Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Memanjat


__ADS_3

Hampir setiap hari Arvan mengantarkan Grea pergi kuliah, walaupun diawali dengan pertengkaran karena Grea selalu menolak diantar pada akhirnya lebih memilih menyerah dari pada terus berdebat dan hasilnya pun akan sama Arvan yang selalu jadi pemenangnya.


Grea duduk di samping Arvan dengan wajah ditekuk karena pagi ini Grea yang merasakan mual tetap dipaksa meminum susu yang sudah Arvan buatkan khusus untuk Grea.


Saat ini Grea merasa sudah tidak tahan menahan perutnya yang seperti diaduk-aduk dan ingin segera mengeluarkan seluruh isinya.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Arvan yang melihat wajah pucat Grea.


Grea tidak menjawab karena tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya, Arvan yang sadar kalau sang isteri ingin muntah langsung menepikan mobilnya dan dengan cepat Grea turun dari dalam mobil untuk mengeluarkan semua yang sedari tadi ditahannya.


Arvan dengan telaten memijat tengkuk Grea dan sesekali mengusap punggungnya dengan lembut.


Grea menegakkan badannya dan mengusap mulutnya dengan tisu yang Arvan sodorkan kepadanya.


" Apa kamu sudah merasa baikkan?" tanya Arvan dengan cemas dan Grea pun mengangguk


" Sudah jauh lebih baik!" ucap Grea


" Apa kamu sering seperti ini?" tanya Arvan seraya menyodorkan sebotol minuman kepada Grea


" Tidak sering" sahut Grea


" Sebaiknya kita periksakan kondisi kesehatan kamu ke rumah sakit!" Arvan membantu Grea untuk masuk ke dalam mobil dengan sangat hati-hati.


" A..aku tidak apa-apa, lagi pula hari ini aku ada mata kuliah" tolak Grea dengan sedikit gugup


" Tapi kondisi kesehatan kamu jauh lebih penting dari itu" jawab Arvan


" Aku tidak mau ke rumah sakit" tolak Grea dengan tegas.


" Ya sudah kalau begitu aku akan mengantarmu pulang" Arvan hendak memutar balik arah mobilnya


" Aku tidak mau, aku mau kuliah saja!" sahut Grea


" Kuliah? dengan kondisi kamu seperti ini?" Grea mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Arvan


" Aku sudah bilang aku baik-baik saja" jawab Grea sedikit menaikkan intonasinya


" Aku sudah putuskan kalau kamu sebaiknya ikut denganku ke kantor" jawab Arvan tidak ingin ada penolakan


" Kamu ini kenapa sih, terus saja memaksa orang?" Grea nampak kesal dengan sikap Arvan yang menurutnya terlalu berlebihan


" Aku bukannya memaksa tapi aku sungguh khawatir dengan keadaan kamu sayang!" ucap Arvan dengan lembut lalu tersenyum tipis.


" Baiklah terserah sajalah!" ucap Grea pasrah


" Nah begitu dong kan bagus" Arvan mengacak-acak rambut Grea gemas


" Ish, kusut tau!" Grea menepis tangan Arvan dengan wajah cemberut dan melihat Grea yang tengah cemberut membuat Arvan semakin tertawa.


Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan akhirnya mobil Arvan sampai di parkiran yang dikhususkan hanya untuk dirinya sendiri.


Arvan keluar dari dalam mobil diikuti oleh Grea, mereka menuju ruangan Grea dengan menaiki lift khusus Presdir.


" Sayang kamu duduk dan istirahat saja di sini kalau merasa ngantuk kamu masuk saja kedalam" ucap Arvan seraya mengelus lembut pucuk kepala Grea


" Aku sebaiknya di dalam saja, kepala ku terasa pusing sedikit" ucap Grea memegang keningnya


" Ya sudah istirahatlah!" Arvan mengantarkan Grea masuk ke dalam kamar khusus yang berasa di ruangan Arvan.


" Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Arvan sebelum beranjak pergi dari kamar tersebut.


" Emmmm.. untuk saat ini sepertinya tidak ada, aku hanya ingin tidur" ucap Grea


" Sayang apa kamu benar-benar ingin tidur?" tanya Arvan dan Grea mengangguk pelan


" Apa perlu aku panggilkan dokter kesini untuk memeriksa kondisi kesehatan kamu sayang?" tanya Arvan dan Grea langsung menggelengkan kepalanya.


