Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Rujak


__ADS_3

Arvan mengantarkan Grea kuliah, awalnya dia menolak tapi Arvan bersikeras untuk tetap mengantarkannya dan Grea pun lebih memilih untuk mengalah dari pada ia harus telat kuliah.


Sesampainya di kampus Grea langsung turun dari mobil Arvan sebelum para sahabatnya melihat kedatangannya bersama Arvan. namun baru hendak membuka pintu mobil Arvan sudah lebih dulu menarik tangan Grea.


" Sebelum turun apa kamu tidak ingin melaksanakan tugas mu sebagai istri?" tanya Arvan membuat Grea mengerutkan keningnya


Arvan yang melihat raut wajah Grea yang nampak bingung langsung menyodorkan tangannya dan Grea yang mengerti maksud Arvan pun langsung meraih tangan Arvan lalu mencium punggung tangannya.


" Aku kuliah dulu, assalamu'alaikum!" ucap Grea


Arvan mendaratkan kecupan singkat di kening Grea membuat Grea seketika mematung


" Wa'alaikum salam" jawab Arvan dengan tersenyum tipis


Grea terkesiap dari lamunannya lalu tersenyum sebelum berbalik untuk membuka pintu mobil.


" Pulang kuliah aku jemput!" ucap Arvan saat Grea hendak turun dari dalam mobilnya.


" Tidak usah aku naik taksi online saja" tolak Grea


" Aku jemput!" tegas Arvan tidak ingin dibantah


" Terserah!" ucap Grea ketus namun malah mengundang senyum diwajah tampan sang suami, Grea hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu.


" Sudah sana!" usir Grea ketus


" Iya, aku berangkat kerja dulu ya isteriku!"


" Iya, sudah sana!" Grea celingak-celinguk melihat kesekeliling


" Iya aku pergi, assalamu'alaikum!" ucap Arvan


" Wa'alaikum salam!" sahut Grea dan mobil Arvan pun meluncur meninggalkan area kampus.


" Hayoo diantar siapa?" tanya Bimo yang tiba-tiba datang dari arah belakang Grea membuat Grea terperanjat kaget


" Bimoooo.... ngagetin orang aja ih!" kesal Grea yang langsung memukul Bimo dengan buku yang Grea pegang.


" Iya ampun .. ampun..!" Bimo berlari menghindari pukulan Grea


" Woy pada ngapain sih, udah kayak anak SD aja pada main kejar-kejaran begitu?" ucap Jojo yang baru muncul bersama Micko


" Hemmm.... trio O sudah kumplit nih" ucap Grea yang berhenti mengejar Bimo


" Tumben tuh muka gak kusut lagi?" tanya Jojo menaik turunkan alisnya


" Benang kali kusut!" sahut Grea


" Caca mana Gre?" tanya Micko yang tidak melihat keberadaan Caca


" Kerja!" sahut Grea


" Kerja? terus loe kok gak kerja , bukannya kalian itu kerja di kantor yang sama y" tanya Micko


" Gue udah berhenti" sahut Grea santai sambil berjalan menuju kelasnya.


" Berhenti? kenapa loe berhenti?" tanya Bimo kali ini yang nampak bingung dengan Grea yang biasanya begitu bersemangat bekerja.


" Ya gak Kenapa-napa" jawab Grea asal


" Apa karena Presdir perusahaan tersebut loe berhenti?" tanya Micko


Deg


" Mak... maksud loe apa Micky?" tanya Grea


" Micky... Micky.. nama gue Micko!"


" Sama ajalah" Grea cengengesan


" Sia*an loe " Micko menjitak kening Grea


" Aww, sakit Micky!" Grea memberengut


" Panggil Micky lagi gue jitak lagi nih" kesal Micko


" Iya.. iya.. gitu aja sewot bener sih bang" Grea mengerucutkan bibirnya


" Gre apa benar loe berhenti kerja karena bos loe itu?" kali ini Bimo yang bertanya


" Gak juga sih, gue lagi malas aja pingin istirahat dan fokus kuliah dulu aja apalagi sekarang kak Jimmy juga kan masih koma jadi gue lebih memilih nemenin nyokap buat menjaga kak Jimmy di rumah sakit" tutur Grea dengan nada yang sedikit sendu


" Terus masalah loe dengan su_" mulut Jojo yang hendak bertanya langsung dibekap oleh tangan Grea membuat Micko dan Bimo mengernyitkan dahinya


" Ishh apa sih loe Jo, Su.. suara gue udah baikkan gak serak kayak kemarin" ucap Grea yang langsung mengalihkan ucapan Jojo yang hampir saja keceplosan.


