan tadi kamu yang_" seloroh Arvan terpotong
" Jangan mulai lagi deh mas, suka banget ya menjerumuskan orang" Grea mendaratkan bokongnya di kursi dengan kasar
" Menjerumuskan bagaimana sayang?" Arvan kembali menyuap makanan yang ada di atas piringnya.
" Tau ah" kesal Grea yang juga ikut menyuap makanannya
" Jangan cemberut gitu dong sayang, kamu tuh kalau cemberut semakin membuat mas gemas" goda Arvan
Setelah selesai makan malam Grea dan Arvan masuk ke dalam kamarnya, sebelumnya Grea menyempatkan diri melihat putri kecilnya yang ternyata sudah terlelap bersama sang Oma.
Arvan kembali menggoda sang isteri yang membuat Grea semakin kesal dibuatnya tapi justru berbanding terbalik dengan Arvan semakin Grea terlihat kesal bagi Arvan semakin membuatnya gemas sendiri.
Arvan tentu tidak mau membuang kesempatan, selama putri kecilnya tidur bersama sang mama menjadikannya kesempatan untuk mendekati isteri tercinta.
Arvan tidak peduli dengan sikap Grea yang masih merajuk, Arvan melanjutkan aksinya yang tertunda saat berada di ruang kerja, Grea yang awalnya menolak akhirnya menyerah juga karena perlakuan lembut dari sang suami.
Malam ini menjadi malam penuh kehangatan untuk keduanya tanpa gangguan si kecil yang terkadang terjaga dari tidurnya.
Arvan sungguh menikmati malam ini bersama sang isteri sejenak ia bisa melupakan kepenatannya yang diakibatkan oleh ulah dari adiknya dan juga sahabat dari isterinya sendiri.
__ADS_1