Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Kau


__ADS_3

Hari demi hari berlalu dan hubungan suami istri ini seperti jalan ditempat tidak ada perubahan. Mereka hanya sarapan bersama dan makan malam bersama, tidak ada obrolan atau lain sebagainya. mereka mirip seperti dua orang asing yang hidup dalam satu atap.


Sebenarnya Arvan merasa sedikit kesal setiap kali mendengar laporan dari Hanan jika banyak para OB yang dengan terang-terangan menyatakan perasaannya kepada Grea. awalnya Arvan merasa cuek dan masa bodo tapi setelah Hanan mengatakan kalau ada orang lain yang juga tengah mendekati nyonya mudanya .


" Kau serius?" Arvan beranjak dari duduknya


" Benar Presdir, sudah beberapa kali saya melihat nyonya muda berbicara dengan tuan Marcel dan sepertinya mereka terlihat sangat akrab!" ucap Hanan hati-hati.


" Bagaimana mereka bisa saling mengenal dan kenapa Marcel seleranya bisa turun menjadi seorang OG?" kesal Arvan yang nampak gelisah.


" Nyonya memang seorang office Girl Presdir tapi saya rasa aura kecantikan dan karismanya tidak dapat dipungkiri Presdir" jawab Hanan takut-takut.


" Lancang kau Hanan berani-beraninya kau memuji isteri ku didepanku!" sentak Arvan membuat Hanan bergidik ketakutan dan langsung membungkuk.


" Maaf atas kelancangan saya Presdir!" ucap Hanan membungkuk.


" Sudahlah, sana pergi!" Arvan menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar lalu melihat video yang dikirimkan oleh Hanan dimana Grea tengah asik berbincang-bincang dengan rekan kerjanya.


•••


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore Grea bersiap-siap untuk pulang namun saat hendak beranjak tiba-tiba temannya memanggilnya.


"Grea!" panggil Susi salah satu rekan satu bagian dengan Grea.


" Iya mba Susi ada apa?" tanya Grea


" Gre sibuk gak?" tanya Susi


" Gak mbak emang kenapa ya?"


" Bisa tolong mbak gak Gre?"


" Tolong apa ya mbak?"


" Begini Gre mbak hari ini diminta untuk lembur karena katanya pak bos malam ini akan lembur tapi barusan suami mbak nelpon katanya ibu mbak dari solo datang!" ucap Susi menjelaskan.


" Owh gitu, yaudah mbak gak apa-apa, biar nanti saya yang gantikan!" ucap Grea


" Tapi gak apa-apa Grea kamu gak lagi sibukkan, mbak takut ngerepotin kamu Gre!" ucap Susi yang merasa sedikit tidak enak dengan Grea.


" Gak apa-apa mbak, beneran kasihan ibu mbak yang udah jauh-jauh datang tapi anaknya gak ada di rumah!" sahut Grea.


" Kalau begitu terima kasih ya Gre!" ucap Susi


" iya sama-sama!" Grea tersenyum tipis setelah itu ia kembali ke pantri.


Sebelum Susi pergi ia sempat mengatakan tugas yang harus dilakukan oleh Grea dan Grea harus pergi ke lantai 30 dimana letak ruang CEO berada.


" Aduh gue izin gak ya, kalau gak nanti gue disemprot lagi sama manusia es balok!" ucap Grea.


Sedetik kemudian Grea menepuk jidatnya sendiri ketika hendak mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.


" Ish bodoh banget sih gue, bagaimana gue bisa menghubunginya kalau nomornya aja gue gak tau" gumam Grea dan pada saat Grea tengah merutuki kebodohannya sendiri tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama


( my beloved husband )


" Ini nomor siapa?" batin Grea " Gue juga gak pernah save nama kayak begini.


Penasaran Grea pun membuka isi pesan yang masuk.


My beloved husband


( Hari ini aku mungkin pulang larut, tidak perlu menungguku pulang)


" Dia tahu nomor Ku, jadi ini nomornya, sudah seperti istrinya saja aku ini pakai laporan segala biasanya juga cuek!" gumam Grea.


Tapi seketika senyum pun terukir dengan Indah disudut bibir seorang Greandira.


" Kenapa gue jadi ngerasa aneh gini sih!" runtuk Grea


My wife


" Iya, aku juga sekalian izin karena hari ini aku terpaksa harus lembur, menggantikan temanku!"


Arvan terkejut membaca balasan pesan dari Grea.


" Han!" teriaknya dengan nada tinggi


"Aduh ada apa lagi sih Presdir, kenapa auranya jadi gak enak gini?" batin Hanan


" Han bukankah kamu sudah pastikan jika bagian Office Girl yang lembur hari ini bukanlah Grea, tapi kenapa justru dia yang akan lembur hari ini bersama kita Han!" bentak Arvan membuat Hanan menunduk ketakutan.


