
Saat ini Arvan sedang berada di ruang rapat bersama kliennya yang merupakan utusan dari Mandala Grup.
" Apa masih ada yang ingin anda tanyakan tentang proyek ini Nona Talita, bukankah semua sudah jelas dengan apa yang sudah disepakati oleh sekretaris Hanan?" tanya Arvan dengan tegas kepada Talita yang merupakan anak pemilik PT Mandala Grup
" Bisakah kalian keluar dulu sebentar, ada yang ingin saya bicarakan empat mata dengan anda presdir Arvan!" ucap Talita
Hanan menoleh ke arah Arvan meminta persetujuan dari atasannya tersebut.
Arvan mengggeleng pelan dan sekretaris Hanan bisa mengerti maksudnya.
" Maaf nona jika ini adalah masalah pekerjaan saya rasa saya tidak perlu keluar silahkan nona Talita bicara. pak presdir masih ada urusan penting jadi persingkat saja nona karena kami harus pergi" ucap sekretaris Hanan membuat Arvan tersenyum tipis dan merasa bangga dengan sekretarisnya yang satu ini begitu pengertian dan tahu situasi.
" Tapi aku hanya ingin bicara dengan atasanmu!" protes Talita
" Nona Talita cepat apa yang anda ingin katakan, bukankah kata-kata sekretaris Hanan sudah sangat jelas. waktu ku tidak banyak aku masih ada urusan lain" ucap Arvan tegas dan nampak dingin
" Aku... aku ingin makan siang bersamamu, bisakah kau meluangkan waktu untukku?" tanya Talita dengan senyum semanis mungkin
" Aku tidak bisa, aku tidak ada waktu jika bukan karena urusan pekerjaan. Isteriku sudah menungguku untuk makan siang bersama" sahut Arvan datar
"Sudahlah Van, jangan berpura-pura terus aku tahu kau hanya berbohong. Kau boleh gila kerja tapi setidaknya luangkanlah waktu untuk dirimu sendiri Van" ucap Talita begitu percaya diri membuat Arvan memincingkan alisnya.
" Apa maksud ucapan mu nona?" tanya Arvan menautkan alisnya
" Pria dewasa mapan dan tampan juga membutuhkan wanita bukan, jadi setidaknya luangkanlah waktu mu untuk mengenal lebih dekat dengan wanita terutama aku Van yang sudah lama menaruh hati kepadamu Van" tutur Talita dengan tanpa rasa malunya berbicara dihadapan sekretaris Hanan dan juga asisten pribadinya.
" Anda percaya diri sekali nona Talita, bukankah aku sudah mengatakannya kepada anda kalau aku sudah menikah dan tidak membutuhkan lagi kekasih bayaran. dan bukankah sekretaris Hanan sudah mentransfer uang sesuai dengan kesepakatan bahkan anda pun tidak perlu repot-repot menjalankan peran anda." ucap Arvan membuat Talita terdiam dengan hati yang bergemuruh.
" Aku rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, permisi!" ucap Arvan dingin lalu pergi begitu saja meninggalkan Talita yang masih diam membeku.
Dengan langkah tegas dan aura yang dingin Arvan keluar dari ruangan meeting dan saat melewati meja para karyawannya semua langsung menunduk takut dengan aura dingin yang terpancar pada bos mereka.
" Bos kenapa ya, auranya nyeremin banget?"
" Iya, gue juga sampai kaget. padahal udah hampir sebulan bos terlihat adem ya gak nyeremin gitu"
" Apa ada masalah ya dengan isterinya?"
"Tapi bos baru aja keluar dari ruangan meeting loh, mungkin saja itu karena masalah pekerjaan!"
" Bisa jadi sih!"
" Apa diruangan bos ada isterinya?"
"Tadi sih kayak ada deh "
" Tapi tadi gue lihat bos rapatnya dengan klien cewek cantik loh"
" Terus?"
__ADS_1
" Ya bisa aja kan pak bos bingung, suka sama kliennya tapi ada isterinya dikantor"
" Yakin emang mereka sudah menikah?"
" Gue sih yakin aja, gak mau cari masalah takut dipecat."
" Iya betul"
" Mungkin kliennya itu mantan bos yang ngajakin balikan!"
" Jangan berprasangka yang bukan-bukan deh kalau pak presdir dengar bisa gawat loe"
"Sudah-sudah, sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan kita"
Begitulah sebagian para karyawan yang membicarakan Arvan atasan mereka yang lewat dengan aura dingin dan mencekam.
Ceklekk
Arvan membuka pintu ruangannya, sepi tidak ada Grea Arvan berjalan menuju kamar pribadinya Grea pasti masih berada di ruangan tersebut.
Ceklekk
pintu kembali dibuka namun lagi-lagi sepi Arvan tidak melihat keberadaan sang isteri.
mungkin didalam kamar mandi pikir Arvan ia pun berjalan menuju kamar mandi namun nihil saat pintu sudah dibuka pun Arvan tidak dapat menemukan isterinya.
Arvan menggeram kekesalannya berkali-kali lipat saat tidak menemukan keberadaan istrinya diruangannya.
"Han!" teriak Arvan membuat Hanan yang hendak keluar langsung menghentikan langkahnya.
