
Hari ini Caca melangkah dengan gontai menuju ruangannya tanpa ia sadari beberapa hari ini Grea ternyata meminta Hanan sekretaris sang suami untuk mencari tahu tentang Caca yang menurutnya akhir-akhir ini banyak berubah.
" Mba Caca lemas banget, tumben pagi-pagi gak semangat seperti biasanya? sedang ada masalah ya mba?" tanya Nana saat mereka tanpa sengaja bertemu di lobi kantor.
" Eh Nana, baru datang juga?" bukan menjawab Caca malah balik bertanya
" Iya mba, tapi kenapa mba Caca hari ini kayak gak semangat gitu apa kemarin terjadi sesuatu mba?" tanya Nana yang merasa sedikit khawatir
" Ah tidak, aku baik-baik aja Na" sahut Caca
" Syukurlah kalau begitu, ayo mbak!" ucap Nana saat pintu lift terbuka dan mereka dengan cepat langsung masuk ke dalamnya.
Sesampainya di ruangan kerja mereka langsung duduk di tempat kerjanya masing-masing dan Caca langsung menyalakan komputer yang ada di hadapannya.
" Terlihat lemas banget tapi udah semangat gitu kerjanya!" ledek Nana terkekeh
" Ya walaupun badan lemas tetap dong Na kalau dihadapkan dengan pekerjaan harus semangat!" sahut Caca seraya melemparkan senyumnya.
" Iya juga sih mba, tapi apa ini tidak terlalu pagi jika langsung berkutat dengan pekerjaan?" tanya Nana yang merasa enggan untuk memulai pekerjaannya
" Gak juga sih Na, biar pekerjaan aku cepat selesai dan tidak ada pekerjaan yang menumpuk seperti kemarin" Sahut Caca
" Biar bisa pulang lebih awal ya mba?"
" Nah itu kamu tahu Na" Caca kembali menatap layar komputernya dan membuka beberapa email yang masuk untuk di chek.
" Pagi-pagi sudah bekerja dasar cari muka!" ucap Winda salah satu rekan mereka yang baru saja datang bersama Monik dan Sisil.
" Sudah biarkan saja!" ucap Sisil yang tidak mau lagi mendapatkan masalah dari presdir jika mengusik sahabat dari isteri tercintanya.
Sisil sudah pernah mendapatkan hukuman dan dia tidak ingin dipecat dari pekerjaannya karena untuk masuk ke perusahaan Pratama Grup tidaklah mudah.
Caca yang mendengar sindiran dari Winda tidak mau ambil pusing, lebih memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya.
" Tuh lihat, sombong banget kan tuh anak. gue yakin dia sedang mencari perhatian pada pak presdir!" ucap Winda yang dengan sinis menatap ke arah Caca.
" Permisi!" terdengar suara bariton yang cukup mengagetkan semua yang berada di ruangan tersebut.
Caca dan yang lainnya menoleh ke arah sumber suara dan mereka nampak terkejut ketika netranya menangkap sosok pria tampan dengan postur tubuh yang atletis berdiri di hadapan mereka.
" I... iya sekretaris Han, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Caca seraya beranjak dari duduknya dan sedikit membukukan tubuhnya tanda memberi hormat.
Selain Presdir Arvan dikantor itu sekretaris Hanan juga cukup di hormati dan disegani oleh para karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut.
" Nona Caca !" ucap Sekretaris Hanan
Deg
Caca merasa deg-degan saat sekretaris Hanan menyebut namanya.
" Ada apa ini, apa gue melakukan kesalahan-kesalahan besar ya?" batin Caca
__ADS_1
"I.. iya ada apa sekretaris Han?" tanya Caca dibalik rasa gugupnya
" Mari ikut saya, Presdir ingin bertemu di ruangannya!" ucap sekretaris Hanan dengan datar
" Pre... presdir ingin bertemu dengan saya?" tanya Caca dan sekretaris Hanan mengangguk tegas.
" Ada apa ya?" Caca bermonolog sendiri
" Mari Nona!" ucap Sekretaris Hanan membuyarkan lamunan Caca
" Ya? ma..maaf sekretaris Han. Mari!" ucap Caca yang langsung mengikuti langkah kaki jenjang sekretaris Hanan menuju ruang atasannya.
Tok
Tok
Tok
Sekretaris Hanan mengetuk pintu ruangan tersebut sebelum masuk.
