
Jam pulang kantor Grea dan Arvan baru sempat berkunjung ke rumah sakit, rencananya mereka selesai makan siang memang ingin menjenguk kakaknya Jimmy tapi ternyata Arvan harus kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus dia tanda tangani.
" Assalamu'alaikum!" ucap Grea dan Arvan saat masuk ke ruang perawatan Jimmy
" Wa'alaikum salam" sahut semua yang berada di dalam ruangan tersebut
Grea diam mematung saat melihat sosok wanita yang tengah duduk di samping Jimmy.
" Dia!" cicit Grea pelan namun masih terdengar oleh Arvan
" Sayang!" Arvan menggenggam tangan Grea dengan erat
Grea menoleh ke arah Arvan yang tengah tersenyum kepadanya.
" Sayang, aku mohon lupakan masa lalu dan kita jalani semua ini dengan baik" tutur Arvan
Arindia beranjak dari duduknya dan menghampiri Grea " Grea maafkan aku ya, aku tahu aku memang tidak pantas untuk dimaafkan tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa aku pada kalian" ucap Arindia sendu.
Grea menoleh ke Arvan yang sedetik kemudian Arvan mengangguk dan tersenyum kepadanya.
" Sudahlah lupakan saja, mau bagaimana pun semua tetap tidak akan bisa kembali seperti semula. mungkin ini adalah cara tuhan untuk mempersatukan aku dan mas Arvan. walaupun ini sangat menyakitkan tapi tetap aku bersyukur karena bisa menjadi isteri dari Arvandra Pratama Zaindra." ucap Grea membuat Arvan terhenyak dan menatapnya lekat. Arvan tidak pernah menyangka isterinya akan berkata sedewasa itu. Arvan memeluk Grea dari samping dan mendaratkan kecupan di pucuk kepala Grea.
Suasana menjadi haru apalagi saat Arinda memberanikan diri untuk menghampiri Grea
" Kakak ipar bolehkah aku memelukmu?" tanya Arindia meminta izin
Grea mengangguk pelan dan tanpa buang waktu Arindia langsung berhambur memeluk Grea dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi.
" Maafkan aku Grea dan terima kasih sudah memaafkan aku!" ucap Arindia lirih
" Sama-sama kak, maafkan aku juga karena pernah membenci kakak!" ucap Grea
Arindia langsung mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah mantan calon adik iparnya yang kini sudah menjadi kakak iparnya.
" Wajar kalau kamu membenciku Grea, seandainya aku jadi kamu mungkin aku tidak akan memaafkan semua kesalahan ku Grea!"
"Kita hanya bisa berencana kak tapi semua tetap tuhan jualah yang menentukan. kita ambil hikmahnya saja kak!" ucap Grea begitu bijak
" Grea jangan panggil aku kakak karena sekarang aku ini sudah menjadi adik ipar kamu seharusnya aku yang memanggil kamu kakak" protes Arindia karena Grea berkali-kali memanggilnya kakak.
" Tapi kak tetap saja aku tidak enak usia kita kan _!" belum sempat menyelesaikan kata-katanya Arvan sudah menyela
" Arindia benar sayang kamu ini kan isteri mas masa memanggil Arin kakak sih!" ucap Arvan menimpali
" Aku gak enak kak gak biasa!" Grea tersenyum canggung
" Alhamdulillah kalau sekarang semuanya sudah membaik, mamah dan papah merasa lega sekarang. terima kasih ya sayang kamu sudah mau menerima dan memaafkan Arin" ucap mama Risma seraya berjalan menghampiri putri dan menantunya
" Mama tidak perlu berterima kasih kepada Grea mah, karena Grea juga bersyukur punya mama dan papa yang begitu baik dan tulus sayang sama Grea!" ucap Grea yang langsung mendapat pelukan dari mama Risma.
