
Jimmy menghela nafas kasar melihat sosok wanita yang sudah berulang kali ingin ia hindari, meskipun didalam hatinya tidak dapat ia pungkiri rasa itu masih ada tapi untuk bersama kembali itu sesuatu yang tidak mungkin lagi karena rasa kecewanya lebih besar dari rasa cinta yang tersisa.
Kembalinya Arin sebenarnya hanya memperkeruh keadaan selain hatinya yang ingin ia buka untuk orang lain rumah tangga adiknya pun akan terusik dengan sikap Arin yang seakan terus berusaha mengejar kembali cintanya.
" Untuk apa kamu kemari?" tanya Jimmy yang enggan menatap Arin dan menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas yang ada di atas meja.
" Tidak bisakah kamu mempersilakan aku duduk terlebih dulu?" tanya Arin yang berjalan mendekat ke meja kerja Jimmy.
" Duduklah di sana!" Jimmy menunjuk ke sofa yang ada di depan meja kerjanya lalu pandangan matanya kembali ke berkas-berkasnya.
Arin yang tidak tahu malunya tidak menggubris ucapan Jimmy dan sengaja mendekat.
Jimmy tersentak kaget saat tangan Arin tiba-tiba sudah mendarat di pundaknya. Jimmy refleks menggeser duduknya tatkala melihat Arin yang sudah berdiri di sampingnya.
" Jaga sikapmu Arin atau silahkan pergi dari ruangan ku!" tegas Jimmy yang langsung beranjak dari duduknya dan menjauh dari Arin
" Jimmy kenapa kau tega bersikap sedingin ini padaku, aku yakin kamu pasti masih mencintai aku iya kan? bisakah kau bersikap seperti dulu lagi aku sangat merindukanmu Jimmy" ucap Arin yang hendak melangkah mendekat ke arah Jimmy.
" Cukup Arin, jangan bicara omong kosong lagi!" sentak Jimmy
" Jika sudah tidak ada hal penting lagi yang ingin kamu bicarakan sebaiknya kamu pergi" tegas Jimmy
" Jimmy kenapa kamu berubah sekarang, aku mencintaimu dan kamu juga masih mencintai aku kan jadi kenapa kamu bersikap dingin seperti ini?" Arin mengeluarkan senjatanya mencari perhatian Jimmy dengan pura-pura menangis.
Jimmy yang memang tidak bisa melihat wanita menangis hanya bisa menghela napasnya panjang.
" Sudahlah Arin, jangan buang-buang airmatamu hanya untuk sesuatu yang sia-sia. hubungan kita sudah berakhir dan tidak mungkin untuk kita bersama lagi" ucap Jimmy berusaha untuk tenang
" Tidak Jimmy, jangan bicara seperti itu. kita pasti bisa bersama lagi aku akan meminta kak Arvan untuk mengalah dan meninggalkan isterinya,aku yakin kak Arvan pasti akan memenuhi keinginan ku apalagi dia dan Grea menikah tanpa cinta, pasti itu tidak akan sulit untuk mereka dan dengan begitu kita bisa bersama lagi Jimmy" ucap Arin tanpa merasa bersalah
" Benarkah, apa kakakmu akan melepaskan adikku demi dirimu adik kesayangannya?" Jimmy tersenyum miring mendengar penuturan bodoh dari wanita yang kini berada di hadapannya.
" Tentu saja karena wanita didunia yang paling dia sayangi hanya aku " ucap Arin dengan percaya diri.
" Silahkan saja kau bicarakan hal ini kepada kakakmu apakah dia akan setuju dengan ide gila mu itu!" ucap Jimmy merasa muak dengan sikap Arin yang semakin berlebihan.
" Tunggu saja kabar dariku, aku akan pastikan kalau kakakku pasti akan meninggalkan isterinya yang manja itu" tegas Arin
" Dan satu hal pula yang harus kamu tahu Arindia putri Zaindra, jika kamu berani menyakiti Greandira adik kesayanganku sedikit saja maka aku akan pastikan seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkan mu dan jangankan untuk bersama melihatmu pun aku tidak akan sudi" ucap Jimmy penuh dengan penekanan pada setiap kata-katanya.
