
Saat ini Grea tengah berada di kamarnya setelah kejadian yang menimpanya sewaktu di kantor dia lebih memilih untuk mengurung diri.
Arvan tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya membuat Grea tersentak kaget. perlahan Arvan melangkah mendekati Grea sorot matanya sungguh sulit diartikan membuat Grea sulit menelan salivanya.
" Urus surat pengunduran dirimu besok!" ucap Arvan tegas membuat Grea sedikit tercengang.
" Ke... kenapa harus mengundurkan diri?" tanya Grea terbata-bata.
" Kau masih tanya kenapa hah?" Arvan geram dengan sifat keras kepala Grea.
" Iya, aku masih ingin bekerja" tolak Grea
" Kau masih ingin bekerja, kau lupa apa yang terjadi barusan?"
" Itu.. itu cuma sebuah musibah" sahut Grea
" Musibah kau bilang, dengan santai kau bilang itu cuma. ya percuma aku menolong mu tadi seharusnya aku biarkan saja kau dimangsa olehnya. mungkin kau lebih suka disentuh oleh lelaki itu dibandingkan dengan suami sah mu sendiri " geram Arvan
" Siapa.. siapa bilang? siapa yang mau disentuh olehnya" ucap Grea gugup
" Jadi kau lebih suka disentuh oleh suamimu?" goda Arvan membuat Grea semakin gugup.
Grea mundur dan semakin memberingsut naik ketengah tempat tidur dan Arvan perlahan mengikuti gerakannya.
" Su.. suami?" jantung Grea sudah berdegup sangat kencang.
Jarak Arvan dan Grea semakin terkikis dan kedua jantung dua insan tersebut sedang berlomba-lomba berdetak tidak beraturan.
" Urus surat pengunduran diri mu besok dan jadilah isteri yang baik dirumah isteri ku!" pinta Arvan dengan suara berbisik di telinga Grea membuat Grea merinding.
" Apa dia bilang istri?" batin Grea
" Aku tidak mau!" bantah Grea pelan.
" Jika kau tidak mau berhenti bekerja berarti kau harus melakukan kewajiban mu sebagai istri!" ancam Arvan membuat Grea sulit menelan salivanya.
" Maksudnya?"
" Kau pasti tahu maksud ku !" seringai licik tersirat di mata Arvan.
" Pikirkan baik-baik!" Arvan beranjak dari tempat tidur dan langsung pergi keluar dari kamar Grea begitu saja.
Grea tercengang dengan apa yang telah diucapkan oleh Arvan.
" Apa maksudnya kewajiban, atau jangan-jangan dia menginginkan ah... tidak.. tidak.. tidak " Grea menggeleng-gelengkan kepalanya menghindari pikiran kotornya.
Grea pun menutup wajahnya dengan selimut berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruknya semata.
...☄️☄️...
Pagi menyapa Grea seperti biasa sudah bangun pagi-pagi, Grea keluar dari kamar niatnya ingin membuat sarapan tapi saat hendak beranjak ke dapur ia melihat sebuah notes menempel di pintu kulkas.
" Seharusnya kau bangun lebih pagi, ingat kau sudah lalai menjalankan kewajibanmu sebagai isteri"
Grea mendengus kesal " Kenapa dia pergi sepagi ini sih?" gumam Grea dan mengurungkan niatnya yang ingin membuat sarapan.
Grea memilih untuk berangkat bekerja, lagi-lagi ia harus mengendarai taksi online karena ia masih belum sempat mengambil mobil di rumahnya.
Grea sampai di kantor dengan napas yang tersengal-sengal karena tadi ia hampir saja telat sampai di kantor akibat ada sebuah kecelakaan lalu lintas.
Grea memasuki ruangan loker bersiap-siap untuk bekerja namun baru saja ia membuka pintu, Susi menghampirinya dengan raut wajah sedih.
" Gre!" panggil mbak Susi dan Grea menoleh
" Iya mbak, ada apa?" tanya Grea nampak bingung
" Gre maafin mbak ya karena gantiin mbak semalam kamu jadi di pecat!" tutur Susi menjelaskan dengan air mata yang sudah mengalir.