" Permisi presdir, Nona Caca sudah datang!" lapor sekretaris Hanan
" Suruh dia masuk!" perintah Arvan
" Baik presdir" Sekretaris Hanan menyuruh Caca untuk masuk
" Nona Caca silahkan masuk!" ucap Sekretaris Hanan
" Selamat pagi Presdir!" sapa Caca setelah masuk ke dalam ruangan Arvan
" Duduklah!" titah Arvan
" Terima kasih presdir!" ucap Caca
" Han katakan apa yang kau tahu?" ucap Arvan membuat Caca semakin dibuat bingung
"Nona Caca bisakah anda menceritakan semuanya atau anda ingin saya yang mengatakannya kepada presdir?" tanya sekretaris Hanan sebelum menjawab pertanyaan Arvan.
" Me.... mengatakan apa sekretaris Han?" tanya Caca yang nampak semakin bingung
" Anda sudah membuat nyonya muda khawatir dan anda juga sudah tidak jujur dengan nyonya muda!" ucap sekretaris Hanan
"Tidak jujur tentang apa?" bukan menjawab Caca malah balik bertanya karena saat ini dia benar-benar merasa bingung dengan pertanyaan sekretaris Hanan
" Apa hubunganmu dengan saudara Micko?" tanya Arvan terus terang
Deg
Caca membeku di tempat terasa sulit menelan salivanya saat fakta mengatakan atasannya ternyata mengetahui hubungannya dengan Micko
" Mi... Micko?" tanya Caca menegaskan
__ADS_1
"Iya, kamu mau jujur atau aku sendiri yang mengatakannya?" cecar Arvan
" Nona Caca sebaiknya anda katakan saja yang sebenarnya" titah sekretaris Hanan
" Dia bukan siapa-siapa!" sahut Caca berdalih
" Benarkah?" Arvan menautkan kedua alisnya
"Ya, saya dan Micko tidak ada hubungan apa-apa, selain teman kuliah!" sahut Caca berusaha untuk bersikap tenang.
" Han!" panggil Arvan
" Iya Presdir!" sekretaris Hanan sedikit membungkukkan badannya mengerti apa yang di inginkan atasannya.
Sekretaris Hanan berjalan mendekat ke arah Caca lalu memperlihatkan video yang ada di layar ponselnya
Jlepp
Caca menatap bergantian ke arah sekretaris Hanan dan ponsel yang dipegang oleh sekretaris Hanan
" Ini_!" Caca nampak terkejut bukan main saat dilayar ponsel sekretaris Hanan ada video yang memperlihatkan kebersamaannya dengan Micko
" Bisa kau jelaskan?" tanya Arvan beranjak dari duduknya berdiri bersandar pada meja kebesarannya
" Video itu_?" tanya Caca menggantung
" Aku tidak ingin melihat Dira isteriku setiap hari murung hanya karena memikirkan mu sahabatnya. dia meminta Han untuk mencari tahu tentang mu karena dia begitu khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan mu" ucap Arvan memberitahunya.
" Ma...maaf presdir tapi_" lagi-lagi ucapan Caca tersendat.
" Katakanlah!" ucap Arvan
" Baiklah Presdir akan saya katakan tapi sebaiknya anda harus lebih hati-hati lagi menjaga Greandira dan juga baby Queensy !"
" Apa maksud mu ?" tanya Arvan
Dengan ragu-ragu akhirnya Caca pun menceritakan semuanya yang telah terjadi dengannya dan Arvan nampak sangat terkejut saat tahu kalau ternyata Micko sahabat dari isterinya diam-diam menyukai Grea dan bahkan sampai melakukan pelecehan terhadap Caca hanya karena ingin melampiaskan kebenciannya terhadap Grea.
Caca nampak bergetar setelah menceritakan semuanya kepada Arvan, di dalam hatinya ia begitu takut Micko akan berbuat nekat dan melakukan kejahatan terhadap dirinya kalau tahu Caca sudah menceritakan semuanya.
" Jadi beberapa hari ini dia berada di depan kantor sedang mengintai mu?" tanya Arvan
" Kemungkinan besar iya pak?" sahut Caca
" Jadi Dira belum tahu akan hal ini?" tanya Arvan dan Caca mengangguk pelan
" Jadi itu alasannya kau selalu menolakku?" tanya seseorang yang tiba-tiba masuk begitu saja ke dalam ruangan tersebut
Deg
Caca menoleh ke sumber suara dan seketika matanya membulat sempurna sedangkan Arvan dan sekretaris Hanan menautkan kedua alisnya dan saling melempar pandangan satu sama lain.
__ADS_1