" Saya juga tidak tahu Presdir jika akan seperti ini, setahu saya yang lembur hari ini adalah Susi Presdir." terang Hanan.


" Bagaimana Presdir yang lain sudah pulang semua hanya ada nyonya muda?" tanya Hanan


" Bagaimana dengan Marcel apa dia juga akan datang?" tanya Arvan yang sedikit gelisah.


Semenjak kejadian Grea yang tanpa sengaja menubruk Marcel dan sejak itu Marcel jadi sering datang ke kantor milik Sahabatnya yang tidak lain adalah Arvan. Marcel setiap kali datang ke kantor tersebut selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Grea tepat di jam makan siang jadi kadang-kadang Marcel memilih makan siang bersama Grea dikantin.


Marcel adalah playboy cap kodok karena suka lompat sana lompat sini, dari wanita yang satu pindah ke wanita yang lain, Marcel tidak pernah memandang status asalkan wanita tersebut berwajah cantik dan bisa menyenangkannya.

__ADS_1


Semenjak bertemu dengan Grea, Marcel sudah mulai menyukai gadis tersebut wajahnya yang selalu terlihat natural tidak begitu banyak polesan seperti wanita kebanyakan membuat Marcel merasa tertantang.


Ceklekk


" Woy, kenapa tuh muka mau lembur ditekuk gitu, gak dapet jatah loe ya dari isteri loe?" goda Marcel yang baru saja tiba lalu mendaratkan tubuhnya di sofa.


Arvan tidak menjawab ia hanya menahan kesal saat melihat Marcel datang ke ruangannya.


Mungkin jika yang lembur hari ini Susi, Arvan tidak akan sekesal ini tapi kali ini Grea yang sudah pasti Grea akan tahu siapa CEO di perusahaan ini dan dia pasti akan marah besar jika dia tahu Arvan dengan sengaja menempatkan dirinya di bagian Office Girl.


" Loe kenapa sih Van?" tanya Marcel namun lagi-lagi Arvan hanya terdiam.


" kenapa Loe sendiri yang datang, biasanya loe selalu menyuruh asisten loe yang kesini?" tanya Arvan.


" Ha .. Ha...!" Marcel malah tertawa " Gue gak nyangka bro kalau ternyata loe punya karyawan secantik itu dan sempurna bagaikan bidadari surga!" ucap Marcel sumringah


Marcel merasa berbunga membayangkan Grea bisa bersamanya ia tersenyum sendiri membayangkan Grea bisa menjadi miliknya.


Di ruang rapat Marcel dan Arvan masih sibuk dengan layar di laptopnya, tanpa mereka sadari ada seorang gadis cantik datang membawakan minuman untuk mereka.


Tok


tok..


tok...


Grea masuk dengan membawa nampan berisi minuman, ia tidak memperhatikan siapa dua pria yang ada di ruangan tersebut karena Susi sudah memberitahu kalau pak Presdir tidak suka ada yang berani menatapnya dan kebetulan juga saat Grea datang sekretaris Han sedang mengambil berkas di ruangan Presdir Arvan.


Grea hanya menunduk dan dengan sopan meletakkan satu persatu cangkir dan beberapa cemilan di atas meja. Arvan yang sadar akan kedatangan Grea mencoba untuk memalingkan wajahnya saat Grea meletakkan secangkir kopi untuknya.


Saat berasa di dekat Arvan Grea mencium aroma parfum yang sangat di kenalinya.


" Kenapa wangi parfum ini sangat tidak asing ya?" batin Grea.


Arvan menjadi salah tingkah karena Grea begitu lama didekatnya dan belum juga beranjak pergi. sementara Grea semakin penasaran dengan sosok pria yang ada di sampingnya dan mencoba untuk mendongak sedikit tapi saat baru mengangkat kepalanya sedikit teriakan seseorang membuatnya tersentak kaget.


" Grea?" sapa si pria yang tidak lain adalah Marcel.


" Tuan Marcel, anda_?" tanya Grea dengan nada terkejut.


" Kau lembur juga?" tanya Marcel dengan senyum tebar pesona.


" Iya tuan!" jawab Grea dengan sopan.


" Kau sendiri?" tanya Marcel lagi


" Iya!" jawab Grea singkat dengan wajah yang sudah pias karena melihat pria yang berada di sampingnya mengepalkan tangannya kuat. Grea bergidik ngeri takut bos besar yang dikatakan Susi akan mengamuk jika ada yang berani menatap dan berbicara di depannya.


" Ma*pus, ini bos pasti bakalan ngamuk, sebelum ngamuk mending gue kabur aja deh!" batin Grea.


