
Ceklekk
" Maaf pak presdir, saya membawakan pesanan Bu Grea!" ucap Mbak Vivi meletakkan bungkusan di atas meja
" Dira? Kapan dia memesannya?" tanya Arvan
"Tadi sebelum bapak masuk ke ruangan ini" jawab mbak Vivi sedikit takut-takut
" Lalu dimana dia sekarang?" tanya Arvan
" Tadi bu Grea bilang mau istirahat capek katanya, mungkin saat ini ada di dalam presdir" sahut mbak Vivi menunjuk ke arah sebuah ruangan khusus yang ada di ruangan tersebut.
Arvan langsung menoleh ke arah pintu kamar pribadinya yang berada di dalam ruangan tersebut.
" Ya sudah kamu boleh keluar sekarang "Ucap Arvan lalu beranjak dari duduknya
" Baik pak, permisi!" mbak Vivi pun keluar dari ruangan presdir.
Setelah mbak Vivi keluar dari ruangan tersebut Arvan langsung bergegas masuk ke dalam kamar pribadinya itu.
Ceklekk
Mata Arvan membulat sempurna tatkala netranya menangkap sosok wanita yang tengah berbaring di atas tempat tidur
Arvan menghembuskan napasnya kasar lalu berjalan mendekati sang isteri yang sudah membuat dirinya cemas setengah mati namun yang dicemaskan malah sedang enak-enakan tidur.
Grea yang tengah tidur membelakangi Arvan tidak sadar akan kehadiran suaminya yang sudah duduk di tepi kasur.
Arvan yang merasa lelah lebih memilih untuk ikut berbaring di sisi sebelah Grea lalu memeluk Grea dari belakang, Grea merasa nyaman berada dalam dekapan Arvan dan hal itu malah membuat Grea semakin tertidur nyenyak.
Sudah hampir dua jam Grea dan Arvan tertidur dan pada saat terdengar suara ketukan pintu dari luar, Grea yang merasa terusik dengan suara tersebut perlahan membuka matanya dan seketika Grea merasa begitu terkejut saat membuka mata ia langsung melihat wajah tampan suaminya yang masih terlelap
" Mas Arvan, sejak kapan dia ada disini?" gumam Grea
Karena pintu kembali diketuk Grea langsung turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar tersebut
Ceklekk
Grea membuka pintu kamar tersebut dan ada sekretaris Hanan yang tengah berdiri dengan menunduk hormat
" Iya ada apa sekretaris Han?" tanya Grea dengan muka bantalnya namun masih tetap terlihat cantik.
" Maaf nyonya muda, apa pak presdir ada di dalam?" tanya sekretaris Han
" Iya ada, beliau masih tidur. Kau bangunkan saja sendiri aku mau pergi ke toilet!" ucap Grea yang berlalu begitu saja masuk ke dalam toilet, sementara sekretaris Hanan nampak bingung dengan sikap nyonya mudahnya yang bersikap dingin terhadap atasannya.
Han dengan langkah perlahan menghampiri Arvan yang masih berada di atas tempat tidur dan masih terlelap
" Presdir.... Presdir.... bangun Presdir anda ada rapat jam 2, pak presdir bangunlah!" panggil sekretariat Han membangunkan atasannya
Karena merasa tubuhnya diguncang-guncang, Arvan perlahan membuka matanya.
" Sekretaris Han sedang apa kau disini dan dimana isteriku?" tanya Arvan yang begitu terkejut karena saat membuka mata bukan wajah isterinya yang ia lihat justru wajah sekretarisnya.
" Nyonya muda sedang berada di toilet presdir" sahut sekretaris Hanan.
" Kenapa dia tidak membangunkan aku?" gumam Arvan sedikit kesal
" Maaf presdir, saya hanya ingin mengingatkan kalau anda ada rapat hari ini jam 2 " ucap sekretaris Hanan
" Iya aku tahu, sekarang pergilah aku akan bersiap-siap" ucap Arvan.
Hanan keluar dari ruangan presdir dan pergi keruangannya sendiri untuk mempersiapkan beberapa hal yang diperlukan dalam rapat tersebut.
