
Hari ini Grea tidak ingin ikut dengan Arvan ke kantor karena tiba-tiba saja kepadanya di dera rasa pusing.
" Sayang bangun!" Arvan mengguncang tubuh Grea pelan
" Mas!" ucap Grea dengan suara berat khas orang bangun tidur
" Sudah siang bangun sayang!" Arvan menyelipkan rambut yang menutupi wajah Grea ke telinga
" Kepala aku rasanya sedikit terasa pusing mas" ucap Grea dengan mata yang masih terpejam
" Apa kamu sakit?" Arvan meletakkan punggung tangannya di kening Grea
" Hemm" sahut Grea dengan malas
" Sedikit tidak enak badan" keluhnya
" Oh ya ampun sayang, kamu demam" Arvan sedikit panik
" Kita ke rumah sakit sekarang ya!"
" Tidak usah mas, aku hanya butuh istirahat saja nanti juga akan hilang sendiri kalau sudah istirahat yang cukup" tolak Grea dengan halus
" Sayang jangan menyepelekan kesehatan kamu, ingat kamu sedang hamil" tegas Arvan
" iya mas, aku tahu tapi kepala ku terasa berat dan untuk membuka mata pun rasanya semua berputar mas, aku tidak bisa ke rumah sakit sekarang, aku_" belum selesai dengan ucapannya tiba-tiba rasa mual datang tak tertahankan
" Hoek.. Hoek ..!" Grea memuntahkan isi perutnya dan mengenai Arvan yang tengah duduk di sampingnya
" Mas, maaf.. maafkan aku!" ucap Grea merasa bersalah kepada Arvan apalagi melihat Arvan yang diam saja dengan wajah datar.
Grea merasakan mual kembali dan berusaha untuk beranjak dari tempat tidurnya karena tidak ingin membuat Arvan semakin marah namun tanpa diduga Arvan langsung menggendong Grea dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Grea langsung memuntahkan isi perutnya kembali Arvan memijat-mijat tengkuk Grea setelah ia dengan cepat membuka baju kemejanya yang terkena muntahan Grea.
Grea memberingsut ke lantai, tubuhnya seketika terasa lemas. " mas keluarlah!" usir Grea
" Kenapa?" tanya Arvan
" Pergilah mas, aku tidak mau kamu melihatku seperti ini!" usir Grea untuk yang kedua kali karena Arvan masih saja diam
" Kenapa aku harus keluar disaat kamu seperti ini?" Arvan membantu Grea untuk berdiri
" Aku tidak mau kamu melihatku menjijikkan seperti ini mas" tegas Grea " Jadi pergilah!" pintanya dengan lemah
" Suami macam apa aku jika hanya melihat kamu seperti ini saja aku sudah merasa jijik?" tanya Arvan ketus
" Sudah jangan banyak bicara!" Arvan membersihkan wajah Grea yang kotor dengan handuk kecil yang berada di dalam kamar.
" Mas!" Grea memegang tangan Arvan " Aku bisa sendiri!" lanjutnya
Arvan tidak mempedulikan ucapan Grea dia membantu Grea untuk duduk di atas closet lalu membukakan baju Grea.
Lagi-lagi Grea merasa ridih dengan perlakuan suaminya itu " Mas aku_!" dengan cepat Arvan langsung memotong ucapan Grea
" Jangan banyak protes, diamlah!" Grea memilih pasrah dengan apa yang tengah Arvan lakukan terhadapnya.
Grea sebenarnya merasa masih sedikit malu walaupun mereka sudah sering melihat luar dalam masing-masing.
" Kenapa wajahmu merah seperti itu?" tanya Arvan tersenyum simpul.
" Tidak apa-apa!" Grea memalingkan wajahnya kearah lain karena merasa risih sendiri dan wajah yang sudah semerah tomat
Arvan menggendong Grea kembali setelah memakaikan Grea bathrobe.
" Minum dulu ya?" Arvan mengambilkan air yang berada di atas nakas
" Hem" sahut Grea dengan suara lemah
Grea meminum air yang disodorkan oleh Arvan hingga setengahnya. Dan Arvan meletakkan gelas tersebut diatas nakas.