" Di... di pecat? saya dipecat?" tanya Grea tidak percaya
" Mba Susi jangan bercanda deh, gak lucu bercandanya!" ucap Grea tertawa hambar
" Gre benar mbak gak bercanda, memangnya semalam kamu melakukan kesalahan apa sampai membuat kamu langsung dipecat kayak gini?" tanya Mbak Susi
" Mbak saya gak melakukan apa-apa, malah sebenarnya saya semalam ham-" Grea tidak berani menceritakan kejadian yang menimpanya semalam takut hal itu malah jadi bumerang untuk dirinya sendiri.
" Ham apa Grea?" tanya Mbak Susi pemasaran.
" Hampir sepi mbak saya baru pulang, dan saya juga gak berani ngeliat pak bos. lalu kenapa saya dipecat!" ucap Grea tidak terima.
" Mbak sebenarnya yang memecat saya siapa mbak?" tanya Grea yang tidak terima dirinya di pecat tanpa alasan.
" Pak Presdir langsung yang udah mecat loe , Ya pantaslah loe itu di pecat orang gak guna juga buat apa dipekerjakan disini!" ucap Sisil dengan angkuh.
Grea memutar bola matanya malas saat berhadapan orang macam Sisil yang sukanya menghina orang lain.
" Saya harus menemui pak Presdir!" ucap Grea yang malah membuat Sisil tertawa.
" Sehebat apa loe mau menemui Presdir? jadi OG aja loe dipecat dan sekarang loe bilang mau menemuinya mau ditendang loe " cibir Sisil yang mentertawakan Grea.
" Mbak saya harus menemui Presdir, ini gak adil namanya. saya harus tau alasan dia memecat saya mbak" ucap Grea membuat Mbak Susi merasa bersalah sendiri.
" Tapi Gre kamu itukan tahu Presdir itu orangnya seperti apa, mbak khawatir sama kamu Gre"
"Mbak tenang aja, saya akan baik-baik saja kok mbak. walaupun dipecat saya terima mbak asal saya tahu apa alasannya" ucap Grea
" Ya udah tapi kamu hati-hati ya Gre!"
" Iya mbak"
Grea pun pergi ke ruangan dimana Arvan sang Presdir berada. Grea memijakkan kaki dilantai khusus Presdir dan asistennya.
Sebelum masuk ke ruangan Presdir didepan ruangannya ada Vivi sekretaris Arvan yang tengah duduk di meja kerjanya.
" Selamat pagi mbak!" sapa Grea
Vivi yang tengah memakai bedak pun mendongak mendengar ada suara yang memanggilnya.
" Iya ada apa, mau cari siapa?" tanya Vivi
" Ini orang mukanya kok kayaknya gak asing ya" batin Grea
" Mbak!" panggil Vivi membuat Grea terkesiap
" Iya maaf mbak, saya mau bertemu dengan Presdir"
__ADS_1
" Sudah ada janji?" tanya Vivi
" Memangnya harus ya mbak, buat janji dulu gitu?"
" Iya,jika belum buat janji tidak bisa bertemu dengan beliau"
" Tapi ini penting mbak, tolonglah mbak saya ingin bicara dengan Presdir" pinta Grea membujuk Vivi
" Kamu ini siapa sih, mau ada perlu apa memangnya ingin bertemu beliau?"
" Mbak aku katanya dipecat oleh Presdir aku gak terima mbak jika tidak ada alasan yang jelas tiba-tiba dipecat gitu aja!"
" Ya Presdir memang seperti itu, jika tidak sesuai dengan seleranya ya dipecat" sahut Vivi enteng
" Gak mbak aku harus bertemu dulu baru aku rela dipecat." kekeh Grea.
" Yaudah aku hubungi asistennya dulu ya!" ucap Vivi
" pak Han diluar ada yang ingin bertemu dengan pak Presdir!" ucap Vivi
(,,,,,,,,)
" Seorang karyawan yang baru saja dipecat oleh Presdir"
(,,,,,,,,,)
" Baik!"
" Bagaimana mbak?" tanya Grea antusias
" Masuklah! hati-hati Presdir tidak suka dibantah!" pesan Vivi membuat Grea sedikit gugup.
Tok
Tok
Tok
Grea mengetuk pintu ruangan sebelum masuk.
