
" Bisa gak loe lepasin tangan Grea?"
" Ini bukan urusanmu, sebaiknya kau pergi sekarang juga dari sini kalau gak_!" Arvan menggantungkan ucapannya
" Atau apa? loe mau mukul gue? ayo pukul, gue gak takut!" tantangnya.
" Kurang ajar!" Arvan menarik kerah baju Jojo dengan kasar namun Jojo sedikitpun tidak takut dia malah tersenyum kecut.
" Sudah hentikan!" teriak Grea membuat Arvan dan Jojo menoleh ke arah Grea.
Arvan melepaskan tangannya dari kerah baju Jojo dan mendorongnya cukup kuat hingga Jojo mundur beberapa langkah.
" Cukup mas, aku mau pulang sekarang!" ucap Grea yang sudah merasa geram dengan sikap Arvan dan juga Jojo yang sama-sama emosian
" Bang Jo maaf ya, thanks ya loe udah care sama gue!" ucap Grea
" Santai Grea, dan kalau laki-laki ini nyakitin loe please loe bilang ke gue Gre. gue pastikan akan memberinya pelajaran" ucap Jojo
" Iya, bang Jo memang sahabat gue yang paling baik" ucap Grea
" Ayo sayang, katanya mau pulang!" ucap Arvan menarik tangan Grea.
" Bang Jo gue duluan ya!" pamit Grea
" Iya Grea, hati-hati jaga diri loe dan kandungan loe dengan baik ya!" ucap Jojo sebelum grea, yang pergi
" Iya bang!" Grea tersenyum dan pergi bersama Arvan
🖤
Didalam mobil Grea hanya diam saja membuang pandangannya ke arah jendela.
" Sayang kita perlu bicara!" ucap Arvan melirik sekilas Grea yang masih diam saja
" Gak ada lagi yang perlu dibicarakan mas" sahut Grea tanpa menoleh
" Greandira ini cuma salah paham, kamu harus mendengarkan dulu penjelasan aku setelah itu terserah jika kamu masih mau marah atau tidak!" ucap Arvan yang langsung membanting stir mobilnya ke kiri.
" Mas kenapa berhenti aku mau pulang!" teriak Grea
" Dira dengarkan aku dulu, sebentar saja!" pinta Arvan
" Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran!" seru Grea
Arvan menghembuskan nafasnya kasar sebelum menjelaskan semuanya dan melepaskan seatbeltnya lalu menghadap ke Grea.
" Sayang wanita yang kamu lihat tadi itu adalah wanita yang waktu itu pernah aku ceritakan sama kamu, namanya Talita kamu masih ingatkan?" tanya Arvan dan Grea mengangguk.
" Kamu harus percaya sama aku sayang, karena aku sama dia memang tidak memiliki hubungan apa-apa, salahnya aku memang pernah memintanya untuk menjadi kekasih bayaran ku dulu saat Arin ingin menikah, seandainya saja aku bertemu denganmu lebih dulu aku pasti tidak akan berbuat hal konyol seperti itu menjadikan dia sebagai kekasih bayar dan berujung seperti ini" tutur Arvan menjelaskan.
Grea menggeser duduknya dan menghadap Arvan mencari kebohongan dari manik mata Arvan namun tidak ada yang ada tatapan sendu dan kejujuran yang tulus.
"Sayang aku mohon percayalah dengan ku, aku berani bersumpah demi apapun, hanya kamu wanita satu-satunya yang ada di hati aku yang sangat aku cintai. jangan diamkan aku seperti ini sayang aku tidak sanggup" ucap Arvan meraih tangan Grea dengan tatapan mata memohon
" Lalu kenapa kalian berpelukan jika tidak ada hubungan apa-apa?" tanya Grea ketus
" Sayang bukan berpelukan tapi dia yang sengaja memelukku. aku bahkan langsung mendorongnya tapi kamu sudah lebih dulu masuk ke dalam lift!" sahut Arvan masih memegang tangan Grea walaupun Grea sudah berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arvan.