Deg
Arindia terasa sulit menelan salivanya ia lupa isteri dari kakaknya tidak lain adalah adik kesayangan pria yang kini berdiri di hadapannya
" Sudahlah sebaiknya kamu pergi dari ruangan ku sekarang juga atau mau aku panggil pihak keamanan!" Jimmy berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut dengan lebar.
" Jimmy kenapa kamu setega ini?" Arin mengusap air matanya kasar
" Ini mungkin berat tapi ini yang menjadi pilihan mu sebelumnya bukan? jadi jangan salahkan aku yang bersikap kejam tapi cobalah berpikir siapa yang memulai semuanya dan siapa juga yang sudah mengakhirinya dengan sepihak" Arin terdiam seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dirinya.
Arin pergi dengan kesal harapannya ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi.
Jimmy kembali duduk di kursi kebesarannya dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
🖤
Sementara Caca hari ini meminta izin tidak masuk kerja, ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu. kejadian kemarin sempat membuat Caca sedikit syok dan harus bersikap lebih hati-hati lagi jika berada di dekat Micko.
Caca benar-benar tidak habis pikir kenapa Micko bisa bersikap seperti itu, padahal mereka sudah bersahabat cukup lama dan selama jalan bareng pun Micko adalah sosok pria yang cuek tapi juga perhatian. Selama menjalin hubungan pun tidak ada sikap yang aneh pada Micko, dia tetap perhatian dan selalu bersikap lembut pada Caca.
Ponsel Caca yang berada di atas nakas berdering, Caca yang tengah berdiri di balkon kamarnya pun menoleh lalu berjalan masuk kedalam kamar untuk meraih ponselnya.
" Assalamu'alaikum"!
..." Wa'alaikum salam, loe lagi dimana?"...
" Di rumah, kenapa memangnya?"
..." Loe gak masuk kerja?"...
" He...he... sorry bu bos, hari ini gue izin ya gak masuk!"
..." Kenapa? loe sakit?"...
" Gak, gue gak apa-apa"
..." Terus kenapa gak masuk?"...
" Gue lagi kurang enak badan aja sedikit, butuh istirahat sebentar"
..." Itu namanya loe sakit"...
" Gue gak apa-apa Greandira, gak usah khawatir besok juga gue masuk kok. libur sehari gak bikin suami loe bangkrut kan?" seloroh Caca
..." Loe libur seminggu juga suami gue gak akan bangkrut"...
" Uhhh... sombongnya Bu bos"
..." Serius, Kalau loe masih kurang sehat loe istirahat aja gak usah masuk dulu nanti gue yang izinin sama suami gue, dia pasti gak akan keberatan kok"...
" Iya, thanks ya Grea loe emang sahabat terbaik gue"
__ADS_1
..." Iya, sama-sama. Semoga cepat sembuh ya Ca!"...
" Amin. thanks Grea"
..." Siapa yang sakit dek?" tiba-tiba terdengar suara bariton yang cukup Caca kenal dari seberang telpon....
..." Caca bang yang sakit, hari ini gak bisa masuk kerja"...
..."Sakit apa?"...
..." Gak tau"...
Jimmy mengangguk pelan
..." Bang Jimmy ngapain kesini tumben banget?" tanya Grea merasa heran dengan kedatangan kakaknya ke kantor suaminya...
..." Memangnya gak boleh Abang kesini?" Jimmy duduk di salah satu sofa sementara Arvan tengah berada di ruangan meeting bersama sekretaris Hanan....
..." Arvannya mana dek?" tanya Jimmy...
..." Sedang rapat"...
..." Ya sudah kalau begitu Abang balik kantor aja lagi, yang abang mau temui juga tidak ada"...
..." Siapa?" tanya Grea...
..." Apa harus Abang jawab?"...
Grea terkekeh sendiri, mengingat kakaknya pasti datang untuk bertemu dengan suaminya.
" Grea...Grea...!" panggil Caca dibalik sambungan telepon yang masih berada di genggamannya.
..." Ah iya, sorry Ca. ah gara-gara bang Jimmy nih gue jadi lupa"...
" Gak apa-apa Gre, yaudah gue istirahat dulu ya Grea"
..."Iya Ca!"...