" Aku tidak apa-apa, istirahat sebentar juga akan baikkan, jangan terlalu berlebihan seperti itu " ucap Grea yang menganggap perhatian Arvan terlalu berlebihan untuknya.


" Berlebihan? jika menyangkut masalah isteri ku dan keluarga kecilku maka nyawa pun akan jadi taruhannya sayang, bagiku kamu dan calon anak-anak kita kelak adalah prioritas utama dari apapun itu" tegas Arvan membuat mata Grea membulat sempurna.


" Ap..apa maksudmu, ca.. calon anak-anak kita?" tanya Grea yang sedikit gugup dengan penuturan Arvan yang menurutnya mungkin Arvan sudah mengetahui perihal kehamilannya.


" Presdir ap.. apa kau _?" Grea menggantungkan ucapannya


Arvan menautkan kedua alisnya merasa kesal dengan ucapan Grea yang selalu memanggilnya Presdir.


" Aku suamimu sayang jadi jangan panggil aku Presdir, lagi pula kau sudah berhenti bekerja disini bukan?" Arvan beranjak dari duduknya dan hendak melangkah keluar


" Apa aku boleh bekerja di sini lagi?" tanya Grea sedikit ragu-ragu


" Apa? tadi kamu bilang apa?" tanya Arvan yang berbalik badan dan kembali berjalan menghampiri Grea yang duduk bersandar di headboard.


" A... aku, aku ingin bekerja di sini lagi Presdir!" ucap Grea takut-takut

__ADS_1


" Presdir?" Arvan kembali menautkan alisnya saat mendengar Grea memanggilnya Presdir


" Iya, kenapa memangnya? bukannya anda memang Presdir di perusahaan ini ?" tanya Grea dengan fakta yang ada.


" Iya kamu memang benar tapi Presdir ini juga suami kamu bila kamu lupa!" ucap Arvan dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Grea mengerucutkan bibirnya membuat Arvan nampak begitu gemas, apalagi saat ini Grea tengah hamil jadi auranya begitu terpancar


" Baiklah kamu boleh bekerja di sini tapi kamu harus mau menjadi sekretaris pribadi ku, bagaimana dengan tawaran ku baik bukan?" Grea hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar penuturan Arvan.


" Sekretaris pribadi? bukankah kamu sudah memiliki sekretaris, mbak Vivi dan juga sekretaris Hanan?" tanya Grea yang ingin menolak tawaran Arvan


" Kamu sekretaris pribadiku yang bekerja khusus mengurus semua keperluan ku!" ucap Arvan


" Kalau begitu apa bedanya dengan tugasku di rumah?" tanya Grea dengan wajah cemberut.


" Bedalah sayang, disini kamu bekerja kalau di rumah itu memang sudah kewajiban kamu melayani suamimu ini" ucap Arvan seraya tersenyum tampan.


" Sudah ah aku mau istirahat saja!" kesal Grea yang langsung memberingsut dan merebahkan dirinya di atas kasur lalu menarik selimutnya.


" Ya sudah istirahatlah, jika ingin makan sesuatu katakan saja" ucap Arvan sebelum beranjak pergi


" Benarkah?" ucap Grea dengan mata berbinar dan langsung beranjak dari tidurnya Arvan pun mengangguk mengiyakan


" Emmmm... apa boleh aku meminta rujak buah mangga muda?" tanya Grea hati-hati


" Rujak buah mangga muda, kamu ini sedang mengidam sayang!" Arvan langsung duduk di tepi tempat tidur dan senyum yang terukir di wajahnya


" A... aku hanya sedang ingin saja, tadi saat hendak masuk ke area kantor di depan gedung aku melihat ada pohon mangga yang buahnya sangat lebat, aku jadi kepingin mangga tersebut pasti rasanya sangat enak apalagi jika baru dipetik dari atas pohonnya." ucap Grea sedikit berdalih.


" Pohon mangga depan gedung kantor ini maksudnya?" Grea mengangguk cepat


" Ya sudah nanti aku akan meminta OB untuk memetiknya" ucap Arvan namun malah membuat Grea nampak seperti orang yang ingin menangis.