" Dia itu tidak ada apa-apanya sayang jika dibandingkan dengan mu" tutur Arvan
" Kamu itu terlalu berharga sayang jika dibandingkan dengannya. Kau tahu dia justru akan merasa menang jika kamu cemburu dan membenciku karena itu memang tujuannya" lanjutnya
" Dia begitu berambisi ingin bersama ku dan jika kamu seperti ini dia akan senang dan sama saja kamu memberi kesempatan untuk dia semakin mendekati ku" ucap Arvan sengaja memanasi Grea
" Apa kamu mau dia merebutku dari mu?" tanya Arvan membuat Grea melotot dan seketika menatap Arvan dengan tajam.
" Coba saja kalau berani, aku tidak akan membiarkan anakku kehilangan papahnya!" ucap Grea geram
" Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang, hem?" tanya Arvan
" Apa kamu masih marah dan membiarkan dia tertawa melihat kita bertengkar?" tambahnya
" Aku masih marah dan tentu saja aku a, menjauhkan wanita ular itu dari mu!" ucap Grea dengan emosi yang sudah naik
" Sayang, sudah... sudah... kamu jangan emosi seperti itu kasihan anak kita sayang!" ucap Arvan dengan lembut meredam emosi sang isteri lalu mengelus perut Grea dan mendaratkan kecupan di sana.
" Sudah ya sayang jangan marah-marah lagi, kasihan calon baby kita!" ucap Arvan mengecup kedua punggung tangan Grea.
" Sayang kamu percayakan sama aku? aku janji sayang, aku tidak akan membiarkan wanita itu dekat-dekat dengan ku lagi !" ucap Arvan tulus dan Grea mengangguk lalu tersenyum
" Janji ya mas, gak ada yang boleh memeluk tubuh mas lagi selain aku!" pinta Grea
" Iya sayang, aku janji!" Arvan mengacak-acak rambut Grea
" Peluk!" rengek Grea tiba-tiba manja
Arvan tersenyum senang dengan tanpa membuang waktu Arvan langsung memeluk Grea penuh cinta.
" Kita pulang sekarang ya, kita lanjutkan di rumah!" ucap Arvan mengedip-ngedipkan matanya setelah mengurai pelukannya dan kembali dengan posisinya memakai seatbelt lalu menyalakan kembali mesin mobilnya menuju apartemen
__ADS_1
" Dasar mesum!" ucap Grea seraya mengerucutkan bibirnya.
"Mesum dengan isteri sendiri itu ibadah sayang" sahut Arvan melirik sekilas seraya terkekeh dan Grea hanya memutar bola matanya malas.
" Mas aku lapar!" ucap Grea yang tiba-tiba merasa perutnya minta diisi.
" Lapar? yaudah kamu mau makan apa hem?" tanya Arvan dengan suara yang sangat lembut
" Rujak " jawab Grea singkat
" Kok rujak sih yang, katanya lapar masa makannya rujak?" ucap Arvan menengok sekilas sambil fokus mengemudi
" Ya ini anakmu yang mau makan rujak!" Grea mengusap-usap perutnya
" Benar sayang kamu mau makan rujak seperti yang barusan mama bilang, hem?" tanya Arvan dengan meletakkan tangan kirinya diperut Grea
Arvan seketika terkejut karena merasakan pergerakan pada perut Grea dan langsung menghentikan laju mobilnya.
" Sayang ini?" tanya Arvan yang masih terkejut
dan Grea mengangguk paham melihat raut wajah bingung sang suami.
" Dia bergerak!" ucap Arvan dengan mata berbinar
" Aku merasakannya sayang!" Arvan membuka seatbeltnya dan mendekatkan wajahnya ke perut Grea.
" Mas jangan seperti ini, nanti kalau dilihat orang mereka akan salah paham!" Grea merasa jengah sendiri walaupun berada di dalam mobil yang tertutup dan kaca mobil yang gelap tetap saja merasa takut pasalnya mereka berhenti di tempat yang cukup ramai orang berlalu-lalang.
" Tapi aku ingin merasakan pergerakan anak kita sayang" ucap Arvan dengan wajah bahagianya
" Mas cepat lajukan mobilnya kembali aku mau pulang!" ketus Grea karena Arvan masih saja bergeming seraya menempelkan pipinya diperut Grea.