"Berani sekali dia berbicara dengan pria lain di hadapanku!" batin Arvan.


Grea keluar dari ruangan tersebut dan baru saja ingin membuka pintu Marcel sudah kembali memanggilnya" Grea, bagaimana kalau pulangnya nanti aku yang antar?" Marcel menawarkan.


Grea tersenyum sebelum menjawab.


" Maaf tuan, tidak perlu repot-repot, saya biasa pulang pakai taksi !" tolak Grea dengan sopan.


" Aku tidak suka dengan penolakan, nanti tunggu aku di lobi oke!" Marcel memaksa membuat Grea menggeleng pelan lalu pergi.


Tanpa mereka berdua sadari pria yang sedari tadi diam saja sebenarnya sedang menahan lahar panas agar tidak memporak porandakan semua yang ada di hadapannya.


Setelah Grea pergi Marcel masih saja terlihat senyum-senyum sendiri, " Van kau lihat tadi pegawai mu tadi benar-benar membuat ku semakin penasaran, rasanya aku ingin segera memilikinya Van!" ucap Marcel yang tanpa sadar sudah membangunkan singa yang tengah tidur.


" Jaga sikap mu tuan Marcel, jangan coba-coba kau berani menyentuhnya?" geram Arvan yang sudah berdiri dan mencengkram kerah baju Marcel membuat Marcel tersentak kaget.


" Loe kenapa sih Van, jangan bilang loe juga naksir sama pegawai loe itu? ingat loe itu udah punya isteri!" ucap Marcel kesal dengan sikap Arvan yang sudah berbuat kasar terhadapnya.


" yang loe rayu itu isteri gue bodoh!" batin Arvan.


" Ingat Cel, gue gak suka loe berbuat yang macam-macam dengan pegawai gue!"


" Gue gak akan macam-macam dengan pegawai loe tadi si Grea. ya kecuali kalau gue gak khilaf, dan kalau gue khilaf pun gue akan menikahinya setidaknya kalau gue bosen mencari diluar gue bisa pulang mencarinya!" ucap Marcel dengan enteng.


" Jangan macam-macam dengannya, ingat itu !" ancam Arvan


" Loe kenapa sih aneh banget tau gak sih, loe tenang aja gue pasti bakalan bertanggung jawab kok. setidaknya biarin gue deketin dia dulu ya siapa tahu dia mau sama gue dan menyukai setiap sentuhan gue!" ucap Marcel Seraya membayangkan Grea berada di dekatnya.


Arvan semakin geram dengan kata-kata Marcel, darahnya sampai mendidih dan Arvan langsung menggebrak mejanya lalu pergi begitu saja meninggalkan Marcel yang tercengang dengan sikap Arvan yang tiba-tiba marah.


Sampai di depan pintu Arvan berpapasan dengan Hanan. " Pulang sekarang dan suruh Grea cepat pulang.!" ucap Arvan tegas


Hanan yang melihat raut wajah penuh emosi sang atasan langsung menunduk dan mengiyakan perintahnya.


Hanan masuk keruangan meeting dan melihat Marcel yang nampak kebingungan.


" Han sebenarnya ada apa dengannya? kenapa tiba-tiba dia begitu emosi Padahal aku hanya ingin mendekati pegawainya yang bernama Grea saja!" ucap Marcel dengan santai tanpa sadar dialah yang menjadi akar kemarahan bos besarnya.


"tentu saja bos marah tuan Marcel yang anda goda itu nyonya muda!" batin Hanan.


" Presdir mungkin btidak suka ada pegawainya diusik saat bekerja tuan!" jawab Hanan beralasan.

__ADS_1


" Begitukah?" Marcel manggut-manggut.


" Iya tuan" jawab Hanan lalu membereskan semua berkas dan laptop milik sang atasan.


Marcel keluar lebih dulu setelah itu Hanan menyusul.


Marcel langsung mencari keberadaan Grea dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan lebih memilih mengabaikan peringatan dari Arvan. toh Grea hanyalah seorang pegawai biasa yang hanya seorang OG, tidak mungkin Arvan sampai segitunya memperhatikan seluruh pegawainya sampai ke bagian OG pikir Marcel.


Saat Marcel hendak turun tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil, Marcel memutuskan untuk pergi ke toilet dan setelah keluar dari toilet pria samar-samar Marcel seperti mendengar suara dari arah toilet wanita. perlahan Marcel melangkahkan kakinya berjalan ke arah toilet wanita. pintu tidak tertutup sempurna sehingga Marcel bisa sedikit mengintip, Marcel terkejut saat matanya menangkap sosok seorang gadis yang tengah mengikat rambutnya ke atas didepan cermin sehingga dengan jelas ia dapat melihat leher jenjang milik sang gadis yang sedari tadi ia cari.