" Kamu kenapa kok wajah kamu sedih begitu?" tanya Arvan melihat Grea yang malah memperlihatkan wajah sendu


" Gak apa-apa" ucap Grea datar


" Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Arvan yang tahu jika Grea pasti sedih karena dia tadi mengatakan akan menyuruh OB untuk memetik buah mangga muda yang Grea inginkan andaikan Grea mengatakan yang sebenarnya jika saat ini dia tengah mengidam maka sudah tentu Arvan akan memetiknya sendiri, dia tidak akan peduli dengan omongan orang lain asalkan itu bisa membuat isteri dan calon bayinya senang.


" Apa kamu ingin aku yang memetiknya?" tanya Arvan membuat Grea langsung mendongak dan menatap ke arah Arvan dengan wajah berbinar.


" Andai saja kamu tengah hamil maka aku tidak akan peduli dengan jabatan ku sekalipun, aku pasti akan memetiknya untuk mu sayang!" ucap Arvan membuat Grea langsung menegang.


Jlepp


" Sayang!" panggil Arvan membuat Grea terkesiap dari lamunannya


" Ya sudah ayok ikut aku, kita petik mangganya sekarang karena jika siang hari maka akan banyak orang yang akan berlalu lalang." Arvan mengulurkan tangannya agar Grea ikut bersamanya.


" Emmm, aku tunggu di sini saja!" tolak Grea halus


" Kalau kamu disini aku bisa saja membelinya dari penjual buah " ucap Arvan membuat Grea mengerucutkan bibirnya


" Sudahlah ayok!" Arvan membantu Grea untuk beranjak dari tempat tidur


" Tapi bagaimana kalau karyawan tahu dan melihat aku berada bersama mu?" tanya Grea yang nampak khawatir.


" Kita disana dengan seorang OB jadi bilang saja kalau kau istrinya yang tengah hamil dan ingin memakan mangga muda karena aku atasan yang baik maka aku mengizinkannya" tutur Arvan yang langsung membuat wajah Grea berubah seketika


" Sebaiknya tidak usah!" kesal Grea yang kembali duduk di tepi kasur.


" Kenapa?" Arvan menaikkan satu alisnya


" Tidak kenapa-kenapa, aku sudah tidak berselera" ucap Grea berbohong


" Benarkah?" Grea mengangguk namun wajah memberengut.


" Ya sudah kalau begitu kau ikut aku untuk melihat pohon Mangga itu dan menyuruh OB untuk menebang pohonnya" ucap Arvan dengan tenang


" Apa, di tebang?" Arvan mengangguk dengan senyum penuh arti


" Kenapa ditebang?" tanya Grea yang nampak sedikit sedih karena ingin makan buah mangga tersebut namun ingin Arvan sendiri yang memetiknya.


" Ya karena kamu sudah tidak ingin mangga muda itu lagi kan?" Arvan dengan menahan tawanya.


" Si.. siapa bilang, aku mau sangat mau!" sahut Grea sedikit malu-malu


" Baiklah kalau begitu, ayok!"


Grea dan Arvan kini tengah berada di bawah pohon mangga yang Grea maksud ada Hanan dan juga seorang OB yang sedari tadi menatap bingung ke arah Grea dan atasannya.


" Jono cepat kau naik ke atas pohon mangga ini dan ambil beberapa buahnya untuk Presdir!" titah Hanan


" Baik pak Han!" ucap Jono dan langsung berdiri di bawah pohon mangga tersebut berancang-ancang untuk naik ke atas pohon mangga tersebut.

__ADS_1


" Tunggu!" ucap Arvan saat Jono sudah hampir naik ke atas pohon mangga tersebut.


" Iya Presdir" Jono pun menoleh ke arah Arvan dan menunduk hormat.


" Pergilah!" ucap Arvan membuat Grea dan Hanan tercengang begitu juga dengan Jono.


" Ba... baik Presdir saya permisi!" ucap Jono


" Presdir anda mau apa?" tanya Hanan terkejut karena Arvan tiba-tiba membuka jasnya.


" Pegang!" titah Arvan memberikan jasnya kepada Hanan.


" Presdir anda_?" mata Hanan membulat sempurna.