" Iya, kita beli rujak dulu ya!" Arvan mengusap perut Grea dengan lembut
" Tidak usah!" ucap Grea dengan wajah cemberut
" Iya maafkan aku sayang. kita beli rujak dulu ya setelah itu kita baru pulang" ucap Arvan dengan sangat lembut.
Arvan pun kembali melajukan mobilnya dan berhenti di tukang rujak, setelah membeli rujak Arvan dan Grea pulang ke rumah mommy-nya karena pada saat Arvan membeli rujak mommy menelponnya dan memintanya untuk datang ke rumah.
Mobil yang Grea dan Arvan tumpangi kini telah terparkir di kediaman rumah Alexander.
" Assalamu'alaikum!" ucap Grea dan Arvan bersamaan.
" Wa'alaikum salam" sahut mommy. Grea dan Arvan menyalami punggung tangan mommy-nya.
" Lusa mommy akan pergi ke Korea dengan abangmu Jimmy." ucap mommy memberitahu
" Ke Korea, untuk apa mom?"
" Mengajak Jimmy berlibur, setidaknya dia bisa menenangkan pikirannya disana"
" Lalu Daddy?" tanya Grea
" Daddy mu sudah lebih dulu disana, ada urusan bisnis jadi nanti mommy dan Jimmy akan langsung bertemu di sana!"
" Lalu perusahaan siapa yang urus?"
" Ada sekretaris Jimmy yang akan mengurusnya"
" Bang Roy?" mommy mengangguk
" Berapa lama kalian disana?" tanya Grea
" Mungkin 2 mingguan bisa juga lebih karena mommy sekalian ingin mengunjungi bibimu yang ada di Korea"
" Bibi Nita?" tanya Grea
" Iya, dan kabarnya dia juga tengah hamil dan usia kandungannya tidak jauh dengan mu 15 Minggu" sahut mommy Marla
" Wah seru ya pastinya bisa kumpul disana" Grea nampak sendu
" Kita nanti bisa kesana jika kamu sudah melahirkan" tutur Arvan yang melihat wajah sendu sang isteri
" Itu masih terlalu lama" Grea nampak cemberut
" Tidak apa-apa sayang sekalian kita berbulan madu" ucap Arvan
" Bulan madu apa? sudah punya anak baru bulan madu " kesal Grea
" Tidak masalah sayang, siapa tahu setelah pulang dari bulan madu kita dikasih calon anak ke dua" sahut Arvan tersenyum
" Ngomong apa sih mas, yang ini saja belum lahir sudah membicarakan anak kedua, kamu yang enak aku yang repot " Grea melirik tajam
Arvan malah tertawa mendengar ocehan Grea yang menurutnya sangat menggemaskan.
" Kamu kalau mau menyusul juga gak apa-apa!" ucap mommy
" Mas!" Grea menoleh ke arah Arvan
__ADS_1
" Aku tidak bisa sayang, kamu kan tahu sendiri kerjaan aku sangat menumpuk. lain waktu saja ya!" sahut Arvan yang mengerti arti tatapan Grea
" Yaudah kalau begitu biar aku saja yang ikut dengan mommy" usul Grea
" Tidak bisa seperti itu sayang, masa kamu mau meninggalkan suami kamu sendirian. aku mana bisa tidur tanpa kamu disamping aku" protes Arvan yang tidak setuju dengan usul Grea
" Lagi pula jika kamu pergi, apa kamu tidak keberatan jika wanita itu semakin melancarkan aksinya mendekati dan menggoda suamimu ini?" bisik Arvan membuat Grea melotot tajam
" Tidak boleh, awas saja kalau kamu macam-macam dan menimpalinya" kesal Grea
" Ya mana aku tahu akan terjadi apa kalau dia terus menerus menggodaku, apalagi isteriku saja tidak memperdulikan aku dan lebih memilih berlibur" bisik Grea kembali lalu pamit kepada mommy Marla untuk naik ke kamar Grea dengan alasan istirahat.
" Mom, pamit mau istirahat dulu ya!" ucap Arvan
" Yaudah sana!"
