Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Ngambek


__ADS_3

Seperti dugaan Grea pagi ini hubungannya dengan Arvan menjadi trending topik di kantor. Arvan tidak ambil pusing toh lambat laun hubungannya dengan Grea pun pasti akan mencuat ke publik hanya waktunya saja yang tidak sesuai dengan keinginan. namun apa boleh buat karena kejadian tempo hari membuat hubungan mereka terpaksa go publik lebih awal.


" Ah ngeselin banget sih, gara-gara mak lampir nih jadi ada gosip kan" kesal Grea yang tengah duduk di bangku yang berada di depan meja kerja Arvan.


Arvan beranjak dari duduknya dan menghampiri sang isteri yang tengah pasang wajah cemberut.


" Duh isteriku kenapa ngedumel sendiri gitu sih, ada apa hem?" Arvan mengecup puncak kepala Grea dengan penuh cinta


" Banyak gosip yang mengatakan aku sengaja menggoda kamu, bekerja menjadi OG hanya untuk mencari perhatian kamu" Grea menghela nafasnya berat


" Oh jadi karena itu kamu sedari tadi uring-uringan?" Arvan melipat kedua tangannya di dada dan berdiri bersandar dipinggiran meja dengan senyum menggoda.


" Iya, enak aja aku dibilang menggoda ada juga aku yang selalu digoda" ucap Grea tidak terima


" Mereka benar sayang, kamu memang selalu menggoda aku" Grea langsung menatap tajam ke arah Arvan


" Mana ada seperti itu, kapan aku menggoda kamu mas?" kesal Grea dengan wajah memberengut


" Nah itu apa kalau bukan menggoda? bibir di manyunin gitu minta aku cium kan?" goda Arvan membuat Grea mendengus kesal


" Tau ah, ngeselin" Grea beranjak dari duduknya hendak pindah duduk ke sofa namun baru selangkah tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Arvan hingga menubruk dada bidangnya.


Dan masih dalam keterkejutannya Arvan malah membungkam mulut Grea dengan ciuman panas.


Grea yang belum siap tersengal dan kesulitan bernapas, dengan kesal Grea langsung mendaratkan pukulan di dada bidang sang suami, Arvan bukan teriak kesakitan malah tertawa-tawa.


" Kamu sih godain aku, mana tahan aku yang" ucap Arvan namun Grea masih pasang wajah juteknya


" Iya.. iya.. maaf, nanti aku minta Han untuk mengurus gosip-gosip itu dan nanti setelah jam makan siang aku akan menyuruh Han untuk mengumpulkan semua karyawan dan memperkenalkan kamu sebagai isteri dari Arvandra Pratama Zaindra yang sah. Jika ada yang berani bergosip lagi aku akan memecatnya" tutur Arvan seraya mengusap bibir Grea yang basah akibat ulahnya.


" Mas lapar" ucap Grea tiba-tiba, membuat Arvan merasa gemas dengan tingkah isterinya yang tengah hamil dan doyan makan.


" Ish, kamu gemesin banget sih!" Arvan mengecup bibir Grea singkat


" Yaudah mau makan keluar apa pesan saja?" tanya Arvan


" Emmmm.. aku mau makan dikantin aja boleh?" tanya Grea


" Boleh, ayok!" Arvan menarik tangan Grea pelan


" Aku gak mau ke kantin dengan mas" Arvan mengerutkan keningnya saat Grea melepaskan tangannya dari genggamannya


" Yang please, jangan yang aneh-aneh, aku gak mau kamu sendirian ke kantin dan kejadian kemarin sudah cukup buat aku cemas setengah mati" tegas Arvan


" Aku gak mau mengganggu pekerjaanmu mas, jadi aku ke kantinnya sama Caca saja ya mas!" rengek Grea membuat Arvan menghela napasnya panjang


" Yaudah ayok mas antar ke ruangan Caca dan ingat jangan macam-macam, mas akan menyusul setelah pekerjaan mas selesai" Arvan kembali meraih tangan Grea.


" Aku bisa sendiri mas!" ucap Grea kesal dengan sikap Arvan yang terlalu posesif


" Gak ada protes atau tidak jadi" tegas Arvan


" Iya.. iya.." Grea pasrah


" Telpon mas kalau sudah selesai!" pesan Arvan


" Iya"


Arvan dan Grea keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangan tempat Caca bekerja.