" Iya pantas suara loe udah nyaring banget sampai kuping gue pengeng" ucap Jojo


" Memangnya suara loe kenapa Gre?" tanya Bimo


" Gak apa-apa cuma kebanyakan konser, ha.. ha.." ucap Grea dengan tertawa lepas


" Konser apaan loe suara kayak kaleng rombeng begitu" oceh Jojo membuat Grea langsung memiting leher Jojo

__ADS_1


" Ampun Gre ampun..." ucap Jojo


" Jangan cari masalah lagi loe kalau laki loe liat bisa bonyok muka gue" bisik Jojo membuat Grea langsung diam seketika dan menjauh dari Jojo


" Takutkan loe" bisik Jojo lagi


" Apaan sih loe Jo" Grea pasang wajah cemberut.


" Sudah ah yuk buruan masuk " ucap Micko memutus percakapan Grea dan Jojo yang berbisik-bisik sedari tadi.


Jam kuliah sudah usai waktunya Grea dan teman-temannya pulang, sesampainya di gerbang kampus Grea berdiri menunggu kedatangan Arvan yang ternyata belum juga datang.


" Gre loe ngapain di sini?" tanya Jojo yang lewat tempat di depan Grea dengan sepeda motornya


" Biasa" ucap Grea malas


" Nunggu pak bos?" Grea mengangguk


" Lupa kali, mending gue antar aja yuk!" tawar Jojo


" Gak usah bentar lagi juga dia datang" tolak Grea halus


" Yaudah gue duluan ya!" pamit Jojo yang langsung menarik gas motornya dan pergi meninggalkan Grea


tidak lama Jojo pergi mobil Bimo berhenti di depan Grea


" Loh Gre loe ngapain masih disini?" tanya Bimo yang membuka kaca mobilnya


" Nunggu jemputan" jawab Grea


" Siapa yang jemput, daddy loe?" tanya Bimo


" Iya, Daddy dari anak-anak gue" jawab Grea sambil tertawa


" Sialan loe, gue serius juga" ucap Bimo yang mengira ucapan Grea hanya bercandaan semata.


" Serius juga gak apa-apa bang, iyakan?" ledek Grea dengan bergaya mengelus-elus perutnya.


" Wah udah ngebet kayaknya nih anak makin gesrek tuh otak" Bimo geleng-geleng kepala dengan tingkah Grea


" Sudah Bimo sana pergi nanti cewek loe ngambek lagi kalau loe jemputnya sampai telat lagi" ucap Grea asal tapi malah tepat sasaran


" Kok loe tahu sih Gre?" tanya Bimo


"Ya tahulah, cewek loe kelihatan galaknya makanya loe takut, iyakan?" Grea menaik turunkan alisnya


" Sok tahu loe" Bimo kembali menyalakan mobilnya.


" Taulah, Greandira gitu loh" ucap Grea dengan tertawa meledek.


" Gak apa-apa kalau yang nyulik CEO tampan sih" tantang Grea seraya tertawa


" Yaudah loe tunggu aja sampai tuh penculiknya datang ya!" ucap Bimo


" Mana ada orang nunggu di culik" sahut Grea


" Ada, loe!" Bimo langsung menutup kaca mobilnya


" Sia*an loe!"


Bimo melajukan mobilnya seraya tertawa puas melihat Grea dengan wajah kesalnya


Tiddd....


Tiddd....


Suara kelakson mobil terdengar sangat bising ditelinga Grea, hendak berbalik badan dan mengumpat sang pelaku namun Grea diam ditempat dengan memutar bola matanya malas.


Seorang pria tinggi tapi berbadan kurus dengan gaya tengil dan sok kecakapan turun dari mobilnya berjalan menghampiri Grea.


" Hai Grea sayang lagi ngapain disini? nunggu taksi ya?" tanya seorang laki-laki yang bernama Martin putra tunggal pengusaha tekstil terbesar di kota B. Martin memang sudah lama suka kepada Grea tapi sedikitpun Grea tidak tertarik dengannya apalagi dengan sikap Martin yang sombong dan suka bergonta-ganti cewek.