" Mas kita belum selesai bicara" teriak Grea namun Arvan bersikap santai dan terus melangkah menaiki anak tangga seraya melambaikan tangannya kepada Grea.
" Ngeselin ih!" Grea cemberut
" Suami tidak mengizinkan?" tanya mommy
" Iya!" Grea mengangguk pelan
" Mungkin dia tidak ingin kamu berada jauh darinya apalagi kamu tengah hamil pasti kekhawatirannya semakin bertambah" sahut mommy Marla
Grea menghela napasnya berat dan tanpa terasa rujak yang dibawanya tadi pun habis dimakan.
"Sudah sana susul suami mu, ingat jika suami tidak mengizinkan kamu pergi maka turuti perintah suami. jangan ngebantah." pesan mommy Marla
" Iya Mom" sahut Grea
Grea pergi ke kamar menyusul Arvan dan saat sudah berada di dalam kamar Grea tidak melihat keberadaan Arvan
" Kemana dia?" batin Grea
Mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi sudah dipastikan suaminya berada di dalam kamar mandi tersebut. Grea mengambil baju salin untuk Arvan karena didalam lemari tersebut sudah ada beberapa baju Arvan yang sengaja ditinggal.
Ceklekk
Arvan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang.
Arvan berjalan mendekati Grea yang tengah rebahan di atas kasur. dan tanpa aba-aba Arvan langsung loncat ke atas kasur dan mengukung Grea.
Sontak Grea terkejut dengan sikap suaminya yang tiba-tiba sudah berada di atasnya.
" mas mau apa?" tanya Grea sedikit gugup
" Mau apalagi, ya mau meneruskan yang tertunda"
" Maksud mas?" tanpa menjawab Arvan langsung melancarkan aksinya membungkam mulut Grea dengan bibirnya.
" Emm.." Grea hendak protes namun Arvan tidak memberi kesempatan sedikitpun sampai akhirnya Grea pun pasrah dan menikmati setiap sentuhan lembut suaminya.
Grea lama-lama membalas perlakuan Arvan dan sedetik kemudian Grea bersikap lebih agresif membuat Arvan tersenyum senang.
Akhirnya keduanya pun menikmati penyatuan mereka dengan Arvan yang kembali memimpin dan memperlakukan Grea dengan sangat lembut karena mengingat kondisi isterinya yang tengah hamil.
Setelah selesai keduanya pun tertidur pulas karena kelelahan.
🖤
Malam harinya Grea dan Arvan pamit untuk pulang dan pada saat mereka berada di depan rumah mereka berpapasan dengan Jimmy yang baru saja pulang.
" Bang Jimmy dari mana kok baru pulang jam segini?" tanya Grea khawatir
" Dari apartemen Roy, loe kapan datang?" tanya Jimmy
" Tadi siang, yaudah gue pamit pulang ya bang!"
" Iya, hati-hati Van bawa mobilnya"
" Iya tenang aja Jim!" ucap Arvan
Grea dan Arvan pun sudah berada di dalam mobil dan 30 menit kemudian mereka sudah sampai di apartemen.
Grea langsung mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur pergulatan panas dengan suaminya membuat ibu hamil yang satu ini masih merasakan efek kelelahannya dan tidak butuh waktu lama Grea pun sudah tertidur pulas.
Arvan yang melihat Grea tertidur pulas membiarkan isterinya beristirahat karena dia sadar kalau dirinyalah yang sudah membuat Grea kelelahan.
Arvan menyelimuti Grea hingga kedada setelah itu mengecup keningnya sebelum pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Arvan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut saat Han memberitahu kalau Talita sudah membuat perusahaan kembali heboh dengan pernyataannya yang mengaku sebagai calon isteri Arvan.
(Han kau urus semuanya, aku tidak mau besok saat Grea datang ke perusahaan ada berita yang tidak pantas isteriku dengar. aku tidak mau Grea salah paham)
Pesan yang dikirim Arvan ke sekretaris Hanan.
Merasa sedikit pusing akhirnya Arvan memilih untuk kembali pergi ke kamar, lalu membaringkan tubuhnya di sisi sang isteri dan memeluknya. tidak berapa lama Arvan pun ikut terlelap.
__ADS_1