" Masuk!" teriak dari dalam, setelah mendengar suara dari dalam barulah Grea membuka pintu perlahan.
Grea masuk ke dalam ruangan tersebut jantungnya berdegup dengan kencang saat melihat sosok pria yang bersandar di kursi kebesarannya dengan posisi membelakangi Grea.
" Ada apa ?" tanya Arvan membuat Grea mengerutkan keningnya mendengar suara bariton milik Arvan.
" Kok kayak gak asing suaranya." batin Grea
" Apa kamu datang hanya untuk diam?" sentak Arvan membuat Grea terkejut.
" Ma.. maaf Presdir, saya datang kesini karena saya ingin bertanya Presdir, kenapa saya dipecat Presdir? selama ini saya bekerja sudah sesuai dengan prosedur Presdir tapi kenapa saya dipecat?" tanya Grea dengan gugup
" Sesuai prosedur, lalu apakah semalam jadwal kamu bekerja?" tanya Arvan masih posisi membelakangi Grea.
Deg
" Soal se.. semalam saya_" Grea bingung mau menjawab apa
" Apa jadwal kerjamu, jawab?" bentak Arvan membuat Grea tersentak kaget.
" Bu... bukan Presdir" detak jantung Grea hampir saja mau loncat keluar
" Ma .. maaf Presdir saya mengaku salah" ucap Grea menunduk pasrah.
" Lalu dimana letak kesalahan saya jika saya memecat pegawai yang tidak tau aturan macam kamu?"
Deg
"rasanya sesakit ini ya jika kita dipandang sebelah mata apakah gue harus mengatakan siapa gue ini sama tuh orang sombong bin angkuh, seenak jidatnya main hina orang" batin Grea.
" Saya mengaku salah Presdir tapi apa tidak ada kebijakan untuk memberikan saya kesempatan. lagi pula saya menggantikannya bekerja semalam tidak melakukan kesalahan apa-apa bukan.?" ucap Grea yang berusaha untuk diberi kesempatan.
" Kau yakin semalam tidak melakukan kesalahan?" tanya Arvan
" Tidak Presdir, semalam saya pulang setelah anda pulang Presdir" jawab Grea sedikit gugup dan gemetar karena mengingat kejadian semalam.
" Apa kau yakin, karena semalam wajah tuan Marcel babak belur apa kau tahu penyebabnya?" tanya Arvan memancing Grea
" Itu... anu ...!" Grea bingung harus menjawab apa
" Itu anu apa, jawab yang benar! apa kau tahu siapa yang memukulinya?" sentak Arvan dan Grea semakin gemetaran.
" Katakan suamimu yang memukulinya gadis bodoh!" batin Arvan
" Emmmm... itu Seseorang yang telah menyelamatkan saya Presdir karena tuan Marcel hendak melecehkan saya Presdir!" jawab Grea dengan gugup
" Seseorang siapa, hah?" bentak Arvan lagi.
" Kenapa bukan jawab suami saya gitu?" batinnya
" Dia... dia" Grea bingung harus menjawab bohong apa jujur. jika menjawab jujur dia pasti dibilang berbohong karena di data pribadinya dia menyatakan belum menikah.
" Sudahlah, intinya kamu sudah saya pecat!" ucap Arvan tegas karena kesal Grea belum juga mengatakannya.
" Jangan Presdir saya mohon!"
" Sudah sana pergi saya tidak punya banyak waktu, kamu sudah menyita banyak waktu saya" ucap Arvan membuat Grea geram.
" Baik kalau begitu, dasar sombong, angkuh, dan tidak berhati. ternyata di dunia ini selain suami si balok es anda lebih buruk dari dia setidaknya dia masih punya hati untuk menolong saya tidak seperti anda!" kesal Grea lalu memaki Arvan
Mendengar ucapan Grea yang sangat menyebalkan membuat Arvan geram dan mengepalkan tangannya kuat. " Kau berani memaki ku?" Arvan beranjak dari duduknya lalu berbalik badan, dan sontak hal itu membuat Grea membolakan matanya dan membeku di tempat.
" Kau, beruang kutub?" ucap Grea secara spontan
" Apa kau bilang beruang kutub? kau masih berani menghina ku?" kesal Arvan.