Grea yang baru saja keluar dari dalam toilet dengan santainya berjalan menuju sofa yang berada di depan meja kerja Arvan lalu Grea mendudukkan dirinya di sofa tersebut. Grea lalu membuka bungkusan yang sudah berada di atas meja.
Arvan yang baru keluar dari kamar pribadinya melangkah mendekati Grea lalu duduk di samping Grea.
" Masih marah?" tanya Arvan melirik Grea
Bukannya menjawab pertanyaan Arvan, Grea malah langsung menyodorkan sesendok makanan yang ada di tangannya ke depan mulut Arvan, makanan yang tadi sempat dipesannya melalui mba Vivi.
" Cepat aaaa... kamu belum makan siang!" Titah Grea memaksa Arvan makan
Arvan lebih memilih mengalah dan menerima suapan demi suapan makanan dari tangan sang isteri.
" Apa kamu sudah tidak marah lagi?" tanya Arvan tersenyum tipis
" Masih!" sahut Grea ketus
" Ya sudah aku tidak mau makan lagi kalau kamu masih marah" ucap Arvan dengan wajah cemberut
__ADS_1
" Jangan banyak bicara cepat makan, aaa...!" Grea kembali menyodorkan sesendok makanan didepan mulut Arvan.
" Aku tidak mau" kesal Arvan masih merajuk
" Ya sudah kalau tidak mau, terserah!" Grea tidak kalah kesal dan memasukkan suapan kemulutnya sendiri.
" Kenapa jadi kamu yang marah, seharusnya yang marah itu aku. sudah berkali-kali aku menelpon tapi tidak kamu angkat dan saat aku memilih menyusulmu justru yang aku lihat malah pemandangan yang sangat tidak mengenakkan" tutur Arvan dengan wajah marah
" Tidak mengenakan bagaimana? apa kamu melihat tadi aku berdekatan dengan mereka? apa kamu melihat sendiri kalau aku dan pak Ricko duduk berduaan dan melakukan hal yang aneh-aneh hem?" tanya Grea yang tidak suka dengan sikap suaminya yang terlalu over protektif
" Kenapa diam? tidak bisa menjawabnya kan?" Grea meletakkan kedua tangannya di dada
" Tapi mereka duduk satu meja dengan kamu, dan Ricko menatap mu dengan tatapan memuja" Grea memasukkan dengan paksa satu suapan lagi ke mulut Arvan
" Ingat ya suamiku, walaupun aku duduk satu meja dengan pria lain belum tentu itu dikatakan selingkuh atau aku menyukai mereka. lagipula bagaimana mungkin aku berselingkuh dikantor dan dengan pegawai mu sendiri , cari mati itu namanya'' ucap Grea menahan tawanya melihat ekspresi wajah Arvan yang langsung memelototinya
" Maksud kamu apa bicara seperti itu? jadi kalau Ricko itu bukan karyawan ku maka kamu akan selingkuh dengannya begitu?" tanya Arvan mendelik tajam membuat Grea semakin tertawa.
" Ya mungkin, apalagi jika kamu sudah membuat aku merasa tidak nyaman dan terlalu bersikap posesif" jawab Grea asal
" Sayang kamu_?" raut wajah Arvan langsung berubah dingin
" Aku tidak suka dengan sikap kamu yang terlalu posesif bahkan bertemu dan mengobrol dengan sahabatku ditelpon saja tidak boleh" Ucap Grea jujur mencurahkan kekesalannya.
" Apa kau akan pergi meninggalkan ku?" tanya Arvan yang berubah sendu.
" Eh?"
" Ada apa dengannya, kenapa jadi gemesin seperti itu wajahnya" batin Grea
" Iya" sahut Grea asal
" Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku tidak akan membiarkan mu menjauhkan ku dari anakku" tegas Arvan lalu beranjak dari duduknya
Grea tidak menghiraukan ucapan Arvan
" Sudahlah, cepat sana pergi rapat, sekretaris Han pasti sudah menunggumu!" ucap Grea merubah pembicaraan.
" Biarkan saja" ucap Arvan santai
" Aku tidak akan membiarkan mu pergi meninggalkan ku" ucap Arvan lagi
" Baiklah, tapi kau harus janji jangan pergi kemana-mana dan tunggu sampai aku selesai rapat.!" pinta Arvan
" Hem!" Grea mengangguk pelan seraya memutar bola matanya malas.
