Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Kegelisahan hati Caca


__ADS_3

Caca merasa gelisah, sesekali ia mengusap wajahnya kasar.


" Mba Caca kenapa sih kok kayak lagi bingung gitu sih?" tanya Nana yang melihat Caca tidak bisa diam


" Aku tuh lagi bingung Na, tiba-tiba aja tadi orang tua ku meminta aku pulang besok" ucap Caca


" Mungkin mereka kangen kali sama mba Caca, sudah lama juga kan enggak pulang"


Caca mengangguk mengiyakan


" Tapi bagaimana dengan pekerjaan aku disini Na? apalagi mereka bilang ada hal penting yang ingin mereka bicarakan. pasti enggak mungkin aku cuma sebentar disanakan?" Caca menjatuhkan kepalanya di atas meja kerjanya


" Jangan-jangan mba Caca mau dijodohin!" tebak Nana


" Apa di jodohin?" Caca menggelengkan kepalanya


" Ya secara usia mba Caca itukan sudah cukup loh berumah tangga, siapa tahu ibu sama bapaknya mbak Caca pingin cepat-cepat menimang cucu" ucap Nana


" Aku enggak mau dijodoh-jodohin, aku kan punya pilihan sendiri Na!" ucap Caca takut apa yang dikatakan Nana menjadi kenyataan


" Ya mba Caca kalau memang toh sudah punya calon tinggal bilang aja sih mbak sama kedua orang tua mba, atau bagaimana kalau besok ajak aja sekalian mbak ke kampung, kenalkan sama kedua orang tuanya si mba"


Caca menghela napasnya berat " Masalahnya enggak semudah itu Na"


" Maksudnya?"


" Kemarin aku baru saja menolak dia sewaktu mau melamar" ucap Caca sendu


"Loh kok bisa mba?" Nana sedikit terkejut


" Jujur saja aku sebenarnya sudah lama suka sama dia tapi semakin kemari seperti memperjelas kalau aku itu sebenarnya gak sepadan dengannya Na, walaupun sudah berkali-kali dia mengutarakan niat baik itu entah kenapa aku merasa ragu dan takut untuk mengambil keputusan." Nana mengangguk paham akan kegelisahan hati sahabatnya itu


" Aku ngerti kok perasaan mba Caca, tapi alangkah baiknya itu di coba mba, beri dia kesempatan mungkin saja memang dialah jodoh mbak Caca. mengenai sepadan atau tidak sepadan mba Caca bersama orang itu aku rasa tergantung mba Caca sendiri bagaimana memposisikan diri mba Caca agar bisa sepadan dengannya"


"Apalagi mba Caca ini orangnya cantik, baik dan juga pandai. ditambah lagi karier mba juga termasuk gak bisa di pandang remeh"


" Kamu jangan terlalu banyak memuji Na, nanti aku bisa keras kepala"


" Bukan memuji mba tapi mengatakan apa yang Nana tahu tentang mba Caca biar gak minder terus dan percaya diri buat ngajak nikah si masnya"


Caca tertawa mendengar penuturan Nana " Kamu ini ya Na, ada-ada saja. mba gak berani Na malu lah Na"


" Kenapa harus malu mba, dari pada nyesel loh di ambil orang" ucap Nana menakuti


" Apaan sih kamu Na" Caca sempat berpikir sejenak apa yang dikatakan Nana barusan


" Yaudah cepat sana telpon, hubungi dia ajak pulang kampung" goda Nana menaik turunkan alisnya


" Nana ihhh" Caca tersipu malu


" Ekhemm.." suara deheman membuat keduanya terkejut dan menoleh bersamaan


Deg


Jantung Caca seakan ingin melompat saat melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya.


" Mba.... mba Caca!" panggil Nana menyenggol lengan Caca karena melihat Caca yang diam saja saking terkejutnya


" Iya?" Caca menoleh ke Nana seperti orang bodoh

__ADS_1


" Itu mba!" Nana menunjuk dengan ekor matanya.


" Selamat si... siang pak!" ucap Caca yang entah kenapa menjadi gugup


" Ca ikut saya ke ruangan Presdir!" ucapnya tegas


" Baik pak!" sahut Caca berjalan mengekor di belakangnya


Sesampainya di ruangan Arvan, Jimmy dan Caca hanya saling diam.


" Bang sudah cepat bicara!" ucap Arvan yang merasa tidak sabaran


" Maaf pak berhubung saya ada di sini apa boleh saya bicara?" tanya Caca mendahului Jimmy bicara


" Mau bicara apa?" tanya Arvan


" Emmmm.... apa boleh besok saya ambil cuti pak?"


" Cuti?" tanya Arvan dan Jimmy bersamaan


" Iya pak, besok saya mau cuti pulang ke Bandung"


" Ada urusan apa?"