" Dimana Greandira?" tanya Arvan dengan aura yang sangat dingin dan suara yang menggema keseluruh ruangan membuat Hanan merinding mendengarnya.
" Bukankah tadi nyonya-" belum selesai dengan ucapannya Arvan sudah menyentaknya
" Cepat cari dan bawa isteri ku kesini!" titah Arvan tegas
" Baik Presdir!" Hanan langsung keluar dan mencari keberadaan Grea melalui CCTV yang berada di dalam ruangan presdir.
❄️
Grea saat ini tengah tertawa bersama dengan Mbak Susi dan Mala. mereka sedang berada di kantin makan siang bersama.
" Bu bos rasanya kangen banget ya bisa kumpul seperti ini lagi, gak nyangka banget aku masih bisa makan dimeja yang sama" ucap Mala membuat Grea mendengus kesal
" Mala udah dong jangan panggil aku Bu bos terus, aku gak mau ada yang mendengar pembicaraan kita dan mereka tahu status aku!" ucap Grea.
" Tau nih Mala" ucap mbak Susi menimpali
" Iya maaf!" Mala menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Bersikap seperti biasa aja Mala, mbak Susi hanya kalian dan Caca saja yang tahu identitas aku disini jadi jangan panggil aku dengan sebutan Bu bos lagi!" pinta Grea
" Iya kami mengerti" ucap mbak Susi
" Greaaa!" teriak Caca yang setengah berlari menghampiri Grea yang sedang duduk bersama Mala dan Mbak Susi
" Caca!" Grea melambaikan tangannya ke arah Caca
" Gre loe kok disini apa laki loe gak nyariin?" tanya Caca
" Dia lagi ada pertemuan dengan kliennya" sahut Grea
" Loe gak tahu kalau pak bos su_" belum selesai dengan ucapannya seseorang sudah memotong kata-katanya.
" Eh wanita gak tau malu, ternyata loe benar-benar gak punya muka ya sudah dipecat berkali-kali tapi masih aja berani datang ke kantor ini!" Sarkas Sisil yang datang bersama dengan Monik
" Mbak Sisil jaga ucapan mbak!" ucap Caca seraya berdiri
" Ca jangan muntang-muntang loe diminta pak Arvan untuk menemani wanita gak jelasnya itu loe berani ya sama gue!" bentak Sisil membuat Caca langsung terdiam.
" Baru segitu aja sekarang loe berlagak sok membela wanita yang cuma mantan OG di kantor ini" Caca tidak dapat lagi melakukan pembelaan andai saja Grea tidak melarang mengatakan yang sebenarnya mungkin saat ini Caca sudah membuat Sisil lemas seketika.
" Kenapa loe diam, udah ciut nyali loe?" dengan sombongnya Sisil mendorong Caca sampai jatuh terduduk di kursinya.
" Mbak Sisil saya gak_" saat Caca hendak membalas ucapan Sisil Grea menarik tangan Caca menahannya untuk tidak lagi meladeni Sisil
Grea menggelengkan kepalanya meminta Caca untuk diam dan Caca pun mengangguk patuh. mendengar keributan yang di picu oleh Sisil semua pandangan para karyawan yang tengah makan siang di kantin tersebut terpusat ke arah mereka semua.
Sisil yang melihat Caca dan Grea yang diam saja semakin geram dan tidak terima.
" Ternyata sampai di situ keberanian loe untuk membela wanita ja*ang ini!" ucap Sisil yang kembali memancing emosi Caca dan Grea
" Atau jangan-jangan loe kesini berniat busuk ya ingin menawarkan tubuh loe kepada pak Arvan? secara loe kerja disini sebagai OG aja sampai dipecat berkali-kali. sudah putus asa jadi sekarang mau jadi sugar daddy pak Arvan, iya kan? jangan mimpi deh loe!" ucap Sisil tajam.
Grea mengepalkan tangannya kuat mencoba menahan amarahnya. Grea tidak ingin terpancing dengan kata-kata Sisil yang justru akan membuatnya berada dalam masalah nantinya. Bukannya Grea gadis yang lemah yang mudah dijatuhkan lawannya dan bisa dihina seenaknya Grea hanya tidak ingin bertindak gegabah dan malah membuat tambah masalah.
Grea tersenyum tipis membuat Sisil semakin murka dan tidak terima.
" Anda ini hanyalah seorang pegawai biasa sama seperti yang lainnya tapi kenapa sikap anda begitu berlebihan?" ucap Grea dengan sangat tenang
" Kau!" geram Sisil
" Apa anda ini kekasih atau ada hubungan istimewa dengan pak Arvan sampai anda sebegitu khawatirnya saya dekat dengannya?" tanya Grea dengan senyum yang menyeringai
" Ya aku adalah wanita satu-satunya yang paling tepat untuk menjadi pendampingnya!" ucap Sisil dengan penuh percaya diri.
" Benarkah?" Grea pura-pura terkejut mendengar ucapan Sisil
Sementara mbak Susi, Mala dan Caca berusaha menahan tawanya.
__ADS_1
" Aku peringatkan loe jangan coba-coba mendekati pak Arvan kalau tidak!"
" Kalau tidak apa?" terdengar suara bariton dengan aura yang sangat dingin dan membuat semua yang berada di kantin menegang seketika.