Arvan mendaratkan kecupan singkat di kening Grea sebelum pergi ke ruang rapat.
" Tunggu!" ucap Grea menghentikan langkah Arvan
" Ada apa hem, apa kamu tidak ingin aku pergi dan menemani mu disini?" tanya Arvan dengan nada lembut
Grea tidak menjawab pertanyaan Arvan, dia malah beranjak dari duduknya dan langsung berjalan ke arah Arvan. Grea merapihkan dasi lalu jas yang Arvan kenakan.
" Pergilah!" ucap Grea setelah merapihkan jas dan dasi Arvan.
" iya aku pergi!" Arvan tersenyum manis lalu kembali mendaratkan kecupan di kening Grea dan membungkukkan badannya sedikit lalu mengusap lembut perut Grea setelahnya mengecup perut buncit tersebut.
" Jaga mama dengan baik ya sayang, jangan membuat mamahmu susah!" ucap Arvan lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Grea lalu tersenyum.
Arvan kembali menegakkan tubuhnya " Aku mencintaimu !" ucap Arvan tersenyum lalu pamit pergi dan Grea tidak membalas ungkapan cinta Arvan.
🖤
Usai rapat Arvan langsung bergegas pergi ke ruangannya untuk menemui sang isteri tercinta dan betapa terkejutnya Arvan saat melihat wanita yang berada di ruangannya justru wanita yang selama ini ingin ia hindari bukan isterinya.
" Dara?" batin Arvan yang tiba-tiba teringat dengan keberadaan isterinya yang tidak terlihat di ruangan tersebut.
Arvan bergegas kembali keluar lalu menghampiri mbak Vivi dan bertanya kepadanya tetang keberadaan Grea
" Vivi apa kamu tahu isteri ku pergi ke mana dan kenapa kamu membiarkan wanita itu masuk ke dalam ruangan ku?" tanya Arvan dengan tegas dan aura dingin
" Ma.. maaf pak, wanita itu memaksa untuk masuk, saya sudah melarangnya tapi kata wanita itu bapak akan memecat saya kalau saya tidak mengizinkan dia masuk dan wanita itu bilang katanya dia calon isteri bapak" tutur mbak Vivi dengan gugup
" Calon isteri? apa kamu lupa kalau aku sudah menikah dan isteri ku bernama Greandira, bagaimana kamu bisa memiliki pikiran sebodoh itu?" sentak Arvan.
" Sayang, jangan marah-marah gitu dong. tadi aku memang yang memaksanya untuk mengizinkan aku masuk." ucap wanita yang tidak lain adalah Talita
" Lalu dimana Dira?" tanya Arvan kepada mbak Vivi tanpa menggubris ucapan Talita.
" Ibu Dira tadi izin sama saya, beliau katanya ingin pergi ke pentri menemui Susi dan Mala bosan sendirian diruangan terus katanya" sahut mbak Vivi
__ADS_1
" Ke pentri?"
" Iya, tadi saya yang mengantarkannya pak"
" Dira? siapa dia sayang. apa dia ibumu?" tanya Talita
" Diam kamu, untuk apa kamu datang ke kantorku? bukannya sudah jelas kalau semua urusan yang mengenai kerja sama dengan Mandala Grup Han yang bertanggung jawab. jadi jika kamu ingin mengurus soal pekerjaan silahkan ke ruangan Han!" ucap Arvan tegas dengan sorot mata tajam.
" Sayang kenapa kamu bicara seperti itu, aku datang kesini hanya untuk menemui mu. " ucap Talita yang memeluk lengan Arvan dengan manja.
" Lepaskan tangan mu, aku tidak ingin ada kesalahpahaman disini jadi cepat singkirkan tanganmu dari tanganku!" sentak Arvan yang membuat mbak Vivi pun bergidik ngeri mendengarnya tapi tidak dengan Talita meskipun kini dia sudah melepaskan tangannya dari lengan Arvan ia tidak merasa takut dengan bentakan Arvan.