Arvan berjalan ke arah walk in closet dan mengambilkan baju ganti untuk Grea. dengan telaten Arvan membantu Grea memakai baju.
" Mas biar a_!" Belum selesai berbicara Arvan langsung memotong
" Diam jangan protes!" ucap Arvan saat Grea hendak menolak Arvan yang memakaikannya baju.
Selesai memakaikan baju Arvan membantu Grea untuk merebahkan tubuhnya. Arvan menyelimuti Grea hingga sebahu.
" Apa masih terasa pusing?" tanya Arvan lembut
" Sedikit" sahut Grea
" Ya sudah kamu istirahat saja aku akan memanggil dokter Hani untuk memeriksa keadaan kamu dan juga anak kita" ucap Arvan seraya mengusap lembut perut Grea
" Mas!" panggil Grea
" Ada apa hem, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Arvan dan Grea menggeleng pelan
" Maafkan aku ya mas" Arvan mengangkat alisnya
" Maaf untuk apa, hem?" Arvan mengusap lembut pucuk kepala Grea
" Aku sudah membuat badanmu kotor dan itu pasti sangat menjijikkan" ucap Grea yang merasa bersalah
" Tidak sayang, aku tidak merasa jijik sama sekali. jangan punya pemikiran seperti itu! aku ini suami kamu sayang apalagi kamu sedang mengandung anakku bagaimana mungkin aku merasa jijik" ucap Arvan membuat hati Grea seketika menghangat.
" Terima kasih ya mas" Grea tersenyum tipis
" Sudah jangan banyak bicara, sebaiknya kamu istirahat. aku mau bersih-bersih dulu ya!" Arvan yang masih bertelanjang dada mendaratkan kecupan di kening Grea sebelum pergi ke kamar mandi.
Arvan meraih ponselnya yang berada di atas nakas sebelum pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Ia menghubungi dokter Hani dokter kandungan Grea terlebih dahulu memberitahu kondisi Grea yang muntah-muntah dan merasa pusing setelah itu mengirimkan pesan kepada Hanan untuk menghendle urusan kantor karena hari ini ia memutuskan untuk tidak masuk kantor.
Setelah selesai Arvan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Arvan baru keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan ke arah walk in closet untuk memakai baju.
__ADS_1
Grea nampak tengah tertidur saat Arvan sudah memakai bajunya, Arvan kembali memeriksa kening Grea yang sudah tidak demam.
Arvan keluar dari kamar lalu menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuk Grea. Arvan memasak bubur dan membuatkan Grea wedang jahe.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar dengan cepat Arvan membukakan pintu karena dia sudah tahu siapa yang datang ke apartemennya pagi ini
Ceklekk
Arvan membukakan pintu dan nampak seorang wanita dengan jubah putih.
" Masuklah, isteriku ada di dalam kamar!" Arvan mengantarkan dokter Hani ke kamar dimana Grea berada.
" Sayang!" panggil Arvan membangunkan Grea yang sedang tidur
" Mas!" lenguh Grea mengerjapkan matanya
" Dokter Hani akan memeriksa mu!" tunjuk Arvan ke arah dokter Hani yang berdiri di pinggir tempat tidur
" Selamat pagi nyonya!" sapa dokter Hani
" Selamat pagi dokter" Grea tersenyum ramah
" Apa keluhan yang anda rasakan saat ini nyonya?" tanya dokter Hani seraya tangannya memeriksa kondisi Grea
" Kepala ku tadi sempat pusing seperti berputar-putar dan rasa mual yang tidak tertahankan" tutur Grea menjelaskan
Dokter Hani memeriksa dengan teliti kondisi kesehatan Grea
" Bagaimana dokter?" tanya Arvan yang nampak cemas.
" Nyonya Greandira mengalami darah rendah dan juga kelelahan" tutur dokter Hani
" Sebaiknya nyonya banyak istirahat dan minum vitaminnya,nanti saya akan memberi resepnya. jaga pola makan dan juga usahakan tidur yang cukup." terang dokter Hani menjelaskan
" Baik dokter terima kasih" ucap Grea
" Lalu bagaimana kondisi kandungannya dokter?" tanya Arvan
" Untuk saat ini masih aman tapi usahakan tekanan darahnya kembali normal."