" Vivi kalau Han mencariku katakan aku ke bagian pemasaran" pesan Arvan saat berada di depan meja kerja Vivi


" Baik presdir" ucap Vivi dengan sedikit gugup


Arvan menggandeng tangan Grea posesif membuat Grea mengerucutkan bibirnya dan mbak Vivi yang melihat menahan tawanya.


Sepanjang berjalan menuju ruang bagian pemasaran para karyawan lainnya menatap sekilas lalu menunduk karena mendapat tatapan tajam dari sang presdir.


" Itu Grea kan?"


"Jadi gosip yang beredar itu benar ya?"


" Grea berhasil menggoda presdir lihat sampai segitunya presdir terhadap Grea!"


" Pakai pelet apa tuh si Grea sampai presdir mau sama dia yang cuma seorang OG?"


" Grea cantik wajarlah presdir tertarik, gue aja naksir" ucap salah satu karyawan pria


"Loe sih playboy semua cewek juga loe embat" sahut temannya


" Tapi semenjak Grea berada disamping presdir sikap presdir banyak berubah loh" ucap temannya lagi


" Setuju gue soal itu, presdir sudah gak sedingin dulu. kalau disapa mau menjawab sekarang" ucap pegawai wanita


" Iya juga sih"


Begitulah obrolan para karyawan yang melihat Grea dan Arvan berjalan bersama.


Grea dan Arvan kini sudah berada di ruang pemasaran dan tentu saja kedatangan sang presdir membuat semua karyawan yang berada di bagian tersebut terkejut dan tegang.


" Presdir datang kesini apa untuk sidak ya tapi kok ada Grea?" bisik salah satu karyawan

__ADS_1


" Grea OG yang waktu itu dipecat presdir sendiri kan?" timpal temannya


" Iya, pantas saja sudah dipecat dua kali tapi masih bisa bekerja karena jadi sugar daddy pak presdir mungkin" sahutnya


" Huss, kalau ngomong jangan sembarangan pak presdir dengar dipecat loh" ucap temannya takut.


" Caca!" panggil Arvan tegas membuat yang berada di ruangan tersebut semakin dibuat gugup dengan suara Arvan yang tegas dan aura dingin.


Caca yang dipanggil pun tak kalah gugup dan langsung berdiri " I..Iya pak presdir" sahut Caca gugup


" Ikut saya!" ucap Arvan membuat yang lainnya menatap ke arah Caca


" Kamu!" tunjuk Arvan ke arah Monik


" I..iya pak" jawab Monik gugup


" Gantikan pekerjaan Caca" titahnya


" Ta...tapi presdir, ba.. bagaimana dengan pekerjaan saya" ucap Monik dengan terbata-bata


" Selesaikan keduanya" ucap Arvan dengan entengnya membuat Monik mendengus dan mengumpat didalam hati.


" Ba.. baik presdir" ucap Monik pasrah


Setelah mengucapkan itu Arvan dan Grea langsung berbalik badan dan keluar dari ruangan tersebut dan tidak lupa tangannya masih menggandeng tangan Grea posesif dan Caca berjalan mengekor di belakangnya.


Di depan ruangan bagian pemasaran Arvan menghentikan langkahnya.


" Ca kamu temani isteri saya ke kantin dan jika ada apa-apa hubungi saya, ingat jangan sampai terjadi apa-apa dengan isteri dan calon bayi saya. temani dan jaga dengan baik " ucap Arvan tegas membuat Grea mendengus kesal dan Caca menghela napasnya berat.


" Baik Presdir" sahut Caca pasrah karena menolak pun percuma.


" Kamu juga jangan macam-macam dikantin ingat tidak boleh bicara dan dekat-dekat dengan laki-laki lain!" pesan Arvan posesif membuat Grea kesal dan mengerucutkan bibirnya


" Jangan dimanyun-manyunin atau mau aku_" belum selesai bicara Grea sudah lebih dulu menyelak


" Iya, sudah cepat sana pergi" ucap Grea seraya mendorong tubuh kekar Arvan yang tidak bergeser sedikitpun.


" Iya, ingat jaga diri baik-baik!" pesan Arvan mengingatkan kembali sang isteri


" Ya ampun mas aku ini cuma mau ke kantin loh bukan pergi jauh ih lebay banget sih!" kesal Grea


Arvan tertawa gemas dengan sikap Grea yang merajuk.