" Saya juga kurang tahu pak, orang tua saya hanya meminta saya untuk pulang besok" jawab Caca apa adanya


" Apa mereka ingin menjodohkan kamu?" tanya Jimmy tiba-tiba


jlepp


Caca terdiam dan pandangannya menunduk


" Apa karena hal itu kamu menolak ku?" Caca hanya diam tidak tahu harus menjawab apa


" Jadi kamu lebih memilih menerima perjodohan itu iya?" cecar Jimmy


"Bukan begitu, aku hanya_!"


"Hanya apa? hanya ingin berbakti kepada kedua orang tuamu begitu?" kesal Jimmy


" Bang Jimmy tenangkan dulu dirimu, beri Caca kesempatan untuk bicara!" ucap Arvan menengahi


" Semua sudah jelas, karena dia sama sekali tidak mencintai ku dan tidak ingin menjadi isteriku. aku tidak bisa memaksanya Van!" ucap Jimmy membuat Caca geleng-geleng kepala


" Bukan seperti itu" sentak Caca dengan mata yang sudah berkaca-kaca


" Lalu apa?"


" Aku.... aku tidak pantas untuk bang Jim. siapalah aku bang, sebaiknya abang cari wanita yang lebih sepadan dengan abang" ucap Caca lirih menahan Isak tangisnya


" Alasan!"


" Maaf pak presdir, saya masih banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan hari ini, saya mohon pamit" ucap Caca yang langsung segera keluar dari ruangan Presdir.


Jimmy mengusap wajahnya kasar menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.


" Sebaiknya abang cari tahu tentang keluarganya dan jangan menyerah begitu saja" ucap Arvan


" Kalian tidak perlu khawatir soal hal itu!" ucap seseorang yang tanpa mereka sadari sudah berdiri di ambang pintu

__ADS_1


" Daddy!" Jimmy menoleh ke arah sumber suara


" Daddy suka gadis seperti dia, jangan sedih daddy sudah merencanakan sesuatu untuk kalian berdua, jadi lihat saja besok"


" Maksud daddy?"


" Besok kita pergi ke Bandung!" ucap Alex membuat Arvan dan Jimmy saling melempar pandangan.


🖤


Keesokan harinya Caca sudah sampai di Bandung.


" Assalamu'alaikum!" ucap Caca saat baru sampai di rumah orangtuanya.


" Wa'alaikum salam, Caca kamu baru sampai sayang!" ucap bu Salma


" Iya bu!" Caca menyalami punggung tangan orang tuanya


" Sini sayang duduk!" pinta bu Salma menepuk bangku kosong di sampingnya


" Kenalkan sayang ini bu Lani dan pak Asep mereka datang untuk memberikan kabar baik sayang" ucap Bu Salma


" Kabar baik apa bu?" Tanya Caca penasaran


" Kamu ini kan sudah cukup umur untuk berumah tangga sayang, dan setelah mencari hari ternyata 3 hari dari sekarang adalah hari yang cocok untuk kamu menikah nak!"


" Apa menikah?" Caca syok


" Bu jangan bercanda deh, perihal menikah itu bukan hal main-main, bagaimana bisa ibu dengan mudahnya mau menikahkan Caca dengan laki-laki yang Caca sendiri tidak tahu sama sekali orangnya seperti apa" kesal Caca


" Nanti juga kamu akan tahu sayang, dan ibu yakin kamu pasti suka dengan pilihan ibu"


Caca hanya menatap tak percaya orang tuanya bisa bersikap seperti itu


" Ca, apa yang di katakan ibu kamu benar nak, kami tidak mungkin menerima pinangan seseorang tanpa berpikir terlebih dahulu. dia itu laki-laki yang cukup mapan, tampan dan juga mandiri. bapak rasa kamu juga pasti akan menyukainya" ucap pak Iwan


" Pak kenapa tidak membicarakan ini dari awal sih, setidaknya beri Caca kesempatan untuk memilih masa depan Caca sendiri. apa kalian tidak berpikir tentang perasaan Caca?"


" Apa kamu sudah punya pacar?" tanya pak Iwan


" Caca_" tidak bisa menjawab karena kesalahannya sendiri yang sudah menolak pinangan dari laki-laki yang selama ini telah mengisi di hatinya.


" Apa?" tanya pak Iwan memastikan


" Apa ada seorang laki-laki yang bermaksud menikahimu?"


Deg


Caca bingung harus menjawab apa, dia hanya bisa diam dan mungkin pasrah terhadap keadaan.


" Sayang, ibu harap kamu tidak menolak permintaan ibu ya nak" ucap bu Salma memohon


" Tapi bu Caca-" dengan susah payah menahan agar tidak menangis namun pada akhirnya meleleh juga.


" Terima saja ya sayang!" Caca hanya bisa menangis dalam diamnya.


" Apa aku bisa memilih? tidak kan?" Caca pasrah


" Sayang ini semua untuk kebaikan kamu juga kedepannya" ucap pak Iwan

__ADS_1


" Iya pak, terserah kalian aja!"ucap Caca sendu lalu beranjak dari duduknya menuju kamarnya


__ADS_2