Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Histeris


__ADS_3

Sesampainya di rumah di sakit, Arvan dengan tergopoh-gopoh membawa Grea berjalan di lorong rumah sakit menuju ruang UGD dengan Jimmy dan Caca yang mengekor di belakangnya.


" Sebelah sini tuan!" ucap salah satu suster mengarahkan.


Grea diletakkan di brankar dan beberapa orang dengan jubah putih masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan Grea.


Arvan berjalan bolak-balik di depan ruangan tersebut dan tidak lama terdengar suara beberapa orang yang datang dengan panik menghampirinya.


" Bagaimana keadaan putriku, kenapa semua ini sampai terjadi dengan putriku?" geram Alex yang mengetahui penculikan putri kesayangannya itu


" Daddy tenang dulu dadd, tahan emosi kamu. Arvan juga pasti tidak mau hal ini terjadi dengan isterinya" ucap mommy Marla berusaha untuk menenangkan suaminya


" Sayang bagaimana keadaan Grea?" tanya Mama Risma yang juga sangat mengkhawatirkan keadaan menantu kesayangannya itu


" Ini lagi-lagi ulah putri kalian, apa belum puas juga dia menyakiti keluarga kami?" ucap Alex penuh emosi


" Apa maksud mas Alex, apa hubungannya dengan putri ku?" tanya mama Risma


" Tanya saja pada putramu itu!" kesal Alex karena lagi-lagi ulah putri dari sahabatnya itu yang sudah membuat putra dan putrinya hampir celaka.


" Arvan coba jelaskan, apakah yang dikatakan daddy mu itu benar kalau semua ini ada kaitannya dengan adikmu Arin?" tanya mama Risma dengan gemuruh di dadanya.


Arvan tidak mampu menjawab tubuhnya lemas dan seketika memberingsut kelantai.


" Arvan jawab pertanyaan mama!" Risma berjongkok dan mengguncang bahu Arvan berkali-kali.


" Mah sudah mah hentikan" ucap Zaindra membantu isterinya berdiri


Risma menangis di pelukan suaminya " Pah apa papa juga tahu masalah ini, apa benar semua ada kaitannya dengan putri kita pah?"


" Jawab pah!" teriak Risma


Zaindra hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawabannya.


Tubuh Risma lemas seketika dan dengan sigap Zaindra membawanya ke dalam pelukannya lalu mendudukkan istrinya itu di kursi tunggu.


Marla yang melihat kondisi besannya itu juga merasa kasihan karena lagi-lagi putrinya berulah.


" Mah sebaiknya kamu istirahat saja dulu dan periksa kondisi kesehatan mu mah!" ucap Zaindra khawatir dengan kondisi kesehatan istrinya itu


Arvan tidak banyak bicara dia hanya diam saja memikirkan keadaan isterinya, ia sungguh takut isterinya mengalami depresi berat karena mengingat kejadian dimana isterinya begitu ketakutan bahkan menolak kehadirannya.


Ceklekk


Pintu ruangan terbuka dengan cepat Arvan langsung berdiri dan menghampiri dokter yang baru saja menyembul dari balik pintu.


" Dokter bagaimana keadaan isteri saya dokter?' tanya Arvan dengan wajah panik

__ADS_1


" Bapak tenang dulu ya" ucap sang dokter mengusap bahu Arvan " Sejauh ini tidak ada luka yang serius pada isteri bapak hanya saja_" ucapan dokter pria paruh baya itu terjeda


" Hanya saja apa dokter?" tanya Arvan penasaran


" Sepertinya isteri bapak mengalami sebuah guncangan batin yang cukup berat"


Deg


Arvan terhuyung ke belakang untung saja ada Jimmy yang berdiri tepat di belakangnya.


" loe harus sabar Van, saat seperti ini Grea sangat membutuhkan support dan semangat dari loe" ucap Jimmy memberi semangat untuk adik iparnya


" Saya harap kalian bisa menghiburnya dan membantu dia melupakan sesuatu yang membuatnya trauma dan ketakutan" ucap dokter tersebut.


" Baik dokter, terima kasih!" ucap Alex karena Arvan masih nampak syok dan begitu merasa bersalah atas kejadian yang menimpa isterinya tersebut.


" Sama-sama tuan, kalau begitu saya mohon pamit " ucap dokter dengan sopan sebelum beranjak pergi.


" Tadi loe lihat sendiri kan Jim bahkan Dira begitu ketakutan saat melihat gue!"


" Loe enggak boleh pesimis Van, adik gue butuh loe. kalau loe kayak gini bagaimana nasib Grea dan anak loe Van"


Arvan terdiam dan memberingsut kelantai Jimmy ikut berjongkok mensejajarkan tingginya.


" Gue memang suami yang tidak becus, gue bahkan tidak bisa menjaga dan melindunginya" Arvan meremas rambutnya kasar Jimmy yang melihatnya pun merasa tidak tega.


" Arin!" geram Arvan mengepalkan tangannya kuat


" Van loe yang sabar, jangan pikirkan yang lain dulu karena saat ini yang terpenting adalah keadaan Grea" ucap Jimmy mengingatkan karena dia tahu Arvan sedang marah besar terhadap adiknya yang selama ini ia selalu manjakan.


Grea sudah dipindahkan ke ruangan VVIP Arvan dengan setia duduk di samping brankar Grea tatapannya pun tidak pernah lepas dari wajah Grea yang nampak pucat dengan tangan yang tertanam jarum infus.