" Tetap saja sayang aku kan gak bisa jauh dari kamu" ucap Arvan dan Grea memutar bola matanya malas


________


" Mereka kok gak kerja ya?" ucap Grea mengamati beberapa orang yang tengah duduk di kantin


" Sama gue juga gak kerja dan malah duduk di sini sama loe" sahut Caca membuat Grea tertawa walaupun sebenarnya hatinya merasa tidak enak karena lagi-lagi dia sudah mengganggu pekerjaan Caca.


" Sorry Ca, gue habisnya bosen diruangannya terus dan gue juga lapar jadi gue minta aja loe buat nemenin gue. tuh orang terlalu posesif Ca gue kan jadi gak bebas" ucap Grea


" Iya santai, lagi pula pekerjaan gue juga gak banyak kok hari ini" tutur Caca.


" Oia, bagaimana kabar abang loe bang Jimmy?" tanya Caca


" Alhamdulillah, bang Jimmy sudah sehat dan kemarin bang Jimmy kan kesini"


" Serius loe bang Jimmy kemarin kesini?" tanya Caca antusias


" Serius, bang Jimmy sama mommy kemarin nganterin gue kesini" sahut Grea


" Ya sayang ya gue gak ketemu" ucap Caca lemas


" Main makanya ke rumah"


" Malu dong Grea, masa gue main ke rumah loe sementara loe aja sudah gak tinggal disana" ucap Caca seraya mengaduk-aduk minumannya


" Ya gak apa-apa, pura-pura aja loe gak tahu" saran Grea


" Wah parah ini anak ngajarin gue bohong" Caca geleng-geleng


" Ya itu kalau loe mau ketemu bang Jimmy"


" Sama loe dong Grea kesannya" bujuk Caca


"Kayak loe gak tahu aja bos loe itu suami posesif, gue gak boleh kemana-mana tanpa tuh orang"


" Segitunya?"


" Iya, loe tahu gak gue pergi ke mall sama mommy dan bang Jimmy itu dimall dia nelponin gue mulu"


" Pak Arvan segitu bucinnya ya ternyata sama loe"


" Bucin si bucin tapi bikin ngeselin" sahut Grea


" Sebentar lagi jam makan siang, pasti mulai ramai" ucap Caca setelah melihat jam dipergelangan tangannya.


" Iya, tuh sudah ada yang datang" Grea menunjuk dengan ekor matanya ke arah beberapa karyawan yang berjalan mencari tempat duduk

__ADS_1


" Tuh kan baru berapa menit udah nelpon" Grea menunjukkan layar ponselnya yang tertera My posesif husband kepada Caca. Grea sengaja mengubah namanya karena kesal suaminya begitu posesif


" Biarin aja ah gak usah gue angkat" Grea meletakkan ponselnya di atas meja


" Grea angkat itu, jangan cari masalah deh Grea!" Caca bergidik ngeri membayangkan Arvan marah


" Biarin aja" ucap Grea santai


Arvan sudah melakukan panggilan sebanyak 6 kali namun tidak gubris oleh Grea, dia malah cuek dan asik menyantap makanannya


" Gre gue takut laki loe ngamuk"ucap Caca


" Tenang aja Ca, santai !" ucap Grea


Tiba-tiba tanpa bicara Ricko yang baru saja datang bersama Emon langsung duduk di bangku yang berada di hadapan Grea dan Caca


" Hai Grea sudah lama ya kita gak ketemu?" sapa Ricko yang langsung membuat Grea dan Caca terperanjat kaget apalagi Caca yang ingat dengan peringatan sang presdir.


" Kalian ngapain sih duduk di sini? lihat tuh masih banyak meja yang kosong!" protes Caca dengan ketus


" Wissss... sabar Ca, Grea aja gak protes masa kamu yang protes sih, ya gak Grea?" Ricko mengerlingkan matanya


" Kenapa sih Ca kayak orang ketakutan gitu?" tanya Emon yang menangkap gelagat tidak tenang pada Caca


" Kalian duduk di sini pasti akan terjadi masalah besar, sebaiknya sebelum hal itu terjadi kalian cepat-cepat pergi deh!" pinta Caca dengan mata yang terus bergerilya kesana kemari


" Kamu itu sedang mencari siapa sih Ca?" tanya Emon yang memang sangat penasaran dengan sikap Caca


Caca menghela napas panjang " Kalian kalau sudah gak betah kerja disini itu bukan masalah tapi please ya aku masih ingin bekerja di sini jadi kalian cepat dong pergi dari sini!" ucap Caca yang merasa takut akan kemarahan Arvan


" Grea cabut yuk ah, nanti kena amuk gue gak mau nanggung resikonya apalagi loe barusan gak mengangkat telpo_" belum selesai dengan ucapannya Caca dibuat gemetar dengan sosok yang tengah berjalan kearahnya.