" Assalamu'alaikum!"
..." Wa'alaikum salam!"...
sambungan telpon pun terputus. Grea memilih untuk pulang karena di rumah baby Gracia pasti sudah menunggunya untuk diberi ASI.
•••
Malam pun tiba, Caca yang sedang duduk di depan teras rumahnya dikejutkan dengan kedatangan pria yang sangat ingin ia hindari.
Caca bergegas bangkit dari duduknya namun pergerakannya kurang cepat karena pria tersebut sudah melangkah dengan cepat dan mencekal pergelangan tangannya.
" Gue lepas tapi izinkan gue bicara sebentar!" ucapnya
"Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, semuanya sudah sangat jelas dan gue harap loe jangan pernah muncul lagi di hadapan gue, mengerti!" tegas Caca hendak berjalan masuk ke dalam rumahnya.
" Kita perlu bicara Ca, gue gak mau mereka salah paham dan menduga kita dalam keadaan tidak baik-baik saja"
Caca menghela napasnya berat" Tapi itu kenyataannya, kita memang tidak dalam keadaan baik-baik saja dan mulai sekarang jika loe melihat gue alangkah baiknya loe segera pergi dan jangan muncul lagi berpura-pura semua tidak pernah terjadi apa-apa, karena itu sangat memuakkan" Caca dengan kasar menutup pintu rumahnya membuat Micko sampai terjingkrak karena kaget.
" Ca!" teriak Micko mengambang karena Caca sudah lebih dulu menutup pintu rumahnya.
" Gue suka sikap loe Ca, semakin kesini loe jadi tambah menggemaskan. kenapa gue baru menyadarinya setelah gue mencampakkan loe ya,..akh...!" Micko mengusap wajahnya kasar seraya menatap pintu rumah Caca yang tertutup.
Di dalam kamar Caca kembali menitikkan air matanya, sikap dan perilaku Micko benar-benar membuatnya semakin sakit dan kecewa.
Dengan santainya Micko hanya memikirkan pandangan para sahabatnya dan sama sekali tidak memikirkan perasaannya yang sudah berulang kali ia sakiti.
Caca menangis sesenggukan dan berusaha untuk meluapkan emosinya.
Tok..
Tok
Tok
" Non Caca!" panggil art yang bekerja di rumah Caca
" Iya bi ada apa?" tanya Caca seraya berteriak dari dalam kamar
" Itu non ada yang mencari non Caca"
" Siapa bi?" tanya Caca yang saat ini sudah berdiri di depan pintu
" Kurang tahu non"
" Cewek apa cowok bi tamunya?"
" Laki-laki non!"
" Siapa ya bi?" Caca sedikit berpikir sejenak
" Tapi bukan laki-laki yang pakai kemeja biru yang baru saja pulang dari sini kan bi?" tanya Caca yang nampak penasaran.
__ADS_1
" Den Micko ? Sepertinya bukan non, ini lebih tampan non dari den Micko!"
" Jadi penasaran, yaudah suruh tunggu aja dulu dan jangan lupa buatkan minum ya bi!" Caca kembali masuk ke dalam kamarnya.
Setelah selesai berganti baju Caca keluar dari kamar untuk menemui tamunya.
Caca melihat sosok pria yang tengah duduk memunggunginya, sedikit rasa penasaran dihatinya bertanya-tanya siapa laki-laki yang tengah menunggunya.
" Ekhemm!" Caca berdehem membuat laki-laki yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumah Caca langsung beranjak dari duduknya dan menoleh ke sumber suara.
Caca berdiri mematung saat melihat sosok pria yang kini tengah berdiri di hadapannya. matanya berkaca-kaca dan sedetik kemudian Caca langsung berlari ke arah laki-laki yang tengah membentangkan tangannya tersebut.
Brukk
Caca berhambur ke dalam pelukan laki-laki tersebut, airmata keduanya pun tumpah seketika. ada rasa haru dan juga bahagia dihati masing-masing.
Caca mengurai pelukannya dan memberi pukulan pelan di dada bidang pria yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.