Grea hanya diam saja tidak menggubris pertanyaan Martin yang menurut Grea memang tidak penting.


" Eh Grea sombong banget sih loe, baru jadi siswa teladan dan masuk universitas karena beasiswa aja belagu loe, apalagi jadi orang kayak loe!" ucap Martin yang merasa kesal karena di cuekin oleh Grea.


" Udah dari pada banyak omong bikin gue mual mending loe pergi aja deh dari hadapan gue" ucap Grea yang lama-kelamaan merasa kesal juga dengan Martin.


" Dari pada loe berpanas-panasan disini mending loe ikut gue aja nanti gue antar deh loe pulang sampai rumah, jarang-jarang loh gue nawarin cewek tumpangan. jadi anggap saja ini hari keberuntungan loe" ucap Martin dengan rasa percara dirinya yang akut.


" Lebih baik gue disini panas-panasan dari pada gue ikut sama loe " Tolak Grea


" Jangan sok jual mahal deh loe, gue bisa kok biayain loe kuliah sampai selesai kalau loe mau jadi pacar gue dong tentunya!" ucap Martin seraya tangannya ingin menjamah dagu Grea namun dengan gerakan cepat Grea langsung menghindar.


" Wah benar-benar belagu loe ya, gak tau loe ya gue ini siapa.?" Martin mencekal pergelangan tangan Grea membuat Grea meringis menahan sakit.


" Lepasin tangan gue, lancang loe ya berani-beraninya loe sentuh gue!" Grea dengan sangat kencang menghempaskan tangannya dari cekalan tangan Martin.


" Sialan loe berani-beraninya loe kurang ajar sama gue." Martin dengan kasar menarik tangan Grea memaksanya untuk masuk ke dalam mobilnya.


" Lepasin gue bereng**k?" umpat Grea namun karena kepala Grea yang kembali berdenyut membuat tubuh Grea sedikit lemas dan tidak bisa memberontak lagi.


" Gue akan membawa loe bersenang-senang!" ucap Martin yang tersenyum penuh kemenangan karena tiba-tiba tubuh Grea nampak lemas.

__ADS_1


Martin memasukkan Grea dengan paksa kedalam mobilnya dan saat Martin hendak menutup pintu mobilnya tiba-tiba pria bertubuh tegap tinggi dengan postur tubuh yang atletis dengan kasar menarik tangan Martin hingga terjerabah ke belakang.


" Siapa loe berani-beraninya loe sama gue!" tantang Martin dengan sombongnya


Arvan tanpa menggubris ucapan Martin langsung membuka pintu mobil Martin dan membangunkan Grea yang nampak lemas dengan wajah yang sedikit pucat.


" Sayang!" panggil Arvan menepuk-nepuk pipi Grea dengan lembut.


Grea membuka matanya sebentar lalu kembali memejamkan matanya. Arvan nampak geram melihat keadaan Grea yang seperti itu, dia langsung mengangkat tubuh Grea dan mengeluarkannya dari dalam mobil Martin.


Martin hendak membalas perbuatan Arvan namun baru saja ingin melayangkan pukulannya ke arah Arvan, tubuh Martin sudah terhempas lebih dulu oleh tendangan sekretaris Hanan yang datang bersama dengan Arvan.


Brukk.


" Han kau urus sampah macam dia!" ucap Arvan tegas lalu bergegas membawa Grea masuk ke dalam mobilnya.


Arvan menepuk-nepuk pipi Grea berusaha membuat Grea tersadar dan tidak lama Grea pun membuka matanya. Arvan bernapas lega dan langsung memeluk Grea posesif.


" Jika kamu memelukku seperti ini aku bisa mati karena tidak bisa bernapas" cicit Grea didalam pelukan Arvan.


" Maaf...maaf sayang, apa kamu terluka, apa ada yang sakit? apa yang sudah dilakukan si berengsek itu padamu sayang?" tanya Arvan yang nampak begitu khawatir.


" Aku tidak apa-apa, dia tadi memaksaku untuk ikut dengannya walaupun aku sudah menolaknya mentah-mentah!" sahut Grea.


Han masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. " Bagaimana Ha" tanya Arvan yang duduk di belakang bersama Grea


" saya sudah memberinya pelajaran Presdir" jawab Hanan.


