
Grea keluar dari dalam mobil bersama Arvan, mereka lewat pintu khusus yang sudah ada Hanan menunggunya di sana. Arvan berjalan menuju ruangannya sementara Grea mengikuti Hanan yang akan mengantarkannya ke ruang kerja Grea.
" Pak Han, apa tadi itu benar-benar jalan rahasia, dan tidak ada yang tahu jalan itu?" tanya Grea penasaran
" Sebaiknya nyonya jangan membahas soal itu, beruntung nyonya adalah orang pertama yang diajak oleh Presdir melewati jalan tersebut" ucap Hanan dengan datar.
" Benarkah?" tanya Grea antusias.
" Nyonya muda itu jalan mengarah ke arah ruang ganti baju anda, sebaiknya anda bergegas dan setelah itu temui Presdir di ruangannya. " ucap Hanan yang langsung beranjak pergi.
" Ke ruangannya untuk apa lagi sih!" gumam Grea sambil berjalan menuju ruang ganti baju.
Saat Grea sedang Menganti seragamnya tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
" Hayo dari mana aja jam segini baru datang?" tanya Mbak Susi mengejutkan Grea
" Ya ampun mbak Susi, ngagetin tau gak sih!" Grea memegang dadanya karena terkejut
" Maaf Grea mbak gak sengaja, habis kamu mbak tungguin baru nongol!" ucap mbak Susi
" Memangnya kenapa mbak nungguin?" tanya Grea
" Gak Kenapa-napa sih Grea cuma itu tadi si tiga serangkai nanyain kamu !" sahut mbak Susi
" Tiga serangkai siapa mbak?" tanya Grea mengerutkan keningnya.
" Itu si Ricko, bang Emon sama Jaka!" jawab mbak Susi.
" Oh mereka, mbak Susi bisa saja bilang mereka itu tiga serangkai" Grea geleng-geleng.
" Ya habisnya mereka itu selalu barengan terus"
" Kalah dong truk gandeng" ucap Grea terkekeh.
dan mbak Susi pun ikut tertawa karena celetukan Grea.
" Memangnya ada apa mbak mereka itu nyari-nyari saya? perasaan saya gak punya hutang deh sama mereka!" ucap Grea
" Hutang hati kali Grea"
" Dih, mana ada seperti itu. saya mah mau fokus kerja aja dulu"
" Emmmm... kalau Presdir kita yang naksir kamu bagaimana, apa masih tuh fokus kerjanya?" goda mbak Susi
" Mbak Susi ngomong apa sih, mana ada seperti itu. terlalu tinggi mbak " elak Grea padahal hatinya sudah deg deg serr apalagi teringat dengan perlakuan dan ucapan Arvan pagi ini.
" Grea... Gre!" panggil mbak Susi karena melihat Grea yang tiba-tiba melamun.
" Ayo ngelamunin pak Presdir ya?" goda Mbak Susi membuat wajah Grea seketika memerah.
" Ya ampun Grea baru digodain segitu saja kamu tuh sudah semerah itu, apalagi jika beneran kamu bisa jalan bareng sama beliau, bisa pingsan kali ya kamu Grea!" ucap mbak Susi sambil tertawa.
" Mbak gak tau aja bukan hanya jalan bareng mbak tapi sudah tidur bareng malah" gumam Grea dalam hati.
__ADS_1
" Dih ini anak malah melamun!" ucap mbak Susi lagi dan disaat mereka asik mengobrol tiba-tiba datang rekan mereka yang seumuran dengan Grea tapi ya lebih tua dua tahun dari Grea namanya Lolita dia adalah adik sepupu Sisil cewek yang selalu membuat keributan dengan Grea.
" Loe yang namanya Grea?" tanya Lolita
" Iya kenapa?" tanya Grea masih dengan nada lembut.
" Di cariin pak Han loe" ucap Lolita dengan nada yang tidak bersahabat.
" Pak Han?" tanya Grea yang lupa dengan ucapan pak Han jika Grea ditunggu di ruangan Presdir.
" Wah ternyata loe suka banget ya bikin masalah, atau jangan-jangan itu cuma trik kotor loe aja ya yang ingin ngedeketin Presdir?" ucap Lolita yang bicaranya ternyata tidak jauh dengan ucapan Sisil.