" Gila nih cewek nyalinya gede juga " Batin mbak Vivi
Arvan mengusap wajahnya kasar. " Sebaiknya sekarang kau cepat pergi dari sini, kita sudah tidak ada urusan lagi. pergilah jangan sampai kesabaran ku habis!" ucap Arvan tegas dan penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
" Jangan mengusirku sayang, aku tahu kau itu hanya berpura-pura dan juga berbohong mengenai pernikahan mu. iyakan?" bukannya pergi dengan beraninya Talita malah memeluk Arvan dengan manja dan seketika mata Arvan membulat sempurna tatkala netranya menangkap sosok wanita yang sedari tadi di carinya tengah berdiri di depan lift dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Grea menggeleng-gelengkan kepalanya lalu dengan cepat masuk ke kedalam lift yang kebetulan terbuka.
Glek
Arvan merasa sulit menelan salivanya melihat raut kekecewaan pada Grea dan Arvan langsung mendorong Talita dengan kasar hingga tersungkur ke lantai
" Diraaa.....!" teriak Arvan namun saat dia ingin mengejar pintu lift Grea sudah lebih dulu tertutup.
" Dira!" teriak Arvan dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Talita tidak melihat Grea karena posisinya tengah memunggunginya begitu pun Grea yang tidak tahu jika yang menjadi duri dalam daging pada hubungannya dengan Arvan adalah sahabatnya sendiri.
Arvan terus menekan tombol lift agar cepat terbuka, ia harus menemui Grea dan menjelaskan kesalahpahaman yang ada.
Pintu lift terbuka dan Arvan bergegas masuk ke dalam lift tersebut dan pada saat itu juga Tiara yang sudah kembali berdiri langsung berlari ke arah Arvan.
Talita tidak bisa mengejar Arvan karena pintu lift yang sudah lebih dulu tertutup.
sesampainya di lobi Grea terus berjalan dengan cepat, airmatanya sekuat hati ia tahan agar tidak tumpah
Pandangan mata para karyawan beralih pada sosok wanita yang berjalan setengah berlari apalagi tiba-tiba mereka melihat sang presdir yang tengah berlari mengejarnya.
" Dira!" teriak Arvan saat melihat sosok isterinya
Grea hanya menoleh sekilas dan tetap melanjutkan langkahnya.
" Dira!" Arvan berlari sekencang mungkin mengejar Grea
Dengan cepat Arvan menarik tangan Grea menghentikan langkahnya
" Lepas!" teriak Grea
" Dengarkan penjelasan aku dulu!"
" Penjelasan apalagi hah? jadi ini yang kau inginkan agar aku percaya padamu? kau bahkan memeluk wanita lain dihadapanku dan aku harus percaya padamu begitu, iys?" Grea sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya
" Semua itu tidak seperti yang kamu lihat sayang, dengarkan penjelasan aku dulu!" ucap Arvan dengan lembut dan berusaha untuk bersikap setenang mungkin
" Lepaskan aku mas, aku ingin sendiri!" ucap Grea menyentak tangannya kasar dan seketika cekalan tangan Arvan pun terlepas.
"Dira aku mohon dengarkan aku dulu!" pinta Arvan. Dengan langkah gontai Grea meninggalkan Arvan yang masih membeku di tempat
Grea pergi dengan air mata yang berlinang dan saat tengah menunggu taksi tiba-tiba mobil merah berhenti tepat di depannya.
Grea nampak terkejut saat mengenali mobil tersebut.
" Grea sedang apa disini?"
Deg
Grea nampak bergeming dan sedetik kemudian ia tersenyum yang dipaksakan" menunggu taksi" jawab Grea
" Mau pulang?" tanyanya dan Grea mengangguk.
" Gue antar!"
" Gak usah, terima kasih" tolak Grea secara halus
" Gak usah sungkan, ayo cepat naik!" ajaknya sedikit memaksa karena saat ini dia sudah turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Grea.
" Gue gak suka penolakan, ayo masuk!" Grea hendak masuk ke dalam mobil namun suara bariton mencegah Grea.
" Dira!" Arvan menarik tangan Grea untuk tidak masuk kedalam mobil
" Kau!"
__ADS_1