" Hei... sudah jangan menangis lagi, jelek tahu kalau menangis kayak gitu. seperti anak kecil saja!" pria tersebut mengacak-acak rambut Caca gemas
" Biarin, siapa suruh membuat aku menangis!" sahut Caca
" Ya ampun anak ini, kedatangan aku kesini tuh justru ingin menghibur kamu" jelasnya
" Menghibur apa? sok tahu!" ucap Caca seraya mengerucutkan bibirnya
" Aku tahu kamu itu sedang patah hati, iyakan?" ledeknya
" Ih ini orang datang-datang sok tahu banget ya!"
" Hai nona kamu jangan lupa aku ini sudah mengenalmu luar dan dalam" selorohnya
" Ish, apaan sih. itu dulu ya beda dengan yang sekarang apalagi kita sudah lama tidak bertemu bahkan komunikasi aja putus-putus sudah kayak tinggal di kutub aja gak ada sinyal." keluh Caca
" Ya maaf sayangku, disana memang sinyalnya jelek selain itu tugas aku yang padat disana membuat lupa akan yang namanya alat komunikasi" sahutnya
" Sampai segitunya?" laki-laki itu mengangguk yakin
" Ngomong-ngomong kenapa tuh muka, sembab gitu?" godanya
" Ih apaan sih, gak ada ya muka sembab" elak Caca
" Iya..iya...!" pria itu hanya menggeleng seraya tersenyum
" Kita jalan yuk!" ajaknya membuat Caca mengerutkan keningnya
" Jalan kemana?" tanya Caca
" Ke mana saja yang penting sama kamu!"
" Gombal!"
Caca akhirnya menerima tawaran untuk pergi keluar, didalam rumah pun ia merasa suntuk sendiri namun pada saat Caca dan laki-laki tersebut baru melangkah keluar ia dikejutkan dengan Jimmy yang sudah berdiri di ambang pintu.
Melihat Caca yang menggandeng mesra lengan laki-laki yang berdiri di hadapannya membuat Jimmy geram dan mengepalkan tangannya berusaha meredam gejolak di hatinya.
" Bang Jim sedang apa disini?" tanya Caca yang terkejut melihat keberadaan Jimmy di rumahnya
" Ah tidak apa-apa aku hanya ingin memastikan keadaan kamu saja karena kata Grea kamu sedang tidak enak badan" sahut Jimmy
" Grea terlalu berlebihan, aku baik-baik saja kok bang, terima kasih atas perhatiannya" ucap Caca seraya tersenyum
" Oia, maaf ya bang kalau tidak ada keperluan lagi aku mau pamit pergi!" ucap Caca lalu menoleh ke arah pria yang masih dirangkulnya
" Oh begitu ya, maaf kalau begitu, aku permisi!" ucap Jimmy dengan perasaan yang bercampur aduk
Caca masuk ke dalam mobil pria yang bernama Alan. dan tentu saja apa yang Caca lakukan tidak lepas dari tatapan mata Jimmy yang sedari tadi terus memperhatikan keduanya.
" Ca, siapa pria itu?" tanya Alan
" Bukan siapa-siapa" Caca menoleh ke kaca spion melihat Jimmy yang masih belum juga beranjak pergi
" Sepertinya dia suka sama kamu" tutur Alan
" Suka atau tidak suka itu tidak penting untuk ku" sahut Caca
" Kenapa? sepertinya ada luka yang begitu dalam ya yang laki-laki torehkan?" tebak Alan
" Bukan, dia itu pria baik hanya saja aku masih trauma dengan yang namanya cinta"
" Kenapa begitu?"
" Panjang ceritanya"
" Ya sudah kalau tidak mau cerita tidak apa"
" Sudahlah, sebaiknya kita pergi sekarang!"
" Baik tuan putri!" sahutnya
Mobil yang Caca tumpangi sudah melesat pergi sementara Jimmy masih diam ditempat menatap kepergian mobil yang Caca tumpangi hingga tak terlihat.
__ADS_1
" Ca siapa laki-laki itu? apa itu alasan kamu menolak lamaran ku?" gumam Jimmy
Jimmy pun memutuskan untuk pulang dengan perasaan yang kacau setelah melihat wanita yang beberapa hari ini sudah mengusik hatinya pergi bersama pria lain. apalagi mereka terlihat begitu mesra membuat hati Jimmy terasa sedih.