" Ternyata ucapan kak Sisil benar ya loe itu bisa jadi sug_" ucapan Lolita tiba-tiba dipotong.
" Jaga ucapan anda nona , jika sampai kata-kata kotormu terdengar langsung oleh Presdir bukan hanya pekerjaan anda yang hilang tapi anda dan keluarga bisa dikirim ke desa yang jauh dari pemukiman penduduk, apa anda mau seperti itu?" ancaman pak Han yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
" Pak Han!" ucap Lolita dengan keterkejutannya.
" Saya meminta anda untuk memanggil Greandira bukan untuk menghinanya apalagi sampai membawa nama Presdir!" tegas Hanan
" Ma.. maafkan saya pak Han, saya_!" ucap Lolita dengan wajah yang sudah pucat pasih.
" Sudahlah pak Han jangan di perpanjang, saya rasa Lolita bicara seperti itu karena dia belum mengenal saya saja, jadi maafkan dia pak Han jangan melaporkannya kepada pak Presdir!" ucap Grea membuat Lolita langsung membungkam
" Tapi_" ucap Hanan terpotong.
" Sudahlah pak Han, sebaiknya sekarang kita ke ruangan Presdir saya takut jika terlambat lagi nanti saya kena masalah lagi dan di pecat!" ucap Grea membuat Hanan langsung berbalik badan dan pergi disusul oleh Grea yang mengekor di belakangnya.
" Makanya Lolita jangan ikut-ikutan deh suka nyinyir seperti kakak loe si Sisil. apalagi yang loe nyinyirin loe itu pak Presdir, memangnya loe sudah bosen hidup apa?" ucap mbak Susi mengingatkan.
" Ya memang mereka itu_"
" Gak usah banyak bicara kalau kita gak tau apa-apa, jangan jadi orang yang suka sok tahu padahal gak tahu apa-apa, itu hanya akan merugikan diri loe sendiri aja Loli!" ucap mbak Susi mengingatkan Lolita.
" Ahh.. mbak Susi juga gak tau apa-apa kan ?" ucap Lolita dengan keras kepalanya.
" Terserah kamu saja lah , tapi ingat penyesalan itu belakangan kalau duluan itu namanya pendaftaran!" ucap mbak Susi lalu beranjak pergi.
" Gak lucu!" ucap Lolita.
" Gak ngelawak jadi gak lucu!" ucap mbak Susi sebelum pergi
...💫💫💫💫💫...
Grea mengikuti langkah kaki Hanan yang berjalan memasuki lift khusus Presdir semua pandangan mata mengarah kepadanya dan dengan langkah cepat Grea masuk ke lift pegawai membuat Hanan menghela napasnya berat. Hanan akhirnya masuk ke dalam lift khusus Presdir dan Grea masuk ke lift biasa.
Setelah sampai di lantai ruangan khusus Presdir dan asistennya. lift yang membawa Grea dan lift yang membawa Hanan terbuka bersamaan dan keduanya pun keluar bersamaan.
Grea mengikuti langkah kaki Hanan kembali yang mengarah ke ruangan Presdir. Vivi yang melihat kedatangan Grea hanya mendelikan bahunya seolah bertanya kepada Grea ada apa? dan Grea pun menjawab dengan gelengan kepala.
Hanan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk dan setelah pintu dibuka oleh Hanan Grea langsung ikut masuk ke dalam ruangan Presdir bersama Hanan.
Grea terperanjat kaget saat melihat sosok yang membuatnya sedikit trauma ada di dalam ruangan tersebut. Arvan yang menyadari reaksi dari Grea saat melihat Marcel berada di ruangannya langsung berdiri dari bangku singgasananya dan berjalan menghampiri Grea yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
" Sayang!" panggil Arvan dengan suara yang sangat lembut Grea langsung terkesiap lalu tersenyum getir.
Arvan menangkap sinyal rasa trauma yang ada pada Grea dan dengan lembut Arvan memeluk Grea mengusap punggung Grea untuk memberikan rasa nyaman. setelah reaksi Grea yang sudah sedikit tenang, Arvan melerai pelukannya dan mengajak Grea untuk duduk di sofa. awalnya Grea menolak tapi dengan senyum yang mengembang Arvan meyakinkan Grea kalau semua akan baik-baik saja.