" Ya memang kau seperti beruang kutub dingin tak tersentuh. pikiranmu juga beku tidak mau memberi orang kesempatan padahal aku hanya ingin membantu temanku saja" protes Grea
" Iya kau memang pantas untuk dipecat. kalau sampai daddy mu tau kejadian semalam bukan hanya kau yang kena amuk aku juga pasti kena imbasnya" ucap Arvan.
" Tapi aku tetap ingin bekerja" pinta Grea memohon.
" Kau tahu semalam seberapa bahayanya kamu hah, wanita mau saja lembur sendirian. jika saja aku tidak datang tepat waktu mungkin Marcel sudah melahap mu. aku saja suamimu belum pernah menyentuhmu!" ucap Arvan yang di akhir kalimatnya ia sedikit memelan tapi masih bisa terdengar oleh Grea.
" Iya maaf!" cicit Grea
__ADS_1
" Aku tidak akan mengizinkan kamu bekerja lagi, bukankah sudah ku bilang jadilah isteri yang baik di rumah. layani suamimu dengan baik untuk apa bekerja aku masih bisa membelikan apapun yang kamu mau. lagi pula kau juga harus kuliah. bagaimana kau membagi waktu mu itu" ucap Grea seperti suami normal lainnya yang tengah mengkhawatirkan isterinya.
" Kau seperti Suamiku saja!" ucap polos Grea yang langsung mendapat satu sentilan di keningnya.
" Aww. !" pekik Grea
" Aku memang suamimu bodoh" ucap Arvan kesal.
" Sudahlah sana pergi dari ruangan ku. sebentar lagi aku akan ada meeting!" usir Arvan membuat Grea mendelik kesal
" Aku tidak mau pergi, aku tetap mau bekerja" ucap Grea kekeh.
" Apa benar kau masih mau bekerja?" tanya Arvan dengan seringai licik diwajahnya.
" tentu saja mau!"
" Kalau begitu persiapkan dirimu malam ini maka akan aku izinkan kamu untuk bekerja!"
" Apa maksudmu, persiapkan apa?" Grea memincingkan matanya
" Aku mau meminta hak ku sebagai suami" ucap Arvan yang sudah berada di belakang tubuh Grea dengan deru napasnya yang menghembus mengenai pipi Grea.
Mendengar ucapan Arvan seketika tubuh Grea menegang, Arvan meminta haknya hati kecil Grea menjerit dia tidak bisa menyerahkan harta berharganya begitu saja. apalagi belum ada cinta diantara mereka.
" Kenapa, apa kau menolakku?" bisik Arvan membuat bulu kuduk Grea merinding.
" Aku bekerja di tempat lain saja kalau begitu, jika kau tidak mengizinkan aku bekerja" ucap Grea
" Tidak akan ada perusahaan yang akan menerima kau bekerja termasuk di kantor papa dan daddy mu. bisa aku pastikan itu" terang Arvan
" Kau!" geram Grea.
" Dengar kau akan tetap bekerja di sini tapi tidak dibagian OG lagi, kau akan aku tempatkan di sisi ku sebagai sekretaris pribadiku, bagaimana? jadi kapanpun kita bisa bersama-sama seperti ini isteriku !" ucap Arvan yang tiba-tiba memeluk Grea dari belakang.
" Lepaskan aku, lepas!" ucap Grea sambil memberontak.
" Diam, biarkan seperti ini!" pinta Arvan.
" Kau tahu saat baji**an itu mencoba menyentuhmu rasanya ingin ke kirim dia ke neraka, kau adalah isteriku tidak ada yang boleh menyentuh tubuh ini dan akan aku pastikan siapa pun yang berani menyentuh mu , sehelai rambut pun akan aku habisi orang itu" ucap Arvan yang masih dalam posisi memeluk Grea.
Mendengar ucapan Arvan ada rasa sedikit menghangat dalam hatinya tapi dia tidak mau berharap lebih apalagi setahunya Arvan adalah tipe orang yang sulit untuk ditebak.
" Aku takut ucapanmu ini hanya ingin mempermainkan ku saja" batin Grea
" Kau seperti seorang suami pencemburu saja, sudahlah lepas !" ucap Grea namun Arvan tidak menggubris ucapannya dan malah asik menghirup aroma tubuh Grea yang menenangkan.