" Jaga pola makannya" ucat dokter Hani menjelaskan
" Baik dokter"
" Ini saya berikan beberapa resep vitamin silahkan anda tebus. dan jika masih ada keluhan lain sebaiknya ke rumah sakit saja untuk pemeriksaan yang lebih jelas" tutur dokter Hani.
" Baik dokter terima kasih" ucap Grea.
" Kalau begitu saya pamit permisi dulu masih ada jam praktek hari ini" pamit dokter Hani
Arvan mengantarkan dokter Hani keluar
" Sungguh berubah ya Arvan yang aku kenal dulu!" ucap dokter Hani melihat Arvan yang masih menggunakan apron
" Status yang membuatku harus berubah" sahut Arvan
" Sungguh beruntung Greandira mendapatkan pria seperti mu" tutur dokter Hani
" Kau salah, akulah yang beruntung mendapatkan isteri seorang Greandira" ucap Arvan.
" Apa kau sangat mencintainya?" tanya dokter Hani
" Tentu saja apalagi saat ini Dira tengah mengandung anak ku, sudah jelas aku sangat mencintainya" sahut Arvan
Hani adalah sepupu dari Arvan mereka seumuran dan Hani sudah menikah labih dulu dan mempunyai dua orang putri.
Hani pergi setelah Arvan mengantar sampai depan pintu apartemen.
Arvan kembali masuk kedalam kamar dengan membawa nampan berisi bubur untuk sarapan sang isteri.
" Sayang sarapan dulu ya!" titah Arvan seraya duduk di tepi kasur
" Tapi aku masih belum lapar mas, rasanya mual" Grea kembali merebahkan tubuhnya
" Minum ini dulu ya biar rasa mualnya sedikit berkurang!" Arvan menyodorkan segelas wedang jahe buatannya sendiri.
Grea kembali duduk dengan bersandar pada headboard dan menerima gelas berisi wedang jahe dari Arvan.
" Sekarang makan buburnya ya, sedikit saja" bujuk Arvan
Grea yang merasa tidak enak dengan sang suami yang sudah mau membuatkannya bubur mau tidak mau mengangguk pasrah.
Arvan menyuapi Grea dengan sangat telaten
" Mas sudah " Grea mendorong tangan Arvan yang terulur menyuapinya makanan
" Sedikit lagi sayang" Arvan kembali mengarahkan satu sendok bubur ke hadapan Grea
" Mas aku sudah kenyang" Grea menolak
" Ya sudah kalau begitu" Arvan meletakkan mangkuk berisi bubur ke atas nakas dan memberikan Grea air minum.
" Mas !" panggil Grea saat Arvan hendak membawa nampan berisi piring dan gelas bekas Grea makan ke dapur
" Ada apa hem?" tanya Arvan dengan sangat lembut
" Mas tidak pergi ke kantor?'" tanya Grea
" Tidak, hari ini aku akan menemanimu dan katakan saja apa yang kamu mau saat ini" tutur Arvan
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara pintu kembali di ketuk
" Sebentar ya sepertinya ada tamu, kamu istirahat saja ya!" ucap Arvan seraya beranjak dari duduknya
Ceklekk
" Ini vitaminnya!" ucap seorang pria dari balik pintu seraya memberikan pesanan yang dibawanya kepada Arvan
" Terima kasih!" sahut Arvan berjalan kembali masuk ke dalam apartemen.
Arvan masuk ke dalam kamar membawa vitamin yang Hanan beli.
" Sayang, minum vitaminnya dulu !" ucap Arvan
" Terima kasih!" ucap Grea meraih vitamin yang Arvan berikan dengan segelas air putih
Setelah selesai minum vitamin Grea pun tertidur, Arvan keluar dari kamar lalu berjalan ke arah Hanan yang sedang asik menonton TV
" Makan gaji buta " Ucap Arvan seraya melempar bantal sofa ke arah Hanan
"Maaf presdir, tapi itu_!" Hanan menunjuk ke arah televisi yang ditontonnya
" Tuan Kim Hyun Joong pengusaha terbesar di Korea akan singgah ke negara ini?" gumam Arvan
" Benar tuan, ini kesempatan emas untuk tuan menemuinya di acara tersebut" tutur Hanan memberitahu
" Kamu benar, semoga saja dia mau menemui ku" ucap Arvan
Arvan kembali berkutat dengan laptopnya sedangkan Hanan sudah kembali ke kantor.