Marcel yang melihat sikap dan perlakuan Arvan terhadap Grea begitu lembut merasa sangat bersalah karena sudah berbuat sesuatu yang tidak sopan terhadap isteri Sahabatnya sendiri yang baru ia ketahui kebenarannya dari sang asisten setia Arvan yaitu Hanan.
" Emmm... Grea aku minta maaf ya, aku!" ucap Marcel gugup
Grea menoleh ke arah Arvan seakan meminta izin, setelah Arvan mengaguk pelan Grea baru berani bicara.
" Ak.. aku benar-benar tidak menyangka jika pak Marcel bisa setega itu dengan saya!" ucap Grea dengan air mata yang tiba-tiba saja meluncur begitu saja walaupun dihadapan Arvan ia selalu bersikap seolah semua baik-baik saja tapi nyatanya setelah berhadapan kembali dengan Marcel Grea benar-benar tidak bisa menahan rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.
" Grea maafkan saya!"
Grea meremas ujung bajunya dan Arvan yang melihat hal itu langsung menggenggam erat tangan Grea. " Sebaiknya nanti saja kita bicarakan hal ini lagi, aku rasa cukup sampai di sini saja Grea butuh waktu dan aku tidak mau membuat Grea merasa tertekan" ucap Arvan yang masih menggenggam tangan Grea dengan posesif.
" Han, tolong antar tuan Marcel!" perintah Arvan dan mau tidak mau Marcel pun berdiri.
" Grea sekali lagi aku minta maaf, aku menyesal sangat menyesal!" ucap Marcel sebelum beranjak pergi dan Grea tidak menggubris ucapan Marcel tersebut. Grea lebih memilih diam untuk menetralkan kondisi hatinya yang tiba-tiba teringat dengan kejadian malam itu.
" Sudah jangan diingat lagi ya!" ucap Arvan mengecup pucuk kepala Grea dengan lembut membuat Grea langsung mendongak ke arahnya.
" Aku_" ucap Grea sendu dan kembali menunduk.
" Aku pastikan dia tidak akan berani macam-macam lagi dengan mu, jika dia berani maka akan aku kuliti dia hidup-hidup" ucap Arvan
" Sudah jangan menangis lagi, mana isteriku yang pemberani?" tanya Arvan menaik turunkan alisnya.
Grea langsung mendelik tajam merasa aneh dengan sikap Arvan yang tiba-tiba menjadi menghangat.
" Jangan perlakukan aku seperti itu aku takut baper!" ucap Grea dengan polos.
" Kalau kamu baper dengan sikap suami sendiri, dimana letak kesalahannya?" tanya Arvan membuat Grea memberengut.
" Masalahnya aku takut kalau kamu cuma mempermainkan aku " ucap Grea yang langsung menutup mulutnya sendiri.
Pletakk
" Dasar bodoh!" Arvan menyentil kening Grea
" Aww, sakit tau!"
" Ya habisnya kamu tuh yang terlalu bodoh, bukannya dari tadi sewaktu di rumah maupun di mobil sudah aku katakan kita menjalani hubungan pernikahan kita ini dengan serius, dan aku tidak pernah main-main karena kita itu menikah sudah sah dimata agama dan negara jadi kalau aku lalai menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang suami maka aku sendiri yang akan dimintai pertanggungjawabannya" ucap Arvan panjang lebar membuat Grea seketika tersenyum
" Kenapa senyam-senyum begitu?" tanya Arvan
" Aku pasti sedang bermimpi ya, tapi mimpi ini kok seperti nyata banget ya? wah keren banget nih mimpinya?" ucap Grea dengan bodohnya.
" Sejak kapan Greandira menjadi gadis bodoh Hem?" kali ini Arvan bukan memberikan sentilan di kening Grea tapi sesuatu yang tentunya akan menyadarkan Grea dari kebodohannya.
" Apa dengan cara ini kebodohan mu akan hilang dan kamu akan sadar dari mimpi kamu itu Hem?" ucap Arvan yang dengan gerakan cepat langsung mengecup bibir Grea dan sontak saja hal itu membuat Grea mematung.
" Ini!" ucap Grea dengan mata melotot
__ADS_1