Marcel menyunggingkan senyumnya, senyum yang sulit diartikan. melihat pemandangan indah di depan mata membuat Marcel merasa sulit menelan salivanya. ini terlalu indah dan sayang bilang di sia-siakan. batin Marcel.


Perlahan namun pasti Marcel membuka pintu toilet tersebut dan Grea langsung terlonjat kaget melihat seorang pria yang berada di hadapannya.


" Tu... tuan, ke.. kenapa anda ada di ruangan ini?" tanya Grea sedikit terbata-bata.


" Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi ternyata kau ada di sini" ucap Marcel dengan seringai diwajahnya.


Grea sedikit melangkah mundur tapi Marcel terus melangkah maju.


" Tuan ini toilet wanita, tidak seharusnya anda ada disini. sebaiknya anda keluar sekarang tuan!" pinta Grea dengan wajah yang semakin pias.


Marcel mengabaikan kata-kata Grea dia semakin melangkah maju membuat Grea akhirnya tersudutkan ke dinding .


" Tuan, jangan mendekat aku mohon pergilah!" pinta Grea sedikit memohon.


" Pergi?" tanya Marcel tersenyum miring


" Tuan!" sentak Grea karena Marcel malah semakin mendekat dan dengan berusaha mengumpulkan semua keberaniannya Grea dengan kuat menendang area inti Marcel membuat Marcel meringis kesakitan.


Dan pada saat itulah Grea mengambil kesempatan untuk melarikan diri.


Grea berlari kesembarang arah pikirannya hanya satu segera menjauh dari Marcel.


Sementara di dalam mobil Arvan teringat akan Grea.


" Han, apa Grea sudah pulang?" tanya Arvan.


" Sepertinya sudah Presdir!" Jawab Hanan


" Apa kau yakin dia sudah pulang?"


" Emmm..!" Hanan bingung menjawab apa karena dia juga tidak tahu nyonya mudanya sudah pulang atau belum.


" Di mana Marcel?" tanya Arvan yang seketika teringat akan ucapan Marcel yang menginginkan Grea.


" Sepertinya masih di dalam Presdir, tadi dia mengatakan ingin ke toilet!" jawab Han. sewaktu Marcel ingin pergi ke toilet ia memang sempat berpapasan dengan Han.


" Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?" batin Arvan.


Tanpa bicara lagi Arvan kembali turun dari dalam mobil dan langsung berlari ke dalam kantor.


Pak Tono salah satu penjaga di perusahaan tersebut terkejut melihat Arvan yang berlari terburu-buru dan selang beberapa menit Hanan menyusulnya.


Hanan menghampiri pak Tono sebelum menyusul Arvan.


" Pak Tono ,apa bapak melihat seorang pegawai wanita keluar dari sini?" tanya Hanan


" Maaf pak sepertinya saya tidak melihat siapapun keluar kecuali pak Han dan pak Presdir!" sahut pak Tono sopan


" Baiklah kalau begitu!" Hanan langsung bergegas menyusul sang Presdir.


Di dalam sebuah ruangan Grea berusaha untuk bersembunyi, jantungnya memompa dengan cepat. takut jika Marcel menemukannya.


Tap


Tap


Tap


Grea mendengar suara derap langkah sepatu seorang pria, Grea menggigit bibir bawahnya berusaha untuk bersikap tenang meskipun ada ketakutan yang besar.


tutt... tutt... tutt...


Dering ponsel Grea berdering Grea tersentak kaget apalagi saat itu juga sepasang kaki telah berdiri di hadapannya.


" Aaaa... !" teriak Grea saat tangan kekar itu menariknya dengan kasar.


Marcel merasa tertantang dengan setiap penolakan yang Grea berikan. ia semakin bersikap buas dan menarik kasar baju yang Grea kenakan hingga kancingnya terlepas dan berantakan.


Grea menjerit sekeras-kerasnya dan pada saat yang sama Arvan melintas di depan ruangan tersebut dan samar-samar mendengar suara Grea dengan amarah yang sudah diubun-ubun Arvan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.


Bug


Arvan menarik kerah baju Marcel dari belakang dan langsung menghantamnya.


Bhug


" Kurang ajar, gue sudah memperingatkan loe berkali-kali bere*gsek!" geram Arvan dan melayangkan satu Bogeman mentah lagi di wajah Marcel sampai ia tersungkur ke lantai.


Arvan langsung membuka jasnya dan menyelimuti tubuh Grea yang sudah berantakan lalu menggendongnya ala bridal style.

__ADS_1


Grea terkejut saat melihat wajah pria yang menggendongnya dan matanya membulat sempurna.


" Kau!" cicit Grea


__ADS_2