" Setelah kejadian semalam aku baru tersadar kalau kau adalah isteriku yang sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi dan menjagamu. menjadikan mu sebagai OG ternyata malah membawamu pada bahaya. maaf!" ucap Arvan yang membuat Grea semakin tercengang dengan sikap Arvan yang tiba-tiba berubah.
" Tuan apa kau sedang mabuk?" tanya Grea tiba-tiba membuat Arvan langsung melepaskan pelukannya.
" Apa maksudmu aku mabuk?" tanya Arvan memutar tubuh Grea hingga menghadap ke arahnya.
Mata keduanya kini bertemu tatap. " Ya Karena kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya dan pernikahan kita hanyalah sebatas perni_" belum selesai bicara bibir Grea langsung dibungkam oleh bibir Arvan membuat Grea melotot dan tubuhnya menegang. Arvan menghentikan aksinya lalu dengan lembut mengusap bibir Grea dengan ibu jarinya membuat Grea mendengus kesal.
" Kau jahat mencuri ciuman pertamaku" kesal Grea lalu memukul lengan Arvan berkali-kali. Arvan tergelak dan langsung menangkap tangan lembut Grea.
" Jadi itu tadi ciuman pertamamu? itu bagus dong isteriku" ucap Arvan tersenyum puas.
"Aku ini suamimu sudah sah dimata agama dan juga hukum, jadi itu suatu kebanggaan bagiku sebagai suamimu. dan mulai sekarang sebaiknya kita jalani saja pernikahan ini apa adanya. kita mulai semuanya dari awal. Kau boleh tetap bekerja tapi dengan satu syarat" ucap Arvan menuturkan
" Syarat ?" cicit Grea
" Hemm" Arvan mengangguk.
" Apa?" tanya Grea
" Kamu boleh bekerja tapi sebagai asisten ku" ucap Arvan
" Tidak!" tolak Grea tegas
" Kenapa?"
" Kau baru saja memecat ku dan tiba-tiba aku malah jadi asisten pribadi mu apa itu tidak aneh?"
" Biarkan saja ini perusahaan milikku , siapa yang berani mengatur ku!" ucap Arvan menyombongkan diri.
" Cihh dasar sombong" gumam Grea namun masih terdengar oleh Arvan.
" Apa katamu?" tanya Arvan menyelidik.
" Tidak, bukan apa-apa" elak Grea.
" Aku mendengarnya" Arvan berjalan kembali duduk di kursi kebesarannya.
" baguslah jika kau mendengarnya" ucap Grea santai
" Kau!" kesal Arvan.
" Sudahlah, pokoknya aku ingin bekerja seperti biasa" pinta Grea dengan keras kepalanya.
" Baik, tapi ingat jangan pernah dekat-dekat dengan karyawan laki-laki.!" titah Arvan tegas tidak ingin ada bantahan
" Kau ini kenapa sih, mana bisa seperti itu?" kesal Grea
" Aku tidak peduli, jika aku lihat kau dekat dengan laki-laki lain, kau akan tau akibatnya. hukuman akan menantimu. camkan itu!"
" Terserah lah!" ucap Grea dengan malas.
" Sudah aku pergi dulu!" pamit Grea yang langsung dicegah oleh Arvan.
" Tunggu dulu!" Arvan beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Grea.
" Ada apa lagi?" tanya Grea bingung
" Apa kau tidak mau mengucapkan terima kasih sebelum pergi?" tanya Arvan menaikkan satu alisnya
Grea menghela napasnya panjang" baiklah, terima kasih tuan!" ucap Grea malas
" Apa, hanya itu?" Arvan semakin mendekat ke arah Grea.
" Berterima kasihlah dengan cara yang baik!" pinta Arvan yang semakin dekat.
" Hah?" Grea tercengang.
" Seperti ini!" Dengan gerakan cepat Arvan langsung menarik tengkuk Grea dan me*****nya dengan lembut, Grea yang untuk kedua kalinya mendapatkan serangan dadakan hanya bisa melotot dengan tubuh menegang.
__ADS_1
tiba-tiba.
Ceklekk