Arvan menoleh ke Grea yang nampak tercengang melihat Arvan yang hendak naik ke atas pohon mangga.


" Mas!" Cicit grea dan Arvan tersenyum tipis


" Emmmm... Presdir, apa anda yakin?" tanya Hanan hati-hati


" Tentu saja!" jawab Arvan tegas


" Tapi Presdir bagaimana jika ada yang melihatnya?" tanya Hanan nampak khawatir.


" Biar saya saja Presdir!"ucap Hanan menawarkan diri, bagaimana bisa seorang presdir ingin memanjat pohon mangga hanya untuk mengambilkan buah tersebut untuk seorang yang setahu mereka hanyalah seorang OG.


Arvan naik ke atas pohon mangga tersebut dan mengambil beberapa buah mangga untuk Grea, dengan mata berkaca-kaca Grea menatap Arvan yang masih berada di atas pohon mangga.


Arvan turun dengan membawa buah mangga yang Grea inginkan lalu memberikannya kepada Grea, dengan mata berkaca-kaca Grea menerima buah mangga muda tersebut dan tanpa di duga Grea langsung berhambur memeluk Arvan membuat Arvan terkejut begitu juga dengan Hanan.


" Sayang!" ucap Arvan membuat Grea langsung melepaskan pelukannya


" Ma... maaf!" ucap Grea yang seketika wajahnya jadi bersemu merah.


" Untuk apa minta maaf sayang?" Arvan mengusap pucuk kepala Grea dengan lembut


" Presdir sebaiknya kita kembali ke ruangan anda saya takut_!" ucap Arvan menjeda ucapannya


" Ayok sayang!" tanpa menghiraukan ucapan Hanan Arvan mengajak Grea pergi dari tempat tersebut.


Grea nampak berbinar saat berjalan bersama Arvan dengan buah mangga muda yang berada di tangannya.


" Emmmm... suamiku apa kamu tidak ingin mencicipinya. ini rasanya sungguh lezat !" ucap Grea sambil memakan mangga muda tersebut walaupun hanya dengan garam yang Hanan ambil dari pentri .


"Sekretaris Hanan apa anda tidak ingin mencicipinya?" tanya Grea yang melihat Hanan nampak menyipitkan matanya setiap kali Grea memasukkan potongan mangga muda kedalam mulutnya.


" Terima kasih nyonya muda!" tolak Hanan dengan sopan.


" Sayang!" panggil Arvan yang menatap lekat Grea yang tengah asik menikmati mangga muda yang Arvan petik sendiri.


" Hem!" jawab Grea mendongak sekilas lalu melanjutkan kembali memakan mangga muda tersebut.


" Sayang apa kamu yakin tidak sedang mengidam?" tanya Arvan hati-hati.


Jlepp


Grea menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah Arvan membuat Arvan mengerutkan keningnya.


" Sebenarnya aku...!" ucap Grea terjeda


" Apa?" tanya Arvan menunggu jawaban Grea


" Aku_"


" Huekk"


" Huekk"


" Huekk"


Belum sempat menjawab Grea perut Grea kembali terasa mual, Grea langsung berlari ke dalam kamar mandi dan Arvan yang cemas dengan keadaan Grea langsung mengikutinya.


" Sayang!" ucap Arvan sambil memijat tengkuk Grea


" Sebaiknya kau keluar saja!" pinta Grea


" Tidak" tolak Arvan tegas


" Aku tidak mau kamu melihatku seperti ini!" Grea berdiri dan mencoba menahan rasa mualnya namun tidak bisa.


" Sudah pergilah!" usir Grea


" Aku yakin sudah membuatmu seperti ini bagaimana mungkin aku pergi begitu saja" ucap Arvan membuat Grea melotot.


" Sudah jangan melotot seperti itu, apa sudah merasa baikkan?" tanya Arvan dengan seringai senyum diwajahnya.

__ADS_1


" Sudah lebih baik " jawab Grea dan sedetik kemudian Grea dibuat terkejut dengan aksi yang Arvan lakukan saat Grea merasakan tubuhnya melayang ke udara karena Arvan menggendongnya ala bridal style.


" Kau!" Arvan tersenyum tampan menatap Grea dengan wajah keterkejutannya


__ADS_2