" Maafkan aku sayang!" lirih Arvan dengan bulir bening yang entah sejak kapan mengalir dari sudut matanya.


Semua keluarga menunggu duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut memperlihatkan Grea dan Arvan yang terlihat terisak.


Alex hanya bisa membuang napas kasar meskipun Arin adik kandung Arvan akan tetapi bagaimanapun juga Arvan adalah suami dari putrinya yang begitu saling mencintai, menyalahkannya pun percuma karena melihat Arvan yang begitu terguncang membuat hatinya pun merasa iba.


" Sayang, sebaiknya kamu makan dulu sudah dari kemarin kamu belum makan, bagaimana kalau kamu jadi jatuh sakit nak siapa yang akan menjaga isteri mu?"bujuk mama Risma yang tidak direspon sedikit pun oleh Arvan.


Mata yang sembab penampilan yang berantakan dengan wajah yang nampak kusut Arvan terlihat sangat memperihatinkan.


Mama Risma tidak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi putranya dan juga menantunya yang masih belum sadarkan diri.


" Sayang buka matamu nak!" panggil mommy Marla dengan air mata yang sudah berlinang di pipi


" Apa kau akan terus menghukum ku atas kebodohan dan juga kelalaian ku? apa kau ingin terus diam seperti ini, mengabaikan ku dan tidak peduli dengan keadaan ku dan juga putri kita Queensy" ucap Arvan terdengar begitu lirih

__ADS_1


Arvan mengusap air matanya dengan kasar rasanya sungguh sakit dan menyesakkan dada wanita yang begitu sangat dicintainya terbaring lemah diatas tempat tidur.


" Sayang aku mohon jangan hukum aku seperti ini, bangunlah sayang!" ucap Arvan yang tanpa sadar airmatanya jatuh tepat di mata Grea saat Arvan mengecup keningnya


Tesssss


Grea merasakan ada sesuatu yang basah mengenai matanya tiba-tiba mengerjap dan sedetik kemudian mata itu terbuka sempurna namun saat netranya melihat Arvan berdiri di hadapannya tiba-tiba.....


" Aaaaaaa...., pergi... pergi... aku mohon menjauhlah jangan sentuh aku, aku mohon, menjauhlah!" teriak Grea histeris membuat Arvan terkejut dan panik


Semua yang berada di ruangan tersebut terkejut mendengar teriakkan Grea yang histeris terutama Alex yang dengan cepat langsung menghampiri putrinya dan langsung memeluknya.


"Sayang ini daddy sayang, lihat daddy nak ini daddy!" ucap Alex mengurai pelukannya dan meminta Grea menatapnya


" Daddy...!" Grea berhambur ke pelukan Alex dengan tangis yang pecah.


" Tenang sayang ada daddy di sini nak!" Alex mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang


" Dek!" Grea kembali histeris saat melihat orang-orang yang berada di ruangan itu yang menenggelamkan wajahnya di pelukan daddy-nya dengan penuh ketakutan.


" Sebaiknya kalian keluar dulu biarkan pasien tenang, saat ini kondisi psikisnya sedang tidak stabil" ucap dokter yang menangani Grea


Grea baru saja tertidur setelah dokter memberinya obat penenang.


Arvan semakin kacau karena melihat keadaan isterinya yang begitu ketakutan saat melihat dirinya.


" Kamu yang sabar, daddy yakin Grea akan segera kembali pulih seperti sedia kala, mungkin saat ini dia baru nyaman dengan daddy karena dia adalah putri kesayangan daddy yang sejak kecil sangat dekat dengan daddy, setiap kali dia sakit maka daddy lah yang ia cari. kamu harus sabar dan urus dirimu dengan baik jangan seperti ini berantakan dan tidak karuan. bagaimana Grea tidak histeris melihat mu kalau penampilan mu saja berantakan seperti ini. Pulang lah dulu bersihkan dirimu dan jangan lupa makan, setelah itu kau bisa temui putriku lagi. jika kau berpenampilan seperti ini jangan harap kau bisa menemui putriku" ucap Alex terdengar sangat tegas namun cukup menenangkan.


Arvan yang sedang duduk di pojok sofa dengan wajah yang tertunduk langsung mendongak saat bahunya dipegang oleh Alex


" Daddy!" lirihnya


" Pulang lah dulu, ini hanya soal waktu. Grea pasti akan segera mengenalimu sebagai suaminya"


" Iya daddy!" Arvan beranjak dari duduknya


" Kami juga pamit pulang dulu Lex, jika ada sesuatu tolong kabari kami!" ucap Zaindra


" Iya!"


" Maafkan putriku mas, aku sungguh merasa bersalah karena tidak bisa mendidik anak ku dengan baik" ucap lirih mama Risma


" Jangan pikirkan soal itu dulu, yang terpenting saat ini adalah kesembuhan putriku. soal putri kalian aku serahkan sepenuhnya pada kalian berdua' ucap Alex


" Terima kasih mas!" ucap mama Risma


" Terima kasih Lex!" ucap Zaindra

__ADS_1


Arvan pulang bersama dengan kedua orang tuanya, sementara Alan dan Caca sudah pulang lebih dulu itu juga Alan yang memaksanya untuk pulang karena Caca bersikeras ingin tetap tinggal.


__ADS_2