Suasana semakin hangat dengan obrolan ringan antara dua keluarga yang tengah berkumpul di ruang perawatan Jimmy. Tanpa mereka sadari seseorang yang sudah lama tertidur perlahan membuka matanya dan pandangannya mengedar keseluruh ruangan.
Grea yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi sangat terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Jimmy yang sedang memegangi kepalanya.
__ADS_1
" Bang Jimmy!" Cicit Grea yang langsung berhambur memeluk sang kakak yang masih nampak kebingungan.
Mendengar suara pekikan Grea membuat semua yang ada di ruangan tersebut langsung menoleh ke arah Grea dan brankar Jimmy. mereka semua terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka.
" Jimmy !" mommy Marla begitu terkejut dan langsung menghampiri keduanya.
" Mom!" Cicit Jimmy yang masih merasa pusing
" Kamu sudah sadar sayang?" mommy Marla menangis saking bahagianya
" Daddy!" panggilannya kini beralih kepada daddynya.
Alex langsung menghampiri putranya rasa bahagia sudah tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
" A..aku dimana?" suara Jimmy terdengar begitu lemah
" Abang ada di rumah sakit, kenapa abang lama banget sih tidurnya?" Grea menangis seraya menggenggam tangan kakaknya
Jimmy berusaha untuk menggerakkan tangannya dan perlahan tangannya keangkat keudara mendarat di kepala sang adik.
" Dasar cengeng!" Jimmy mengacak-acak rambut Grea seraya tersenyum tipis
" Abang jahat bikin adek sedih" Grea mengerucutkan bibirnya membuat Jimmy terkekeh
" Kamu ini sudah menikah tapi masih saja manja, lihat tuh suami kamu nanti iri dek sama abang" ledek Jimmy dengan suara yang masuk terdengar lemah.
" Permisi, bisakah kalian keluar sebentar? saya ingin memeriksa keadaan pasien" ucap seorang dokter yang baru saja datang setelah Alex meminta sekretarisnya memanggilkan dokter jaga
" Silahkan dokter!" Grea beranjak dari duduknya dan membiarkan dokter tersebut memeriksa kondisi kesehatan Jimmy.
Semua berkumpul satu persatu menyapa Jimmy dan saat Arindia menghampirinya semua pandangan terpaku kepada keduanya.
" Ji... Jimmy!" suara Arindia terdengar begitu gemetar karena rasa bersalahnya yang mendalam.
Jimmy yang tengah berbicara dengan Grea pun beralih ke arah wanita yang memanggilnya.
Grea beranjak dari duduknya menghampiri Arvan yang tengah duduk di sofa bersama kedua orang tua mereka.
" Sini sayang!" Arvan menepuk sofa kosong di sampingnya.
" Biarkan mereka bicara berdua!" ucap Zaindra
" Iya, mereka memang perlu bicara!" ucap Alex setuju dengan apa yang Zaindra ucapkan.
Arindia hendak duduk di kursi yang ada di samping brankar Jimmy namun seketika pergerakannya terhenti saat mendengar kata-kata yang sungguh sangat mengejutkan di indra pendengarannya.
" Kau siapa? apa aku mengenalmu?"
Deg
Arindia begitu tertohok mendengar pertanyaan yang terlontar begitu santai dari pria yang ada di hadapannya.
Semua langsung berdiri saat mendengar pertanyaan Jimmy kepada Arin. ada apa dengan Jimmy kenapa dia bertanya seolah-olah wanita yang ada di hadapannya adalah orang asing padahal mereka hampir saja menikah.
__ADS_1
" Bang!" Grea berjalan mendekati kakaknya dengan wajah cemas.
" Grea apa kamu mengenalnya? atau dia temanmu?" tanya Jimmy benar-benar membuat Grea semakin khawatir dengan keadaan kakaknya.
" Apa abang gak mengenalinya bang?" tanya Grea menatap Jimmy dan Arin bergantian
Jimmy menggeleng dengan alis yang mengkerut.