" Ya sudah cepat jalan, kita kerumah sakit" titah Arvan


" Ke rumah sakit untuk apa?" tanya Grea nampak panik


" Ya tentu memeriksa keadaan mu sayang, memang untuk apalagi?" tanya Arvan menaikkan satu alisnya


" Aku tidak apa-apa, tidak perlu ke rumah sakit. aku hanya butuh istirahat!" tolak Grea


" Ya sudah kalau begitu, Han ke apartemen!"


" Baik Presdir!" Hanan pun melajukan mobilnya menuju apartemen Arvan dan pada saat diperjalanan ketika mobil berada di lampu merah Grea melihat tukang rujak buah yang berada di pinggir jalan matanya nampak berbinar, Grea menatap lekat rujak tersebut dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena ingin sekali ia memakan rujak tersebut namun untuk mengatakan langsung kepada Arvan Grea merasa gengsi dan takut Arvan bertanya mengenai kehamilannya.


Arvan yang sedari tadi tidak lepas mengamati setiap pergerakan Grea nampak tersenyum saat mata Grea tidak beranjak dari menatap rujak buah yang ada di pinggir jalan.


" Han !"


" Iya Presdir!"


" Buka pintu mobilnya!"


" Buka pintu mobil? untuk apa tuan?"


" Sudah buka saja!"


Ceklekk


Arvan keluar dari dalam mobil membuat Han nampak bingung karena tiba-tiba Arvan menyebrang jalan.


Grea yang masih menatap ke arah penjual rujak buah tersebut tidak menyadari kepergian Arvan dari dalam mobil.


" *Kenapa orang itu mirip sekali dengannya, apa karena aku begitu menginginkan rujak tersebut sampai-sampai aku berhalusinasi suamiku membelikan rujak itu untuk ku?" batin Grea.


" Andai saja suamiku membelikannya untuk ku!" gumam Grea dan menghela napasnya berat , Grea yang sibuk dengan lamunannya pun tidak sadar jika orang yang dilihatnya adalah benar-benar suaminya bahkan sampai Arvan kembali pun Grea masih belum juga sadar*.


Bruk


Arvan sudah duduk kembali ke dalam mobilnya dan tidak lama lampu sudah berganti hijau. Hanan kembali melajukan mobilnya Grea terkesiap dari lamunannya dan kembali menatap lekat ke arah tukang rujak buah tersebut, mata Grea semakin berkaca-kaca karena merasa tidak bisa lagi melihat tukang rujak buah tersebut. Grea memilih diam dan tidak ingin bicara apapun moodnya tiba-tiba berubah menjadi buruk.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Arvan saat melihat Grea seperti sedang mengusap air matanya.


" Tidak apa-apa!" jawab Grea ketus.


" Benar tidak apa-apa?" tanya Arvan memastikan


" Hem!" jawab Grea tanpa menoleh dan melempar pandangannya ke arah jalanan.


Arvan meletakkan rujak yang dibelinya di pangkuan Grea, merasakan ada sesuatu yang Arvan letakkan di pangkuannya mau tidak mau Grea pun menoleh dan pandangan matanya tertuju pada kantong kresek yang berada di pangkuannya.


Mata Grea berbinar dan tanpa kata-kata lagi Grea malah menangis sesenggukan karena dia mengira tidak bisa memakan rujak tersebut tapi tau-tau rujak yang sangat ia inginkan sudah berada di atas pangkuannya.


" Hei.. kenapa kamu menangis sayang?" Arvan mengusap air mata Grea yang tengah menangis sesenggukan.


" Ini?" Grea mengangkat kantong kresek yang berisi rujak tersebut.


" Aku membelikannya untuk isteri ku, karena aku melihat sepertinya isteriku sangat menginginkannya" ucap Arvan dan Grea langsung mengangguk.


" Terima kasih!" ucap Grea yang langsung memeluk Arvan.


"Iya sayang, sudah ya jangan menangis lagi"


Grea mengangguk lalu membuka kantong yang berisi rujak buah tersebut dan langsung melahapnya.


" Makannya pelan-pelan sayang!" ucap Arvan mengingatkan


Hanan yang sedang menyetir hanya tersenyum dibalik kemudinya. iapun merasa ikut bahagia dengan perubahan atasannya yang sekarang.

__ADS_1


Grea menikmati rujak tersebut dan sesekali ia memaksa Arvan untuk menikmatinya juga, Arvan yang tidak ingin melihat wajah isterinya kecewapun terpaksa ikut menikmati rujak tersebut.


__ADS_2