Setelah jam menunjukkan pukul 1 siang Arvan bergegas merapihkan laptop dan beberapa berkas yang tercecer di atas meja. karena jika dia berada di ruang kerjanya saat Grea terbangun pasti akan mencarinya.
Arvan berjalan menuju dapur lalu membuka lemari pendingin, hanya ada ayam, bayam, jagung dan tahu tempe, Arvan berpikir sejenak ingin memasak apa akhirnya ia memutuskan untuk memasak ayam goreng , bayam dan jagung di sayur bening serta tahu dan tempe digoreng tepung.
Arvan mulai memasak dari mencuci ayam dan sayuran. ia begitu serius memasak sampai tidak sadar ada seseorang yang sedari tadi terus memperhatikannya.
" Sayang!" Arvan menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Grea yang sedang duduk di kursi meja makan.
" Kok kesini sih, memangnya sudah tidak pusing hem?" tanya Arvan
" sudah sedikit lebih baik mas" sahut Grea
" Mas masak apa harum banget?" tanya Grea
" Kamu tunggu sebentar ya!" pinta Arvan seraya berjalan kembali ke dapur
Arvan membawa masakannya keatas meja dan menatanya.
"Mas yang memasak ini semua?" tanya Grea melihat masakan yang ada diatas meja dan Arvan hanya menjawab dengan senyuman.
Arvan dan Grea menikmati makan siangnya bersama setelah selesai Arvan menyuruh Grea untuk kembali beristirahat namun Grea lebih memilih untuk menonton TV karena merasa bosan jika terus berada di dalam kamar.
Arvan membersihkan meja makan lalu mencuci piring bekas mereka makan.
" Sayang ini!" Arvan memberikan Grea susu hamil yang baru saja dibuatnya.
" Terima kasih mas!" Grea menerimanya dengan senang hati lalu meneguknya hingga tandas.
Grea merasa senang mendapatkan perhatian yang begitu besar dari sang suami. tidak pernah menyangka kalau suaminya memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
" Melamunin apa Hem?" tanya Arvan yang mendudukan dirinya disamping Grea
" Tidak ada" Grea tersenyum tipis
" Bagaimana kondisi kamu, apa masih terasa pusing?" tanya Arvan dengan mengusap pipi Grea lembut
" Aku sudah tidak apa-apa mas, terima kasih ya sudah merawatku maaf kalau merepotkan mas!" ucap Grea
" Kamu ini bicara apa adanya sih? kamu itu isteri aku sudah menjadi kewajiban seorang suami merawat dan menjaga isterinya" ucap Arvan mengacak-acak rambut Grea gemas
" Mas ih!" Grea mengerucutkan bibirnya saat Arvan mengacak-acak rambutnya
" Jangan dimanyunin gitu sayang"
" Kenapa memangnya?" Grea mengerutkan keningnya
" Aku jadi kepingin" sahut Arvan aps adanya
" Kepingin apa mas ?" tanya Grea polos
" Ingin menerkammu!" ucap Arvan membuat Grea langsung melotot
" Aku sedang sakit mas, mesum!" Grea memukul lengan Arvan
" Kamu yang mulai!"
" Mana ada aku " Grea protes tidak terima
" Ini!" Arvan menyentuh bibir Grea dan sedetik kemudian ********** dengan rakus
" Mas emmmp!" Grea mendorong tubuh Arvan namun sia-sia. Arvan lalu menggendong Grea ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar
" Mas turunkan aku!" protes Grea namun tidak digubris
" Diamlah!" Arvan meletakkan Grea di atas kasur lalu menyelimutinya
" Istirahatlah!" ucap Arvan mendaratkan kecupan di kening Grea
" Eh?" Grea tercengang ia mengira Arvan akan meminta haknya ternyata tidak
__ADS_1
" Kenapa? apa kamu mau aku_"
" Tidak aku mau istirahat!" ucap Grea cepat membuat Arvan geleng-geleng dan tersenyum tipis