" Tidak, abang sama sekali tidak mengenalnya dek" Arin tidak dapat berkata-kata lagi airmatanya lolos begitu saja.
" Maafkan aku nona jika aku tidak mengenalmu, sungguh aku benar-benar tidak tahu siapa kamu!" ucap Jimmy merasa tidak enak hati
" Tidak apa-apa Jim, mungkin ini yang terbaik" jawab Arin dengan senyum yang dipaksakan
" Apa kita pernah dekat?" tanya Jimmy membuat Arin tercekat dan tidak tahu harus menjawab apa.
" Sayang, nak Arin ini adiknya Arvan dia adik ipar Grea" mommy-nya langsung menjawab pertanyaan Jimmy karena dia tahu saat ini Arin pasti sangat syok dengan keadaan Jimmy yang sekarang.
" Daddy panggil dokter dulu ya!" ucap Alex seraya berjalan keluar ruangan tersebut.
Tidak berapa lama Alex masuk bersama seorang dokter.
Dokter melakukan pemeriksaan dan mommy pun menanyakan tentang ingatan putranya yang sebagian hilang.
Dokter mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai hilangnya sebagian ingatan Jimmy bisa saja karena pengaruh dari komanya yang cukup lama dan bisa juga karena ada sebagian ingatan yang dibawah alam sadar Jimmy ingin benar-benar menghapusnya.
Arin hanya bisa menghela nafasnya berat sebegitu bencinya kah Jimmy hingga menghapus ingatan tentang dirinya. Arin tersenyum getir dan berusaha untuk bersikap biasa karena dia sadar posisinya saat ini pun sudah bukan siapa-siapa lagi.
Arin pamit pulang begitu juga mama Risma dan papa Zaindra, di ruangan Jimmy hanya tinggal bersama mommy dan daddy-nya saja karena Grea dan Arvan pun ikut pamit setelah tidak berapa lama papa dan mamanya pulang.
" Mom , daddy.. apa aku terlalu lama ya tidurnya dan adiknya Arvan itu kenapa tadi dia menangis mom?"
" Apa aku sudah membuatnya sedih karena tidak dapat mengingatnya?"
mommy Marla memeluk Jimmy dan mengusap punggungnya dengan lembut. " Mungkin dia hanya terkejut sayang, diantara kami semua hanya dia yang tidak kamu ingat. " jawab mommy Marla
" Apa dulu kami dekat mom?" tanya Jimmy lagi
" Ya tentu saja sayang dia itukan adik ipar Grea adikmu!"
" Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir, kamu ini baru saja siuman jadi perbanyaklah istirahat!" ucap Alex
" Iya, apa yang dikatakan daddy kamu benar. sebaiknya kamu istirahat sekarang ya!" ucap mommy-nya
" Iya mom" Jimmy memejamkan matanya dan tidak butuh waktu lama ia sudah terlelap.
mommy dan daddy-nya merasa bingung harus bersyukur atau bersedih dengan apa yang menimpa putranya. Tapi melupakan kenyataan pahit di masa lalunya mungkin jauh lebih baik dari pada ia terus teringat dengan kepahitan dan sakit hati yang mendalam.
" Sayang, mungkin ini adalah cara tuhan untuk memperbaiki semuanya" ucap Alex yang dapat merasakan kegundahan hati sang isteri.
" Iya kamu benar mas, dengan begitu kita masih bisa melihat senyum dan tawa Jimmy kembali seperti dulu. entah aku harus bersyukur atau bersedih mas. aku juga tidak tahu tapi yang jelas aku bahagia karena putra kita kini sudah kembali!" Alex menarik isterinya kedalam pelukannya berusaha untuk menghibur dan menenangkan hatinya.
" Iya sayang, semoga semua akan kembali seperti semula. putra kita akan kembali ceria" ucap Alex penuh harap.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berpelukan menenangkan dan menyalurkan kekuatan cinta hati satu sama lain untuk menghadapi semuanya.