"Grea gue bilang apa , elo sih cari masalah aja!" ucap Caca dengan wajah yang sudah pucat


" Tenang Ca, ini urusan gue" sahut Grea.


"Loe kenapa Ca?" tanya Ricko


" Kalian sih gak mau pergi, m**pus gue!" ucap Caca mendengus kesal sementara Grea tetap bersikap tenang toh bukan dia yang salah tapi dua cowok yang berada di hadapannya yang duduk tanpa permisi.


" Pak Ricko sebaiknya bapak pergi dari sini sebelum tempat ini menjadi heboh" ucap Grea melirik sekilas.


Ricko dan Emon menoleh ke belakang dan melihat atasannya berjalan kearah mereka bersama asistennya yang mengekor di belakang.


" Cepat sana pergi, bikin masalah saja!" umpat Caca


Emon yang melihat raut emosi di wajah sang atasan langsung menarik paksa Ricko yang masih bergeming


" Ayok Rick!" ucap Emon seraya memaksa Ricko untuk pindah tempat


Dengan terpaksa Ricko ikut dengan Emon dan dengan langkah gontai mereka pindah tempat duduk.


Arvan menatap tajam Grea namun yang ditatap masih bersikap santai. " Ca sebaiknya loe duluan aja, sorry kalau gue udah ngerepotin loe" ucap Grea


" Tapi Grea_?"


" Gue gak apa-apa, loe tenang aja Ca!" ucap Grea


" Yaudah, gue duluan ya!" ucap Caca yang diangguki oleh Grea


" Ma..maaf pak permisi !" ucap Caca takut-takut


" Siapa yang menyuruh kamu pergi!"


Deg


Caca terasa sulit menelan salivanya saat mendengar suara sang atasan. jantungnya berdegup dengan kencang dan tubuhnya sedikit gemetar.


" Aku yang menyuruhnya" Sahut Grea


" Apa kau sudah berani membantah perintah ku?" tegas Arvan


" Apa kau ingin menunjukkan betapa berkuasanya kamu mas sehingga dengan seenaknya membentakku di tempat umum seperti ini? aku bukan pegawai mu mas yang bisa seenaknya kamu bentak disini, aku isterimu yang tengah mengandung anak mu, jika kamu tidak suka dengan sikap dan kebiasaan ku tidak masalah bagiku mas, tapi aku tidak terima jika kamu membentak ku!" ucap Grea santai tapi penuh penekanan pada setiap kalimatnya dan matanya pun sudah berkaca-kaca. Grea lalu beranjak dari duduknya


" Aku hanya ingin santai sejenak tanpa adanya kekangan !" ketus Grea lalu beranjak pergi begitu saja membuat Arvan yang sudah mode marah seketika tercengang dengan sikap isterinya.


Semua pusat perhatian para karyawan tertuju kearah atasannya karena mendapatkan tatapan tajam dari asisten Han semua langsung menunduk ketakutan.


Arvan langsung pergi mengejar Grea yang sudah pergi entah kemana. Arvan terus berlari mencari sambil menghubungi nomor ponsel Grea yang lagi-lagi diabaikan oleh Grea.


Arvan mengusap wajahnya kasar, seharusnya dia yang marah melihat Grea duduk satu meja dengan laki-laki lain bahkan mengabaikan panggilannya tapi kenapa yang terjadi justru sebaliknya Grea yang marah dan kini menghilang.


" Han cepat cari isteriku sampai ketemu!" perintah Arvan dengan tegas lalu kembali keruangannya dengan langkah gontai.


Ceklekk


Arvan masuk ke dalam ruangannya dengan langkah gontai. duduk di bangku kebesarannya lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


" Kamu pergi kemana sih sayang?" ucap Arvan sedikit frustasi dan mengusap wajahnya kasar.


Ceklekk

__ADS_1


__ADS_2